
"Iya iya ada apa," ucap Aziel.
"Kamu ngapain, kamu tak bisa memegang ucapan kamu, kata nya kamu tidak akan menyentuh nya. Baru satu hari kamu tinggal dengan nya, sudah seperti ini saja."
"Aku aku tidak melakukan hal apapun dengan nya. Lihat aku memakai baju."
"Ziel jangan begitu, geli Ziel." Dinda semakin menjadi jadi.
"Dinda diam, sayang jangan percaya dengan nya, aku melakukan hal apapun pada nya." Aziel memberikan tatapan tajam pada Dinda.
Tangan Aziel Dinda tarik untuk memegang dada nya, hal itu membuat mata Aziel terbelalak merasakan lembut dan kenyal nya dada bagian atas milik Dinda.
"Sayang, muka mu seperti menikmati sesuatu," teriak Lisa.
"Tidak sayang, sudah ya, aku ingin mandi. Nanti setelah semuanya baik baik saja kita akan bertemu."
"Jangan macam macam sayang, awas saja." Lisa memberikan tatapan tajam pada Aziel sebelum mematikan sambungan telepon itu.
"Kau," ucap Aziel dengan penuh kekesalan.
"Salah siapa berteleponan dengan pacar mu di depan ku."
"Ya terserah ku dia pacar ku," kata Aziel.
"Setidaknya hargai aku sebagai istri mu, aku tidak. melarang mu berpacaran dengan Lisa, itu hak mu toh pernikahan kita juga hanya sementara waktu. Tetapi aku juga wanita pada umumnya, aku mempunyai perasaan Aziel aku mempunyai hati. Wanita mana yang mau suaminya menghubungi wanita lain di depan nya."
"Ya ya ya, aku salah aku meminta maaf," ucap Aziel.
"Din katakan pasti kita sebelum nya pernah bertemu kan," tanya Aziel.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu pada ku?"
"Begini kita baru bertemu, tetapi aku seperti langsung menerima mu, biasa nya aku tidak pernah seperti ini pada seseorang. Untuk bisa berbicara seperti ini pada seorang wanita memerlukan waktu yang lama."
"Ya kita sudah berkenalan dulu, bahkan sangat dekat. Hmmm tapi aku malas mengingat nya, aku tak ingin mengingat apapun lagi di masa lalu itu," ucap Dinda.
"Katakan dimana kita bertemu? dan kapan itu," tanya Aziel.
Dinda menggelengkan kepalanya, ia kembali mendekati bibir Aziel dan menciumnya dengan lembut. Hal ini Dinda lakukan agar Aziel tidak bertanya apa apa. lagi. Belum saatnya Aziel mengetahui semuanya.
Di bawa Reno dan Harry sedang sibuk dengan apa yang mereka berdua lihat tadi. Reno bingung dengan Aziel, awal nya saja sok gaya menolak pernikahan itu, berjanji tidak akan menyentuh Dinda. Tetapi baru satu hari mereka menikah, semua janji itu sudah luntur tanpa jejak. Memang pria buaya tidak bisa di jaga ucapan nya.
__ADS_1
"Kira kira mereka itu berbuat apa lagi ya setelah ini," ucap Harry.
"Harry hilangkan pikiran buruk mu itu," kata Reno.
"Hahaha nama nya juga penasaran, jadi ingin menikah, mana tau bisa mendapatkan istri seperti kak Dinda."
"Kau belum tau apa apa, jangan berpikir menikah itu hanya soal enak nya saja. Banyak hal yang harus kau lalui. Bayangkan saja dua orang asing tiba-tiba harus bersatu menjadi sebuah rumah tangga. Masing-masing dari mereka pasti memiliki sikap yang berbeda, ego yang berbeda dan tujuan yang berbeda. Untuk menggapai rumah tangga yang indah itu memerlukan penyesuaian, tidak tau kapan penyesuaian itu datang, karena setiap orang berbeda beda," jelas Reno.
"Iya abang, aku tak akan menikah jika aku belum siap," kata Harry.
