
Sebelum dibaca, mohon kebijaksanaannya ya karena ada beberapa adegan yang mungkin tidak membuat nyaman 😬
Di kampus,
Andi segera keluar dari kelasnya. Ia begitu mengkhawatirkan Dini. Berkali kali ia mencoba untuk menghubungi Dini namun sia sia, ponsel Dini mati.
Meski Dini membaca pesannya, tak ada balasan apapun dari Dini. Itu membuat Andi sangat mengkhawatirkan keselamatan Dini.
Andi berlari ke perpustakaan, berharap Dini masih berada di sana. Namun nihil, hanya ada Cika di sana.
"Cari Dini?" tanya Cika pada Andi.
"Iya, dia nggak sama kamu?"
"Tadi sih sama aku, tapi udah pulang duluan!"
"Dia bilang sesuatu nggak sama kamu?"
"Enggak," jawab Cika dengan menggelengkan kepalanya.
Andi segera keluar dari perpustakaan dan menghubungi salah satu teman kosnya.
"Halo, lo udah berangkat ke kampus?"
"Masih di kos, ada apa?"
"Lo liat Dini pulang nggak?"
"Enggak, gue dari tadi di depan nggak liat Dini!"
"Oke thanks!"
Andi memutar otaknya untuk mencari tau keberadaan Dini. Dia menghubungi Sintia, namun Sintia juga tidak bersama Dini.
Saat itu, hanya Andi yang mengetahui kebusukan Dika. Dia menyimpan sendiri bukti yang ia temukan dari tas Dika. Ia tidak akan sembarangan dalam bertindak karena ia tau dengan siapa ia berhadapan sekarang. Tidak hanya Dika yang psikopat, tapi juga papanya yang punya "kekuatan" untuk berbalik menyerang Andi. Ia harus sangat berhati hati. Yang terpenting saat ini adalah menjauhkan Dini dari Dika.
Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal buruk pada Dini karena ulah Dika. Ia benar benar merasa menjadi seseorang yang tak pantas di sebut sahabat jika sampai Dika berhasil melakukan hal buruk pada Dini.
Ia sangat menyesal karena berusaha mendekatkan Dini dengan Dika. Tak akan ada yang percaya jika di balik sikap ramah, baik dan manisnya Dika ternyata seorang psikopat berdarah dingin yang rela melakukan apapun untuk menyalurkan hasrat psikopatnya.
**********
Di tempat lain, Anita masih bersitegang dengan Dimas.
"Andini dalam bahaya Nit, aku nggak bisa diem aja!"
"Kamu itu tunangan aku Dimas, dia bukan siapa siapa kamu!"
"Maaf Nit, aku harus pergi!" ucap Dimas lalu segera masuk ke mobilnya dan meninggalkan Anita di tempat parkir.
"Kamu akan nyesel Dimas, aku yakin itu!" ucap Anita lalu keluar dari kafe dan memesan taksi untuk pulang.
Sementara itu, Dini dan Dika masih berada tak jauh dari kafe, lampu merah berhasil menghentikan mobil Dika untuk sementara, membuat Dimas bisa mengikutinya dari belakang.
Ia menghidupkan GPS di ponselnya, berjaga jaga jika sewaktu waktu ia membutuhkan seseorang untuk melacak posisinya.
Hampir satu jam Dika membawa Dini, mobil Dika mulai mengarah ke daerah pinggir kota.
"Kita mau kemana sih, kamu nggak pernah ngajak aku lewat sini deh kayaknya!"
"Ke rumah mamaku," jawab Dika dengan senyum manisnya.
"Itu di belakang ada tali tambang buat apa?"
"Buat iket kamu, biar nggak bisa jauh dari aku," jawab Dika dengan masih memberikan senyumnya.
"Ada ada aja kamu, mama kamu tinggal sendiri? setauku kamu tinggal di daerah X sama papa kamu kan?"
"Iya, mama sama papa udah pisah!"
"Kita nggak beli apa apa buat mama kamu?"
"Nggak usah, mama nggak suka dibawain apa apa!"
Dini mengangguk anggukkan kepalanya.
Dika membawa mobilnya pelan ketika melewati sebuah jalan yang tak terlalu lebar. Di kanan dan kiri jalan itu tak banyak rumah warga. Hanya ada beberapa rumah yang jaraknya berjauhan, bahkan ada beberapa rumah yang tampak kosong dan tak terawat.
