
Dugaan Reno benar, ia tidak ingin mempermasalahkan hal ini terlebih dahulu. Reno ingin menyelesaikan apa yang sedang ia lakukan.
"Sakit mas," ucap Annisa.
Dua jam lama nya Annisa menangis tanpa berhenti, meskipun tangisan nya sudah tanpa air mata. Rasa nya memang sangat sakit sekali, sampai Reno tumbang pun Annisa masih merasakan rasa sakit itu.
"Kau berhutang penjelasan pada ku," ucap Reno sambil memeluk Annisa.
Malam penuh tangisan telah berakhir, Annisa sudah terbangun dari tidur nya. Tubuh nya sangat sakit sekali bahkan untuk bergerak saja Annisa tidak mampu. Bagaimana tidak sedikit ini tubuh nya yang kecil sangat mudah Reno banting ke sana sini, kemarin malam memang Reno seperti tidak memperdulikan nya.
"Mas bantu aku," ucap Annisa.
"Bantu apa," tanya Reno.
"Aku tida bisa bergerak mas," jawab Annisa.
"Annisa aku baru ingat," ucap Reno.
"Iya mas aku mengaku malam itu kita tidak sempat melakukan nya."
"Bagaimana mungkin coba ceritakan pada ku," tanya Reno.
Flashback.
"Apa ini berhasil," batin Annisa.
Annisa tidak mengambil minuman yang Alya buat, ia mengambil minuman alkohol agar diri nya dan Reno mabuk. Annisa sengaja tidak minum terlalu banyak agar diri nya tidak terlalu mabuk seperti Reno yang kehilangan kendali.
Setelah semua nya berjalan sesuai dengan Rencana, Annisa membantu Reno masuk ke dalam kamar nya, ia yakin Reno pasti akan melakukan hal ini pada nya.
"Maaf Ren, aku tidak bermaksud menjebak mu, aku terpaksa," batin Annisa saat Reno mulai membuka pakaian nya.
Tapi saat mereka berdua sudah tidak memakai apapun tiba-tiba Reno tumbang di atas tubuh nya, dan rencana Annisa tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tetapi Annisa merasa hal ini sudah cukup untuk menjebak Reno.
Flashback selesai.
"Kau menjebak ku," tanya Reno.
"Maafkan aku mas, aku terpaksa melakukan ini, aku perlu seseorang untuk melindungi ku dari keluarga ku," jawab Annisa.
"Jangan alasan Annisa aku kecewa dengan mu." ucap Reno.
Annisa mendekati Reno dan langsung memeluk nya. Ia meminta ampun dan maaf pada Reno. Lagi dan lagi Reno merasa di kecewakan, tapi untuk kali ini ntah kenapa Reno dapat mengerti kenapa Annisa melakukan hal ini. Apalagi Annisa hanya masih menjaga kesucian yang ia dapatkan tadi malam.
__ADS_1
"Karena keluarga mu kau melakukan ini," tanya Reno sambil membalas pelukan Annisa.
"Sebelum aku ke rumah Kayla, aku hampir di lecehkan oleh pria yang mamah bawa. Saat itu ada kakak yang menyelamatkan ku, tapi kakak sudah pergi tidak akan ada lagi yang melindungi ku."
"Aku memaafkan," ucap Reno dengan memberikan beberapa kecupan di wajah Annisa.
Reno sudah tau bagaimana keluarga Annisa, keluarga yang sangat kacau dan ia yakin apa yang di katakan Annisa benar apa adanya. Saat di sana ia memang melihat mamah Annisa bersama dengan pria lain. Mungkin pria seperti itu yang ingin melecehkan Annisa.
"Kenapa kau yakin aku bisa melindungi mu," tanya Reno.
"Kamu pria yang bertanggung jawab mas. Dan aku sangat yakin akan hal itu. Kamu ingat saat kita terjebak hujan badai kamu yang menyelamatkan ku, aku yakin kamu pria yang baik," jawab Annisa.
