
Reno dan yang lainnya sedang berada di mall yang terdapat di kota ini. Jika sudah di mall sudah tentu mereka akan berbelanja barang kebutuhan atau pun yang tidak di butuhkan.
"Aku ingin membeli parfum," kata Reno.
"Aku suka parfum yang kamu pakai, wangi sekali," ucap Annisa.
"Oke kita mencari itu saja, parfum itu memang sudah habis."
"Dior kak," ucap Aziel.
"Kau tau saja merek yang kakak suka," kata Reno.
"Dior apa itu, tokoh makanan," tanya Zikri.
"Dior salah satu mereka ternama, barang yang di keluarkan nya sangat modis dan nyaman. Baju yang kau pakai sekarang dari Dior," jawab Zikri.
"Sudah Zikri kita sama-sama tidak tau, kita ikuti saja apa kemauan mereka berdua," kata Annisa.
Ntah sejak kapan Reno selalu menggandeng Annisa kemana pun melangkah, ia tidak seperti pertama jalan dengan Annisa yang malu karena Annisa memakai penutup kepala tidak jelas. Saat ini ia malah seakan memberitahu banyak orang jika Annisa adalah istri nya.
"Ini mas," ucap Annisa.
"Oh iya aku ingat parfum ku," kata Reno.
"Tentu saja, kan aku yang mengemasi semua barang-barang mu," ucap Annisa.
"Iya iya Terima kasih." Reno mengecup dahi Annisa.
"Lihat itu, kaka Reno sangat bucin," kata Zikri.
"Hahaha iya, dulu kata nya jika tidak mau menikah, tapi sekarang bucin setengah mati," ucap Aziel.
Setelah mengambil barang-barang yang mereka mau, Annisa langsung membayar nya dengan menggunakan uang suami nya uang yang tidak habis.
"Kita kemana lagi," tanya Reno.
"Kak atas ada tokoh es krim, rasa nya sangat enak ayo kita membeli nya," jawab Aziel.
Saat sedang naik eskalator tiba-tiba ada seseorang yang tidak sengaja menabrak Annisa. Annisa yang tidak bisa menjaga keseimbangan nya pun terjatuh sampai ke bawa. Semua terjadi begitu cepat sampai Reno tidak bisa mencegah Annisa terjatuh sampai ke bawa.
"Annisa," teriak Reno.
Reno langsung membawa Annisa menyingkir dari eskalator, ia takut rambut atau sesuatu yang ada di tubuh Annisa menyangkut di eskalator. Hal tersebut tentu saja sangat membayangkan Annisa.
__ADS_1
"Kak bawa ke rumah sakit," ucap Zikri.
"Kak di depan ada rumah sakit, ayo cepat," kata Aziel.
Reno berlari membawa Annisa ke rumah sakit. Ia sangat takut kehilangan Annisa yang sudah membuat nya terasa sangat nyaman. Tanpa sadar Reno meneteskan air mata nya dan terus memanggil nama Annisa yang tidak sadarkan diri.
Wajah Annisa terdapat cukup banyak darah, ia terjatuh dari tempat yang cukup tinggi dengan posisi kepala terlebih dahulu yang menyentuh lantai. Sesampainya di rumah sakit Annisa langsung mendapatkan penanganan di ruang UGD, Reno tidak bisa ikut masuk ke dalam, ia hanya bisa menunggu di ruang tunggu dengan perasaan yang tidak menentu.
"Kak tidak akan terjadi apa-apa pada kakak ipar," ucap Aziel sambil memeluk Reno. Begitu juga dengan Zikri yang ikut memeluk Reno.
"Siapa dia, aku rasa dia sengaja menabrak Annisa," batin Reno.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Annisa di pindahkan di ruang rawat inap. Beruntung tidak ada luka serius pada tubuh Annisa, hanya beberapa luka dan memar karena terbentur benda keras.
"Zikri Aziel carikan makanan untuk kakak," ucap Reno.
"Iya kak, kami pergi dulu." Zikri dan Aziel pergi meninggalkan Reno.
"Jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa hidup tanpa mu," batin Reno sambil mencium tangan Annisa.
Hati Reno benar-benar sangat kacau, ia sama sekali tidak bisa melihat Annisa seperti ini. Ini pertama kali nya ia merasa takut kehilangan seseorang di dalam hidup nya. Reno mendekati wajah Annisa dan mencium nya, sampai tidak ada tempat yang lepas dari bibir nya.
"Hmmmm." Annisa mulai membuka mata nya. Ia cukup terkejut melihat Reno tepat berada di depan wajahnya.
"Mas," ucap Annisa.
"Aku dimana," tanya Annisa yang masih belum sadar.
"Jangan seperti ini lagi, kau membuat ku sangat takut," kata Reno.
"Maaf," ucap Annisa.
"Apa ada yang sakit, dimana yang sakit," tanya Reno.
"Tidak ada mas, hanya saja kepala ku sedikit pusing. Apa yang terjadi mas?"
"Kau tidak ingat. Tadi kau di tabrak oleh seseorang sampai kau jatuh dari eskalator. Kepala mu berdarah mungkin itu yang membuat mu pusing," kata Reno.
"Maafkan Amy, aku membuat mu panik. Aku merepotkan mu," ucap Annisa.
"Ssssttt diam lah, kenapa masih sakit begini kau banyak berbicara. Kau mau aku beri eskrim agar tidak banyak berbicara," kata Reno.
"Es krim yang bagaimana mas," tanya Annisa.
__ADS_1
"Yang tidak habis-habis, di dalam nya ada vanilla yang bisa membuat mu kenyang 9 bulan," jawab Reno.
"Mas kamu ya, masih bisa-bisa nya berpikir seperti itu. Aku tidak mau," ucap Annisa.
"Hahaha kenapa tidak mau, kan enak aku saja suka kalau ada yang memakan es krim ku," goda Reno.
"Mas sudah jangan membahasnya." Annisa semakin malu jika Reno terus menggodanya.
"Annisa aku serius tidak ada yang sakit lagi kan. Apa kaki aman, tangan aman, paha aman, surga ku aman," tanya Reno.
"Semua aman mas, surga mu aman terkendali," jawab Annisa.
"Awas saja sampai ada yang lecet, aku akan mencari orang itu dan akan membunuh nya."
"Mas yang membuat lecet kan kamu," ucap Annisa.
"Oh iya aku lupa, kalau aku kan juga memberikan kenikmatan," kata Reno.
Tak lama Zikri dan Aziel datang kembali dengan membawa berbagai macam makanan. Dan yang paling utama adalah makanan kesukaan Reno, makanan yang sangat sulit mereka berdua dapatkan.
"Lama sekali," ucap Reno.
"Kak makanan mu itu langkah, sangat susah untuk d dapatkan," kata Zikri.
"Hahaha iya benar, kita sudah mondar-mandir ke sana-sini baru mendapatkan nya," ucap Aziel.
"Kakak ipar tidak papa," tanya Zikri.
"Tidak papa, Maaf sudah membuat kalian khawatir dan repot."
"Kak Reno yang sangat kacau, dia sangat takut kehilangan istri nya. Kakak ipar tau, kak Reno sampai menangis," kata Aziel.
"Hey diam lah, ada yang meminta kalian berdua berbicara," ucap Reno.
"Hahaha dia malu kak, memang begitu kak Reno sangat sulit mengakui sesuatu," kata Aziel.
Annisa tersenyum dan merasa sangat GR saat tau Reno sampai menangis karena nya. Ia berharap jika diri nya sudah mulai masuk ke dalam hati Reno.
"Jangan tersenyum seperti itu, aku tau apa yang kau pikirkan," ucap Reno.
"Kalau begitu apa iya," tanya Annisa.
"Iya kau puas," jawab Reno.
__ADS_1
"Sangat puas," ucap Annisa yang semakin senang. Ia tidak tau apakah Reno mengerti dengan pertanyaan nya tadi.
"Iya Annisa, kau telah masuk ke dalam hati ku," batin Reno.