Sial bagi Dimas karena ia kehilangan mobil Dika. Ia salah memasuki gang, membuatnya harus terus berjalan lurus tanpa bisa berputar balik karena sempitnya jalan itu.
"aku harap kamu baik baik aja Andini, tunggu aku!"
Dimas masih berusaha mencari jalan untuk keluar dari jalan sempit itu dan kembali mencari mobil Dika.
Dika membelokkan mobilnya, memasuki sebuah rumah yang paling mencolok diantara lainnya. Rumah 3 lantai bercat putih dengan gerbang yang menjulang tinggi di depannya. Dika membuka gerbang itu perlahan, gerbang tinggi yang sudah tampak karat di banyak sudutnya.
Ia kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya ke dalam rumah itu. Jika di lihat dari luar, rumah itu terlihat tak berpenghuni. Taman kecil di depannya sudah dipenuhi oleh rumput liar yang tinggi. Beberapa tanaman hias tampak layu dan kering, bahkan ada beberapa pot bunga yang pecah dan dibiarkan begitu saja mengotori lantai. Lantai, lantai putih itu juga terlihat tak pernah di sapu, apa lagi di pel. Terlihat bercak kekuning kuningan di hampir semua lantai.
__ADS_1
Ia ingin menanyakannya pada Dika, tapi ia takut menyinggung perasaan Dika.
"apa ini beneran rumah mamanya? kenapa seperti tak terawat?"
"Maaf sayang rumahnya kotor," ucap Dika yang seperti mengetahui isi hati Dini.
"Nggak papa," jawab Dini dengan senyum manisnya.
Dika lalu membuka pintu rumah itu, tak di kunci, itu berarti mama Dika ada di dalam rumah itu, karena Dika juga membuka gerbang depan tanpa menggunakan kunci, begitu pikir Dini.
Dini semakin terkejut melihat isi dalam rumah itu. Banyak sarang laba laba di beberapa sudut ruang tamu, bahkan di sudut sudut kursi dan meja. Rumah itu terlihat penuh debu. Barang barang tertata rapi ditempatnya, namun semuanya tertutup debu. Lantai yang sangat kotor, barang yang penuh debu, sarang laba laba dimana mana, itu membuat Dini merinding.
Ia menghentikan langkahnya untuk tidak masuk semakin dalam.
"Kenapa sayang, ayo!"
"Mmmm, aku tunggu di depan aja ya!"
"Mama mau ketemu kamu, ayo!"
Dini tersenyum tipis lalu berjalan di belakang Dika. Tangannya merogoh ke dalam tasnya, mencari ponselnya, namun tak ada, ia tidak menyadari jika ponselnya terjatuh ketika ia bertabrakan dengan seseorang di kafe.
"Dika, HP ku ketinggalan di mobil deh kayaknya, aku ambil dulu ya!"
"Nggak usah!" jawab Dika datar.
"Aku mau ngabarin Andi, aku....."
"Aku bilang nggak usah ya nggak usah Din!" ucap Dika dengan nada tinggi lalu mendekati Dini dan mencengkeram tangan Dini kuat kuat.
"Aaww, sakit Dik!"
"Ikut aku masuk!"
"Enggak, aku nggak mau!"
Dika tak mempedulikan ucapan Dini, ia masih menarik tangan Dini dengan kuat. Dini meronta meronta, berusaha lepas dari tangan Dika, namun sia sia. Dini tak kehabisan akal, ia berjalan di depan Dika dan menendang Dika tepat mengenai "adiknya", membuat Dika reflek melepas tangannya dari Dini dan mengaduh kesakitan.
Dini segera berlari keluar, sialnya ia terpeleset. Dika yang sudah semakin memuncak emosinya segera mengambil tongkat baseball dan memukul Dini dari belakang hingga Dini pingsan.
Ia lalu menyeret tubuh Dini sampai ke lantai 3 rumah itu. Ya, ia menyeret Dini.
"Sial, talinya di mobil!"
