Cinta Di Dalam Perjodohan

Cinta Di Dalam Perjodohan
Episode 18


__ADS_3

Mata Lisa terbelalak melihat hal itu, Aziel tidak bisa menepati janjinya, padahal baru beberapa hari mereka menikah tetapi Aziel sudah berani main di belakang nya.


"Dia sangat nyaman bukan, lihat ini."


Dinda mencium wajah Aziel, hal itu semakin membuat Lisa menjadi jadi, ia tidak bisa melihat Aziel seperti ini. Saat ingin berteriak sambungan video call itu terputus.


"Hahaha rasakan, jangan menghalangi ku," ucap Dinda.


"Nyaman mas," tanya Dinda sambil kembali memeluk Aziel, ia sangat senang Aziel tidur seperti ini, sangat kalem tanpa marah marah pada nya.


Ia menurunkan kepala nya tepat di depan wajah Aziel. Wajah tampan Aziel membuat Dinda sangat terpesona. Semakin di lihat semakin tampan, dari dulu sampai sekarang wajah Aziel semakin bertambah tampan saja.


Dinda rasa ia sudah mulai mengontrol Aziel, seperti nya juga Aziel sudah mulai kecantol pada nya. Hal itu membuat Dinda yakin pria tampan ini akan jatuh hati pada nya.


"Sayang bangun." Dinda mengusap wajah tampan Aziel.


"Hmmmm." Aziel masih enggan membuka mata nya.


"Sayang, mau dada lagi," tanya Dinda.


"Hmmm iya," jawab Aziel.


"Ini ini." Dinda kembali meletakan kepala Aziel di dada nya.


"Dinda." Aziel yang sadar langsung menarik kepala nya.


"Apa? kata nya mau," ucap Dinda.


"Mau apa, kau gila."


"Tadi saja nyaman sekali, tidur sambil tersenyum di sana," ucap Dinda.


"Jangan samakan, saat tidur dan bangun. Tadi aku tidak sadar sekarang aku sadar," kata Aziel.


"Jangan marah marah begitu, aku lebih suka melihat mu tertidur karena lebih kalem," ucap Dinda.


Mata Dinda tertuju pada sesuatu di bawa sana. Seperti nya saat Aziel bangun bukan hanya Aziel sendiri yang bangun, yang di bawa sana juga bangun.


"Dia bangun," ucap Dinda.


"Jangan menyentuh nya, nanti tidur sendiri," kata Aziel sambil mengambil handphone nya.


Aziel mengerut kan dahi nya saat tau handphone nya telah mati. Padahal malam tadi ia tidak mematikan handphone nya.


"Aku yang mematikan nya, tadi ada yang menelepon aku dan Harry terganggu."


"Oh iya dimana Harry," tanya Aziel.


"Sudah kembali ke kamarnya lah, dia tak akan mau menganggu abang nya," jawab Dinda sambil kembali mendekati Aziel.


Ia meletakkan kepala nya di atas dada Aziel, tangan nya dengan erat memeluk Aziel.

__ADS_1


"Dingin sekali mas," ucap Aziel.


"Hmmm," gumam Aziel.


Ia tidak marah Dinda memeluk nya. Ia sedang fokus melihat penggilingan masuk di handphone nya.


"Lepaskan kaca mata mu, menganggu ku," ucap Aziel.


"Aku tak akan jelas melihat wajah tampan mu," kata Dinda.


"Tidak masalah, yang penting mata ku tidak terganggu dan ini kau mengangkat video call dari Lisa?"


"Iya." Dinda melepaskan kacamatanya. Sebelum Aziel marah pada nya, Dinda mendekati bibir Aziel dan mulai mencium nya dengan lembut. Aziel bingung mendapatkan morning kiss dari Dinda. Ia yang awalnya ingin marah tidak jadi, ia meletakkan handphone nya dan fokus dengan Dinda.


Dinda hampir tersedak mendapatkan balasan dari Aziel, kucing mana yang menolak jika diberikan ikan seger di depan nya langsung. Begitu juga dengan Aziel, ia tidak meminta nya, Dinda yang memberikan nya, menolak nya tidak mungkin, karena Aziel sangat senang yang nama nya beradu lida. Ia sanggup hampir 30 menit hanya untuk berciuman saja.


