
Sesampainya di rumah Bima mereka bertiga langsung di sambut oleh Bima sekeluarga. Reno mendekati Anna dan Lisa karena ia ingin memberikan hadiah pada ke dua adik nya.
"Ini untuk Anna dan ini untuk Lisa, kalian berdua suka tidak," tanya Reno.
"Suka kak terimakasih," jawab mereka berdua.
"Ini mah dari anak mamah dan ini untuk ayah." Annisa juga memberikan oleh-oleh untuk ke dua mertua nya.
"Terima kasih Reno, Terima kasih Annisa, kalian berdua memang yang terbaik," kata Iris.
"Iya ren, seharusnya kau tidak perlu membelikan apapun. Zikri juga sudah membawa berbagai macam hadiah dan kata nya dari mu juga," ucap Bima.
"Tidak papa yah, sudah menjadi kewajiban Reno, Reno tidak di persilahkan masuk ini."
"Oh iya masuk lah," kata Bima.
Zikri yang bertemu kembali dengan Aziel langsung membawa Aziel masuk ke dalam kamar nya. Banyak yang akan mereka lakukan saat Aziel sedang berada di sini.
"Mereka berdua sangat dekat, aku yakin ada yang akan mereka lakukan," kata Reno.
"Hahaha iya, Zikir sudah izin pada ku, jika ia akan membawa adik ku ke sekolah nya," ucap Bima.
Di dalam kamar Zikir langsung menunjukan foto-foto wanita yang ia sukai, dan akan ia jadikan pacar nya. Jiwa Playboy Zikri memang sudah ada sejak dulu.
"Hmmm aku tidak ada yang suka," kata Aziel.
"Tidak ada yang suka kata mu, hahaha seperti apa tipe mu," tanya Zikri.
"Tipe ku wanita berambut panjang tidak peduli berwarna apa rambut nya, wajah nya aku ingin seperti baby face gitu. Kalau bisa dia memiliki campuran darah Indonesia dan luar," jawab Aziel.
"Hahaha selera mu memang sangat tinggi ya, hmmm kalau begitu di sekolah ku tidak ada yang seperti itu. Tapi kalau kau masuk ke sekolah ku kau akan menjadi artis mendadak.
(Visual Aziel untuk saat ini ya. Nanti kalau sudah dewasa akan berubah lagi.(
"Kita buktikan besok," ucap Aziel.
"Kau tidak percaya dengan ku, kau itu tipe wanita sekolah ku, wajah mu tampan, tubuh cukup atletis aku yakin mereka akan langsung mengantri," kata Zikri.
"Kalau iya aku akan sering ke sekolah mu, oh iya kau sudah bilang ke ayah mu kalau kau mau kuliah dengan ku di Australia," tanya Aziel.
__ADS_1
"Nanti saja ketika Nilai ku sudah keluar, aku yakin ayah ku akan mengizinkan ku kuliah dengan mu kalau nilai ku bagus," jawab Zikri.
"Hmmm kau harus banyak belajar, Kita tidak kemana-mana ni," tanya Aziel.
"Aku banyak tugas, aku tidak boleh kemana-mana," jawab Zikri.
"Untuk tugas mu aku akan membantu mu, sekarang bawa aku bertemu dengan teman-teman mu," kata Aziel.
"Oke kalau begitu ayo, agar aku di izinkan pergi kau harus ikut izin dengan ayah," ucap Zikri.
"Kalau begitu ayo lah, aku sudah tidak sabar bertemu dengan teman-teman mu," kata Aziel.
Sebelum pergi Zikri mengganti pakaian nya terlebih dahulu, sedangkan Aziel tidak perlu mengganti pakaian nya karena ia susah tampan sejak lahir.
"Sudah siap," tanya Aziel.
"Sudah ayo kita pergi sekarang," jawab Zikri.
Mereka berdua keluar dari kamar untuk meminta izin pada Bima. Bima mengerutkan dahi nya saat melihat Zikri dan Aziel sudah berpakaian rapi.
"Hmmm kau mau kemana," tanya Bima.
