Cinta Di Dalam Perjodohan

Cinta Di Dalam Perjodohan
Episode 44


__ADS_3

Pagi hari setelah acara selesai, mereka semua berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Hanya Harry dan istri nya nya yang belum menampakkan batang hidup nya. Hal itu membuat semua curiga jika Harry dan Anna sudah melakukan malam pertama mereka.


"Aku rasa memang mungkin mereka sudah melakukan nya, Harry sudah pubertas dan sudah mimpi basah, ya dia sudah memiliki nafsu. Kalau Anna dia juga sudah datang bulan, ya berarti sudah bisa," kata Reno.


"Hahaha ya kalau iya ya sudah, kenapa kalian yang sibuk," ucap Iqbaal.


"Hahaha aku tak bisa membayangkan nya, bagaimana ya ekspresi mereka berdua kalau melakukan nya. Kebingungan Anna saat melihat mereka milik Harry, dan keganasan Harry," ucap Aziel.


"Harry bisa ganas tak ya," kata Reno.


"Ganas lah, kenapa pulak tidak," ucap Aziel.


"Bagaimana burung nya, sudah besar tidak," tanya Iqbaal.


"Ya seperti milik bang Reno lah," jawab Aziel.


"Wah memang keturunan ku sangat luar biasa," kata Iqbaal.


Para wanita hanya bisa diam mendengar celotehan suami mereka, mereka sudah tak heran lagi dengan sifat yang suami mereka miliki. Dinda saja yang baru menikah dengan Aziel sudah paham betul dan terbiasa dengan semuanya.


"Apa aku susul saja," tanya Aziel.


"Jangan menganggu mereka mereka Aziel, biarkan saja lah," jawab Reno.


"Memang tak baik untuk kepo, biarkan saja Harry bahagia dengan kehidupan nya yang baru," ucap Iqbaal.


Di dalam kamar Harry dan Anna sudah bangun dari tidur nya, mereka juga sudah selesai membersihkan diri. Ada kejadian besar saat mereka bangun tadi, Harry ngompol di celana itu yang Harry katakan pada Anna, padahal yang sebenarnya tidak, ada hal yang Harry rahasia kan dari Anna, jika Anna sampai tau rasa malu yang Harry rasakan akan jauh lebih besar.


"Maafkan aku Anna. Aku salah, aku tak seharusnya seperti itu. Aku tak sadar, kalau aku sadar aku pasti akan ke kamar mandi.''


"Tidak papa Harry, aku tak masalah kok, itu semua memang kita tak akan sadar, kalau sadar tak ngompol nama nya. Tenang saja, aku sama sekali tak jijik dengan mu kok," ucap Anna.


''Aku tetap tampan kan walaupun aku ngompol kencing di celana,'' tanya Harry.


"Hahaha tidak Harry, kau sangat luar biasa tampan kok. Jangan khawatir ketampanan mu tak akan luntur jika hanya kencing di celana,'' jawab Anna.


''Syukurlah, aku mohon jangan ceritakan kejadian ini pada siapapun, kau bisa menjaga rahasia suami mu dengan baik kan??"


"Iya Harry, sudah kan. Aku malah terlambat untuk sekolah, aku bolos hari ini."


"Anna kamu lupa ya, jika hari ini weekend. Tak ada orang sekolah di hari Weekend."


''Maaf Harry aku lupa, aku tak ingat jika pernikahan kita di malam sabtu."


"Setelah ini apa kegiatan mu??"


"Aku akan control ke dokter, sore hari nya aku akan ke perusahaan. Kalau kamu mau ikut ayo, tapi kalau tak ikut juga tak papa," ucap Harry.


"Ya aku ikut lah, aku kan istri mu. Lagi pula aku tak melakukan apa apa," kata Anna.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita keluar. Sebelum nya aku ingin melakukan sesuatu boleh??"


"Apa??"


"Boleh aku mencium mu, aku masih kebayang bayang saat aku mencium mu kemarin," kata Harry.


"Harry.."


"Tidak mau? ya sudah tak papa, ayo kita makan," ucap Harry.


"Bo... boleh," kata Anna.


"Boleh? kamu tak terpaksa kan," tanya Harry.


"Tidak, kalau kamu mau mencium ku aku tak mungkin menolak nya, kamu kan suami ku, sudah menjadi kewajiban ku untuk melakukan permintaan mu asalkan itu benar," jawab Anna.


Mereka berdua saling berhadapan, perlahan Harry mendekati bibir Anna, Harry benar-benar sangat penasaran rasa berciuman, ia ke bayang-bayang rasa ciuman tadi malam, tadi malam ia sangat malu jadi nya tak melanjutkan ciuman itu, sekarang mereka berdua sudah berada di kamar tanpa ada yang melihat.