"Itu lah, lebih bagus. Mau cari sendiri atau abang carikan," tanya Reno.
"Abang percaya dengan ku? Abang Aziel saja di jodohkan," kata Harry.
"Aziel sudah tercemar, dia tidak bisa di percaya lagi. Dia saja berpacaran dengan wanita tidak jelas."
"Hahaha dulu abang seperti ku, nanti ketika aku sudah dewasa mungkin bisa seperti itu."
"Jangan sampai lah, aku akan mengawasi mu sampai dewasa, adik abang yang satu ini tidak akan abang lepaskan dengan bebas."
"Hahaha begitu, lihat saja nanti," ucap Harry.
Sore hari nya, setelah makan Aziel keluar dari dalam kamar. Mereka pikir dengan tida memberikan Aziel pakaian bisa mengurung Aziel di dalam kamar. Aziel sudah meminta seseorang untuk membelikan pakaian untuk nya dan untuk Dinda, melihat Dinda memakai pakaian seksi terus menerus membuat Aziel tidak fokus. Adik nya terus menerus bangun meminta pertanggungjawaban.
"Kenapa kau jadi manja seperti ini pada ku," kata Aziel.
"Salah apa manja dengan suami sendiri," tanya Dinda.
"Salah, baru satu hari kau sudah membuat ku pusing," jawab Aziel.
"Dengan wanita haram itu saja tidak pusing, dengan istri sendiri pusing ada ada saja lah pria di depan ku ini."
"Wanita haram kata mu, kenapa kau berkata seperti itu pada nya?"
"Ya dia kan memang haram untuk mu, yang halal untuk mu hanya aku," jawab Dinda.
"Jangan ngadi ngadi kau Dinda."
"Mas ini rumah siapa," tanya Dinda.
"Tidak tau, kata ayah si dia membeli nya untuk acara pernikahan kita, tapi aku tak tau selanjutnya untuk bagaimana," jawab Aziel.
__ADS_1
"Wah pengantin baru datang," kata Iqbaal.
"Ayah dimana pakaian ku," tanya Aziel.
"Nanti akan ada yang membereskan semuanya," jawab Iqbaal.
"Bagaimana sayang, kuat kan," tanya Iqbaal.
"Kuat dong Aziel," jawab nya dengan sangat bangga.
"Bagus, jika tidak ingin langsung tidak papa sayang, ayah mengerti ini tida muda untuk mu. Ayah sudah mendapatkan cucu dari abang mu, jadi nikmati saja dulu," ucap Aziel.
"Sayang sini," kata Alya.
"Iya mah." Dinda mendekati Alya.
"Ini mamah ada sesuatu untuk mu, jika terasa sakit Aziel masih ingin bisa pakai ini," ucap Alya.
"Apa ini mah," tanya Dinda.
"Nanti berikan pada suami mu ya," jawab Alya
Dinda sangat bingung dengan benda ini, ia belum paham dengan apa yang di katakan mamah nya. Dinda sangat senang berada di keluarga Aziel, keluarga Aziel sangat hangat jika sedang berkumpul seperti ini, ia yang hidup dengan mamah tiri nya tak pernah merasakan kehangatan seperti ini.
"Dinda buatkan kopi seperti kemarin," ucap Aziel.
"Ziel kau tidak bisa berkata lembut pada istri mu," ujar Alya.
"Sabar sayang semuanya butuh proses," kata Iqbaal.
"Abang sini lah, ada hal yang ingin aku katakan," ucap Harry.
"Tu sebelum kalian berpisah kembali, apa yang ingin adik mu katakan."
"Iya tunggu." Aziel mendekati Harry.
Mata Aziel terfokus dengan lengan Harry yang merah seperti terkana luka bakar.
"Itu kenapa har," tanya Aziel.
"Tidak papa bang, kemarin aku ke pantai, aku pikir jika sudah pakai baju tidak perlu pakai sunblock, ternyata malah kebakar seperti ini," jawab Harry.
__ADS_1
"Itu tidak penting, yang terpenting bagaimana tadi malam, aku tadi melihat mu begitu ganas mencium istri mu," ucap Harry