Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Suatu Hari Nanti


__ADS_3

Anita sempat terkejut mendengar pertanyaan Dini, namun ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


"Kalau kamu nggak suka aku deket sama Andi nggak papa, aku akan jauhin dia," ucap Anita dengan penuh kekecewaan di hatinya.


"Kenapa?"


"Karena aku nggak mau nyakitin siapapun, termasuk kamu, aku tau selama ini kalian deket entah sebagai sahabat atau lebih, jadi aku sadar aku nggak bisa seenaknya masuk diantara kalian."


Dini menepuk pundak Anita dan tersenyum.


"Santai aja Nit, Andi itu sahabat ku dari kita kecil sampai sekarang dan nggak akan ada yang berubah sampai kapanpun."


"Jadi kamu nggak cemburu?"


"Enggak, asal itu nggak bikin dia lupain aku aja hahaha."


"Aku bisa jamin itu nggak akan terjadi Din, kita bisa tetap jadi sahabat, jalan bareng, kemana-mana bareng," ucap Anita meyakinkan Dini.


Dini tersenyum dan mengangguk.


"Anita, kamu ngapain disini? nggak ikut rapat?" tanya Andi yang tiba-tiba datang.


"Eh, ikut kok, aku duluan ya!" jawab Anita sambil berlari meninggalkan Dini dan Andi.


"Ngobrol apa aja sama Anita?"


"Bukan apa-apa."


"Nggak mau cerita nih!"


"Udah, ayo pulang!"


Andipun menurut, mereka pulang sekolah dengan berjalan kaki. Mereka berjalan berdampingan di trotoar jalan raya. Tak seperti biasanya, mereka lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Dini memikirkan obrolannya bersama Anita tadi.


"sahabat atau lebih?"


Selama ini Dini selalu bersama Andi, menangis dan tertawa bersama.


"apa kalau kamu deket sama Anita, kamu akan jauhin aku Ndi? apa kamu akan lupain aku? apa nggak akan ada lagi waktu yang bisa kita habiskan bersama, aku takut Ndi, aku nggak mau itu terjadi, aku cuma punya kamu disini, aku nggak bisa tanpa kamu Andi"


Dini yakin, ketika Andi sudah bersama Anita, Andi tak akan punya banyak waktu lagi untuknya. Jangankan menghabiskan waktu di bukit, jalan berdua seperti ini mungkin akan sangat jarang dilakukan.


Dini sadar, ia tak bisa egois dengan menahan Andi agar selalu bersamanya. Andi memiliki kehidupannya sendiri, kehidupan bebas yang ia tentukan sendiri.


Disisi lain, Andi masih memikirkan keputusan yang ia buat sendiri. Ia masih bimbang akan pilihannya. Ia takut jika ia salah memilih akan ada hati yang tersakiti.


"Andi, nanti malem ke tempat biasa ya!" ajak Dini.


"Kamu udah sehat Din?"


"Udah kok."


"Ya udah nanti aku jemput jam 7."


Dini mengangguk.


Tepat jam 7 malam, Andi sudah berada di depan rumah Dini. Seperti biasa, ia tak memanggil Dini, hanya duduk diam di balai-balai depan rumah Dini menunggu Dini keluar.

__ADS_1


"Ayo!" ucap Dini yang sudah keluar dari rumahnya.


"Kamu yakin udah sehat?"


"Iya Ndi, aku udah baik-baik aja," jawab Dini meyakinkan.


"Tuan Putri mau digendong?" tanya Andi sambil membungkukkan badannya.


"Tuan Putri maunya naik kuda putih, hahaha," jawab Dini sambil tertawa dan berjalan keluar.


Andi senang melihat Dini tertawa lagi. Bagi Andi, kebahagiaan Dini akan membawa kebahagiaan juga untuk dirinya.


Merekapun menyusuri jalan dibawah remang bulan yang sedikit tertutup awan.


"Ibu kamu belum pulang Din?"


"Belum, tapi ibu pasti tau aku keluar sama kamu."


"Pastilah, kan temen kamu cuma aku hahaha...."


"Emang, makanya kamu jangan ninggalin aku."


"Enggak lah Din."


Sesampainya dibawah bukit, Andi lagi-lagi berjongkok bersiap untuk menggendong Dini.


