
Aziel menutup telepon itu dengan wajah yang sedih, ia ingin sekali mendampingi Harry adik terakhir nya. Tetapi di sini ia juga mempunyai tanggung jawab lain. Mau bagaimana pun istri nya tanggung jawab nya sekarang, ia tidak mungkin meninggalkan Dinda dalam kondisi seperti ini.
"Kenapa mas? ada masalah," tanya Dinda yang bingung karena Aziel tidak bersuara seketika.
"Adik ku masuk rumah sakit, lusa akan di bawa ke Jepang, aku tak bisa mendampingi nya."
"Ya sudah pergi lah, jangan pikirkan aku. Aku di rumah sakit saja, adik mu nomor satu aku mah apa," ucap Dinda.
"Tidak lah, aku tidak mungkin pergi meninggalkan mu, kita akan ke Jepang bersama sama setelah kau sembuh," kata Aziel.
"Yakin mas, aku tak ingin membebani mu," ucap Dinda.
"Yakin, jangan pikirkan aku, sudah fokus dengan kesehatan mu," kata Aziel.
Seperti yang Dinda harapkan, hubungan mereka berdua semakin hari semakin dekat saja. Selama Dinda menjalani penyembuhan Aziel lah yang merawat Dinda dengan baik. Hal itu tidak menutup kemungkinan jika mereka berdua sudah memiliki perasaan di hati mereka masing-masing. Hampir semua keperluan Dinda Aziel yang melengkapi, hanya saja untuk urusan mandi dan masak Aziel menyerahkan pada pelayan baru nya, ia tidak mau melihat tubuh Dinda langsung karena ia takut terbawah n*fsu, apalagi ia sudah pernah merasakan bagaimana bibir Dinda membuat nya meledak.
Tanpa terasa satu minggu telah berlalu, karena tidak ada gangguan dari Lisa yang sedang liburan ke Hawai, hubungan Aziel dan Dinda seperti tidak ada halangan. Semakin lengket seperti prangko, Dinda memang tidak sulit untuk membangun perasaan pada Aziel, dulu ia sangat mencintai pria ini, dan perasaan cinta itu muncul kembali. Untuk Aziel ia memang belum merasakan apapun, hanya rasa nyaman berada di dekat istri nya. Atau bisa jadi Aziel tidak peka dengan perasaan nya.
"Ziel," ucap Zikri.
"Ha iya, ada apa??"
"Kau tampak bucin sekali ya, kau jatuh cinta dengan istri mu," tanya Zikri.
"Ha... Itu hanya perasaan mu saja," jawab Aziel.
"Halah, kau begitu, kau jatuh cinta ya..."
"Jatuh cinta apaan si, aku tidak jatuh cinta Zikri. Bagaimana pekerjaan mu? lancar kan," tanya Aziel.
"Halah jangan mengalihkan pembicaraan, aku pasti mengerjakan pekerjaan yang kau berikan dengan baik kok," jawab Zikri.
"Hmmm iya kah, kalau begitu bagus lah. Ya sudah istri ku menunggu makanan nya."
"Jatah lancar seperti nya ni, sampai bersemangat sekali," ucap Zikri.
"Jatah apa si Zikri, aku belum menyentuh nya. Jangan berpikir yang tidak tidak. Hanya saja itu ku sudah di sentuh bibir nya."
__ADS_1
"Haa???"
"Hahaha jangan penasaran ya, kalau ingin tau rasa nya, cepat menikah."
"Bagaimana rasa nya bang, aku penasaran lah. Aku hanya penasaran saja."
"Hmmm rasa nya ah mantap, ia sangat pintar. Tapi dia tidak bisa melahap semuanya," ucap Aziel.
"Anjay, aku ingin sekali," kata Zikri.
"Hahaha menikah lah, pacar mu kan ada," ucap Aziel.
"Malas, belum memiliki pekerjaan yang tetap. Aku malas. Nanti saja kalau aku sudah siap, aku sudah mempunyai sesuatu yang bisa aku banggakan," kata Zikri.
"Oh begitu, ya sudah nikmati saja hidup mu." Aziel pergi meninggalkan Zikri. Ia sudah pegal membawa makanan milik Dinda.
