
"Oh begitu, aku cantik tidak memakai ini," tanya Dinda.
"Sangat cantik, aku masih bingung bagaimana cara nya kamu bisa selangsing ini," tanya Aziel.
"Aku diet ketat selama satu tahun lebih, nah aku juga membuang kulit yang berlebihan. Pasti banyak kulit yang tak di butuhkan karena berat badan ku turun hampir 50 kilo. Kalau wajah aku tak operasi, aku memang sudah cantik, hanya saja tertutup lemak saja," ucap jawab Dinda.
"Kamu sangat berhasil sayang."
"Sudah pasti." Dinda merangkak naik ke atas tubuh suaminya.
Tangan Dinda melepaskan kemeja suami nya. Ia sangat suka jika Aziel sudah menunjukkan tubuh kekar nya. Tak ada hal yang paling membuat nya bahagia selain melihat hal ini.
"Buat tanda sayang," ucap Aziel.
"Boleh." Dinda memberikan beberapa tanda kepemilikan nya di atas dada Aziel.
"Tokk... tok... tok.... Ziel." Teriak Zikri.
"Lalat pengganggu," ucap Aziel.
"Buka dulu sana, nanti ada hal yang penting," kata Dinda.
Aziel berjalan membuka pintu kamar nya. Ia sangat merasa terganggu jika sudah seperti ini.
"Ada apa," tanya Aziel.
"Wow, aku menganggu ni."
"Tu tau, kenapa. Itu tas istri ku," ucap Aziel saat melihat tangan Zikri yang membawa tas istri nya.
"Iya ketinggalan di acara, kau sedang apa???"
"Masih tanya aku sedang apa."
"Temani aku, aku sedang galau, ayo main game," ucap Zikri.
"Tak mau, aku sedang sibuk. Istri ku sudah menunggu ku."
"Kau begitu ya pada ku, ya sudah lah aku main sendiri." Zikri memberikan tas itu pada Aziel dan langsung pergi meninggalkan nya.
Aziel kembali masuk ke kamarnya. Ia yakin Zikri sedang membutuhkan nya. Tetapi ia juga sedang membutuhkan istri nya.
"Sayang, istirahat lah, Zikri membutuhkan ku. Nanti saja ya, kalau aku sudah selesai aku akan membangunkan mu," ucap Aziel.
"Hmmm ya sudah. Aku istirahat saja."
Aziel mengambil kaus pendek dan pergi ke kamar Zikri. Di sana ada ps yang mereka berdua sering mainkan dulu. Ia tak perlu membawa makanan ataupun minuman karena di dalam kamar Zikri sudah lengkap dengan segala nya. Di sana ada sebuah kulkas untuk segera hal yang Zikri perlukan.
"Pasang dua," ucap Aziel.
"Kau?? aku pikir kau tak akan datang," kata Zikri.
__ADS_1
"Nanti kau ngambek ngadu pada abang mu." Sebelum bermain game sudah pasti Aziel mempersiapkan senjata agar tak ngantuk. Minuman soda dan makanan ringan atau buah buahan.
"Ikut ke Jepang tidak" tanya Aziel.
"Kapan, ikut lah," ucap Zikri.
"Besok, aku akan menemui Harry."
"Aku ikut, aku tak mau di sini sendirian," kata Zikri.
"Ya sudah aku juga sudah memesan tiket untuk mu, pagi kita berangkat. Sekarang kau packing saja dulu."
"Untuk apa aku Packing, aku pakai barang barang mu, dan membeli pakaian di sana."
"Oh iya acara mu? bagaimana?"
"Tak jadi, itu yang membuat ku galau, aku tak jadi membuat acara itu. Semuanya sibuk, dari pada aku pusing lebih baik aku ikut dengan mu saja."
"Ya sudah, bagus lah uang yang ku kirim tak kau ambur amburkan."
"Ziel jam tangan baru," ucap Zikri.
"Iya dong, tak mahal si, tapi aku suka."
"Pinjam," ucap Zikri.
"Tak boleh, aku membelinya dengan istri ku," kata Aziel.
"Sudah ayo, akan aku buat KO kau," kata Aziel.