Mereka berdua kembali berbaring di atas kasur, tubuh Annisa ia tutupi sampai sebatas leher karena memang ia masih belum memakai apapun.
"Mas itu apa," tanya Annisa.
"Dia bangun mungkin dia ingin memintanya lagi."
"Mas masih sakit," rengek Annisa.
"Aku akan memaafkan mu dengan satu syarat," ucap Reno.
"Apa itu mas," tanya Annisa.
"Persyaratan macam apa ini," ucap Annisa.
"Aku tidak akan memaafkan ku jika kau tidak mau," kata Reno.
"Iya aku mau, tapi jangan aneh-aneh ya," ucap Annisa yang membuat Reno senang.
"Jangan menangis lagi, kau tidak tau jika rasa nya enak," ucap Reno yang membuat wajah Annisa merah padam.
Karena hari ini Weekend Reno enggan keluar kamar, ia masih malas bertemu dengan Iqbaal dan yang lainnya. Hati nya masih tidak bisa menerima jika Iqbaal tidak memberitahu nya semua ini dengan cepat.
"Aku ingin mandi," ucap Annisa.
Nanti saja, aku akan pesan makanan. Setelah makan kita bermain satu ronde," kata Reno.
Jika pria sudah merasakan keenakan, ia akan memintanya terus menerus, seperti Reno yang ingin terus meminta nya sepanjang waktu.
"Kau mau pulang bim," tanya Iqbaal.
"Kau mengusir ku," tanya Bima.
__ADS_1
"Tidak bukan begitu, aku malah ingin melarang mu pulang sampai Reno tidak marah lagi," jawab Iqbaal.
"Mungkin kalau satu minggu bisa, anak ku masih liburan dengan nenek dan kakek nya."
"Oh iya anak mu yang ke dua," tanya Iqbaal.
"Rose, dia ikut dengan kakek nenek nya, ayah dan mamah nya sofia," jawab Bima.
"Kau sudah merasakan tiga istri yang berbeda an setiap wanita sudah mempunyai anak dari mu," kata Iqbaal.
"Hahaha kau benar, dan istri terakhir ku memang sangat luar biasa. Aku sudah punya tiga anak dari nya dan sekarang dia sedang hamil anak keempat ku, jadi total anak ku ada 6," ucap Bima.
"Kau gila, oh iya istri mu yang terakhir memang masih muda."
"Aku mendapatkan nya saat aku sedang menjalankan proyek di desa, aku mendapatkan nya usia nya masih 19 tahun, berbeda 10 tahun dari ku," kata Bima.
"Wah daun muda, pantas saja banyak anak, tidak ada rem."
"Kau tidak kau menambah istri," tanya Reno.
"Alya sudah cukup untuk ku," jawab Iqbaal.
"Hahaha kau memang sangat setia."
"Bagaimana dengan anak kau tidak mau nambah anak," tanya Bima.
"Aku ingin beberapa anak lagi tapi Alya sudah masuk kepala 4 tidak baik jika dia hamil. Harry sudah cukup menjadi anak terakhir ku."
"Iya aku mungkin akan menambah sampai istri ku masuk kepala 4. Istri ku suka dengan anak kecil dan dia memang ingin mempunyai banyak anak."
"Kau hebat, aku ingin menjodohkan satu anak kita," ucap Iqbaal.
"Bisa-bisa, anak ke dua ku seumuran dengan Harry," kata Bima.
"Anak pertama mu," tanya Iqbaal.
"Dia cowok, 3 tahun lebih muda dari rose," jawab Bima.
"Oke anak ke dua mu dengan anak ke tiga ku, aku rasa akan sangat sulit karena Harry seperti aku dulu," kata Iqbaal.
"Tidak bisa dekat dengan wanita, tidak bisa terkena panas dan matahari," tanya Bima.
"Hahahaha iya mau benar, bukan nya dia sangat mirip dengan ku."
__ADS_1
"Semoga saja anak ku tidak menderita karena hal itu," ucap Bima.