"Mas," ucap Dinda.
"Kamu dengar aku masuk," tanya Aziel.
"Hahaha iya, kuping ku sudah peka."
"Ih sejak kapan kamu gombal seperti ini, aku tak pernah mendengar nya."
"Hahaha aku bercanda saja," ucap Aziel.
"Jadi hanya bercanda saja, oh aku tidak cantik ya."
"Tidak cantik, kata siapa kau cantik kok. Nama nya juga wanita," ucap Aziel.
"Mana makanan ku, aku tidak membutuhkan gombalan mu," kata Dinda.
"Hahaha kau ngambek sayang. Jangan ngambek nanti aku mandiin."
"Ha mandiin, untuk apa, aku tak mau, ayo suapin aku. Aku ingin kamu pangku," ucap Dinda.
"Sini sini aku pangku. Jangan goyang goyang ya nanti dia bangun," ucap Aziel.
__ADS_1
Aziel meletakan makanan itu di atas meja, setelah itu ia memangku Dinda dan menyuapi Dinda makan. Sudah menjadi kebiasaan nya menyuapi Dinda makan 3 kali sehari, jika tidak dia yang melakukan nya rasanya aneh saja. Dinda juga sangat bergantung dengan suaminya, ia sampai lupa rencana awalnya, apalagi sudah satu minggu ia tidak memegang handphone.
"Mas mandi bersama bagaimana," ucap Dinda.
"Tidak tidak, bisa mati aku menahannya, dia pasti akan bangun melihat tubuh seksi mu," kata Aziel.
"Hahaha kamu apa lah, sikit sikit bangun. Ya sudah lah, kalau tak mau," ucap Dinda.
"Oh iya kamu tidak bertemu dengan Lisa," tanya Dinda.
"Dia sedang berlibur ke Hawai, aku sudah satu minggu tidak bertemu dengan nya," jawab Aziel.
"Wah pantas saja betah di rumah."
"Ya karena ada kamu, kalau tak ada kamu untuk apa aku di rumah. Ada istri yang harus aku rawat," ucap Aziel.
"Wih romantis nya, terimakasih sayang, jadi semakin cinta pada mu," kata Dinda
"Cinta... Kamu jatuh cinta pada ku?"
"Bercanda, jangan baper beneran ya, kamu seperti tidak tau aku saja."
"Tapi kalau cinta ya tak papa juga, hahaha aku si menerima saja," ucap Aziel.
"Kalau aku mencintaimu, apakah kamu akan membalas cinta ku," tanya Dinda.
"Mungkin, bisa jadi iya," jawab Aziel.
Sambil mengunyah Dinda berpikir, ia tidak ingin masa lalu nya terulang kembali. Apakah benar diri nya mencintai Aziel kembali dan Aziel tidak mengecewakannya seperti dulu. Rasa nya Dinda belum yakin.
Di tempat lain. Lisa sedang bersama seseorang pria di sebuah Vila. Jika sudah berduaan dengan lawan jenis sudah pasti yang ke-tiga setan. Dan memang mereka berdua sudah melakukan perbuatan yang tidak benar. Dengan lincah nya Lisa bergoyang-goyang di atas pangkuan pria itu, seseorang pria tampan cinta satu malam Lisa.
Lisa membuka mulut nya karena merasakan rasa nikmat yang begitu dalam. Ia hanya membayangkan Aziel, karena ia sangat ingin bercinta dengan Aziel, ia tau betul bagaimana ukuran Aziel. Pasti sangat memuaskan nya. Apalagi ia sangat mencintai pria itu.
"Hmmm ya terus sayang..."
Pria mana yang tahan dengan godaan Lisa. Apalagi Lisa seperti sangat berpengalaman. Ia tidak akan berhenti sampai sampai ke puncak nya. Bayangkan Aziel membuat Lisa semakin ganas. Ia tidak tau jika apa yang ia lakukan malah membuat hubungan nya dengan Aziel rusak. Apalagi saat ini Aziel sedang dekat dengan istri nya. Mudah melupakan Lisa dan jatuh ke dalam pelukan Dinda.
__ADS_1
"Perasaan ku tak enak sejak kemarin," ucap Aziel.