
Dari belakang tangan Dinda memeluk Aziel, mencium punggung Aziel dan meraba raba perut kotak kotak nya. Hal itu sangat mengasikkan untuk Dinda, ia mendapatkan hobi baru yaitu membuat Aziel kesal dengan nya. Jika kesal wajah Aziel sangat menggemaskan di mata nya.
"Besar mana dengan milik mu," bisik Dinda.
"Jangan menganggu." Aziel memberikan tatapan tajam pada Dinda.
"Sudah bang, ambilkan kimono itu," ucap Harry.
"Iya tunggu."
Setelah selesai mandi mereka langsung keluar dari dalam sana. Di luar sudah ada Iqbaal yang menunggu mereka bertiga.
"Sudah Harry, ayo tidur dengan ayah saja," ucap Iqbaal.
"Gelap tidak mau, aku takut panas lagi," tolak Harry.
"Ini ayah mendapatkan kipas yang sudah di cas, ayah mendapatkan nya di pos satpam," ucap Iqbaal.
"Sudah yah, tidak papa Harry tidur di sini saja. Kipas nya biar dia pakai."
"Nanti menganggu mu," kata Iqbaal.
"Menganggu apa yah, tidak ah," ucap Aziel.
"Yakin, biasa nya kalau mati lampu itu yang paling enak," kata Iqbaal.
"Ah tidak juga. Aku tak ada niatan."
"Yakin? tu sudah siap sedia tapi," ucap Iqbaal.
"Hahaha tidak yah."
"Ya sudah, kalau tidak menganggu mu. Jaga adik mu dengan baik," ucap Iqbaal.
Sebelum pergi Iqbaal mendekati Aziel dan membisikkan sesuatu pada nya.
__ADS_1
"Sleting celana mu belum tertutup, burung mu terlihat, aku mengerti, hanya untuk malam ini, besok kau bebas."
Wajah Aziel langsung panik seketika, apa benar sleting celana nya belum tertutup, ia merasa tidak pernah membuka nya.
"Kenapa mas," tanya Dinda.
"Tidak ada, Harry ayo tidur."
Dari pada mengurusi Dinda lebih baik ia mengurus adik kandung nya Harry. Harry lebih mudah untuk fi urus dari pada Dinda yang sangat menyebalkan untuk nya.
"Abang tidak papa," tanya Harry.
"Tidak. Berbaring di pinggir, aku di samping mu," ucap Aziel.
Aziel mengarahkan kipas itu ke arah Harry. Setelah itu ia berbaring di samping Harry, Dinda yang merasa terabaikan memilih ikut berbaring di samping Aziel. Ia akan menjahili Aziel dari belakang.
"Panas," tanya Aziel.
"Tidak," jawab Harry.
"Abang, hmmm kau akan segera mempunyai anak," tanya Harry.
"Tidak," jawab Aziel.
"Bohong Harry, abang mu sudah ingin sekali mempunyai anak, mungkin setelah rumah sepi dia akan ngegas."
"Begitu kak, hmmm aku menganggu ya," tanya Harry.
"Tidak Harry, kakak senang kamu tidak canggung pada kami, kakak sangat senang mendapatkan adik baik, tampan seperti mu," jawab Dinda.
"Begitu ya, aku sangat berharap abang dan kak Dinda mempunyai anak yang tampan seperti ku," ucap Harry.
"Sudah tidur, jangan aneh aneh." Aziel menutup wajah Dinda dengan bantal guling.
"Mas aku ingin memeluk mu," bisik Dinda.
__ADS_1
"Selamat malam," ucap Harry.
"Malam," saut mereka berdua.
"Mas aku pegang boleh," tanya Dinda.
"Jangan macam macam," ucap Aziel.
Mereka berdua berbicara dengan pelan agar Harry tidak mendengar nya.
Dinda mendekati Aziel dan memeluk Aziel dari belakang. Ia benar-benar sangat suka dengan tubuh kekar suaminya. Rasanya Dinda ingin selalu memeluk Aziel seperti ini.
"Wangi sekali mas," ucap Dinda.
Dinda menelusuri leher Aziel dan menciumnya rena sangat lembut. Hal itu membuat Aziel sangat tidak nyaman, memang seperti nya wanita ini butuh balasan dari nya.
Diam diam Aziel membalik tubuh nya agar ia dan Dinda bisa saling menatap.
"Jangan gatal dulu, adik ku masih tidur," ucap Aziel.
"Aku ingin memeluk mu seperti ini." Dinda langsung menciumi dada Aziel lembut. Lama lama hal yang ia lakukan akan menjadi kebiasaan nya. Laki laki mana yang tidak suka di perlakukan seperti ini, termasuk Aziel yang juga sudah tidak tahan.
Tangan nya meremas bokong Dinda dengan lembut, ia tidak mau Harry terbangun karena ulah nya.
Pagi hari nya, lampu sudah kembali menyalah. Ac sudah hidup kembali yang membuat kamar Aziel terasa sangat dingin. Sebelum abang dan kakak nya nya bangun Harry pergi meninggalkan kamar itu, ia tidak ingin terlalu lama menganggu ke duanya. Apalagi saat bangun ia melihat abang dan kakak ipar nya sedang berpelukan sangat mesra. Harry tidak yakin abang nya tidak mempunyai perasaan pada Dinda, walaupun ia tidak terlalu paham percintaan abang nya, Harry memiliki pandangan jika memang mereka berdua sudah memiliki ikatan yang tersembunyi.
"Dingin," ucap Aziel yang mempererat peluk kan nya. Malahan wajahnya sudah tenggelam di dua gunung kembar milik Dinda.
Ddrrtt... ddrrtt... ddrrtt... Dinda di bangkan dengan suara getaran handphone Aziel.
Dinda mengambil handphone itu dan langsung mengangkat nya, ia tersenyum mendapatkan panggilan dari Lisa. Ini kesempatan keduanya untuk membuat hubungan Lisa dan Aziel rusak.
"Hmmm ada apa," ucap Dinda, wajahnya tersenyum manis sambil mengusap ngusap rambut Aziel.
"Dimana pacar ku, kau lancang sekali ya."
__ADS_1
"Aku? aku tidak melakukan apa apa. Pacar mu suami ku, dia satu kamar dengan ku. Dan lihat sekarang, dia berada di posisi ternyaman nya." Dinda memperlihatkan Aziel yang sedang terlelap di atas dada nya.