Cinta Di Dalam Perjodohan

Cinta Di Dalam Perjodohan
Episode 51


__ADS_3

Aziel membantu istri nya masuk k e dalam kamar mandi, baru saja mereka berman Dinda sudah merasakan pusing dan rasa mual di perutnya. Ia memang mempunyai penyakit asam lambung tetapi tidak seperti ini juga. Lagi pula ia tak ada telat makan. Datang bulan juga sudah hampir 3 minggu lagi, jadi tak ada tanda tanda ingin datang bulan.


Aziel benar benar sangat khawatir dengan kondisi istri nya, mana ia sempat mengusir Dinda dari rumah, rasa bersalah juga menghantui diri nya.


"Sayang tadi kamu sudah tak mual kan? kenapa sekarang mual lagi, kita ke rumah sakit saja ya, nanti kalau ada apa apa kita cepat tau dan bisa di obati sebelum terlambat."


"Tidak ah, hanya pusing dan mual saja, mana lah mungkin ada apa apa, aku hanya ingin bersama dengan mu," kata Dinda sambil memeluk Aziel dengan erat.


Setelah selesai mandi Aziel dan Dinda langsung bersiap siap untuk kembali pulang ke rumah, pukul 6 sore mereka berdua pergi meninggalkan apartemen itu.


Di perjalanan Dinda hanya tidur saja, lebih dari pada bangun yang akan membuat perut nya terasa mual. Ketika sudah di separuh perjalanan Aziel berhenti di restoran untuk membeli makanan. Mereka berdua tak makan di tempat karena bahaya kalau sampai Dinda muntah muntah, itu akan menganggu orang lain yang sedang makan.


"Sayang bangun kita makan yuk," ucap Azeil.


Dinda membuka mata nya perlahan, ia bingung kenapa mobil sudah berhenti.


"Kita sudah sampai," tanya Dinda.


"Belum, ini aku sudah membeli makanan untuk kira, kita tak bisa maan dib dalam restoran nanti kalau kamu muntah muntah akan menganggu pelanggan lain."


"Iya tak papa, apa yang kamu lakukan itu sudah benar."


Aziel menyuapi Dinda makan, Aziel memesan makanan yang sangat segar jadi Dinda tak akan mual memakan nya, setelah selesai makan. Aziel kembali keluar dari dalam mobil, ia masuk supermarket untuk membeli buah buahan dan minuman yang segar. Buah jeruk salah satu incaran Aziel yang sangat cocok untuk Dinda yang sedang mual.


''Kamu beli apa lagi sayang, banyak sekali ya yang kamu beli, padahal aku tak papa."


"Kamu terus mengatakan aku tak papa, kamu tak tau bagaiman khawatir nya aku pada mu," ucap Aziel.


"Hehehe sayang jangan khawatir ah, orang aku benar benar tak papa kok."


"Ini ada buah buahan dan minuman anti mual, sangat cocok untuk mu," kata Aziel sambil memberikan satu kantong pada Dinda.


"Wah makasih sayang, kamu tau saja apa yang aku perlukan, memang aku sangat memerlukan makanan dan minuman seperti ini," kata Dinda.


Setelah semua nya aman kembali Aziel kembali menjalankan mobil nya, di perjalanan tiba tiba Dinda menginginkan sesuatu. Buah yang tak mungkin bisa di dapatkan malam ini juga.


"Sayang di sini ada buah durian tidak ya," tanya Dinda.


''Tak ada lah, itu buah tropis, kalau mau cari buah itu harus ke toko yang khusus menjual buah buahan tropis."


"Oh ya sudah," ucap Dinda.


"Kenapa bertanya begitu?"


"Tak papa, lanjut saja sebentar lagi juga sampai,'' kata Dinda.


Di rumah ternyata Zikri sudah kembali ke rumah, ia terkejut karena rumah kosong tak berpenghuni, mana rumah di kunci yang membuat nya tak bisa masuk.


''Dimana ya mereka,mana aku tak bisa menghubungi mereka lagi, aku juga sudah lama tak berkontak dengan mereka."


Beberapa menit menunggu akhirnya orang yang Zikri tunggu datang. Aziel dan Dinda terkejut melihat Zikri sudah ada di depan rumah.


"Kalian kemana saja si," tanya Zikri.


"Kau datang tak memberitahu, kami tadi jalan jalan sebentar." Aziel tak mungkin menceritakan masalah nya dengan Zikri saat ada Dinda.


"Buka cepat, aku sudah gerah ingin mandi."


Aziel membuka pintu rumah itu dan mereka langsung masuk ke dalam. Rasa ingin memakan durian Dinda semakin kuat saja, Dinda benar benar menikmati legit nya daging durian. Tetapi ia tak berani mengatakan nya pada Aziel. Aziel dan diri nya baru saja berbaikan, takut nya permintaan diri nya membuat Aziel kembali kesal, apalagi waktu sudah malam begini.


''Kamu kenapa si sayang? Kenapa seperti gelisah begitu?"


"Kamu jangan marah ya," ucap Dinda.


