
Aziel memegang wajah Dinda, ia memperhatikan mata Dinda yang masih kemerahan. Aziel membuka kaca mata milik Dinda untuk pengelihatan nya. Jantung Dinda terasa berdetak lebih kencang berdetak. Ia tidak bisa mendapatkan perhatian seperti ini dari Aziel. Ini bukan pertama kali nya Dinda mendapatkan tatapan ini, tatapan teduh Aziel masih terus sama seperti dulu.
Kaki Dinda terasa lemas, ia seperti tidak bisa mengendalikan diri nya saat ini. Aziel mengerutkan dahi melihat Dinda seperti ingin tumbang. Dan benar saja baru beberapa saat Aziel berpikir seperti itu, Dinda hampir terjatuh ke lantai. Untung saja Aziel cepat menahan nya.
"Dinda kau tidak papa kan? ayo duduk dulu." Aziel membawa Dinda duduk di atas ranjang.
"Tidak aku tidak papa, aku hanya sedikit lemas." Dinda benar-benar sangat malu, bisa bisa nya ia seperti itu di depan Aziel.
"Yakin tidak papa, hari ini jadwal operasi mata mu loh," kata Aziel.
"Sekarang, aku belum siap," ucap Dinda.
Ini rencana Dinda selanjutnya, ia akan mendapatkan perhatian lebih dari Aziel jika ia tidak operasi dengan cepat. Mengulur waktu sampai Aziel cukup memperhatikan nya itu akan membuat rencana nya semakin berjalan dengan sangat lancar.
"Tapi mata mu sudah seperti itu loh," ucap Aziel.
"Aku takut pak, aku belum siap. Tubuh ku juga masih lemas, aku belum siap untuk operasi pak. Aku akan tetap bekerja dengan memakai kaca mata."
"Kau yakin Din, jangan mengambil resiko," kata Aziel.
"Saya yakin pak," ucap Dinda.
"Ya sudah jika itu kemauan mu," kata Aziel.
Aziel dan Dinda keluar dari dalam kamar. Aziel sangat terkejut melihat Reno sudah berada di sana. Ntah bagaimana Reno bisa tau jika Aziel berada di rumah Dinda.
"Abang, kenapa sampai di sini," tanya Aziel.
"Hahaha kau ke rumah pacar mu tidak bilang bilang."
"Pacar," ucap Dinda dan Aziel secara bersama.
"Sayang kamu mau kan menerima lamaran dari bos mu," tanya Laksmi.
"Lamaran!! Abang melamar Dinda untuk kamu," tanya Aziel.
"Iya lebih baik kalian cepat menikah. Ayah juga setuju kok, dan aku yakin pilihan ku adalah yang terbaik untuk mu," jawab Reno.
"Maaf buk, saya tidak mau ini ngaco," kata Aziel.
__ADS_1
"Ziel!!!"
"Aku tidak mencintai nya bang," ucap Reno.
"Kau akan mencintai nya, semuanya sudah sepakat, kalian akan segera menikah" kata Reno.
"Kau egois bang." Aziel pergi meninggalkan tempat itu, tanpa sadar tangan nya masih menggandeng tangan Dinda.
"Egois, ini demi kebaikan nya, lagi pula kata tidak cinta tapi tangan nya masih di gandeng," kata Reno.
Reno membuka handphone nya, untuk meminta penjelasan dari ayah nya. Baru ingin menghubungi Iqbaal, ayah ya sudah mengirimkan pesan terlebih dahulu pada nya. Pesan berisi ancaman yang membuat Aziel tidak bisa apa apa lagi.
"Aziel," ucap Dinda.
"Kau!!! kenapa kau mengikuti ku," tanya Aziel.
"Tangan ku kau genggam," jawab Dinda.
"Eh maaf." Aziel langsung melepaskan tangan Dinda.
"Maaf Pak, orang tua ku juga sama keras nya. Dia sudah menerima lamaran dari abang bapak. Jika aku tidak menurut dengan nya, aku bisa di hajar habis habisan oleh nya. Dia bukan orang tua kandung ku, aku hanya menumpang hidup pada nya."
