
Pagi hari nya. Vania berangkat sekolah seperti biasa nya, ia turun dari kamar dengan keadaan yang mengantuk karena malam hari nya ia bergadang bersama dengan Reynald dan Kayla. Mereka berdua saja belum ada yang bangun.
"Semangat sayang kamu kenapa si, kenapa lemas seperti itu," tanya Fahri.
"Aku mengantuk ya, mungkin karena aku bergadang tadi malam," jawab Vania.
"Eh kamu ya bergadang terus, tapi tadi Malam saat ayah tinggal kamu sedang tidur."
"Habis ayah pergi aku bangun, aku keluar dari kamar dan bertemu dengan kak Kayla, kami bergadang bersama."
"Sudah ayo turun, nanti ada yang membuat rasa mengantuk mu hilang," kata Fahri.
"Siapa yah," tanya Vania.
"Ada seorang pria, sudah ayo turun," jawab Fahri.
Fahri dan Vania langsung turun ke lantai bawah. Vania sangat penasaran deng pria yang di katakan ayah nya, padahal jika di pikir pikir hanya ada satu pria yang akan mencari nya, siapa lagi jika bukan Raffi.
Dan benar saja saat Vania turun dari lantai atas, ia sudah melihat Raffi bersama dengan keluarga nya, ntah bagaimana rasa nya Raffi memang sangat ngebet untuk dekat dengan nya dan keluarga nya.
"Bapak," kata Vania.
"Bapak siapa Bapak," tanya Fahri.
"Eh salah, maaf," jawab Vania yang benar-benar sangat malu.
Vania berjalan mendekati meja makan, ia duduk tepat di samping Raffi yang sedang memperhatikan gerak gerik nya. Jujur hal itu membuat nya kurang nyaman.
"Sudah Raffi jangan sampai seperti itu melihat nya, kasihan Vania dia sampai malu," kata Reno.
"Ha kakak tidak ah," ucap Vania.
"Sudah sudah jangan menganggu mereka berdua, kalian cepat selesai kan sarapan kalian, nanti terlambat," kata Kia.
Setelah selesai makan mereka berdua langsung berangkat. Raffi sudah sejak pagi tadi berada di rumah ini, ia sengaja datang sangat pagi agar bisa berbincang dengan yang lainnya. keluarga Vania benar-benar sangat hangat yang membuat nya sangat betah.
"Dari kapan mas, kenapa tidak memberitahu ku kalau mas mau datang," tanya Vania.
"Hehehe maaf Vania, aku dari pagi kali si, aku hanya ingin memberikan mu kejutan," jawab Raffi.
__ADS_1
"Oh aku si terkejut, tapi aku kurang suka, lain kali kalau mau datang bilang dulu. Kan aku bisa dandan lebih cantik," kata Vania sambil merapihkan rambut nya.
"Sudah cantik kok, mau bagaimana pun kalau dari sana nya sudah cantik mau pakai apa saja tetap cantik," ucap Raffi.
"Gombal, bapak tua suka gombal," kata Vania sambil manahan senyum nya, ia sangat tidak bisa d gombalin seperti ini.
Sesampainya di sekolah, kebetulan Tina juga baru sampai, mereka bertiga bertemu di parkiran mobil. Raffi dan Vania hanya cuek saja tanpa melirik kearah Tina berbeda dengan Tina yang melirik mereka dengan perasaan yang sangat kesal.
"Bagus aku yakin dia jadi sangat kesal pada kita," kata Raffi.
"Hahaha kamu jahat mas, kamu tidak boleh begitu," kata Kayla
"Hahaha biar saja, dia dulu yang mencari masalah pada ku," ucap Raffi.
Raffi dan Vania masuk ke dalam ruangan masing-masing. Raffi keruangan nya sedangkan Vania ke kelas nya, di kelas berita kedekatan Vania dan Raffi sudah tersebar cukup luas. Rata rata dari mereka tidak mempermasalahkan hal itu, Vania memang sangat cantik dan tidak heran jika Raffi suka dengan Vania.
"Vania perkembangan nya," tanya Wina.
"Apa perkembangan apa," tanya Vania.
"Perkembangan itu lah, ahhkkk kamu seperti tidak tau saja," jawab Sifa.
"Hahaha kalau itu mah bukan seperti nya lagi tepi memang pak Raffi suka dengan mu, dari pertama kali kamu di panggil oleh nya, dia sudah memiliki tatapan yang aneh pada mu."
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu pada nya," tanya Sifa.
"Aku masih belum tau, nanti saja lah kalau masalah perasaan," jawab Vania.
"Hahaha jangan begitu, jangan memberikan nya harapan palsu," kata Wina.
"Vania," ucap Aldo.
"Siapa ya," tanya Vania.
"Aku Aldo anak kelas sebelah," jawab Aldo.
"Oh iya ada apa," tanya Vania.
"Ini ada sesuatu untuk mu, jangan menolak nya, tidak baik menolak pemberian orang lain," jawab Aldo sambil memberikan satu kotak Hadiah pada Vania. Setelah itu Aldo pergi meninggalkan kelas Vania.
__ADS_1
"Penggemar baru ni," kata Sifa.
"Apaan si, ini untuk kalian saja," ucap Vania.
"Tidak mau, itu hadiah mu dan untuk mu," kata Wina.
Raffi masuk ke dalam kelas itu dengan perasaan yang bete, ia melihat Vania menerima Hadiah dari pria lain, dan sudah pasti hal itu membuat Aldo merasa cemburu.
"Ada pelajaran nya," tanya Vania.
"Ada, dan ada pr kau belum," tanya Sifa.
"Mampus aku tidak membawa buku pelajaran nya," jawab Vania.
"Semangat pagi semua, seperti yang saya tugas kan dua hari yang lalu. Sekarang kumpulkan tugas kalian. Bagi yang tidak mengerjakan langsung berdiri dan maju ke depan," ucap Raffi.
Semua orang menyerahkan tugas mereka pada Raffi, meskipun Raffi guru baru ia sudah terkenal dengan guru yang tegas dalam memberikan hukuman.
"19, 20. Jumlah siswa di kelas ini ada 21 anak satu orang yang tidak mengerjakan tugas siapa," tanya Raffi.
"Sa.. saya pak," jawab Vania.
"Vania kamu siswi baru sudah berani ya, seperti biasa masuk ke dalam ruangan saya bersihkan semuanya. Dan pastikan kamu sudah makan jangan sampai pingsan di ruangan saya."
"Tapi pak, saya...
"Tidak ada tapi tapian Vania," kata Raffi.
Rasa kesal Raffi pada Vania sedikit terobati, ia jadi tidak terlalu kesal dan marah pada Vania karena ia berhasil menghukum Vania. Hukuman nya tidak berat karena ruangan nya sudah bersih.
"Oh iya satu lagi, selesaikan tugas kamu, jangan sampai nilai kamu merah di buku Nilai saya," kata Raffi
"Siap bapak," ucap Vania.
Vania berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, ia sangat kesal pada Raffi yang menghukum nya dengan seenaknya hari nya, padahal jika di bicarakan baik-baik pasti ia bisa mengerjakan nya.
Raffi tau Vania kesal dengan nya, tetapi sebagai guru yang baik ia tidak boleh pilih kasih pada siapapun termasuk pada Vania. Nanti juga saat bersama nya pasti Vania sudah tidak marah lagi pada nya.
Vania mulai membersihkan ruangan yang sudah bersih itu. Meskipun sudah bersih Vania tetap menjalankan tugasnya agar calon suami nya tidak tambah marah pada nya.
__ADS_1