Dika segera berlari kembali ke mobil dan mengambil tali tambangnya lalu kembali ke lantai 3 dengan cepat sebelum Dini sadar. Ia mendudukkan Dini pada sebuah kursi dan menyandarkannya di tiang, lalu mengikat Dini menjadi satu dengan kursi dan tiang. Tak lupa ia menutup mulut Dini dengan lakban berlapis yang sudah ia siapkan.
"Udah bangun sayang?"
"Mmmmmmm mmmm mmmmm....." Dini tak bisa bersuara karena lakban yang menutup mulutnya. Ia berusaha meronta namun itu semakin membuatnya sakit. Ikatan tali pada tubuhnya begitu erat.
"Hahaha, kamu nggak bisa ngomong ya, sorry sorry, aku buka deh!"
Krraaakkkk!!
Dika melepas lakban dari mulut Dini dengan kasar. Perih, itu yang di rasakan Dini.
"Kamu mau apa Dik?"
"Aku mau main main sama kamu," jawab Dika dengan senyum iblisnya.
"Gila kamu, lepasin aku Dika!"
"Kenapa aku harus lepasin kamu? aku nunggu saat saat ini sayang, aku udah lama mau main main sama kamu,"
"TOLONG, SIAPAPUN YANG ADA DI LUAR TOLOOONG!" teriak Dini dengan sekuat tenaganya.
"Teriak yang kenceng sayang, kamu nggak liat ini ruangan kedap suara dan kamu sekarang ada di lantai 3 rumah yang bahkan nggak punya tetangga, ternyata kamu nggak sepintar itu Andini Zhafira Ayunindya."
"Brengsek kamu Dik!"
Dika hanya tersenyum kecil lalu mengambil pisau kecil dari tasnya dan berjalan pelan ke arah Dini.
"Kamu inget waktu tabrakan sama orang di kafe? itu orang suruhan aku, tapi dia sedikit bodoh karena dia nggak bisa ambil HP kamu tapi kamu lebih bodoh lagi karena kamu nggak sadar kalau HP kamu jatuh hahaha....."
"Kamu cantik sayang, tapi sayang kamu murahan!" ucap Dika dengan memainkan pisaunya di pipi Dini.
"Apa maksud kamu?"
"Aku tau di belakang ku kamu peluk pelukan sama Andi yang katanya sahabat kamu itu, bahkan kamu pelukan sama bos kamu juga, aku pacar kamu tapi gandeng tangan kamu aja nggak pernah apa lagi sampe' peluk kamu?"
"Kamu salah paham Dika, aku....."
"Salah paham apa? aku cinta sama kamu Dini, aku sampe' susah payah nyingkirin orang orang yang ganggu kamu biar kamu seneng, oh iya, kamu belum tau ya kalau aku yang jatuhin Bela dari lantai 3 fakultas seni, aku juga udah teror Anita, aku bahkan udah main main sama dia, tapi darahnya nggak enak, aku nggak suka!"
Dini hanya diam mendengarkan ucapan Dika. Ia tidak. menyangka akan bertemu bahkan berpacaran dengan psikopat seperti Dika.
"Aku pacar kamu loh Din, aku boleh kan cium kamu?" tanya Dika dengan berusaha mencium Dini namun Dini memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Dika memegang kedua pipi Dini dengan satu tangannya dan mencium paksa bibir mungil Dini lalu menjilatnya.
Dini tak bisa memberontak lagi, tangan dan kakinya sudah memerah dan sedikit terluka karena ikatan Dika yang begitu erat.
"Kenapa kamu lakuin ini Dika? aku mohon lepasin aku, aku akan lakuin apapun yang kamu mau asal kamu lepasin aku," ucap Dini memohon.
"Sayangnya aku udah nggak tertarik sama kamu, pergelangan tangan kamu berdarah karena kamu berontak," ucap Dika dengan melepas ikatan tali pada tangan Dini.
Dini sedikit lega karena Dika membebaskan satu tangannya, tapi ia salah, Dika kembali mengikat tangannya dengan kencang pada kulitnya yang belum terluka.
Dika mencium tangan Dini dan menjilat luka di pergelangan tangan Dini. Ia sangat rakus seperti anak kecil yang sedang menjilati ice cream.
"Darah kamu wangi sayang, manis!" ucap Dika dengan kembali mengarahkan pisaunya di pipi Dini.
