
"Mata mu kenapa," tanya Laksmi.
"Luka, aku akan melakukan operasi mata," jawab Dinda.
"Uang dari mana? kau mempunyai banyak uang," tanya Laksmi.
"Bos ku yang akan membiayai operasi ini, ya mau bagaimana lagi, awal nya aku tidak mau tetapi karena kecelakaan nya berapa di tempat kerja sudah menjadi tanggung jawab bos ku. Dia kaya raya juga," jawab Dinda.
"Kaya raya, hmmm kau dekati saja dia," kata Laksmi.
"Dia tak akan mau dengan ku," ucap Dinda.
"Berpenampilan yang menarik Dinda, kau harus bisa mendapatkan nya. Kau akan hidup dengan bahagia jika menikah dengan orang yang kaya raya, kehidupan mu akan jauh lebih baik," kata Laksmi.
"Iya iya, aku ingin istirahat mah."
Di tempat lain dua adik kakak yang baru bertemu pasti banyak mengobrol kan sesuatu. Aziel masih tidak menyangka saja Harry sudah sebesar ini, ia seperti bukan Harry yang manja selalu meminta mainan jika pergi kemana-mana.
"Sial kau lebih tampan dari ku," ucap Aziel.
"Itu pasti, hahaha semua orang mengakui jika aku yang paling tampan di rumah," kata Harry.
"Kau tak meminta mainan lagi kan," tanya Aziel.
"Oh jelas sudah tidak, permintaan ku sudah lebih dari itu. Laptop di rumah harus ganti setiap ada keluaran terbaru, termasuk handphone dan komputer. Meskipun aku belum boleh naik mobil sendiri, aku sudah mempunyai 4 buah mobil mewah. Paman Reynad memberikan ku dua mobil keren."
"Sial jangan bilang saldo atm mu lebih banyak dari ku."
"Hahaha itu tidak mungkin, kau lebih kaya dari ku bang, kau sudah mempunyai usaha sendiri."
"Abang aku ingin wanita," kata Harry.
"Kau ya, dulu meminta banyak mainan, sekarang malah meminta wanita, kau pikir wanita bisa di beli."
"Berapa usia mu," tanya Aziel.
"Abang berapa," tanya Harry.
"23 tahun," jawab Aziel.
"Lima tambah Enam sama dengan sebelah. Tambah tiga, jadi usia ku 14 tahun, sudah mau 15," kata Harry.
"Wow sudah pubertas dong, apa yang sudah kau alami," tanya Aziel.
__ADS_1
"Banyak bang, itu ku sudah membesar, hmmm dada ku semakin bidang, suara ku semakin berat. Jakun ku semakin terlihat dengan jelas, bulu bulu halus mulai tumbuh dan..
"Sudah mimpi basah," tanya Aziel.
"Ha itu belum, padahal aku sudah sangat berharap aku mimpi basah, tetapi mau bagaimana lagi," jawab Harry.
"Sayang sekali, kau sudah lulus Smp," tanya Aziel.
"Itu lah akibat tidak pernah pulang, pendidikan adik sendiri tidak tau. Aku tidak sekolah umum abang, ayah menggiring ku ke bisnis, aku sekolah khusus selama 3 tahun tanpa kemana-mana, baru aku lulus."
"Wow keren, itu baru adik abang, nanti abang cari kan wanita yang seumuran dengan mu, tapi jangan kau gunakan burung itu sembarangan, sunat itu mahal, gunakan sebaik baiknya," ucap Aziel.
"Hahaha iya bang. Oh iya bang, aku tidak pernah mendengar tentang pacar abang, wanita yang dekat dengan abang."
"Hahaha ada har, tapi sudah abang putus kan. Body nya beh macam gitar Spanyol, sudah cicipi sedikit lah depannya. Wangi, cantik dan sangat pengertian apa yang abang mau."
"Terus kenapa bisa putus," tanya Harry.
