
"Kenapa lagi," tanya Dinda.
"Biasa lah. Aku juga tidak mengerti kenapa."
"Jangan memikirkan ku, aku baik baik saja, lusa aku lepas perban."
"Kamu sangat percaya diri, padahal aku tidak memikirkan mu, Enak makanan nya?"
Nabila memegang wajah Aziel, kedua tangan nya tepat berada di wajah suami nya itu. Ia terkejut wajah Aziel sudah di penuhi dengan rambut rambut halus. Aziel seperti tidak membersihkan nya. Padahal sepengetahuan nya Aziel sangat cinta dengan kebersihan.
"Tidak bercukur mas," tanya Dinda.
"Tidak, aku malas. Nanti saja menunggu kamu pulih dan kamu yang mencukur nya."
"Jangan jangan yang bawa juga sudah...
"Hahaha iya, kamu mau mencukur nya juga kan," tanya Aziel.
"Mau lah, aku saja sudah pernah merasakan nya, hanya mencukur saja tidak mau, itu kan aneh."
"Hahaha tu tau, bagaimana dengan ukuran nya. Pas atau kurang besar."
"Masih tanya, itu terlalu besar, setengah pun aku tak bisa merasakan nya," kata Dinda.
"Oh iya, din aku ingin cerita."
"Cerita apa mas," tanya Dinda.
Aziel menarik nafas nya dengan panjang. Mungkin ini baru pertama kali nya ia bercerita pada seseorang selain Zikri.
"Kamu pernah berpikir tidak, kalau aku pernah nyaman dengan seseorang yang jelek," ucap Aziel
"Maksudnya mas," tanya Dinda.
"Hahaha tidak ada, aku malas mengingat nya. Oh iya setelah kamu lepas perban, lusa nya kita langsung ke Jepang."
"Iya aku ikut saja dengan mu, lanjutkan cerita mu tadi." Dinda benar-benar ***** penasaran dengan apa yang Aziel katakan tadi. Ntah kenapa Aziel malah menghentikan cerita nya.
"Malas aku tidak mood," ucap Aziel.
"Macam wanita pms saja kamu tidak mood."
"Hahaha memang aku sedang pms," kata Aziel.
"Ngomong ngomong kamu sudah selesai datang bulan nya," tanya Aziel.
"Sudah dari kemarin, kenapa mau melihat nya?"
"Kamu licik, kamu sudah melihat semua bentuk tubuh ku, sedangkan aku tidak sedikitpun melihat tubuh seksi mu."
"Aku sudah memberikan tawaran pada mu, tapi kau tidak mau kau takut kan pada Lisa."
__ADS_1
"Hahaha kata siapa, jika mau aku bisa meniduri mu kapan saja," ucap Aziel.
"Sayang apakah kamu sudah pernah melihat tubuh Lisa," tanya Dinda.
"Pernah, kami sering liburan bersama, dia sering memakai bikini," jawab Aziel.
"Seksi tidak," tanya Dinda.
"Ya begitu lah, kenapa? kau kalah seksi dari Lisa?"
"Oh tidak, aku hanya heran kau kenapa tidak menikah dengan nya saja, toh kalian sudah dekat sekali."
"Orang tua ku tidak memberikan kami restu, ya mau bagaimana lagi kakakku malah suka dengan mu, maksudnya malah memilih mu menjadi istri ku. Mana keluarga ku juga setuju lagi, aku bisa apa."
"Begitu, ya sudah nikmati saja. Jangan di buat terpaksa, toh kamu juga yang dapat enak nya," kata Dinda.
"Permisi," ucap Zikri.
"Hmmm ada apa," tanya Aziel.
"Maaf menganggu waktu nya, saya ingin memberitahu kan pada bapak Aziel dan ibu Dinda, jika lusa ada acara di kampus. Kalian sebagai alumni kampus bisa datang untuk menyaksikan acara itu. Saya ucapkan terimakasih atas perhatian nya."
"Kau pikir begitu bagus, kau gila," kata Aziel.
"Datang yuk mas, aku sudah sangat merindukan kampus."
"Ya sudah setelah lepas perban kita langsung pergi," ucap Aziel.
"Ciah yang sudah punya pacar, cantik apa pacar mu," tanya Aziel
"Kalau cantik kenapa? kau mau kenalan dengan nya," tanya Dinda.