"Izinkan hamba menggendong Tuan Putri," ucap Andi menirukan tokoh-tokoh di drama kolosal.


Dini tak menjawab, hanya tersenyum dan mengangguk. Andipun menggendong Dini menaiki bukit itu.


"Ndiiiii, turuunn," teriak Dini yang takut jatuh.


"Enggak." jawab Andi dengan masih berlari-lari kecil.


Karena Andi tak segera menurunkannya, Dini menarik telinga Andi hingga dia berteriak minta ampun.


"Aaaa... iya iya ampun," teriak Andi yang langsung berhenti berlari.


"Turun nggak!"


"Iya Tuan Putri."


Andi menurunkan Dini dan mereka berdua tertawa lepas seperti tanpa beban dan pikiran-pikiran liar yang mengganggu mereka.


Mereka duduk berdampingan, memandang langit yang masih temaram karena bulan yang bersembunyi di balik awan gelap.


Dini menyandarkan kepalanya di pundak Andi.


"Ndi, lulus SMA kamu kuliah dimana?"


"Mmmmm, nggak tau, belum kepikiran Din, kalau kamu?"


"Aku mau di Universitas X Ndi, itu juga kalau bisa dapat beasiswa penuh sampai S1."


"Kamu pasti bisa Din."


"Mudah-mudahan, aku mau kuliah sambil kerja Ndi."

__ADS_1


"Emang ibu kamu izinin?"


"Mmm, nggak tau sih."


"Kamu nggak ada plan B selain di Universitas X?"


"Disana kesempatan kerja setelah lulus lebih besar daripada yang lain Ndi, plan B ku aku mau nikah sama orang kaya aja hahahaha...."


"Aku tanya serius Din!"


"Aku harus jadi orang sukses Ndi, biar ibu nggak perlu kerja lagi. Salah satu jalanku ya kuliah terus kerja di perusahaan besar dengan gaji besar, kalau aku nggak bisa kuliah aku harus nikah sama pilihan ibu Ndi, seseorang yang bisa menjamin masa depanku" jawab Dini dengan senyum termanisnya.


"Ada-ada aja kamu Din!"


"Beneran Ndi, ibu selalu bilang gitu sama aku," jawab Dini meyakinkan.


"Kalau ternyata jodoh kamu bukan orang kaya gimana?"


"Ndi, selama ini aku udah hidup susah sama ibu, aku nggak mau kayak gini terus, aku harus bisa mengubah keadaan ini, entah gimana caranya," jawab Dini dengan raut wajah yang mulai sedih.


"Aku selalu berdo'a yang terbaik buat kamu Din," ucap Andi sambil memeluk Dini.


Tiba-tiba hujan turun, Andi dan Dini segera berlari mencari tempat berteduh. Beruntung di puncak bukit itu ada sebuah gazebo, merekapun berteduh disana.


"Kayaknya kita bakalan tidur disini deh Din!" ucap Andi sambil menyenggol lengan Dini.


"Enggaklah, nanti juga reda."


"Kalau nggak reda gimana Din?"


"Pasti reda kok," jawab Dini yang mulai khawatir.


Dini bukanlah perempuan yang suka hujan. Dari dia kecil, dia akan merasa pusing ketika terlalu lama berada dibawah hujan, bahkan dia bisa pingsan jika tidak segera mengeringkan badannya.


"Badan kamu nggak terlalu basah kan?"


"Enggak kok, untung tadi masih gerimis, sekarang deres banget Ndi."


"Nggak papa, kita bisa tidur disini nanti," ucap Andi dengan senyum nakalnya.


"Kamu aja yang tidur disini, aku pulang."


"Bercanda Din hahaha...."


"Mmmm, Ndi, aku mau tanya sesuatu sama kamu."


"Tanya apa Din?"


"Kalau suatu hari nanti ada cewek yang deket sama kamu, apa kamu akan ninggalin aku?"


"Enggaklah Din, pertanyaan macam apa itu!"


"Bisa jadi suatu saat nanti kamu punya pacar, apa kita masih bisa kayak gini?"


"Bisa Din, aku yakin bisa," jawab Andi penuh keyakinan.


"Kalau kamu harus milih antara aku sama dia, kamu milih siapa?"

__ADS_1


__ADS_2