"Ada cafe daerah sini? kita bicarakan pernikahan ini," ucap Aziel.
"Hmmm ada, tapi harus naik kendaraan umum dulu Pak," kata Dinda.
"Ayo lah, aku pening."
Aziel dan Dinda mencari kendaraan umum untuk pergi ke cafe. Sesampainya di cafe Aziel memesan banyak makanan dan minuman untuk membuat mood nya lebih baik lagi. Dinda tidak heran melihat hal itu, ia sudah tau bagaimana Aziel memperbaiki Mood nya.
"Jadi bagaimana pak," tanya Dinda.
"Ya kita tetap menikah, tetapi hanya beberapa waktu saja, sampai dengan semuanya tepat untuk kita berpisah. Aku sudah mempunyai pacar, dan aku ingin menikah dengan pacar ku."
"Begitu pak, baiklah, saya ikut saja yang bapak katakan, saya yakin semuanya yang terbaik untuk diri ku maupun untuk bapak."
"Hmmm benar benar." Aziel berbicara dengan sambil makan, ia tidak akan berhenti makan sampai dengan moodnya lebih baik.
"Pak," ucap Dinda.
__ADS_1
"Hmmmm."
"Itu makanan semua? apa tidak kenyang," tanya Dinda.
"Diam aku sedang makan," jawab Aziel.
"Ya saya tau, itu sangat banyak. Boleh saya minta," tanya Dinda.
"Ambil," jawab Aziel.
Di rumah Reno dan Laksmi sudah memutuskan kapan pernikahan mereka berdua di laksanakan. Reno melakukan ini agar Aziel tidak kembali dengan Lisa. Lisa membawa pengaruh buruk untuk Aziel Lebih baik Aziel menikah dengan Dinda yang menurut nya akan menjadi Annisa ke dua, di mata Reno Dinda sangat mirip dengan Annisa. Acara pernikahan akan di laksanakan di gedung pernikahan yang cukup mewah, karena keluarga besar Aziel akan datang untuk menyaksikan pernikahan ini.
Setelah memperbaiki mood nya. Aziel dan Dinda kembali ke rumah. Dinda tidak jadi operasi mata, ia ingin menikah dulu sebelum pernikahan nya. Ia yakin Aziel akan memberikan nya perhatian lebih dan akan mendapatkan hati Aziel. Setelah itu ia baru akan menghancurkan Aziel secara perlahan.
"Jadi kapan kau operasi," tanya Aziel.
"Setelah menikah saja," jawab Dinda.
"Ya sudah aku pulang dulu, setelah ini mungkin kita akan sering bertemu."
"Iya, hati hati pak," ucap Dinda.
Aziel memutuskan untuk ke restoran nya. Ia tidak mungkin pulang ke apartemen dengan keadaan seperti ini. Lebih baik ia bekerja dari pada badmood di rumah.
"Selamat sayang," ucap Alya.
"Mamah aku tidak ingin menikah," kata Aziel.
"Hahaha jangan begitu, abang mu sudah berusaha dengan keras. Kamu bukan tidak cinta dengan nya, kamu hanya belum mencintai nya," ucap Alya.
"Aku tak akan mencintai nya mamah ku sayang."
"Nanti akan mencintai nya anak ku sayang. Mamah juga begitu, tapi jadi kal Kayla, kau dan adik mu, cinta akan datang jika sudah waktunya."
"Hadeh ya sudah mamah ku, jangan lupa datang ya. Akun sangat merindukan mamah ku sayang," kata Aziel.
"Iya sayang, bagaimana kau sudah bertemu dengan adik mu kan," tanya Alya.
"Hahaha iya, dia sudah besar dan sangat tampan, aku kalah tampan dengan nya."
__ADS_1
"Muka muka seperti nya akan jadi buaya, jaga adik mu dengan baik, dulu dia sangat suka meminta mainan, tapi sekarang dia bisa saja meminta wanita, apalagi dia sedang masa pubertas."