"Oh aku tidak ikut ikutan ya, ini rumah tangga kalian," ucap Zikri dan buru buru pergi meninggalkan kamar itu. Ia tidak mau jadi tersangka penyebab bertengkar nya Aziel dan istri nya.
"Tidak, kau kenapa sensi sekali si," Aziel mencubit pipi Dinda.
"Terserah ku lah, kok kamu yang sibuk," ucap Dinda.
"Jangan mengamuk begitu lah. Aku sudah merawat mu dengan baik loh, makan aku ambil kan, pakaian aku siapkan, tidur aku peluk, ke kamar mandi aku antar, terus apa lagi," kata Aziel.
"Oh jadi kamu perhitungan pada istri mu sendiri ya."
Aziel merasa selalu serba salah. Memang dimana pun, jenis apapun wanita selalu mencari masalah, walaupun sebenarnya ia tidak terlalu salah.
"Ahh mas," ucap Dinda.
"Kenapa," tanya Aziel.
"Kamu pegang dada ku?"
"Hahaha iya, besar juga ya."
__ADS_1
"Itu nama nya pelecehan, kamu tidak izin, aku tak tau, kamu memang bukan pria yang benar."
"Kenapa aku salah lagi, aku suami mu, ya kali kalau aku ingin memegang tubuh mu harus izin dahulu pada mu. Kalau kamu tidur aku pegang pegang aku salah juga gitu."
"Lah ya iya lah, emang kamu menganggap ku sebagai istri mu?"
"Lah ya iyalah, ya kali wanita cantik seperti kamu tak aku anggap sebagai istri ku. Rugi dong aku nya, ya sudah lah kalau kamu tak mau aku sentuh, aku pegang pegang, aku pergi saja," ucap Aziel.
"Ngambek ngambek, biasaan ya, padahal aku hanya bercanda saja."
"Bercanda konon, tidak ada lucu lucu nya."
"Hahaha begitu ya, sini sini, aku berikan yang enak." Dinda mengarahkan tangan Aziel ke tubuh nya.
"Boleh," tanya Aziel.
"Iya boleh," jawab Dinda.
"Buka ya," ucap Aziel.
"Iya, jangan mengejek kalau tidak suka bentuk nya," kata Dinda.
"Hahaha mana mungkin."
Satu persatu kancing baju Dinda lepas dari tempat nya, kaca mata ungu muda terlihat sedang menampung sesuatu yang besar di dalam sana.
"Ini kenapa," tanya Aziel.
"Keunguan ya??"
"Iya, tanda lahir ya..."
"Iya, makan nya aku tidak suka memakai pakaian yang mengepos bagian sana," ucap Dinda.
"Besar ya," ucap Aziel.
"Apa nya," tanya Dinda.
"Keyakinan nya," jawab Aziel asal.
"Hahaha, kamu bisa melihat nya dari belakang," tanya Dinda.
"Bisa, dia bangun din," ucap Aziel.
"Aku merasakan nya, aku malas menidurkan nya, kamu lemah sekali, baru beberapa menit masuk sudah keluar saja."
"Ha itu karena baru pertama kali, aku tidak tahan sumpah," ucap Aziel yang merasa payah.
Aziel melepaskan kaca mata kain milik Dinda. Dan terlihat lah pepaya Jepang milik Dinda, warna putih bersih dan pink di tengah nya membuat jakun Aziel naik turun dengan cepat. Ia benar benar sangat suka dengan bentuk milik Dinda. Lebih besar dari Lisa, dan lebih bersih juga.
Tangan Aziel memegang nya secara perlahan dan mulai memanjakan nya. Dinda tidak pernah merasakan hal ini, malu tentu tidak, ia rela melakukan apa saja yang Aziel lakukan pada nya. Ia malah sangat suka karena merasakan sesuatu yang berbeda dari biasa nya, Dinda sambil beberapa kali mengeluarkan suara seksi dari bibir nya saat Aziel memainkan milik nya.
__ADS_1
Aziel membalik Dinda ke hadapan nya, dengan cepat ia melahap ke dua nya. Rasa nya benar-benar sangat luar biasa. Dinda sambil mendengakkan kepala nya. Aziel seperti sudah sangat jago dalam memainkan nya.