
"Makasih," ucap Aziel.
"Untuk..??"
"Untuk tadi, aku suka," ucap Aziel.
"Suka apa nya," tanya Dinda.
"Bentuk, rasa dan semua nya. Aku sangat suka, kamu suka??"
"Kamu seperti sudah berpengalaman, benar sudah pernah??"
Aziel menggaruk kepala nya, ia tidak pernah melakukan hal itu selain pada Dinda, tetapi ia hanya belajar dari setiap mimpi yang ia alami.
"Tidak ada, aku belajar dari mimpi ku."
"Hahaha jangan membual, aku tak akan marah, aku. tidak peduli masa lalu bagaimana dengan wanita lain, yang terpenting masa lalu mu itu tidak menganggu kehidupan kita yang sekarang."
"Hahaha iya, jadi aku boleh lagi," tanya Aziel.
"Dasar tuman, tidak ada lagi. Itu saja sudah kemerahan kau buat."
"Baru pada ku, belum pada anak kita nanti,
"Ha... Anak kita, kamu berkata apa? anak kita, emang kit akan punya anak bersama, bukan nya kamu tidak ingin hidup lama dengan ku. Kamu akan hidup bahagia dengan wanita itu."
"Kamu berkata apa si, kan aku sudah pernah menjelaskan pada mu jika kalau aku jatuh hati pada mu aku akan melepaskan Lisa dan memilih hidup dengan bahagia bersama mu, ya berarti kita akan mempunyai anak."
"Itu kan kalau, ya berarti belum tentu, jangan memberikan ku harapan untuk yang kesekian kali nya, kamu tau berharap itu tidak enak tau," ucap Dinda.
__ADS_1
"Emang aku pernah memberikanmu harapan seperti nya tidak pernah deh selain ini, kapan aku memberikan mu harapan, sampai sampai kamu berkata untuk yang kesekian kali nya," kata Aziel.
'Hahaha, mungkin saja kamu tidak sadar pernah memberikan harapan palsu pada ku, janji janji yang kamu katakan dan kamu langgar bukan nya juga harapan palsu." Dinda menjelaskan semua nya dengan tenang agar Aziel tidak curiga pada nya. Ia hampir membongkar semua nya di depan Aziel langsung.
"Oh begitu, ya ya ya aku minta maaf jika selama kita bersama aku pernah memberikan janji palsu pada mu, betul yang kamu katakan, kita memang jarang sadar kalau kita pernah memberikan harapan atau janji palsu pada seseorang. Seperti masa lalu ku."
"Pada siapa si? Ayolah cerita pada ku, jangan menyembunyikan sesuatu pada ku."
"Oke aku akan cerita sekarang, dulu kamu tidak akan tau kapan, aku dekat dengan seseorang wanita, dia tidak cantik, gemuk, berkacamata tetapi aku tidak memandang itu semua. Ya bisa di katakan aku jatuh cinta pada nya dan wanita lain. Wanita itu kakak nya Lisa yanng sekarang adik nya yang aku pacari, saat itu aku dalam kebingungan wanita mana yang aku pilih, aku cerita pada Zikri kalau aku berada di dua pilihan. Jujur awal nya aku memilih wanita gemuk itu, dia memang tidak seperti wanita yang mengejar ku, cantik dan seksi. Dia membuat ku bahagia dan nyaman, menyembuhkan ku dari luka hati dari masa lalu. Tetapi setelan mempertimbangkan semua aku memilih kakak nya Lisa, aku sangat merasa bersalah pada nya, aku sudah memberikan nya harapan tapi aku malah meninggalkan nya begitu saja." Jelas Aziel.
"Dinda, aku sudah selesai," Ucap Aziel.
"Oh dah selesai sungguh cerita yang sangat bagus, itulah salah kamu, aku yakin wanita itu pasti sangat sakit hati pada mu, bisa jadi wanita itu dendam pada mu. Sekarang aku tanya, kalau kalian bertemu lagi, apa yang ingin kamu katakan pada nya, mana tau kalian di berikan kesempatan untuk bertemu lagi'"
"Jika aku diberikan kesempatan untuk bertemu dengan nya kembali, aku akan mengatakan maaf pada nya, aku tidak membenci nya, aku malah sangat berharap bisa bertemu dengan nya. Memang aku rasa mustahil, setelah aku lulus dia seperti hilang ntah kemana, aku tak pernah melihat nya."
"Lain kali jangan begitu, aku tak tau apa yang kamu katakan itu benar atau tidak. Kejujuran atau kebohongan untuk menjaga image mu di depan ku. Jangan ulangi hal itu, kamu tau itu pasti sangat menyakiti untuk nya, katakan tidak dan berikan penjelasan jika kamu tidak bisa bersama dengan nya, bukan malah menghilang seperti itu," ucap Dinda.
"Hahaha dia masih mempunyai hati mungkin. Oh iya lusa kita jadi datang kan," tanya Dinda.
"Jadi, tapi kamu harus ke rumah sakit untuk lepas perban. Aku tak mau membawa mu dalam keadaan belum sehat," ucap Aziel.
"Iya sayang, aku tak mungkin datang dengan keadaan seperti ini."
"Sayang pulak, dari mana sayang, pelanggaran kali," kata Aziel.
"Hahaha kamu kan suami ku, tak ada salah nya memanggil suami sendiri dengan sebutan sayang," ucap Dinda.
"Iya iya tak ada salah nya, sudah aku harus mandi, kamu istirahat saja ya."
__ADS_1
"Mandi bersama," ucap Dinda.
"Tak mau, aku tak ingin membuat mu menangis di dalam kamar mandi," kata Aziel.
Aziel melepaskan pelukan hangat itu dan pergi meninggalkan Dinda. Dinda tersenyum setelah mendengar semua cerita Aziel. Ia tidak tau apakah cerita itu benar atau tidak.
Malam hari nya. Aziel membawa Dinda jalan jalan, meskipun belum bisa melihat apapun. Aziel ingin membawa istri nya jalan jalan keluar dari rumah. Jujur ia sangat bosan satu hari penuh berada di rumah. Ia sudah satu minggu hampir tak ada keluar rumah, kalau keluar pun hanya untuk membeli keperluan saja.
"Mas aku ingin es krim," ucap Dinda.
"Tunggu ya, kita belum sampai, ini masih di dalam mobil," kata Aziel.
"Kamu tidak malu membawa ku mas," tanya Dinda.
"Untuk apa aku malu, aku tak akan malu membawa istri secantik kamu," jawab Aziel.
"Hahaha bisa saja, kamu kok sekarang gomal begitu si, aku jadi baper," kata Dinda.
"Baperan sekali, jujur aku sering mengombali banyak wanita."
"Pantesan, untung saja aku tak jadi baper."
Handphone Aziel terus bergetar, panggilan dari Lisa. Aziel enggan mengangkat nya, ia ingin bersenang-senang saja dengan Dinda. Aziel yakin Lisa hanya meminta uang pada nya. Satu bulan ini saja ia sudah menghabiskan 1 M hanya untuk uang jajan Lisa. Belum lagi kalau mereka jalan bersama, Lisa bisa menguras kantong nya dengan cepat.
"Kamu mau beli tas tidak," tanya Aziel.
"Untuk apa, aku juga tidak bisa lihat," kata Dinda.
"Bagaimana setelah makan es krim kita belanja untuk ke acara nya Zikri."
__ADS_1
"Terus aku bagaimana, aku tak bisa memilih."
"Aku yang memilih untuk istri ku," ucap Aziel