
"Sini aku bantu," ucap Reynald.
"Reynald jangan kau juga sedang sakit, sudah ya biar ayah saja," kata Reno.
Reynald melihat Reno yang sedang di pijat kaki nya, terkadang ia merasa kasihan dan terkadang juga ia merasa lucu melihat Reno. Jika sedang seperti ni ia tidak tega jika harus terus bertengkar dengan Reno, Reynald memutuskan untuk memberikan waktu Reno beristirahat.
"Reno bagaimana sakit," tanya Reynald.
"Tidak kok, akkkkhhhh," teriak Reno.
"Hahaha kata tidak sakit, kenapa bisa si ren, dimana kau kecelakaan nya," tanya Reynald.
"Ya bisa karena sudah musibah, aku kecelakaan nya di dekat kantor, saat itu aku sedang teleponan, dan aku tidak sadar jika dari belakang ada mobil, nah saat aku belok aku tidak menghidupkan lampu dan akhirnya aku di tabrak dari belakang dan mobil ku terdorong ke selokan."
"Pantas saja bauk," kata Reynald.
"Reno mommy tida suka kamu begini lagi, ingat istri sedang hamil jangan membuat nya khawatir pada mu," ucap Alya.
"Iya mamah, aku minta maaf ya sayang," kata Reno.
"Lalu orang itu bagaimana, kan kau yang salah, /" tanya Reynald.
"Orang itu tidak terlalu parah kok, tadi sudah di bawa ke rumah sakit dan aku sudah memberikan nya santunan, biaya rumah sakit juga aku yang menanggung."
"Apa tidak salah dengar kau. Hahaha aku yang mengurus semua nya," ujar Iqbaal.
"Hehehe iya daddy," kata Reno.
"Hmmm seperti bauk pup, siapa ini," tanya Iqbaal.
"Iya dad, aku sejak tadi mencium aroma pup siapa ya ini," kata Kayla.
"Reynald kau yang bauk," ucap Reno.
"Aku.. aku tidak pup kok," kata Reynald.
"Eh Reynald seperti nya pup nya Harry tertinggal pada mu," ujar Alya.
"Pup nya Harry, akhhkkk menjijikkan." Reynald langsung pergi meninggalkan tempat itu, ia sangat mengingat bagaimana bentuk, warna serta aroma pup nya Harry, dan hal itu sangat menjijikkan untuk nya.
Di kelas Vania mendapatkan banyak pertanyaan dari teman-teman nya, mereka sangat penasaran pada Vania dan Raffi yang seperti nya mulai dekat.
__ADS_1
"Kau dari ruangannya kan van," tanya Wina.
"Iya, aku cari sana aku kan di hukum," jawab Vania.
"Di hukum sambil makan bubur, ciee cieee," goda Sifa.
"Hehehe aku hanya makan bubur saja."
"Bagaimana apa rasa nya enak," tanya Sifa.
"Sifa kau ada ada saja, ya jelas enak lah apalagi makan dengan seseorang yang tampan, berdua pulak," ujar Wina.
"Kalian ini ya bisa saja membuat ku seperti ini. Enak ya enak karena di traktir, kalau masalah berdua bertiga berempat tidak ada pengaruh nya bagi ku," kata Vania.
"Hahaha kau yakin Vania, hmmmm aku rasa kalian berdua cocok. Kau cantik dan dewasa dia juga merupakan tampan pasti anak kalian akan good looking," ucap Sifa.
"Kalau aku dengan dengan pak Raffi aku bisa di Serbu fans nya, hahaha aku mah tidak tertarik juga dengan nya," kata Vania.
"Vania apa benar guru yang cantik itu mantan istri nya, buk. Tina," tanya Wina.
"Benar aku sudah beberapa kali melihat mereka mengobrol berdua, dan seperti nya mereka berdua sedang proses pendekatan kembali," jawab Vania
"Duren dong, ahkkkk sudah lah Vania gas saja. Sebelum Janur Kuning belum melengkung."
"Iya benar, mereka sangat menjengkelkan, aku tidak tau untuk apa mereka melakukan itu."
