
"Sayang kamu sudah tidur," tanya Fahri.
"Belum yah, masuk saja tidak aku kunci."
Fahri berjalan masuk ke dalam kamar anak nya, ia ingin membahas masalah pernikahan Vania dengan Raffi.
"Ada apa yah," tanya Vania.
"Kamu sudah siap untuk menikah," tanya Fahri.
"Sudah, aku sudah siap," jawab Vania berbohong, sebenarnya ia sama sekali tidak siap, banyak hal yang ia takutkan.
"Dua hari lagi bagaimana, hari minggu," kata Fahri.
"Pasti mas Raffi yang meminta nya, hahaha iya ayah aku siap kapan saja."
"Bagus sayang, ayah sangat senang. Kamu akan mendapatkan pendamping hidup kamu yang sangat baik." Fahri mengusap kepala putri nya.
"Ayah kalau menikah aku akan tinggal dimana, rumah ayah, rumah mas Raffi atau rumah sendiri. Aku belum bisa hidup sendiri."
"Hahaha kamu bebas mau tinggal dimana, tapi untuk awal pernikahan kamu tetap tinggal di sini, ayah tidak mau kamu kemana-mana, nanti kalau kamu sudah lebih siap baru lah kamu boleh tinggal di luar rumah ini," ucap Fahri.
"Oke ayah, aku sangat menyayangi ayah," kata Vania sambil memeluk Fahri.
"Ayah juga sangat sayang Vania, Ayah ingin yang terbaik untuk Vania. Kamu jangan takut sayang, pacaran setelah menikah itu pasti lebih baik."
__ADS_1
"Hehehe iya ayah, dulu ayah sama mamah juga pacaran setelah menikah," tanya Vania.
"Bisa di katakan seperti itu, ayah mencintai mamah mu setelah kami beberapa bulan menikah," jawab Fahri.
"Oh begitu, jadi ayah sudah berpengalaman."
"Hahaha iya sayang, sudah lah istirahat kamu. Jangan memikirkan hal yang aneh aneh. Dua hari libur kamu harus istirahat yang cukup dan bersenang-senang lah. Ayah akan memberikan uang jajan lebih," kata Fahri.
"Yes, aku akan bersenang-senang bersama teman-teman ku," ucap Vania.
Reynald dan Reno masih duduk bersama, mereka berdua kali ini membahas hal penting tentang kerja sama perusahaan. Lusa Reynald sudah masuk kerja dan ia langsung ingin membawa Reno ke perusahaan.
"Kau sangat semangat ya."
"Hahaha iya lah, ini kerja sama besar, aku tida ingin setengah setengah, lagi pula perusahaan itu juga bukan milik ku seutuhnya, ada ayah nya istri mu, aku tidak mau mengecewakan nya," ucap Reynald.
"Ya begitu lah. Eh bagaimana dengan kandungan istri mu," tanya Reynald.
"Bagus tidak ada masalah, sudah masuk bulan ke tiga," jawab Reno.
"Kapan kau akan menyusul," tanya Reno.
"Aku ingin sekali punya anak. Aku ingin punya anak seperti Harry tetapi istri ku juga belum hamil. Ya mungkin kami sedang di uji. Mungkin karena aku dulu selalu mempermainkan wanita," jawab Reynald yang terlihat sangat sedih.
"Maaf aku tidak berniat membuat mu sedih, maafkan aku. Kau pasti akan mendapatkan anak, tenang saja."
__ADS_1
"Ya aku tau itu, tapi aku ingin segera ingin mempunyai anak. Aku yakin aku yang sedang bermasalah."
"Kau, kenapa kau yakin begitu," tanya Reno.
"Ya aku yakin. Sebelum menikah aku sudah pernah memeriksakan Kayla dan Kayla baik-baik saja," jawab Reynald.
"Sudah jangan membahas anak, kau terlihat lebih emosi," kata Reno.
"Hahaha tidak. Setelah sembuh aku akan bekerja lebih keras. Oh iya Lusa ulang tahun ku."
"Terus?"
"Berikan ku hadiah lah, jam tangan mu okey juga," kata Reynald.
"Ini sangat mahal, aku tidak akan memberikan m7 ini," ucap Reno.
"Ya terserah mu lah, apa saja aku Terima, siapkan hadiah dan pesta aku ingin berpesta," kata Reynald.
"Hahaha iya iya, untung saja kau memberitahu ku, aku tidak tau kalau kau ulang tahun."
"Sudah aku duga. Ya sudah aku ingin kembali ke kamar, aku sudah mengantuk," ucap Reynald.
"Pergi lah, aku masih menunggu istri ku."
"Dimana istri mu," tanya Reynald.
__ADS_1
"Tapi sedang pergi bersama dengan Kayla, kau tidak tau?"
"Tidak, mungkin dia sedang mempersiapkan kejutan untuk ku. Aku tidak ingin merusak kejutan nya. Aku pergi dulu." Reynald pergi meninggalkan tempat itu