
Raffi mengantarkan Vania pulang ke rumah, ini sudah terlalu lama membawa anak orang bermain main. Dan ia juga ingin bertemu dengan orang tua Vania, membicarakan hal penting memang lebih Bagus dengan orang tua.
Saat di perjalanan Raffi baru ingat jika diri nya belum membelikan makanan untuk orang tua Vania, ia sudah berjanji untuk membawa kan makanan untuk mereka.
"Vania mamah kamu suka makanan apa," tanya Raffi.
"Apa saja mas, aku juga suka semua makanan apa saja," kata Vania.
"Hahaha siapa yang memberikan mu tawaran, aku hanya bertanya makanan kesukaan mamah mu bukan kamu," ucap Raffi.
"Hahaha iya iya aku tau, mamah suka martabak kacang," kata Vania.
"Oh iya aku akan membeli kan mamah mu Martabak kacang," ucap Raffi.
"Hahaha aku juga ya mas, aku suka martabak coklat," kata Vania.
"Iyaa aku membeli kan semua apa yang kamu mau, hanya martabak saja itu mah kecil untuk ku," ucap Raffi.
"Yes aku sangat suka Terima kasih mas. Jadi ingin mempunyai suami seperti kamu," kata Vania yang membuat Raffi terkejut, ia pikir Vania mengatakan hal itu dengan serius.
"Kamu serius mau mempunyai suami seperti ku," tanya Raffi.
"Ya iya mas, kamu sangat baik, bertanggung jawab dan kaya, kata ayah kalau aku mencari pacar harus memenuhi tiga syarat itu dan kamu memenuhi ny mas," jawab Vania.
"Hahaha aku sudah lulus ya, kau sudah siap untuk menikah belum," hanya Raffi.
"Untuk menikah aku belum tau apa-apa, aku tida tau apa yang harus seorang istri lakukan," kata Vania.
"Kalau kamu menikah dengan ku, kamu hanya perlu selalu bersama ku dan melayani ku saja, semua keperluan ku aku bisa melakukan nya sendiri, jadi kamu hanya melakukan hal yang kamu suka."
"Ahkkk mau, aku mau menikah dengan kamu," kata Vania.
Raffi mengerutkan dahi nya, bocah satu ini memang terasa sangat aneh, ia mau saja terpengaruh apa saja yang Raffi katakan. Raffi tau apa yang Vania katakan saat ini hanya spontanitas Vania saja, tidak ada di pikirkan oleh Vania sedikitpun.
Raffi turun dari mobil untuk membelikan makanan untuk mamah Vania, ia juga membelikan makanan untuk yang lainnya. Raffi sudah seperti seseorang yang sedang PDKT pada seorang wanita. Walaupun memang kenyataan nya seperti itu. Bisa dikatakan saat ini Vania memang sedang PDKT pada orang tua Vania, agar orang tua Vania suka dan tidak masalah jika Vania terus bersama dengan nya.
Dari dalam mobil Vania memikirkan semuanya perkataan Raffi ia baru sadar apa yang di katakan Raffi mengarak ke arah yang serius. Dan diri nya sadar jika dia sama sekali tidak serius menanggapi ucapan Raffi tadi.
"Tadi aku tidak serius, padahal Raffi sedang serius aku jadi tidak enak," kata Vania.
Raffi kembali masuk ke dalam mobil nya, ia sudah selesai membeli makanan untuk mamah dan keluarga nya Vania. Raffi membawa kembali mobil nya ke rumah Vania.
"Vania kamu bisa nyanyi," tanya Raffi.
__ADS_1
"Bisa dong akun sangat bisa bernyanyi," jawab Vania.
"Oke Vania kita bernyanyi saja." Raffi memutarkan musik dengan mereka berdua mulai bernyanyi.
"Cantik"..
"Apa," saut Vania ia tau apa yang Raffi maksud.