"Emang ada yang seperti itu," tanya Vania.
"Ya ada Vania, di sini bukan rahasia umum lagi, bahkan beberapa kali ada beberapa guru tertangkap karena hal itu," jawab Wina.
"Sangat menyeramkan ya," kata Vania.
"Hahaha bukan lagi," ucap Sifa.
Waktu pulang sekolah sudah datang, semua orang bergegas meninggalkan lingkungan sekolah. Termasuk Vania yang sedang menunggu jemputan. Samar-samar Vania mendengar suara pertengkaran dan ia sangat tau suara siapa itu.
"Pak Raffi," kata Vania.
Sebenarnya Vania tidak ingin ikut campur masalah Guru ya tetapi ia sangat penasaran dengan apanya terjadi oleh sebab itu Vania berjalan mencari sumber pertengkaran.
"Kau selingkuh, aku tidak mau memberikan dampak buruk pada anak ku kalau kau bertemu dengan nya," kata Tina.
__ADS_1
"Sudah aku katakan berulang kali aku tidak selingkuh, aku tidak selingkuh kau dengar AKU TIDAK SELINGKUH... teman mu menjebak ku," ucap Raffi.
"Sifat mu yang seperti ini membuat ku malas menemukan mu pada anak ku, kau keras kepala," kata Tina.
"Aku ayah nya aku berhak bertemu dengan nya," ucap Raffi.
"Oh ya berhak dari mana bukan nya jelas kalau aku yang mendapatkan hal asuh nya, bukan nya jelas kau memang tidak boleh bertemu dengan nya," kata Tina.
"Ahkkkkk." Tangan Raffi melayang ke atas ia sudah tidak tahan ingin memukul wajah Tina, untung saja ada seseorang yang memeluk nya hal ini membuat Raffi mengurungkan niat nya.
"Jangan pak jangan," kata Vania.
"Vania," ucap Raffi.
"Siapa dia aku sering melihat mu berdua dengan nya," tanya Tina.
"Pacar ku, kalau kau berpikir aku bekerja di sini itu karena mu, kau salah besar, aku bekerja di sini karena pacar ku," jawab Raffi dan pergi meninggalkan Tina, tak lupa ia menggandeng tangan Vania di depan mata Tina.
Hal itu memang cukup membuat Tina merasa aneh, ia tidak bisa membohongi perasaan nya jika ia masih mempunyai perasaan lebih pada Raffi. Tina pun juga ikut pergi meninggalkan tempat itu.
Raffi membawa Vania ke ruangan nya, ia sangat bersyukur Vania datang tepat waktu kalau tidak ia pasti sudah memukul Tina dan hal itu semakin menyulitkan nya bertemu dengan anak nya dan mungkin saja ia bisa di tuntut oleh Tina.
"Terima kasih Vania untung saja kau datang tepat waktu," kata Raffi.
"Iya bapak bukan nya pacar memang harus datang di waktu yang tepat," ucap Vania.
"Hahaha kau bisa saja. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku tadi memukul Tina, Ahkk pasti masalah ku semakin berat saja," kata Raffi.
"Tadi pertengkaran bapak terdengar cukup jelas, untung saja aku mempunyai jiwa yang sangat kepo, kalah tidak mungkin aku tidak memeluk bapak."
"Bagaimana memeluk ku enak? banyak wanita yang ingin mendapatkan pelukan ku," kata Raffi.
"Tidak biasa saja pak," ucap Vania.
"Hahaha awas nagi, oh iya kau aku antar pulang ya, kau tidak perlu meminta jemputan," kata Raffi.
"Siap bapak." Vania menghubungi ayah nya agar tidak perlu menjemput nya.
"Kita seperti ini saja kalau lagi berdua memakai bahasa yang biasa, kalau ada yang lain baru selayaknya guru dan siswa," kata Raffi.
"Hahaha terasa aneh si tapi tidak papa," ucap Vania.
__ADS_1
Terdengar suara perut Vania yang mulai berbunyi pertanda ia sudah lapar kembali, hal itu membuat Vania malu pada Raffi.