
"Halo paman, apa kabar," tanya Anna.
"Baik, Anna benar kan Anna??"
"Benar paman, paman masih mengingat ku," ucap Anna.
"Masih dong, kau kan anak sahabat paman, mana mungkin paman melupakan mu. Oh iya ini kau juga dapat uang jajan dari ku," kata Iqbaal.
"Tidak paman, terimakasih," tolak Anna.
"Tidak Anna ambil saja, paman memberikan nya loh, tidak baik menolak rezeki," ucap Iqbaal.
"Ambil sayang, benar kata ayah, tidak baik menolak rezeki. Lebih baik kamu ambil untuk tabungan kamu," kata Annisa.
"Terimakasih paman." Anna pun mengambil uang itu.
"Kakek aku ikut kakek," ucap Williams cucu terkecil nya saat ini, dan memang yang paling dekat dengan Iqbaal.
"Ayo lah, kalian berdua juga ingin ikut," tanya Iqbaal.
"Tidak," jawab mereka berdua. Dari pada ikut Iqbaal mereka berdua memilih bermain di hotel.
"Kakek ayah ku mana," tanya Williams.
"Di rumah sakit sayang, kamu ikut kakek saja ya," jawab Iqbaal.
Bocah 3 tahun ini akan segera mempunyai adik. Sebenarnya Iqbaal khawatir jika anak anak Reno kurang mendapatkan kasih sayang orang tua nya. Apalagi Reno benar-benar sangat sibuk di perusahaan, waktu nya pasti tak banyak untuk anak anak nya.
"Sayang apa ayah selalu bermain dengan kalian," tanya Iqbaal.
"Kalau kakak libur sekolah, kami selalu bermain main bersama, ke taman, jalan jalan," jawab Williams.
Mendengar jawaban Williams, Iqbaal sedikit lega, ia tau bagaimana rasa nya tidak mendapatkan rasa kasih sayang sejak kecil. Dulu ia dan Azka berpisah selama bertahun-tahun lama nya, sampai seusia Williams baru lah ia bertemu dengan Azka. Iqbaal tak mau cucu cucu nya merasakan apa yang ia rasakan dulu.
Di rumah sakit Iqbaal menghubungi Reno agar keluar dari dalam. Ia ingin mengantarkan pakaian mereka berdua.
"Ayah ayah," ucap Williams.
__ADS_1
"Sayang kamu ikut dengan kakek," tanya Reno.
"Iya ayah, aku ikut dengan kakek," jawab Williams.
"Ini pakaian mu dan Aziel. Nanti makanan untuk kalian akan datang, aku harus pergi sekarang," kata Iqbaal.
"Sayang jangan merepotkan kakek ya. Jangan nakal." Reno memberikan beberapa kecupan di wajah Williams.
"Dia sangat mirip dengan mu," kata Iqbaal.
"Waktu membuat nya aku keluar lebih dulu, jadi dia mirip dengan ku, hahaha seorang nya begitu," ucap Reno.
"Ada ada saja kau." Iqbaal membawa Williams pergi dari sana.
"Pakaian ku," ucap Aziel.
"Aku juga mau mandi," kata Reno.
"Bersama saja bang, ayo cepat aku sudah tak tahan lengket tak nyaman."
Memang jika sudah seperti ini kakak beradik ini benar benar sangat kompak, mereka menjaga satu sama lainnya agar tetap aman dan nyaman.
Harry duduk di atas kolset, ia tak mungkin mandi sambil berdiri, Aziel dan Reno membantu Harry lebih dulu agar lebih mudah. Mereka tak mungkin membiarkan Harry mandi sendiri.
Satu persatu pakaian yang mereka gunakan terlepas. Aziel dan Reno sudah sering naked apalagi mereka sering ke sauna di Jepang yang memang harus naked. Berbeda dewasa Harry yang merasa Heran, jujur ia sangat malu seperti itu di depan abang abang nya, jika tak karena sakit ia tak akan melakukan hal itu.
