
"Apa apa itu benar," tanya Annisa.
"Iya benar, bersiap lah untuk melayani ku malam ini," jawab Reno.
"Tapi aku... aku..
"Aku apa, kau takut, takut melayani ku, kau lupa kita menikah karena apa, jadi jangan pernah menyesali apa yang akan terjadi pada mu. Ini semua salah mu, mau sebagai wanita tidak bisa menjaga diri mu dengan baik," kata Reno.
"Aku yang salah, bukan nya kau yang melakukan nya malam itu," ucap Annisa.
"Diam Annisa, aku muak mendengar suara mu, walaupun aku yang memulai nya kau tetap yang salah, kau salah masuk ke dalam hidup ku, kau salah hidup di dunia ini. Enyah kau dari depan ku, ingat posisi ku sekarang ini."
Perkataan Reno benar-benar menusuk hati Annisa, hati nya seperti di hujani ribuan pisau tajam secara bersamaan. Annisa berlari masuk ke dalam kamar mandi, ia sudah tidak bisa menahan air mata nya lagi.
Hidup nya saat ini dan sebelum nya tidak ada perubahan, di rumah ia selalu melihat kelakuan keluarga nya seperti binatang, tidak pernah memperdulikan nya, melakukan hal yang salah secara terang-terangan dan selalu menyalahkan nya dengan kesalahan yang mereka perbuat."
"Hiks hiks hiks." Air mata Annisa jatuh mengalir deras membasahi wajah nya. Perkataan Reno terngiang-ngiang di dalam otak nya. Air yang mengalir di tubuh nya sudah tidak terasa lagi, rasa sakit yang ia rasakan berpusat di hati nya.
"Apa aku salah, apa ucapan ku terlalu kasar," batin Reno.
"Aku jadi merasa bersalah, terlebih kakak nya menitipkan nya pada ku."
Reno memilih untuk tidur yang menjadi salah satu hobi nya saat ini. Ia akan meminta maaf pada Annisa saat Annisa sudah keluar dari kamar.
Tanpa sepengetahuan Iqbaal datang ke rumah nya, rasa benci nya melihat Bima masih memenuhi hati nya. Tetapi Iqbaal sadar ia tidak mungkin akan selama nya memiliki rasa benci ini, dengan berlapang dada Iqbaal mempersilahkan Bima masuk ke dalam rumah nya.
"Apa kabar bal, maaf kan aku bal, maafkan aku sudah 15 tahun bal. Sudah 15 tahun aku tidak bertemu dengan nya, bahkan aku tidak pernah tau bagaimana dia sekarang," ucap Bima.
"Aku masih sangat membenci mu bim, karena ulah mu dan istri ku, Reno sangat sulit di atur, ia memiliki sifat pemarah, dia juga sangat membenci wanita dan dia sudah bersumpah tida akan menikah. Karena apa bim, itu semua karena ulah istri mu dan kelalaian mu."
__ADS_1
"Aku tau bal, tapi aku mohon pada mu berikan aku kesempatan untuk kali ini saja, aku ingin bertemu dengan nya," ucap Bima.
"Iya aku memberikan mu izin, sudah berapa banyak dosa yang aku tanggung karena memisahkan mu dengan Reno, tapi ingat jangan pernah beri tau semua pada Reno. Reno baru saja menikah, dia menikah bukan karena kemauannya tapi karena kecelakaan yang membuat nya harus menikah," kata Iqbaal.
"Iya bal, aku hanya ingin melihat nya dan memeluk nya."
Iqbaal berjalan masuk ke dalam kamar Reno, di dalam ia tidak melihat Annisa, Iqbaal pikir Annisa sedang bersama Kayla. Itu sebabnya ia hanya membangunkan Reno.
"Siapa dad," tanya Reno.
"Paman Bima, ingat perkataan Daddy ya, daddy selalu mengatakan hal ini pada mu," jawab Iqbaal.
"Untuk apa di bertemu dengan ku," tanya Reno.
"Dia sangat merindukan mu, meskipun dia bersalah pada apa yang menimpa diri mu tetap saja kita harus memaafkan nya. Lagi pula dia hanya lalai bukan pelakunya," jawab Iqbaal.
"Terus aku harus bertemu dengan nya," tanya Reno.
"Annisa apa dia masih di dalam," batin Reno.
"Daddy kau duluan saja, kau sangat gerah ingin mandi dulu," ucap Reno.
"Ya sudah, setelah mandi kau langsung menyusul ya," kata Iqbaal dan pergi meninggalkan Reno.
Dengan cepat Reno berlari masuk ke dalam kamar mandi, dan benar saja Annisa masih berada di bawa alir mengalir, tubuh nya menggigil dan ia sedang setengah sadar.
"Annisa kau mau mati," ucap Reno dan langsung mematikan air.
"Bu... bukan nya aku tidak layak ada di dunia ini," kata Annisa dengan suara yang gemetaran."
__ADS_1
"Ahhkk kau gila," ucap Reno.
Dengan perlahan Reno mulai membuka baju yang Annisa kenakan, otak mesum nya mulai berjalan saat melihat tubuh putih Annisa. Melihat Annisa hanya memakai dalaman saja membuat Reno menelan air liur nya secara kasar.
Setelah itu Reno mengambil kimono dan handuk tebal untuk Annisa. Ia tidak berani membuka semua pakaian yang Annisa kenakan.
"Annisa bangun dulu, jangan pingsan, ganti pakaian mu dulu," ucap Reno.
Tidak ada respon dari Annisa, Reno memilih membawa Annisa keluar dari kamar mandi, ia meletakan Annisa di atas kasur empuk milik nya.
"Kayla sudah menyiapkan semua pakaian nya," ucap Reno sambil berjalan masuk ke dalam ruang ganti untuk mengambil pakaian milik Annisa.
Setelah menemukan pakaian yang ia cari, Reno kembali mendekati Annisa, ia tidak tau bagaimana cara menggantikan pakaian yang tersisa di tubuh Annisa.
"Reno dia istri ku, kau sudah pernah melakukan dengan nya, tanpa sadar kau sudah pernah merasakan nya. Tidak masalah panas dingin untuk sesaat," batin Reno yang berusaha menguatkan diri nya.
Dengan penuh kesabaran Reno mulai menggantikan pakaian Annisa, jantung nya berdetak sangat cepat keriangan mengucur membasahi diri nya. Ia sangat merasa sian karena kemarin malam melakukan nya tanpa sadar, jadi ia tidak tau bagaimana rasa nya. Setiap inci tubuh Annisa sudah ia lihat dan sudah mulai ia tutup kembali dengan pakaian yang baru.
"Dia demam," ucap Reno.
Untung saja Reno mempunyai stok obat di kamar nya, Reno juga sangat mudah jatuh sakit itu sebenarnya Alya selalu menyetok obat di kamar Reno. Pertama-tama Reno mengambil kompres penurun panas. Setelah itu ia mengambil obat demam agar Annisa cepat sadar.
"Dengan mulut ku, ahhh ini kesempatan," ucap Reno.
Tangan Reno membuka mulut Annisa, setelah itu ia mencium Annisa dengan sangat dalam, lidah nya gunakan untuk mendorong obat agar masuk ke dalam dan tentu saja dengan bantuan air liur mereka berdua.
"Aahhh sangat pahit, tapi enak apa ini yang dinamakan ciuman cabul," ucap Reno sambil masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya. Sekaligus mendinginkan tubuh nya yang sangat panas.
"Dimana dia lama sekali," ucap Iqbaal.
__ADS_1
"Kau tidak tau pengantin baru saja, mandi tanpa melakukan apapun sangat mustahil," kata Bima.