
"Hmmm iya, nama nya juga sudah beberapa tahun yang lalu," jawab Aziel.
"Aku juga di ajari teman ku, sudah pak, ada lagi?"
"Tidak ada kau boleh pulang sekarang," kata Aziel.
"Maaf pak, jemputan saya nanti sore, rumah saja jauh dan tidak ada kendaraan umum ke sana, boleh saya di sini sampai sore," tanya Dinda.
"Boleh, atau pakai mobil ku saja jika mau pulang, nanti aku bisa minta jemput abang ku," ucap Aziel.
"Tidak pak, saya di sini saja, mana tau tiba-tiba bapak memerlukan saya," kata Dinda.
Dinda kembali ke tempat duduk nya dan langsung bermain handphone, ia sengaja tidak pulang karena ingin lebih tau tentang Aziel, jika pulang ia pasti akan banyak kehilangan momen berharga.
Baru saja duduk Aziel kembali memanggil Dinda. Dari pada Dinda menganggur dan ia tetap menggaji Dinda lebih baik Dinda ia minta untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat.
"Ini saja," ucap Aziel.
"Apa," tanya Dinda.
"Ambilkan aku makanan di depan, katakan saja makanan untuk ku dan adik ku. Kau juga jangan lupa makan, aku lupa memberitahu mu jika makan dan kebutuhan mu disini aku tanggung," ucap Aziel.
"Saya baru ingin pesan makanan online, Terima kasih pak," kata Dinda dan langsung ke depan saja untuk mengambil makanan. Aziel sangat baik pada nya, ia tidak percaya jika sifat Aziel ini tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.
Tak lama Dinda kembali dengan dua pelayan membawa makanan yang sangat banyak. Kebiasaan Aziel makan dengan bermacam macam lauk dan harus ganti setiap hari nya, jika tidak mengerti Aziel pasti akan merasa repot.
"Panggil kan adik ku di kamar," ucap Aziel.
"Siap pak." Ini kesempatan emas untuk Dinda, ia bisa masuk ke dalam ruangan rahasia Aziel.
Di dalam sana ternyata sangat luas, bukan hanya ada ranjang yang besar, tetapi meja kerja dan beberapa perlengkapan lainnya. Kamar itu juga sangat wangi khas Aziel, Dinda sangat menyukai wangi itu sejak dulu.
Sebelum membangunkan Zikri, Dinda berkeliling kamar itu sejenak, ia ingin mencari sesuatu yang mana tau penting untuk nya. Dinda melihat buku tulis yang terbuka, ia mendekati buku itu dan melihat tulisan di dalam nya.
"Hanya planing nya saja, ternyata dia tidak ada niatan menikah dalam 2 tahun terakhir," batin Dinda.
Karena tidak ingin terlalu lama, Dinda mendekati Zikri dan mulai membangunkan nya.
__ADS_1
"Hey," ucap Dinda.
"Hey bangun." Dinda menepuk tubuh Zikri pelan.
Dinda tidak tau jika bahu Zikri sedang tidak baik baik saja. Hal itu menimbulkan rasa sakit yang membuat Zikri terkejut. Zikri menarik Dinda yang membuat Dinda tertarik ke atas kasur.
Mata Dinda terkena tangan Zikri yang membuat soflen di mata Dinda terjatuh, hal itu cukup menyakitkan untuk Dinda. Dinda langsung berdiri dan mencari kamar mandi.
"Ah perih," ucap Dinda.
"Hey kenapa, maaf." Zikri langsung berlari mengejar Dinda.
"Aku tidak papa, abang mu menunggu mu, aku nanti menyusul," ucap Dinda di dalam kamar mandi.
"Zikri." Aziel masuk ke dalam ruangan itu, ia bingung kenapa mereka lama sekali.
"Itu asisten mu," ucap Zikri.
"Kenapa dengan nya," tanya Aziel sambil berjalan mendekati Zikri.
"Tidak tau, mata nya terkena tangan ku, cukup kuat pulak," jawab Zikri.
"Tidak papa pak, tunggu saja di luar," kata Dinda.
Di dalam Dinda langsung membasuh mata nya dengan air mengalir, satu soflen nya jatuh ntah kemana, meninggalkan rasa perih di mata nya. Dan satu soflen nya lagi juga hanyut dengan air mengalir, Dinda tadi terlalu kasar dan terburu buru.
Pandangan Dinda terasa kabur dan sangat tidak jelas. Ia harus ke dokter untuk membeli soflen khusus lagi, kalau tidak ia harus memakai kaca mata besar, Dinda tidak mau itu, ia merasa jelek jika memakai kaca mata.
Dinda keluar dari ruangan itu dengan perlahan, ia takut terjatuh ke lantai karena pandangan nya benar-benar buruk.
"Itu dia," ucap Zikri.
Aziel bingung kenapa Dinda terus mendekati nya, Dinda pun tidak melihat dengan jelas Aziel, ia pikir mereka berdua masih jauh.
"Dinda."
"Ahkkk." Teriak Dinda
__ADS_1
Semua nya terlambat Dinda jatuh menabrak Aziel. Ia tepat jatuh di atas tubuh Aziel. Tangan Aziel yang menahan di meja terluka tertusuk gelas yang pecah karena tangan nya sendiri. Tetapi hal itu belum membuat Aziel sadar karena Aziel menatap mata Dinda yang kemerahan.
"Mata mu terluka," ucap Aziel.
"I.. iya..."
"Aahkkk." Aziel baru merasakan rasa perih di tangan nya.
"Ziel tangan mu," ucap Zikri.
"Maaf pak, tangan bapak kenapa? bapak baik baik saja kan," tanya Dinda dengan sangat panik.
"Tidak tidak, kita ke rumah sakit, mata mu harus di obati," kata Aziel.
Di rumah sakit Dinda langsung di periksa, begitu juga dengan Aziel yang langsung mendapatkan penanganan di tangan nya. Mata Dinda terluka hal itu membuat Dinda harus memakai kaca mata kembali agar pengelihatan nya jadi jelas. Dokter juga meminta Dinda untuk menjalani operasi agar pengelihatan Dinda tidak semakin hancur.
"Berapa biaya nya dok," tanya Dinda.
"Tergantung tingkat keparahan nya, hmmm di atas 50 juta."
"Sudah operasi saja, aku tanggung jawab, aku yang membuat mata mu terluka," ucap Zikri.
"Kau kecelakaan di tempat ku, aku yang akan bertanggung jawab," ujar Aziel.
"Apa ini, satu tepuk dua lalat kena," batin Dinda.
"Hmmmm," Dinda masih bingung.
"Sudah dok buat jadwal nya," kata Aziel.
"Siap, saya akan membuat jadwal nya," ucap Dokter.
"Pak tangan mu," ucap Dinda.
"Tidak papa," kata Aziel.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja," ucap Dinda.
__ADS_1
"Tidak papa, ini tidak sakit kok."
"Dinda kau membuat ku mengingat seseorang..."