Ingin rasa hati berbisik
Untuk melepas keresahan
Dirimu
"O cantik"
"Apa." Vania kembali menyaut.
Bukan kuingin mengganggumu
Tapi apa arti merindu
Selalu (ow)
Walau mentari terbit di utara
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu
Cantik
Bukan kuingin mengganggumu
Tapi apa arti merindu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Vania mereka berdua langsung masuk kendalam. Vania membawa Raffi ke lantai atas tempat Vania dan yang lainnya berkumpul. Di ruangan itu susah ada Kia dan Fahri yang sedang berbincang.
"Wah kamu punya adik," tanya Raffi.
"Iya aku punya adik, nama nya Hans," jawab Vania.
"Itu Raffi," kata Fahri.
"Ternyata Raffi lebih tampan dari video call tadi. Pantas saja Vania jadi suka pada nya," ucap Kia.
"Selamat malam," sapa Raffi sambil tersenyum pada semua orang yang ada di sana.
"Wah Raffi kamu tampan ya," kata Kia.
"Hehehe iya mah, Terima kasih," ucap Raffi.
"Ya mamah lagi, kamu memang sudah menjadi anak mamah ya," kata Kia.
"Eh Maaf tante," ucap Raffi.
Vania lebih memilih pergi meninggalkan tempat itu, ia yakin obrolan mereka sangat membosankan. Obrolan orang dewasa. Vania masuk ke dalam kamar nya dan langsung berganti pakaian. Ia menyimpan pakaian pemberian Raffi dengan benar, karena pakaian ini sangat berharga untuk nya.
Raffi dan yang lainnya mulai membicarakan hal yang serius. Kia dan Fahri mulai bertanya tentang keseriusan nya dengan Vania. Jujur mereka berdua tidak ingin Vania menikah muda tetapi kalau sudah ada jodoh seperti Raffi yang seperti nya serius tidak masalah. Tidak mungkin ada kesempatan ke dua untuk itu.
"Bagaimana Raffi kamu suka dengan Vania." tanya Kia.
"Kalau untuk suka seperti nya memang iya, Vania sudah membuat pikiran ku kacau," jawab Raffi.
"Wah anak kita seperti nya sangat berbakat akan hal itu mas, hahahaha kamu bisa saja Fahri," kata Kia..
"Aku melihat mu seperti pria yang aku impikan sebagai suami Vania. Sudah inti nya aku setuju jika kau mendekati Vania, bahkan lebih baik kalian menikah," ucap Fahri.
"Untuk itu jujur saja mau, tapi bagaimana dengan Vania. Dia masih sekolah," kata Raffi.
"Untuk masalah itu kamu tenang saja kamu bisa Mengatasi nya, Vania selalu nurut dengan apapun kami katakan, apalagi demi kebaikan nya.
Setelah membicarakan banyak hal. Raffi memutuskan undur diri waktu juga sudah mulai malam tidak mungkin ia terlalu lama disini. Tanpa pamit pada Vania Raffi pun pergi meninggalkan rumah itu.
Vania sedang berada di dalam kamar nya, ia kembali membuka buku dray dan menuliskan sesuatu yang indah dan menyedihkan untuk hari ini.
"Aku tidak menangis karena kita terpisahkan oleh jarak dan waktu. Karena selama kita masih berbagi langit yang sama dan menghirup udara yang sama, aku ingin bertemu dengan mu mamah ayah."
"Aku memilihmu. Dan aku memilihmu terus menerus dan selalu. Tanpa henti, tanpa ragu, dalam setiap denyut jantungku. Aku akan terus memilihmu.” Vania tersenyum sambil membayangkan sosok Raffi, ia tidak tau kenapa Raffi terus berada di dalam otaknya. Hal itu membuat Vania senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Mungkin kah aku sudah mencintai nya," batin Vania.
"Gila aku sudah mencintai nya, ini gila." Teriak Raffi yang berada di dalam mobil.