Pukul 3 dini hari mereka berdua menyelesaikan permainan ini. Seperti biasa nya Aziel tak akan pernah di kalahkan oleh Zikri. Ia memang sangat hebat dalam bermain PS.
"Aku mengantuk." Aziel langsung melemparkan diri nya ke atas ranjang.
"Kau tak tidur dengan istri mu?"
"Malas bergerak..."
"Istri mu tak menunggu mu. Besok kita sudah ke Jepang, pasti kau akan sibuk dengan Harry. Kau tak ingin meminta jatah untuk yang terakhir kali nya," hanya Zikri.
"Oh iya kau benar." Dengan cepat Aziel langsung berlari keluar dari kamar Zikri.
Di dalam kamar Dinda juga belum tidur, ia menonton drama yang sudah lama ia ingin tonton. Selama menikah dengan Aziel ia tak ada kesempatan nonton, Aziel pasti melarang nya dengan alasan kesehatan mata. Ia senang Aziel tak ada yang membuat nya sedikit bebas.
"Oh mantap ya, lanjutkan." Aziel bertepuk tangan sambil mendekati Dinda.
"Sayang, kamu..."
"Apa!!! Perlu aku banting itu laptop," ucap Aziel.
"Sayang..." Dinda langsung menutup laptop nya. Ia tak pernah melihat Aziel marah pada nya, dan ternyata sangat seram sekali.
__ADS_1
"Kamu itu baru dalam penyembuhan, sudah seperti ini. Nanti mata kamu kembali rusak bagaimana?? kamu mau memakai kaca mata lagi.. Jangan seperti anak kecil yang semua nya harus di perhatikan, kamu sudah tau yang baik dan yang tidak," ucap Aziel.
"Maaf..."
"Hapus semuanya, aku tak mau kamu melakukan nya lagi. Atau berikan pada ku sini."
Aziel mengambil laptop itu dengan paksa dan melemparkan nya begitu saja. Jantung Dinda berdetak dengan keras, ia benar-benar sangat takut sekali dengan Aziel.
"Laptop ku rusak.."
"Kamu tak membutuhkan laptop, pakai milik lu," ucap Aziel.
"Mau melawan lagi??""
"Ti... tidak..."
Aziel yang awalnya ingin bersenang-senang tak memiliki mood yang baik lagi. Ia melepaskan kaus pendek nya dan memilih untuk langsung tidur.
"Maaf." Dinda memeluk Aziel dengan erat.
"Jangan ulangi lagi, aku tak ingin mata istri ku rusak," ucap Aziel.
"Padahal dia bermain game sampai pagi, tetapi tak memikirkan mata nya," batin Dinda.
"Iya, aku tak akan mengulangi lagi..."
Dinda masih belum mengganti pakaian nya yang tadi. Hal itu membuat mood Aziel kembali baik, memang secepat itu. Tetapi Aziel masih ingin mengetes kepekaan istri nya.
Dinda merangkak naik ke atas tubuh suami nya. Ia tau bagaimana agar Aziel tak akan marah lagi pada nya. Apalagi Aziel sudah hanya tinggal menurunkan saja celana pendek nya.
"Mau apa," tanya Aziel.
"Mau tidak???"
"Tidak," tolak Aziel sambil memalingkan wajahnya.
Dinda tak memerlukan izin suami nya untuk melakukan nya. Ia mulai menyentuh titik titik sensitif Aziel. Aziel hanya memejamkan mata nya merasakan rasa nikmat ini. Memang urusan seperti ini istri nya sangat bisa di andal kan.
"Sayang.." Aziel yang sudah tak tahan langsung membalik posisi ini.
Yang menyerang Dinda dengan sangat ganas nya, salah siapa yang memancing diri nya.
"Perlahan," ucap Dinda.
"Emang masih sakit," tanya Aziel.
"Sakit..." Teriak Dinda saat Aziel memaksa masuk begitu saja.
"Sakit," tanya Aziel.
"Aduh sakit sayang, kamu pikir milik mu kecil, aku harus menyesuaikan dengan ukuran nya," romet Dinda.
__ADS_1
"Di atas sayang." Aziel membalik Dinda agar ke atas.