Bibir mereka berdua sudah bertemu Harry merasakan bibir Anna berkedut dan terasa hangat, ia tak tau harus apa lagi setelah bersentuhan begini. Perlahan insting pria nya menuntun apa yang harus ia lakukan. Anna terkejut Harry mulai lancar mencium nya, ia yang sama sama tak tau hanya bisa mengikuti saja gerakan yang Harry berikan pada nya.


Harry merasakan tubuh nya memanas, seperti ada hal yang berubah di dalam diri nya, dan ternyata yang berubah bentuk dari diri nya adalah adik kecil yang mulai membesar, ia tak tau kenapa adik nya bisa terbangun dari tidur nya, padahal tadi pagi sudah bangun tanpa sebab.


Karena takut semakin bangun Harry melepaskan ciuman itu, ia tersenyum pada Anna agar Anna tak curiga kenapa ia melepaskan ciuman itu secara mendadak.


"Apa yang kamu rasakan," tanya Harry.


"Apa aku harus menjawab dengan jujur?"


"Ya iya aku ingin kamu menjawab nya dengan jujur, kalau aku enak, ntalah aku merasakan suatu yang aneh," kata Harry.


"Nah aku pun merasakan hal yang sama, aku juga seperti mu, darah ku seperti mengalir dengan deras tak seperti biasa nya," ucap Anna.


"Anna nanti kita ke tempat menjual buku ya, ada hal yang ingin aku beli," ujar Harry.


"Oke."


Sebenarnya ada yang ingin Anna tanyakan pada Harry kenapa aroma sprei kencing Harry berbeda dari aroma kencing pada umum nya, ia sudah biasa mencium aroma kencing dari adik adiknya, yang punya Harry tadi sangat terasa berbeda, Anna tak tau apa penyebab perbedaan nya. Ia juga tak berani bertanya pada Harry, Anna takut Harry malah memikirkan yang tidak tidak. Padahal sebenarnya Harry tak mengompol, Harry mimpi basah yang ke dua kali nya setelah terbayang bayang ciuman pertama nya. Tetapi lagi dan lagi Harry tak bisa mengingat semua nya dengan jelas.

__ADS_1


Mereka berdua pun keluar dari dalam kamar, di ruang makan masih banyak orang menunggu mereka berdua, apalagi hari ini Weekend tak ada kegiatan apapun selain bersantai. Mata mereka semua langsung tertuju pada mereka berdua saat berjalan mendekat, dari cara berjalan Anna yang normal berarti mereka tak melalukan hal apapun. Dugaan mereka semua tadi salah total.


"Selamat pagi pengantin baru," ucap Reno.


"Pagi semua," Anna menyapa mereka semua.


''Pagi...." Dengan kompak mereka membalas sapaan Anna.


"Kesiangan sayang," tanya Alya.


"Hehehe iya mah." Harry hanya bisa mengatakan iya dari pada semua nya mengira yang tidak tidak.


"Kelelahan Har," tanya Aziel.


"Iya bang, kemarin kan aku melakukan banyak hal yang membuat ku sangat lelah," jawab Harry.


"Makan yang banyak, begitu juga dengan Anna ayo makan," ujar Iqbaal.


"Ayah nanti jadi kontrol," tanya Harry.


"Jadi dong, kan sudah jadwal nya, jangan lupa sore nya juga harus ke perusahaan," jawab Iqbaal.


"Begitu ya, ya sudah aku akan di temani oleh Anna," kata Harry.


"Wah pengantin baru, lengket terus ya, lengket seperti prangko," ucap Aziel.


"Halah kayak kau tidak saja, kau sama saja," kata Reno.


"Hehehe kalau lengket kan lagi enak enak nya bang," ucap Aziel.


"Aziel.." Iqbaal memberikan peringatan pertama.


"Hehehe maaf ayah ku," ucap Aziel.


Setelah acara sarapan selesai Aziel memilih membawa istri nya jalan jalan. Mereka memiliki waktu beberapa hari lagi di sini sebelum kembali ke Australia. Tak mungkin Aziel meninggalkan restoran nya terlalu lama, Zikri yang biasa nya menggantikan nya juga sedang di Indonesia.


"Sayang ini pertama kali nya aku ke Indonesia," ucap Dinda.


"Kamu bagaimana si, kamu kan udah orang Indonesia, kenapa kamu tak pernah ke sini," tanya Aziel.


