
"Apa lagi," tanya Hardy.
"Jadi kapan boleh aku menikah?"
"Terserah mu, tapi ingat jika sudah menikah, jangan ada main wanita, jangan membuat istri mu tersakiti," kata Hardy.
"Aku sudah tidak pernah main wanita lagi ayah, oke aku akan menikah Lusa."
Hardy mengerutkan dahi nya, ia pikir Raffi tidak akan menikah secepat itu, ternyata anak nya sudah ngebet kawin.
"Sudah tidak tahan ya," tanya Hardy.
"Hahaha iya lah, aku pria dewasa, aku sudah pernah menikah."
"Ya ya ya, terserah mu lah, tapi jangan lupa mengatakan hal ini pada ayah nya, jangan membuat keputusan sepihak."
"Siap ayah, ya sudah aku akan mengantarkan nya pulang dulu, aku juga akan membicarakan masalah ini pada paman Fahri," kata Raffi.
Vania sudah siap untuk pulang ke rumah, ia hanya menunggu Raffi yang tidak kunjung datang. Karena lelah menunggu Vania keluar dari dalam kamar Raffi, ia ingin mencari Raffi yang seperti menghilang dari nya.
"Hey kamu," ucap Amel sambil berjalan mendekat.
"Tante, iya tan ada apa?"
"Sejak kapan kamu dekat dengan anak saya," tanya Amel.
"Tidak lama tan," jawab Vania.
"Kamu masih kecil sudah menjadi penggoda ya, pasti kamu menggoda anak saya."
"Maaf tante, saya tidak menggoda anak tante. Mas Raffi yang mendekati saya dan orang tua saya," kata Vania.
__ADS_1
Raffi melihat Vania sedang bersama dengan mamah nya, ia takut mamah nya berbicara yang tidak tidak pada Vania. Dengan cepat Raffi berjalan mendekati mereka berdua.
"Mamah, Vania," ucap Raffi.
"Mamah pergi dulu." Amel pergi meninggalkan mereka berdua.
"Vania apa yang mamah katakan pada mu," tanya Raffi.
"Tidak ada kok," jawab Vania.
"Kamu yakin, katakan saja kalau mamah berbicara yang tidak tidak," kata Raffi.
"Tidak ad mas, sudah ayo pulang."
Sesampainya di rumah, Vania langsung masuk ke dalam kamar nya sedangkan Raffi berbicara dengan Fahri, mereka berdua membahas tentang pernikahan Raffi dan Vania.
"Kau gercep sekali," kata Fahri.
"Iya aku setuju saja, nanti aku akan membicarakan masalah ini dengan Vania, berharap saja kalau Vania setuju. Dan kalian bisa menikah," kata Fahri.
"Terima kasih paman, kalau begitu aku pamit dulu. Aku ingin mempersiapkan semua nya."
"Iya Raffi, pulang dan siapkan semua nya," kata Fahri.
Sementara itu Reynald dan Harry sudah dalam perjalanan pulang ke rumah. Mereka berdua sama sama sedang senang. Harry senang mendapatkan banyak mainan dan Reynald sangat senang karena Harry mengusir kebosanan nya, apalagi Harry mulai sangat dekat dengan nya.
"Malam ini kau mau tidur dengan ku," tanya Reynald.
"Mau," jawab Harry.
"Hahaha kenapa kau langsung dekat saat aku belikan mainan baru, dasar cowok matre," kata Reynald.
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Reynald langsung menggendong Harry masuk ke dalam. Ia sudah mewanti wanti Harry agar tidak lasak dan menendang perut nya. Harry tau kalau paman nya sedang tidak sehat, ia diam seperti yang di katakan Reynald.
"Reynald kau dari mana," tanya Reno.
"Dari mall, dengan adik mu yang sebentar lagi akan menjadi adik ku," jawab Reynald.
"Tidak enak saja, dia adik ku, Harry mau dengan abang," tanya Reno.
"Tidak mau, aku mau dengan paman," jawab Harry.
"Hahaha sudah aku katakan bukan," ucap Reynald.
"Harry ikut daddy, daddy akan pergi malam ini," ujar Iqbaal sambil mengambil Harry dari Reynald.
"Mau kemana dad," tanya Harry.
"Ada deh, kau ikut saja. Kalian berdua jangan bertengkar, malam ini Harry dengan daddy nya."
"Hahaha gagal lagi, kau tidak akan bisa merebut Harry dari ku," kata Reno.
"Hadeh padahal aku sudah mengeluarkan banyak uang."
"Bagaimana perut mu Rey," tanya Reno.
"Aku sudah baik baik saja si, tapi aku belum boleh dapat jatah," jawab Reynald.
"Otak mu jatah terus, untung saja kaki ku yang sakit jadi jatah tetap lancar."
"Kau sama saja, bagaimana dengan kaki mu?"
"Lebih buruk, tulang kaki nya bergeser karena aku terlalu lasak, jadi aku harus menanamkan pen agar cepat sembuh," kata Reno.
__ADS_1
"Itu karena kau terlalu banyak jatah," ucap Reynald.