
"Sayang bertahan lah, kamu pasti bisa sayang," ucap Iqbaal, Iqbaal terus memeluk Alya karena ia sangat takut kehilangan istri nya, air mata nya dengan mudah lolos membasahi wajah nya.
Sesampainya di rumah sakit Alya langsung di larikan ke UGD, Iqbaal hanya bisa mondar-mandir di depan pintu UGD menunggu kabar istri nya.
"Iqbaal duduk lah, jangan panik begini," ucap Azka.
"Bagaimana aku bisa tenang yah, aku sangat panik."
Azka berdiri dari kursi dan menarik Iqbaal duduk di dekatnya. Ia tau Iqbaal pasti sangat panik melihat istri nya seperti itu.
"Iqbaal apa istri mu hamil," tanya Azka.
"Aku tidak tau yah, tapi beberapa hari ini aku tidak melakukan nya dengan Alya karena Alya mengeluh tidak enak badan, nafsu makan nya juga cukup tinggi," jawab Iqbaal.
Azka yakin jika menantu nya sedang hamil, tapi dari darah yang mengalir deras ia juga tau kemungkinan buruk yang Alya akan alami.
"Sabar sayang, bunda yakin Alya baik-baik saja," ucap Natasya.
"Iya bun, aku berharap seperti itu."
__ADS_1
Setelah berjam-jam lama nya, akhirnya dokter membawa Alya keluar dari ruang UGD, wajah Alya terlihat sangat pucat yang membuat Iqbaal semakin panik.
"Maaf tuan, anak anda tidak tergolong, istri anda keguguran."
"Apa dok, jadi istri saya hamil dan keguguran dok," ucap Iqbaal dengan tubuh yang lemas seketika.
"Bal, tenang bal." Azka langsung memeluk Iqbaal, ia tau ini sangat berat untuk anak nya.
"Ayah anak ku yah, anak ku hiks.. hiks.. hiks.." Iqbaal hanya bisa menangis di dalam pelukan itu.
"Iqbaal kau harus kuat, sekarang tugas mu adalah memberitahu istri mu akan hal ini," ucap Azka.
"Sayang bangun lah, jangan membuat ku panik," ucap Iqbaal. .
Malam hari nya, Iqbaal keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, tetapi hati nya masih sangat terluka karena kepergian anak nya. Iqbaal mendekati Alya yang masih belum sadar sejak tadi.
"Kia aku mohon pulang lah, aku tidak bisa melakukan apapun," Fahri hanya bisa mengirimkan pesan suara pada Kia.
Kia yang mendengar pesan suara itu sangat merasa tidak tega, ia berpikir seharusnya ia pergi meninggalkan suaminya saat suaminya telah sembuh bukan dalam keadaan seperti ini.
__ADS_1
"Mau kemana," tanya Azka.
"Apartment yah, suami ku sakit. Aku tidak tega meninggalkan nya," jawab Kia.
"Pergi lah, rawat suami mu dengan baik," ucap Azka.
Dengan buru-buu Kia membawa mobil nya pulang ke apartemen, dari suara Fahri Kia dapat menyakini bahwa Fahri sudah cukup parah.
"Fahri," ucap Kia yang melihat suaminya jatuh di lantai.
Fahri benar-benar sangat memperhatikan, demam nya masih sangat tinggi. Tubuh nya memar-memar dan Fahri belum berganti pakaiannya.
"Terima kasih sudah datang," ucap Fahri.
"Maaf Fahri, ayo kita ke rumah sakit," kata Kia.
"Tidak, aku tidak mau. Orang tua ku bisa tau aku sakit," tolak Fahri.
Kia tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan suami nya, dan kia memutuskan untuk memanggil dokter ke apartemen nya saja. Sebelum dokter itu datang Kia membersihkan Fahri dengan tisu basah, pakaian, sprei dan selimut juga ia ganti.
__ADS_1
"Apa aku mencintai nya, aku sangat tidak tega melihat nya seperti ini," batin Kia.