"Untuk apa aku marah, jangan sementang kemarin aku marah marah pada mu sekarang aku jadi suka marah, tidak sayang aku tak marah kalau tak ada yang membuat ku marah.''


''Janji??"


"Iya sayang, aku berjanji aku tak mungin memarahi istri ku yang sedang sakit begini, suami macam aku,'' kata Aziel.


"Aku pengen makan durian, ntah kenapa rasa nya ingin sekali, setiap membayangkan buah durian air liur memenuhi mulut ku."


Aziel mengambil nafas nya dengan kasar dan membuang nya secara perlahan, jika bukan karena Dinda sedang sakit, ia pasti sudah ngeromet tak jelas.


"Malam ini juga," tanya Aziel.


"Iya lah sayang, aku kan ingin nya sekarang, tetapi kalau kamu tak mau juga tak papa, dari pada kamu marah ke pada ku, lebih baik tak usah."

__ADS_1


"Ya sudah aku cari ya, nanti kalau aku sudah menemukan nya kita makan di ruang makan saja, aku tak suka bauk durian,'' kata Aziel.


Aziel tak mungin mencari buah Durian sendiri, ia akan membawa adik tercinta nya yang baru saja kembali, tanpa permisi Aziel langsung masuk ke dalam kamar Zikri.


"Hmmmm aku butuh istri..."


Aziel terkejut melihat apa yang di lakukan Zikri. Memang normal bagi pria dewasa tetapi tetap saja ia ngakak, apalagi Zikri menyebut sosok istri.


"Hahaha cari lah, apa enak nya olahraga tangan," kata Aziel yang membuat Zikri terkejut bukan main, dengan cepat ia menutup semua nya dengan seimut.


"Kau!! Kenapa kau langsung masuk, dasar bodoh tak guna, aku kan jadi malu, Aziel aku punya privasi."


''Hahaha biasa saja lah, aku juga sama dengan mu kok, nama nya juga manusia normal ya pasti memerlukan pengeluaran minimal seminggu sekali.''


''Ziel...Kenapa juga si kau masuk ke dalam kamar ku?"


Mau bagaimana lagi Zikri sudah tertangkap basah percuma juga dia marah marah tak jelas, toh Aziel juga melakukan hal yang sama sebelum menikah.


"Begini kau mau 50 juta tidak," tanya Aziel jika tak di pancing duit Zikri tak akan mau, mau bagaimana pun dia memohon Zikri tak akan mau membantu nya mencari durian malam malam begini.


"Hahaha pertanyaan macam apa ini, ya mau lah, siapa yang tak mau uang sebanyak itu."


"Hahaha tapi temani aku yu," kata Aziel.


"Kemana??"


"Rahasia ayo, 50 juta bisa kau buat jajan," kata Aziel.


"Gasss." Demi uang walaupun lelah ia tak akan mau tinggal diam, uang segala nya untuk saat ini.


Aziel tak yakin si setiap toko buah tropis ada buah itu, ia membuat beberapa lis toko yang akan ia


datangi.


Mereka sudah sampai di toko pertama, Aziel dan Zikri langsung masuk e dalam toko, Zikri masih belum tau apa yang akan Aziel beli, ia hanya ngikut saja demi 50 juta.


"Kau mencari apa si," tanya Zikir.


"Aku mencari buah Durian, kayak nya kau suka Durian kan," tanya Aziel.


"Untuk istri ku, tak ada ya..."


"Kau tak bilang si, aku sering membeli durian, ayo ikut aku. Di sini tak akan ada durian."


Zikri yang memang sangat suka buah itu, memang sangat sering membeli nya, ia membawa Aziel ke toko Durian tempat biasa nya ia beli, kebetulan penjual nya orang indonesia juga. Memang tempat nya cukup jauh tetapi sudah pasti ada mau tidak musim sekalipun.


"Jauh Zikri," tanya Aziel.


"Ah tida jauh lagi ah, kau siap siap pakai penutup hidung karena aroma durian di sana sangat kuat."


Dengan cepat Aziel langsung mengambil masker agar ia tak terlalu mencium aroma durian. Ntah kenapa ia sangat membenci bauk durian yang sangat menusuk hidung nya.


"Sampai," ucap Zikri.


"Uwekk.." Belum mencium aroma nya saja Aziel sudah mah muntah. Ia tak yakin bisa lama di tempat itu.


"Kau saja lah," ucap Zikri.


"5 Juta," ucap Aziel.


"Ha 5 juta," tanya Zikri.


"Kau pikir Durian di sini tak mahal.."


"Ya ya ya, nah pakai kartu ku saja," ucap Aziel.


"Oh iya kalau ada buah tropis lainnya jangan lupa beli juga. Seperti jambu, salah, atau apalah. Mangga muda juga, mungkin dengan makan itu istri ku tak mual lagi."


"Istri mu seperti wanita hamil saja." Zikri keluar dari dalam mobil.


"Iya ya, apa dia hamil," ucap Aziel.


Aziel mengambil handphone nya dan langsung menghubungi Dinda. Ia ingin langsung bertanya pada Dinda.


"Sayang kamu sudah menemukan nya," tanya Dinda.