"Sayang aku lahir dan besar di negara sana, aku tak tau Indonesia bagaimana," jawab Dinda.


"Ya begini lah, sama seperti negera lainnya. Sayang kamu belum hamil kan," tanya Aziel yang sangat wanti wanti. Berbeda dengan pasangan pada umumnya yang ingin segera mempunyai anak. Aziel malah tak ingin dulu, ia ingin fokus dengan kegiatan goyang menggoyang tanpa gangguan.


"Saat di rumah sakit kemarin aku baru saja haid, sekarang sedang di masa subur, kalau tak minum pil ya pasti aku sudah hamil," kata Dinda.


"Jangan dulu ya sayang, aku belum siap mempunyai anak, aku tak mau ada yang menganggu kehangatan kita berdua. Nanti setelah setengah sampai satu tahun baru kamu boleh lepas pil," ucap Aziel.


"Nah sudah sampai tak terasa ya, sudah hampir 4 tahun aku tak ke sini."


"Tempat apa ini," tanya Dinda.


"Sayang kamu tak bisa membaca, ini lapangan golf. Temani aku main sebentar ya. Setelah selesai nanti aku akan membawa mu ke taman atau mana lah yang kamu mau," jawab Aziel.


"Iya, aku juga ingin main, mana tau aku jadi jago main," kata Dinda.


"Aku akan membuat mu jaga bermain, seperti aku membuat mu jaga bergoyang," ucap Aziel..


Aziel dan Dinda pun masuk ke dalam. Mereka berdua memesan satu tempat untuk mereka bermain. Pertama tama Aziel bermain dengan puas lebih dahulu, ia ingin melepaskan rasa rindu nya pada permainan ini.


Setelah Aziel puas bermain baru lah Aziel mengajari Dinda bermain. Sebenarnya ini hanya modus Aziel agar bisa bermain-main dengan Dinda.


"Agak naik punggung nya, terus ini ke depan. Pusat kan alergi ke tangan."


"Sayang itu kamu menempel di punggung ku," ucap Dinda.


"Hahaha iya sayang, dia memang suka menempel tak jelas," kata Aziel.


"Jangan begitu ah, nanti kalau dia bangun jadi berabe," ucap Dinda.


"Hahaha tak papa sayang fokus saja dengan permainan ini, kalau bangun ya kita pesan hotel apa susah nya."


Di rumah Harry dan yang lainnya sedang bersiap siap untuk ke rumah sakit. Hari ini jadwal nya cukup sibuk. Harry sudah biasa memiliki jadwal seperti ini. Berbeda dengan Anna yang biasa nya hanya sekolah dan mengurus adik adiknya.


Di rumah sakit Harry langsung di periksa, semua nya baik baik saja. Imun nya semakin kuat dan penyakit itu seperti tak terdektesi lagi. Memang kunci nya adalah kebahagiaan. Jika Harry bahagia imun nya akan menguat dan penyakit nya tak. akan timbul. Tingkat sensitif kulit nya pun juga sudah berkurang, tak seperti sebelumnya.


"Kamu bahagia kali seperti nya ya," ucap Dokter.


"Dokter bagaimana cara mempunyai anak," tanya Harry.


Pertanyaan itu membuat semua orang terkejut, termasuk dokter itu sendiri, ia tak pernah mendengar pertanyaan ini dari manapun.


"Bagaimana cara nya.. Pertama kamu harus mempunyai istri," kata Dokter yang berpikir kalau Harry belum menikah.


"Aku sudah mempunyai istri dok, ini dia istri ku," kata Harry.


"Dia sudah menikah," tanya Dokter pada Iqbaal.

__ADS_1


"Sudah, kemarin malam. Ini yang membuat nya sangat bahagia, karena ini permintaan nya sendiri," jawab Iqbaal.


"Apa.. Ini sangat gila, tapi ya sudah lah. Kamu ingin punya anak kan, selagi semua nya laki-laki. Dokter akan menjelaskan semuanya. Istri mu bisa ke toilet," ucap Dokter.


"Ya sudah aku ke toilet permisi." Dari pada mendengar yang tidak tidak. Lebih baik anna memilih pergi ke toilet.


"Kamu mau cek kesuburan tidak," tanya Dokter.


"Tak perlu dok, jelaskan saja semuanya. Biar dia paham," kata Iqbaal.


"Pertama kamu sudah pubertas," tanya Dokter.


"Yang abang jelaskan kemarin Ziel," ujar Reno.


"Sudah," jawab Harry.


"Sudah bisa berdiri kan dia, karena itu kunci utama nya," kata Dokter.