Siang hari nya. Aziel dan Dinda mengantarkan keluarga mereka ke bandara. Aziel harus kembali berpisah dengan keluarga nya, karena memang ini pilihan nya untuk tinggal di negera lain. Mau bagaimana lagi, Aziel sudah sangat betah berada di negera ini, selagi ia belum di butuhkan untuk menggantikan abang nya Reno, Aziel tidak akan kembali ke Indonesia.


"Kau jangan lupa pulang, awas saja," ucap Iqbaal.


"Iya yah, aku pasti akan pulang."


"Bang awas saja tidak pulang, kau sudah janji pada ku," ucap Harry.


"Iya Harry, belajar dengan benar ya."


"Jaga istri mu dengan baik sayang, dan Dinda harus sabar ya, suami mu memang seperti itu," ucap Alya.


Setelah kepergian keluarga Aziel. Aziel dan Dinda kembali masuk ke dalam mobil. Mereka akan langsung ke restoran untuk mulai bekerja kembali. Sekarang status Dinda bukan asisten Aziel lagi, tetapi istri Aziel.


"Mas, aku bekerja dengan mu," tanya Dinda.


"Ya iya lah, hidup tidak ada yang gratis," jawab Aziel.


"Dengan istri mu sendiri, kamu tidak mau menafkahi aku," ucap Dinda.


"Hahaha aku bercanda, dari pada kau menganggur di rumah lebih baik bekerja bersama ku," kata Aziel.


"Begitu, aku juga tidak masalah si," ucap Dinda.


"Bagus jadi istri yang baik."


Sesampainya di restoran, Aziel masuk ke dalam ruangan pribadi nya, sedangkan Dinda membuatkan kopi untuk suami nya. Hanya kopi buatan Dinda yang cocok di lidah Aziel.


"Ganti baju saja lama sekali," ucap Dinda.


Dinda meletakkan kopi itu dan langsung masuk ke dalam ruangan pribadi Aziel. Sekarang itu bukan ruangan pribadi Aziel lagi, Dinda sudah bebas keluar masuk tanpa seizin Aziel lagi.


"Mas," ucap Dinda.


"Hmmm, kau masuk sembarangan."

__ADS_1


"Aku siapa," tanya Dinda.


"Istri ku," jawab Aziel.


"Ya itu tau, terus apalagi. Kenapa aku harus izin untuk masuk ke dalam ruangan mu," ucap Dinda.


"Kenapa lama sekali mas, kata mau ganti baju."


"Sedang menunggu balasan dari Lisa, tolong carikan baju yang pendek saja untuk ku," ucap Dinda.


"Hedeh, ada yang sah di sini malah mencari yang haram." Dinda membuka lemari baju Aziel dan mencari kan baju yang Aziel inginkan.


"Ini mas," ucap Dinda.


"Letak di situ."


"Aku Pakaikan ya."


"Tidak perlu," ucap Aziel.


"Mas aku Pakaikan ya." Dinda melepaskan kancing baju Aziel.


Aziel bingung kenapa Lisa tidak mengangkatnya dan membalas pesan dari nya. Biasa nya Lisa tida pernah seperti ini, padahal ini sudah waktunya Lisa meminta uang lagi pada-Nya.


"Aku kirim 200, balas sayang."


"Enaknya di kirim 200 juta, aku saja sejuta pun tidak pernah kamu berikan," ucap Dinda.


"Kau siapa? dia wanita yang aku cintai," kata Aziel.


"Tangan nya." Dinda memang harus kuat hati jika bersama dengan Aziel.


"Ketiak mu bersih ya," ucap Dinda.


"Lisa yang membersihkan nya," kata Aziel.


"Lisa Lisa selalu," batin Dinda.


"Dinda tangan mu," ucap Aziel.


"Aku kan hanya memegang tubuh suami ku, kekar nya jadi ingin cium."


"Kenapa Lisa seperti ini si," ucap Aziel.


"Dia marah mungkin," kata Dinda.


"Kenapa dia bisa merah, kau mengatakan apa pada nya."


"Menyalahkan kan aku, aku hanya berkata kau sedang tidur," ucap Dinda.


"Di dada mu, pantas dia marah," kata Aziel.

__ADS_1


__ADS_2