"Kalian tak malu," tanya Harry.
"Malu untuk apa?? kau tau Harry, kalau ke suana du Jepang ataupun di Korea, kau harus naked," jawab Aziel.
''Bauk..." Harry menutup hidung nya, ia tak suka dengan baik cairan lengket itu.
"Hahaha kalau punya ku sendri aku suka saja si bauk nya, tak buruk tapi kalau milik orang lainya aku tak suka," kata Aziel.
"Hahaha kau benar Aziel, apalagi kau baru pertama kali keluar pasti aroma nya sangat buruk. Tapi nikmati saja lah, namanya juga benih sendiri menjadi dewasa itu memang tak seindah yang kau pikirkan."
Sambil Mandi Aziel membantu Harry sedangkan Reno berendam di badhup. Harry salah fokus dengan junior abang nya itu, Harry rasa di antara mereka bertiga milik Aziel yang paling besar.
__ADS_1
"Milik bang Ziel besar sekali, aku salah fokus, punya bang Reno saja tidak seperti itu.'
"Hey kenapa kau malah memperhatikan itu, jangan melihat nya," ucap Aziel.
"Hahaha memang punya mu besar Aziel aku tak tau bagaimana istri mu merasakan rudal amerika mu," kata Reno.
"Kalian mau dengar, begini malam pertama kami berada di hotel, malas ah nanti malah bangun lagi."
"Lanjut bang, aku sangat penasaran, bagaimana kelanjutan nya???"
Aziel tertawa mendengarnya, memang cerita nya selalu membuat penasaran orang lain.
"Istri mu sampai tak bisa jalan?" tanya Reno yang ternyata juga ikut penasaran.
"Ya begitu, sampai harus aku berikan salep, sudah jangan membahas nya, aku tak bisa mengingat nya, adik ku pasti akan bangun."
Setelah selesai mandi mereka kembali ke ruangan awal, tak lama dokter datang untuk memeriksa keadaan Harry. Sedikit banyak nya mereka bertiga paham bahasa Jepang, Reno sering berkunjung ke negara ini untuk melakukan bisnis ia jad sedikit mengerti, sedangkan Harry dan Aziel belajar langsung, jadi mereka berdua lebih fasih lagi.
Mereka bertiga tersenyum mendengar penjelasan dari dokter, imun Harry sudah semakin membaik, jika terus seperti ini mereka tak perlu khawatir karena Harry pasti akan segera sembuh. Selagi belum menemukan obat untuk penyakit langka Harry mereka hanya perlu menjaga imun Harry agar tetap baik.
"Lakukan hal yang membuat mu bahagia," ucap Aziel.
"Aku mau menikah," kata Harry.
"Apa!!! Menikah, kan sudah abang katakan kau itu masih remaja untuk apa menikah dengan cepat," ucap Aziel.
"Zie... Harry apa yang membuat mu ingin menikah dengan abang tak mau kalau hanya ingin karena mendengar cerita dari kami," tanya Reno.
"Aku takut umur ku tak panjang, aku takut ayah tak mendapatkan cucu dari ku, aku tak memperdulikan perasaan ku, aku hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kita. Kalian berdua sudah memberikan ayah cucu, walaupun bang Ziel belum pasti tak lama lagi istri nya hamil. Ketakutan itu selalu menghantui pikiran ku, aku ingin menikah.''
"Abang tanya jika menikah apa kamu akan bahagia dan tenang,'' tanya Reno.
"Aku tak tau, tapi seperti nya iya, abang hanya itu yang ingin aku lakukan, pasti umur ku tak akan panjang," ucap Harry.
Aziel dan Reno diam sesaat, mereka berdua sangat bingung, permintaan Harry lebih dari kata wajar, pikiran Harry terlalu dewasa, mungkin itu yang membuat nya seperti ini.
"Jika itu yang membuat mu bahagia, abang akan melakukan apa yang kau inginkan. Tapi ingat jangan menyesal karena ini keputusan mu sendiri," kata Reno.
__ADS_1