
Raffi masuk ke dalam kelas Vania dengan membawa materi khusus untuk kelas ini, materi yang akan ia bawakan adalah reproduksi. Ntah kenapa semua anak sangat senang dengan materi ini, mereka sangat bersemangat ketika Raffi mengatakan akan membahas tentang reproduksi. Berbeda dengan Vania yang sangat tau kenapa Raffi membahas semua ini, ia yang awal nya buta dengan reproduksi menjadi tau semua nya.
"Ayah." Reyhan berlari masuk ke dalam kelas dan langsung memeluk ayah nya.
"Hey sayang, kamu datang ke sini." Dengan cepat Raffi langsung menggendong anak kesayangan nya.
"Ayah sudah selesai," tanya Reyhan.
"Belum sayang, kamu tinggu ayah dengan kak Vania sana." Raffi kembali menurunkan Reyhan. Reyhan pun berlari ke arah Vania, mamah sambung nya.
Vania tersenyum melihat Reyhan yang langsung ke arah nya, ia memangku Reyhan sambil mendengar penjelasan Raffi. Setelah selesai Vania langsung membawa Reyhan ke ayah nya, kelas juga sudah kosong jadi mereka berdua bisa sedikit bebas.
"Ke ruangan ku saja sayang," kata Raffi.
"Kami duluan," tanya Vania.
"Iya kalian duluan saja," jawab Raffi.
Vania menggendong Reyhan ke ruangan Raffi, ia cukup banyak mendapatkan perhatian banyak orang. Awal nya Vania sangat malu tetapi ia berusaha menghilangkan rasa malu itu, lagi pula yang ia bawa sekarang anak kandung suami nya.
"Vania." Tina berjalan mendekati Vania.
"Iya buk," ucap Vania.
__ADS_1
"Dimana ayah nya," tanya Tina.
"Sedang dikelas masih menyusun beberapa tugas."
"Oh iya sudah, jaga anak ku dengan baik, aku ada kelas. Ingat itu anak ku dan Raffi, kami membuat nya dengan penuh kasih sayang." Tina mencium Reyhan dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ya aku tau kalian membuat nya dengan penuh kasih sayang, aku juga akan begitu nanti," batin Vania, Vania merasa jika dengan nya Tina memang sedikit judes.
Hari cepat berlalu Vania dan Raffi menghabiskan waktu bersama dengan Reyhan. Saat ini mereka berdua sudah dalam perjalanan pulang, Reyhan juga sudah di ambil kembali dengan mamah nya. Raffi tidak membuang kesempatan ini, tangan nya menarik rok Vania sampai ke atas lutut.
"Mas," ucap Vania.
"Sttt aku suami mu," kata Raffi.
"Ya kan lagi jalan mas, jangan aneh aneh," ucap Vania.
"Ya asal jangan di jalan bahaya," jawab Vania.
Sesampainya di rumah mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar, tidak terlihat orang di rumah ini, hal ini cukup aneh untuk mereka. Semua orang memang sedang berada di luar. Seperti Reno dan Annisa yang ke rumah sakit. Reynald serta istri nya sudah pulang ke rumah mereka.
"Mandi," kata Vania sambil melepaskan kemeja suaminya. Dari luar tangan Raffi meremas bokong Vania, ia merasa ingin sekali mendapatkan nya hari ini tetapi Vania harus memberikan nya secara ikhlas tanpa paksaan.
"Sudah mandi sana," kata Vania.
__ADS_1
"Mandi bersama sayang," ucap Raffi.
"Aku nanti saja mandi nya."
"Aku juga nanti, setelah kita berolahraga." Raffi membawa Vania naik ke atas kasur. Bibir nya terus menyerang Vania sampai Vania tidak berdaya sedikit pun.
Tubuh Vania seakan lemas seketika, ia tidak mengerti kenapa seperti ada perasaan aneh yang terus ingin ia rasakan, ia dapat merasakan perasaan aneh itu saat semua anggota tubuh Raffi bergerak di tubuh nya. Satu persatu pakaian mereka berdua sudah lepas dari tempat nya. Vania sudah hanya tinggal pertahanan terakhir begitu juga dengan Raffi.
Dua benda kembar di depan Raffi membuat Raffi seperti serigala yang kelaparan, ia melahap nya tanpa ampun sampai yang punya berteriak dan merintih merasakan sensasi yang sangat luar biasa Beberapa kali Raffi juga menggigit kecil benda itu yang membuat teriakan Vania semakin kencang.
"Ahhhh, mas." Vania menekan kepala Raffi agar lebih dalam lagi.
"Boleh," tanya Raffi untuk melakukan ke tahap yang lebih dalam lagi. Tangan nya sudah ada di pertahanan terakhir Vania.
"BBoleh aku istri mu," jawab Vania.
Dengan cepat Raffi menarik nya sampai koyak, hal itu membuat Vania cukup terkejut. Raffi turun ke bawa melihat sesuatu yang sangat indah, benda yang belum terjamah oleh siapapun. Hanya diri nya ya lah yang akan merasakan nya.
"Sayang," teriak Vania saat Raffi mulai bermain di sana, rasa nya jauh lebih aneh dari sebelum nya.
Setelah beberapa saat Vania merasakan ia ingin buang air kevin, tubuh nya terasa menegang, nafas nya tidak beraturan. Bukan nya mendorong Kepala Raffi, Vania malah menjepit nya sampai Vania mengeluarkan semua nya. Tubuh nya langsung terasa lepas seketika, ia tidak tau apa yang keluar dari dalam sana.
"Sakit." Teriak Vania, ia tidak tau jika Raffi sudah memposisikan diri nya.
__ADS_1
"Mungkin akan sakit, tapi tahan lah."
Note mungkin beberapa hari akan ada adegan dewasa, tidak suka skip