Cinta Di Dalam Perjodohan

Cinta Di Dalam Perjodohan
Episode 32


__ADS_3

"Hahaha tidak sayang, kamu ini ada ada saja ya, aku mana mungkin seperti itu. Aku hanya bisa membaca pikiran mu," ucap Dinda.


"Membaca pikiran ku ya, aku tak percaya, katakan kamu tau semua nya dari mana," tanya Aziel.


"Kalau aku katakan jika wanita yang kamu cerita kam itu aku, kamu percaya tidak," tanya Dinda.


"Tak sama sekali, mana mungkin lah. Wanita itu cukup gemuk, berkaca mata. Hmmm kulit nya agak gelap, kalau kamu kan langsing dan sangat putih dan bersih," jawab Aziel.


"Hahaha aku pikir kamu percaya, tetapi kalau aku kata bisa saja wanita itu bisa berubah menjadi lebih baik. Dia bisa diet untuk kurus, dan dia bisa memutihkan diri nya," kata Dinda.


"Ya juga ya." Aziel menatap Dinda ia rasa bisa jadi wanita ini adalah masa lalu nya.


"Itu kamu," tanya Aziel.


"Kamu siapa???"


"Kamu, ini benar-benar kamu. Andin," tanya Aziel.


"Andin," tanya Dinda.


"Katakan sayang, ini benar benar kamu?? Jangan bohong, ini kamu," tanya Aziel.


"Hadeh maksud nya apa sayang???"


"Aku tak percaya, ini kamu kan, sumpah aku benar-benar tak percaya ini. Bagaimana bisa???" Aziel kebingungan dengan ini semua. Ia tak percaya jika Dinda adalah wanita itu.


"Kenapa," tanya Dinda.


"Kenapa kami tak mengatakan nya, kenapa kamu berbohong pada ku, aku sangat kecewa dengan mu," ucap Aziel.


"Kenapa? kamu kecewa menikah dengan wanita gemuk itu, wanita jelek itu," tanya Dinda.


"Tidak aku tak kecewa menikah dengan mu, aku hanya tak habis pikir. Kamu berubah, kenapa kami sampai bisa seperti ini," tanya Aziel.


"Karena mu... Karena diri mu Aziel." Dinda mengusap air mata nya.


"Maafkan aku." Aziel langsung memeluk Dinda. Senang bercampur sedih itu lah yang Aziel rasakan. Rasa bersalah nya dengan wanita itu tak lagi ada karena ia menikah dengan nya. Tetapi ia merasa di bohongi oleh Dinda, ia tak tau kenapa Dinda melakukan hal ini pada nya.

__ADS_1


"Kita pulang," ucap Aziel.


Di perjalanan pulang mereka semua hanya saling diam. Aziel merasa bodoh baru menyadari nya sekarang, padahal Dinda sudah menunjukan semuanya. Ia tak curiga pada Dinda yang mengerti tentang diri nya, semua hal tentang diri nya, mana mungkin semua itu hanya kebetulan semata.


"Din, terus kenapa kamu tak memberitahu ku semuanya," tanya Aziel.


"Untuk apa, aku tak ingin mengingat masa lalu ku lagi. Andin sudah tak ada, yang ada hanya Dinda sekarang. Aku tak mau menjadi diri ku yang dulu, aku sudah bahagia dengan diri ku sekarang."


"Aku masih bingung, kamu sengaja masuk ke restoran ku dan dekat dengan ku," tanya Aziel.


"Iya..."


"Wah wah wah, kamu licik juga ya," kata Aziel.


"Kamu marah pada ku," tanya Dinda.


"Awal nya cukup kecewa tetapi sudah lah, kan itu semua masa lalu. Yang aku tau sekarang kamu wanita yang dulu sempat aku sukai. Dan aku juga paham jika kamu masih mencintai ku sampai sekarang. Bukti nya kamu mendekati ku lagi," kata Aziel.


"Yakin," tanya Dinda.


"Yakin sayang, sudah jangan kamu pikirkan, aku menerima semuanya. Kamu juga harus menerima ku, jangan biarkan rumah tangga ini hancur karena kita maupun karena orang lain," jawab Aziel.


"Aku tak akan kehilangan nya untuk yang keduanya kali nya, aku tak bisa melanjutkan semuanya," batin Dinda.


Dinda memberikan pesan terakhir pada bos nya sebelum mematahkan kartu handphone nya agar mereka kehilangan kontak, tak hanya itu ia melemparkan handphone nya dari atas balkon kamar. Ia ingin terbebas dari semua hal yang merusak rumah tangga nya.


"Sayang," ucap Aziel.


"Iya, kamu mengejutkan ku," kata Dinda.


"Handphone mu tak aktif, ibu mu sampai menghubungi ku," ucap Aziel.


"Handphone ku jatuh dari Balkon, besok beli lagi ya."


"Jatuh??? bagaimana bisa," tanya Aziel.


"Tadi malam kamu lupa, yang kita main di balkon," jawab Dinda.

__ADS_1


"Karena itu?? oh ya sudah lah besok beli lagi."


"Kenapa orang tua ku mencari ku," tanya Dinda.


"Meminta uang kata nya, sudah aku kirim si," jawab Aziel.


"Sayang jangan mengirim uang sembarangan pada nya, aku saja yang mengirim nya," ucap Dinda.


"Tak papa lah dia ibu mertua ku, sesekali tak apa apa, lagi pula kamu juga akan pakai uang yang aku berikan. Dari pada mengurangi uang jajan mu lebih baik aku saja yang mengirim nya."


"Bukan begitu sayang, kamu tak tau ibu ku gimana. Berapa dia meminta mu?"


"Aku kirim 100, aku takut kurang," ucap Aziel.


"Itu terlalu banyak sayang, nanti pasti dia akan meminta nya terus pada mu, aku saja mengirim nya 15 juta perbulan, itu sudah sangat cukup untuk nya."


"Sudah jangan perhitungan begitu. Oh iya besok sore kita sudah harus terbang ke Jepang. Tak jadi ke acara pesta Zikri. Harry sudah tak sabar bertemu dengan ku."


"Kita belum packing," ucap Dinda.


"Ya sudah packing sekarang lah, aku tunggu di ranjang ya. Maaf aku lagi lelah tak bisa membantu mu," kata Aziel.


Aziel mencium wajah istri nya agar Dinda lebih semangat lagi.


"Ya sudah tidur lah, aku packing sebentar, nanti aku akan menyusul mu.'


Dinda mengambil koper di dalam lemari dan mulai memasukan semua kebutuhannya dan Aziel di sana nanti, ia tak tau berapa lama mereka di sana, Dinda memilih membawa agak banyak untuk berjaga jaga.


Mata Dinda tak sengaja melihat pakaian haram di tumpukan baju Aziel, terlihatt pakaian haram itu masih baru. Dinda taku pakaian haram ini milik Lisa, karena mereka tak jadi menikah pakaian haram itu tak jadi di pakai.


Setelah selesai packing Dinda memilih pakaian haram itu untuk mengerjai Aziel, sekaligus meminta penjelasan dari Aziel tentang pakaian haram ini, ia tak mau ada rahasia di atara mereka berdua.


"Sayang.'' Mata Aziel melotot saat melihat istri nya memakai pakaian haram itu.


"Wah wah wah, dari mana kamu mendapatkan nya sayang, seksi sekali"


"Dari tumpukan pakaian kamu, ayo katakan dari siapa benda haram ini, wanita mana yang memberikan nya."

__ADS_1


"Aku berani sumpah jika yang memberikannya bang Reno setelah kita menikah. Kata nya hadiah untuk kita."


__ADS_2