"Masih tanya kenapa har. Kau tau kan kalau di keluarga kita tidak pernah ada wanita yang seperti itu, dari nenek sampai mamah wanita baik baik. Ya sudah pasti jika aku dengan wanita seperti itu, keluarga kita tak akan setuju lah. Abang Reno juga tidak setuju aku dengan nya. Saat aku sedang berduaan dengan nya, aku berciuman dengan nya, tangan ku meraba raba tubuh nya, bang Reno datang. Bom langsung putus, tamat," jelas Aziel.
"Sungguh kisah yang sangat inspiratif dan menarik," kata Harry.
"Kau mau sampai kapan di sini, sudah tinggal dengan abang saja. Kau akan aku ajari bagaimana hidup nya orang sini."
"Hahaha ya sudah lah, nanti akhir tahun abang kembali ke Indonesia, kita banyak menghabiskan waktu bersama di sana saja."
"Ya sudah, bang Reno mana," tanya Harry.
"Buat anak, ngintip yok," ucap Aziel.
"Hahaha nanti kepengen bagaimana? malas aku aku lelah aku ingin istirahat."
Mata Harry tertuju pada tangan Reno yang di perban. Ia tidak sadar jika tangan abang nya sedang terluka.
"Bang kau habis kecelakaan," tanya Harry.
"Tidak, tangan ku ini terkena gelas," jawab Aziel.
"Oh begitu, aku pikir kenapa."
Aziel dan Harry memang sudah lama tidak bertemu, tetapi mereka berdua tampak seperti tidak memiliki jarak di antara mereka berdua. Bahkan Aziel lebih dekat dengan Harry dari pada dengan Reno, memang kalau memiliki ikatan darah memang lebih klop.
Beberapa hari telah berlalu, selagi Dinda tidak masuk bekerja. Aziel memilih untuk menghabiskan waktu liburan dengan Harry, mereka bersenang-senang bersama, tidak ada lagi yang Aziel pikirkan selain operasi Dinda. Ia rasa hari ini jadwal yang dokter berikan pada nya.
__ADS_1
"Harry selagi kau di sini, bantu abang untuk mengurus restoran ya."
"Bisa, hitung hitung latihan," ucap Harry.
"Ya sudah kau bebas kemana saja hari ini, abang ada urusan, mungkin sampai malam atau besok pagi," kata Aziel.
"Mau kemana bang," tanya Aziel.
"Abang harus mengurus teman abang yang akan operasi."
"Oh begitu, siap bang, aku akan pergi dengan Zikri saja."
"Ya sudah abang pergi dulu."
Aziel pergi ke rumah Dinda tanpa memberitahu Dinda. Ia pikir Dinda sudah tau jadwal nya, jadi ia langsung pergi saja.
"Permisi," ucap Aziel di depan rumah Dinda.
"Iya siapa ya," tanya Laksmi.
"Saya bos nya Dinda, Dinda nya ada buk," tanya Aziel.
"Ada ada masuk saja," jawab Laksmi.
Dinda melihat mobil yang tidak asing dari dalam kamarnya. Ia sadar jika itu mobil nya Aziel. Dengan demikian Dinda yakin Aziel sedang berada di rumah nya.
Dengan cepat Dinda merapikan semuanya. Satu foto masa lalu nya ia masukan ke dalam lemari. Dan benar saja baru ia ingin keluar dari kamar, Dinda mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Iya tunggu sebentar," ucap Dinda.
"Eh bapak," kata Dinda.
"Masuk saja."
"Tidak buk, di luar saja."
"Sudah masuk saja." Ibunya Dinda memaksa Aziel masuk ke dalam kamar Dinda.
"Maaf Pak." Saat Aziel masuk ke dalam Dinda langsung menutup pintu.
"Tidak papa, mata mu sudah baik baik saja," tanya Aziel.
"Sudah lebih baik Pak."
__ADS_1
"Tapi masih merah, sini aku lihat."