"Setiap pagi dia bangun, aku juga sudah mimpi basah," jelas Harry.


"Nah permasalahan pertama selesai, berarti kamu sudah siap untuk membuahi," kata Dokter,


"Lalu bagaimana cara nya, apa pakai suntik," tanya Harry.


"Ya benar pakai suntik, tetapi tak pakai jarum, jarum nya adik mu."


Dokter pun menjelaskan semuanya pada Harry, Harry tak begitu paham tetapi ia berusaha untuk memahami semuanya. Ia langsung kepikiran dengan mimpi nya tadi malam, ada sedikit ingatan yang muncul dan semua yang di katakan dokter benar.


"Ini ada buku kamu bisa membacanya," ucap Dokter.


"Membaca nya," tanya Harry.


"Iya baca sampai kamu paham, lalu praktekan dengan istri mu. Ingat tanpa paksaan," jawab Dokter.


"Sayang jemput istri mu. Ada yang ingin ayah bicara kan dengan dokter," udah Iqbaal.


"Iya.." Harry pergi meninggalkan ruangan itu.


Harry masuk ke dalam toilet di ruangan itu, jadi ia aman tak di sangka mesum masuk ke toilet wanita. Ia mendekati Anna dan memeluk Anna dari belakang.


"Harry kamu mengejutkan ku," ucap Anna.


"Hehehehe maaf, Anna aku sudah tau semuanya, kamu mau hamil anak ku," tanya Harry.


"Hamil, kalau begitu aku tak bisa sekolah lagi," kata Anna.


"Home scool, aku akan menemani mu sampai lulus," ucap Harry.


Anna tak tau harus menjawab apa, ia masih ingin sekolah tetapi permintaan suami nya adalah kewajiban.


"Bisa mulai dari minggu depan, umur ku akan bertambah 16 tahun minggu depan."


"Bisa, aku tak memaksa mu," kata Harry.


Setelah selesai mereka berdua langsung pulang ke rumah, sore nanti baru lah mereka akan kembali pergi yaitu ke perusahaan. Di dalam kamar Harry membaca buku yang dokter berikan pada nya.


"Dada." Harry langsung melihat ke arah Anna.


"Kenapa," tanya Anna.


"Aku membaca ini, kamu sudah punya dada," tanya Harry.


"Sudah lah," jawab Anna.


"Boleh aku melihat nya," tanya Harry.


"Harry tunggu nanti ya, tunggu ulang tahun ku yang ke 16. Sekarang aku juga sedang datang bulan," jawab Anna.


"Oh begitu baiklah, aku mengerti di sini di jelaskan jika seseorang wanita yang sedang datang bulan tak boleh di ganggu karena memiliki perasaan yang sedang sensitif karena pengaruh hormon."


"Kamu mengerti semua nya Harry, wah kamu sangat keren."


Seperti yang di katakan dokter ia tak boleh memaksakan kehendaknya, Harry tak akan memaksa Anna sampai Anna mau sendiri, ia sangat ingin memberikan ayah nya keturunan, ia masing berpikir jika umur nya tak akan panjang.


Setelah selesai bersenang senang dengan istri nya, Aziel kembali pulang ke rumah, ia ingin mengobrol berdua dengan Harry sebelum ia kembali ke Australia, mereka tak memiliki banyak waktu, apalagi Harry akan sibuk sibuk nya, begitu juga dengan diri nya sendiri.


"Bagaimana keadaan mu sayang, semua nya sudah baik baik saja kan," tanya Aziel.


"Sudah sangat baik baik saja bang, kata dokter aku sedang sangat bahagia sehingga imun ku meningkat lebih bai."


"Sudah pasti pernikahan ini kan yang membuat mu sangat bahagia, memang menikahkan mu dengan Anna adalah keputusan terbaik," kata Aziel.


"Hahaha iya bang, sekarang aku sedang belajar bagaimana cara nya mempunyai anak, abang mau belajar juga tidak, abang kan belum mempunyai anak," ucap Harry.


"Berbeda dengan mu Harry, abang malah tak ingin mempunyai anak dulu, ya setiap orang memiliki pemikiran sendiri si, kalau kau benar benar ingin segera memberikan ayah cucu tak masalah."


"Abang kenapa tak ingin mempunyai anak," tanya Harry.

__ADS_1


"Ya belum ingin saja, abang rasa masih ingin menikmati hidup dengan istri tanpa gangguan. Ya


bukan berarti anak itu pengganggu, aku tau anak itu rezeki dari Tuhan. Untuk sekarang abang belum ingin saja, tak ada alasan lain."


__ADS_2