
"Bang," ucap Harry.
"Apa," tanya Aziel.
"Galak sekali, kau sudah di minta untuk naik, kasihan istri mu," kata Harry.
"Aku tidur dengan mu saja," ucap Aziel.
"Hahaha aku si tidak masalah, tapi ayah dan bang Reno bisa memotong burung mu, sudah nikmati malam pertama mu."
"Sial, aku juga sudah lelah."
"Semangat..." Harry kembali turun dari atas pelaminan.
"Ayo, mata mu pasti tidak kuat terus memakai benda itu," ucap Aziel.
Aziel berjalan meninggalkan Dinda, baru beberapa langkah ia sudah mendapatkan peringatan dari Reno, hal itu membuat Aziel membalik tubuh nya dan kembali mendekati Dinda.
"Maaf, aku melupakan mu," ucap Aziel.
"Hampir saja," kata Dinda.
"Hampir kenapa," tanya Aziel.
"Tidak ada, aku takut terjatuh."
__ADS_1
Aziel menjulurkan tangan nya agar Dinda memegang tangan nya. Jika seperti ini mereka berdua benar-benar sangat cocok sekali.
Sesampainya di kamar Dinda melepaskan soflen di mata nya, ia tidak tahan lagi karena sudah terlalu perih. Memang lebih nyaman memakai kaca mata, meskipun wajahnya terlihat lebih jelek.
"Kau tidur pakai kaca mata," tanya Aziel.
"Tidak lah, aku tak mungkin memakai kaca mata," jawab Dinda.
"Oh begitu, tidur lah."
"Tidur dengan make up yang tebal seperti ini," ucap Dinda.
"Itu urusan mu, aku ingin ke kamar mandi, jangan mengintip," kata Aziel sambil berjalan meninggalkan Dinda.
"Halo," ucap Dinda yang mendapatkan panggilan dari bos nya.
"Bagus Dinda, cepat selesaikan semuanya."
"Jangan mengatur ku, kau tidak tau apa yang aku rasakan," ucap Dinda sambil mematikan sambungan telepon itu.
Dinda membersihkan semua make up nya di depan cermin. Tubuh nya memang berada di kamar itu tetapi otak Dinda ntah travelling kemana mana, ia tidak tau kenapa hati nya seperti merasa tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati nya.
"Belum berganti pakaian," tanya Aziel.
"Belum, lagi hapus make up." Sejenak Dinda melirik ke arah Aziel. Mata Dinda terbelalak melihat tubuh Aziel yang begitu sempurna, meskipun Aziel memakai kaus tanpa lengan tetap saja bentuk tubuh nya terlihat dengan jelas.
__ADS_1
"Aku tidur lebih dulu, lelah."
Aziel membaringkan tubuh nya di atas ranjang, mata Dinda masih terus memperhatikan Aziel. Bentuk tubuh Aziel yang dulu dan sekarang sangat jauh berbeda, mungkin karena sekarang Aziel sangat rajin berolahraga.
"Halo sayang," ucap Aziel yang membuat Dinda langsung kembali fokus menghapus make up nya. Aziel mendapatkan telepon dari Lisa pacar nya yang sedang bersedih karena pernikahan Aziel dan Dinda.
"Sayang, kamu jangan menyentuh wanita itu ya," kata Lisa.
"Hahaha kenapa? dia istri ku, kami sah lagi," ucap Aziel.
"Kan kamu begitu, kata nya tidak akan menyentuh nya," kata Lisa.
"Hahaha aku janji tak akan pernah menyentuh nya, kamu jangan khawatir."
"Janji, tutup mata mu jika dia terlihat menggoda di mata mu," ucap Lisa.
"Iya iya, tenang saja sayang, aku hanya mencintai mu seorang," kata Aziel.
Dinda cukup mual mendengar ucapan Aziel. Ia membuka koper nya untuk berganti pakaian. Betapa terkejut nya Dinda saat melihat pakaian yang ada di dalam koper itu.
"Pak," ucap Dinda.
"Hmmm," gumam Aziel.
"Dimana pakaian ku, kenapa semua nya lingerie," ucap Dinda
__ADS_1