
Reno sudah tidak tahan akan semua ini, ia ingin cepat-cepat pergi meninggalkan rumah ini. Yang di katakan Raffi pada nya benar apa ada nya, keluarga Annisa hancur sehancur-hancur nya.
"Annisa kita pulang sekarang," bisik Reno.
"Nanti sebentar lagi, aku belum menyusun Barang-barang ku."
"Setelah makan langsung kita susun, aku sudah tidak tahan," ucap Reno.
Reno heran kenapa makanan yang ia makan berbeda sendiri, yaitu makanan yang memang ia suka, berbeda dengan makanan milik yang lainnya yang sama sekali tidak ia suka.
"Apa dia yang menyiapkan ini semua," batin Reno.
Setelah selesai sarapan pagi, mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar. Untuk saat ini kamar adalah tempat terbaik untuk Reno, ia tidak perlu melihat dua orang yang membuat nya ilfil sejak pertama kali bertemu.
"Mas kamu tidak akan menceraikan aku kan," tanya Annisa.
"Hanya karena orang tua mu aku menceraikan mu, aku tidak segila itu," jawab Reno.
"Terima kasih mas, oh iya untuk uang bulanan nya jangan di kirim ke mereka berdua. Aku tidak pernah memberikan mereka uang hasil bekerja ku, mereka punya beberapa lahan di desa sebagai pemasukan utama mereka."
__ADS_1
"Tidak masalah, 20 juta kecil untuk ku. Oh iya perkataan orang tua mu tadi mengingatkan ku akan suatu hal aku belum pernah memberikan mu nafkah. Semua kartu ku bisa kau pakai, nanti aku akan memberikan satu kartu ku," ucap Reno.
"Iya mas, Terima kasih," kata Annisa.
Menurut Annisa Reno sudah banyak berubah, sifat nya jauh lebih hangat dari sebelumnya, perkataan nya juga tidak terlalu menyakitkan lagi.
"Aku harap, kami berdua bisa tetap bersama, kenapa rasa kagum ku semakin besar pada nya," batin Annisa.
"Apa yang kau pikirkan, kenapa melihat ku seperti itu," tanya Reno.
"Tidak ada mas, oh iya ingin aku buatkan teh atau susu?"
Tidak banyak barang yang Annisa bawa, ia hanya membawa barang-barang yang penting dan bermakna untuk nya. Kalau masalah pakaian ia tidak perlu repot repot harus membawa nya karena Kayla dan Alya sudah memenuhi lemari nya dengan pakaian baru.
"Aku masih heran pada nya, dia sangat cantik dengan rambut terurai seperti itu. Tapi kenapa dia selalu menutupi rambut nya itu sangat menjengkelkan," ucap Reno.
Reno membuka handphone nya untuk mencari style yg cocok dengan Annisa. Ia tidak bisa meminta Annisa melepaskan penutup kepala nya, karena Annisa terus menolak, belum lagi kakak nya yang sudah mengingat kan nya akan hal itu.
"Annisa jika hanya atas kepala mu yang di tutup tida semua rambut mu tidak masalah kan," tanya Reno
__ADS_1
Annisa membalik tubuh nya, ia berjalan mendekati Reno agar bisa tau maksud dari perkataan Reno.
"Untuk apa mas," tanya Annisa.
"Duduk dulu," jawab Reno.
"Satu alasan kenapa rambut mu dan kepala mu kau tutup," tanya Reno.
Annisa berpikir jika sebaiknya Reno tau akan hal itu, menurutnya Reno bisa melindungi diri nya dari orang jahat yang ingin membahayakan nya.
"Mas kamu bisa melihat di atas kepala ku," ucap Annisa.
Reno yang sangat penasaran langsung melihat ke atas kepala Annisa, akhirnya ia tau kenapa Annisa menutupi kepala nya.
"Itu apa Annisa, itu tanda lahir ya. Hanya itu kau menutupi kepala mu," tanya Reno.
"Iya mas, itu tanda lahir. Cukup besar kan dan jika ingin lihat lihat pasti akan tampak jelas," jawab Annisa.
"Kenapa aku baru sadar, tapi tanda hitam itu tidak membuat nya aneh, aku tidak masalah," batin Reno.
__ADS_1