Cinta Di Dalam Perjodohan

Cinta Di Dalam Perjodohan
Klub futsal


__ADS_3

"Kamu mengantuk," tanya Vania.


"Iya," jawab Reyhan.


Vania membetulkan posisi Reyhan agar Reyhan bisa tidur dengan nyaman. Tak lupa ia memeluk Reyhan sambil menepuk pantat Reyhan. Raffi tersenyum senang melihat Vania, ia benar-benar tidak salah memilih istri, meskipun masih SMA Vania sudah berpikir dengan dewasa.


"Kita langsung pulang saja ya," kata Raffi.


"Iya mas, kasihan anak kamu," ucap Vania.


"Kamu tidak papa kan," tanya Raffi.


"Tidak, tidak papa bagaimana mas?"


"Tidak papa belum menikah sudah punya anak, Tina sudah membolehkan ku Bertemu dengan Reyhan, jadi kemungkinan besar dia akan sering bersama ku," kata Raffi.


"Oh tidak papa mas, aku suka dengan anak kamu, dia sangat tampan dan sangat baik, tidak rewel, seperti nya dia juga sangat merindukan ayah nya," ucap Vania.


"Jelas di berasal dari benih unggul, besok kamu akan mendapatkan anak tampan seperti nya," kata Raffi.


Sesampainya di rumah, Raffi langsung mengambil alih Reyhan, ia tidak mau merepotkan Vania yang sudah memangku Reyhan dari perjalanan tadi.


"Aku pulang dulu ya, maaf tidak bisa mampir," kata Raffi.


"Jangan, nanti Reyhan bagaimana. Sudah istirahat di sini saja, di kamar ku," ucap Vania.


"Kau tidak enak dengan orang tua mu, aku pulang saja, nanti kalau Reyhan bangun dan menangis pasti akan membuat keributan," kata Raffi.

__ADS_1


"Tidak mas, sudah jangan khawatir kan hal itu. Sudah ayo masuk, pasti orang tua ku sangat senang bisa bertemu dengan anak kita," ucap Vania.


Raffi cukup terkejut saat Vania mengatakan anak kita, ia tidak pernah berpikir Vania akan mengganggap Reyhan anak nya juga.


"Terimakasih Vania, kamu menganggap Reyhan anak kamu juga," kata Raffi.


"Hahaha iya mas, kan memang dia anak ku juga."


Vania dan Raffi langsung masuk ke dalam. Mereka berdua melewati ruangan utama yang sedang di dekor. Vania sangat suka dengan dekorasi pernikahan nya yang terlihat sangat elegan, begitu juga dengan Raffi yang merasa sangat puas.


"Kamu suka," tanya Raffi.


"Raffi Vania kalian sudah pulang," tanya Fahri.


"Sudah paman, maaf membawa anak ku," jawab Raffi.


"Ah tidak papa, aku juga ingin bertemu dengan nya, apa dia sedang tidur?"


"Hahaha jangan lupa ya, kenalkan dia pada kami," ucap Fahri.


Semua orang di keluarga ini sudah tau jika Raffi sudah mempunyai anak, mereka tidak mempermasalahkan hal itu, mau punya anak atau pun tidak jika sudah mendapatkan restu tidak akan ada halangan yang berarti.


"Bawa saja ke kamar, biarkan dia istirahat dengan nyenyak," kata Fahri.


"Ayo mas, di kamar ku saja," ucap Vania.


"Jangan aneh aneh ya."

__ADS_1


"Iya ayah, aku tau batasan," kata Vania.


"Paman tau saja aku sudah ngebet."


"Hahaha jelas aku tau, sudah sana, kita jangan menganggu mereka bekerja," kata Fahri.


Vania dan Raffi pun pergi meninggalkan tempat itu, mereka berdua sudah seperti pasangan suami istri yang memiliki satu orang anak.


Annisa mendapatkan kabar jika Raffi sudah bertemu dengan anak nya, ia sangat senang mendapatkan kabar baik itu, dan sudah pasti Annisa ingin sekali bertemu dengan keponakan tersayang nya.


"Sayang kamu tau diri mana," tanya Reno.


"Aku tau dari paman, tadi kata nya kak Raffi membawa anak nya," jawab Annisa.


"Oh begitu, kamu ingin bertemu dengan nya?"


"Ya pasti aku ingin bertemu, tapi nanti saja kah, pasti kakak sedang melepaskan rindu nya,"


"Iya kamu benar, beri mereka berdua waktu, aku yakin pasti Raffi sedang melepaskan rasa rindu pada anak nya," kata Reno.


"Sayang cepat lah keluar, ayah sudah sangat menunggu mu, kamu pria atau wanita ya." Reno mengusap perut istri nya.


"Ayah atau daddy," tanya Annisa.


"Hahaha ayah dan daddy sama saja, aku sangat penasaran jenis kelamin nya," jawab Reno.


"Kemungkinan pria, feeling ku pria," kata Annisa.

__ADS_1


"Nah aku suka itu, setelah itu kita cetak wanita, dan seterusnya, aku ingin membuat klub futsal," ucap Reno sambil tertawa.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku melahirkan anak anak mu," kata Annisa.


__ADS_2