"Sudah sayang, aku sudah menemukan nya. Aku hanya ingin bertanya saja, apa jangan jangan kamu hamil sayang, kamu menginginkan buah yang aneh."

__ADS_1


"Ah tidak mungkin lah, aku belum ada terlambat kok datang bulan nya. Ini hanya murni karena lagi ingin saja."


"Oh begitu ya si, aku lebih percaya sama kamu, kan kamu wanita yang mengandung anak aku. Kalau kamu hamil ya tak papa, kalau tidak ya tak papa Kamu jangan lepas KB dulu ya," kata Aziel.


"Iya sayang, aku pun tak heran kalau hamil Orang pil baru sampai di tenggorokan celana sudah sampai di lutut," ucap Dinda.


"Hehehe ya sudah, tak usah pakai KB la,. percuma saja kalau gitu. Kita serahkan dengan takdir saja."


"Iya sayang, aku tunggu durian nya ya," ucap Dinda.


Zikri membeli apa saja yang ia lihat. Durian besar berukuran 10 kilo dan buah buahan yang Aziel minta. Ia tak perlu takut ia habis banyak uang karena Aziel itu Sultan. Tak ada yang bisa mengalahkan Kesultanan nya Aziel.


Zikri membungkus durian itu dengan rapat agar aroma nya tak kemana mana. Walaupun memang aroma nya tetap masih kemana-mana.


Ia membuka bagasi untuk meletakkan semua buah buahan yang ia beli tadi.


Setelah itu ia kembali masuk ke dalam mobil.


"Sudah," tanya Aziel.


"Sudah, durian Thailand rada nya sangat mantap.." Zikri mengarahkan tangan nya ke dekat hidup Aziel.


"Uwekk." Aziel langsung ingin muntah seketika.


"Kau gila."


"Hahaha wangi kan, yang aku makan tadi durian lokal, memang aroma nya lebih baik kuat."


"Wangi dari mana, sudah ayo cepat.."


Di perjalanan pulang Aziel hanya ingin muntah saja, aroma Durian itu menyebar di mobil nya. Rasa nya benar-benar sangat tidak enak. Aziel sampai membuka kaca mobil nya.


Walaupun dingin melanda Aziel tak peduli, ia tak kuat dengan aroma kuat durian itu.


Sesampainya di rumah Aziel langsung keluar dari dalam mobil. Ia memuntahkan isi perut nya yang sudah ia tahan sejak tadi.


"Hahaha lemah, aroma wanita saja kau suka," kata Zikri.


Dinda sudah ada di ruang makan. Melihat Zikri membawa Durian yang begitu besar membuat Dinda sangat senang.


"Besar sekali Zik, aku mana habis," kata Dinda.


"Kau tenang saja ada raja durian di sini," ucap Zikri dengan sangat percaya diri.


"Wah bagus sekali, dimana Aziel??"


"Aziel di luar, ia tak akan kuat dengan aroma durian yang menyengat.


"Begitu.. Buah seenak ini kenapa pulak tak suka."


"Kau bisa membuka nya Zikri," tanya Dinda.


"Tidak, aku lupa kenapa tidak minta buka kan sekaligus tadi, bagaimana cara membuka nya," jawab Zikri.


"Rajah buah konon, membuka nya saja tak bisa.'' Aziel bergabung dengan mereka berdua.


"Hahaha kan aku hanya suka memakan nya tak suka membuka nya, bagaimana si kau.''


Zikir mengambil pisau terbesar di rumah itu, dengan segenap jiwa raga nya, Zikri membuka buah itu, untung saja sudah sedikit terbuka karena Zikri mencicipi nya sedikit tadi, untuk memastikan jika buah durian itu memiliki rasa yang enak. Tak butuh waktu lama buah itu terbuka dengan sempurna, daging buah berwarna kuning terlihat begitu menggoda.


"Wah... Dinda langsung mengambil satu dan memakan nya dengan sangat lahap, rasa nya memang sama sekali tak mengecewakan.


Begitu juga dengan Zikri, ia memakan buah itu seperti memakan sesuatu yang sangat enak. Hanya Azeil yang menahan muntah, ia ingin merasakan buah itu tapi aroma nya sangat menyengat, ia tak akan kuat.


''Coba sayang," ucap Dinda.


"Aroma nya sayang, aku tak kuat, tapi au sangat ingin mencoba nya, bagaimana ya cara agar aroma durian ini tak terlalu berasa.''


''Mana mungkin bisa, di buat kue ataupun minuman juga pasti akan tetap berasa."


"Mendengar membuat kue dan minuman aku jadi ingin membuat nya, Zikri bisa minta tolong sisihkan sedikit, aku akan membuat kue besok."


"Oke, kalau di makan begini saja juga tak akan habis," kata Zikri.


Zikri memindahkan semua daging durian ke dalam toples, jika ingin memakan nya tinggal ambil saja. Ia hanya makan beberapa buah karena sudah sangat kenyang, di tempat nya langsung tadi ia sudah memakannya.


Zikri membuang kulit durian itu keluar rumah, setelah itu ia langsung masuk e dalam kamar, ia belum ada istirahat sejak sampai di rumah ini.

__ADS_1


__ADS_2