"Aku ingin pergi yah, boleh ya," jawab Zikri.
"Aziel akan membantu nya, sudah pergi lah," saut Reno.
"Iya paman, aku akan membantu nya," ucap Aziel.
"Ya sudah pergi lah, jangan berkebutan, jangan membuat anak orang celaka," kata Bima.
"Iya yah," ucap Zikri.
"Zikri sudah mempunyai sim," tanya Reno.
"Belum kak, tapi aku sudah sangat jago membawa mobil," jawab Zikri.
"Aziel kau saja yang membawa mobil, ini pakai mobil kakak," kata Reno.
"Iya kak, kami pergi dulu," ucap Aziel.
Setelah kepergian mereka berdua Reno dan Bima kembali membahas masa depan Zikri. Mereka berdua ingin yang terbaik untuk Zikri.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki rencana untuk menguliah kan Zikri ke luar negeri, aku rasa di Indonesia saja sudah cukup," kata Bima.
"No yah, aku rasa Zikri kuliah bersama dengan Aziel di Australia, untuk biaya aku yang akan membiayai," ucap Reno.
"Hmmm kalau itu yang terbaik untuk Zikri daddy pasti akan mengunjungi nya, tapi aku harus melihat hasil sekolah nya, Nilai nya bagus sekali atau tidak."
"Daddy untuk Nilai memang sangat penting tapi jangan menekan nya, hal itu pasti akan membuat nya tidak konsen aku yakin Zikri pasti bisa memiliki nilai yang bagus," kata Reno.
"Kau sangat sayang pada adik mu, ayah bangga pada mu," ucap Bima.
"Aku sudah banyak merubah pola pikir ku. Aku tidak ingin adik-adik ku merasakan apa yang aku rasakan dulu. Aku juga sangat senang melihat adik-adik ku tersenyum bahagia," kata Reno.
"Kau membuat ayah jadi merasa bersalah pada mu, Maafkan ayah Reno maafkan ayah," ucap Bima.
"Aku tidak ada maksud untuk mengungkit masalah itu yah, Maaf telah membuat mu tersinggung."
"Tidak papa, ayah memang salah pada waktu itu, ayah sangat menyesal," ucap Bima.
"Oh iya yah, aku baru ingat dulu, ada anak wanita dan itu anak mu," kata Reno.
"Kau ingat Ren," tanya Bima.
"Ingat yah, nama nya aku lupa tapi aku masih ingat dengan nya," jawab Reno.
"Nama nya Rose, sejak mamah nya masuk ke dalam penjara ia ikut dengan nenek dan kakek nya, ayah tidak boleh melihat nya karena ayah juga membuat yang menjebloskan nya ke dalam penjara."
"Oh karena itu, pantas saja aku tidak pernah bertemu dan melihat nya," kata Reno.
"Jangan kan kau, aku saja tidak pernah melihat nya. Aku sangat ingin bertemu dengan nya, tapi mau bagaimana lagi,"ucap Bima.
"Kasihan ayah ku, anak mu banyak sekali aku juga ingin mempunyai banyak anak, apa semua ini menurut dari mu."
"Hahaha mungkin saja, aku juga sangat setuju jika kau mempunyai banyak anak," kata Bima.
"Apa mamah tidak marah yah, kalau istri ku si mau saja," ucap Reno.
"Kalau istri ayah juga mau saja, kita memiliki misi yang sama dengan memiliki istri yang sama-sama setuju dengan keputusan yang kita buat," kata Bima.
Annisa dan Iris hanya bisa tersenyum mendengar itu semua, mereka bukan nya ingin memiliki banyak anak tetapi mereka berdua hanya mengikuti kemauan suami meeka, selagi suami meeka masih bertanggung jawab kenapa tidak menuruti kemauannya.
"Mamah memikirkan apa yang aku pikirkan," tanya Annisa.
__ADS_1
"Iya Annisa, kita memang istri yang luar biasa," jawab Iris.
Para suami yang mendengar ucapan istri mereka hanya tersenyum manis, seperti pria tanpa rasa bersalah