"Apa kalau wajah cantik kamu luka, kamu masih bisa godain cowok cowok?"
"Jangan Dika, aku mohon jangan, aku bener bener minta maaf kalau aku nyakitin kamu," ucap Dini memelas, namun tak dihiraukan oleh Dika.
Teeessss!!
Darah menetes dari pipi Dini. Dika memejamkan matanya, menyesap aroma darah segar di hadapannya. Ia mengambil sedikit darah dari pipi Dini dengan jari telunjuknya lalu menjilatnya.
"Mmmmm, manis, kamu mau coba?" tanya Dika tanpa rasa berdosa sedikitpun.
"Kamu bener bener iblis Dika!"
Dika tak peduli, ia memegang kepala Dini agar Dini tak memalingkan wajahnya ketika Dika menjilat darah yang masih keluar dari pipi Dini.
Dini hanya merintih menahan sakit dan perih. Air matanya menetes, menjadi satu dengan darah di pipinya.
PLAAAKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Dini yang sudah terluka, membuatnya semakin merasakan perih yang amat sangat.
"Jangan kotori darah itu dengan air mata kamu, aaaarrrgggghhhh kamu bikin aku marah Dini!"
"Maaf Dika, maaf, tolong lepasin aku,"
"Diem Din, aku akan lepasin kamu setelah aku puas!"
Dika kembali mendekati Dini dengan pisau di tangannya.
"Diem anak manis, aku nggak akan nyakitin kamu kalau kamu nggak banyak ngomong, oke?"
Dini mengangguk pelan.
Dika mengikat rambut Dini kebelakang, memperlihatkan leher jenjang milik Dini. Dika mendekat dan mencium leher itu dengan rakus dan meninggalkan kiss mark di sana.
Tangannya mengusap pipi Dini yang luka dan kembali menjilatnya.
"Nggak enak, gara gara air mata kamu!"
Perlahan Dika membuka satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Dini, memperlihatkan apa yang selama ini di jaga oleh Dini.
"Tenang aja, aku bukan pemerkosa!"
Dini sedikit lega mendengar ucapan Dika. Dika masih memperhatikan apa yang ada di hadapannya, lalu meremas dengan pelan sesuatu yang mencuri perhatiannya.
Dika lalu merobek kemeja Dini dengan paksa. Dan menggoreskan pisaunya di kedua lengan Dini lalu dengan cepat menjilat darah yang keluar tanpa sisa. Dika terlihat sangat menikmati hal itu.
Dini hanya bisa diam dengan semua kesakitan yang di rasakannya. Ia menyerah, ponselnya telah hilang dan ia kini sangat jauh dari keramaian. Tak akan ada yang bisa menyelamatkannya saat ini.
"apa hidupku akan berakhir seperti ini? ibu, maafin Dini karena belum sempet bahagiain ibu, Dini sayang sama ibu," batin Dini dalam rintihan kesakitannya.
"Sayang, apa kamu tau kenapa aku ngelakuin ini?" tanya Dika pada Dini.
Dini tak berani menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Karena aku sayang sama kamu hahaha......."
Dika duduk di lantai menghadap ke arah Dini. Dia tersenyum seperti serigala yang tengah menatap mangsanya. Dia menunduk dan mencium kaki Dini. Ia lalu menggoreskan pisaunya pada jari jari kaki Dini dan menjilatinya sepuasnya.
Dini hanya bisa menggigit bibirnya kuat kuat, menahan sakit di setiap sayatan di tubuhnya. Ia sudah menyerah, ia sudah tidak berani berbicara bahkan untuk memohon. Ia tau hidupnya akan berakhir sekarang.
"Kenapa kamu nangis sayang?" tanya Dika yang kini mendongakkan kepalanya melihat ke arah Dini, dia masih terduduk di bawah Dini.
Dini menggeleng pelan.
"Harusnya kamu nggak sia siakan aku Dini, harusnya kamu sayang sama aku, kalau aku pacar kamu, harusnya aku yang peluk kamu, bukan Andi apa lagi bos kamu itu!"
"Maaf," ucap Dini pelan.
Dengan cepat Dika berdiri dan kembali menampar Dini tepat mengenai luka di pipinya, membuat Dini semakin menangis karena perih yang di rasakannya.
"Diam dan jangan ngomong apapun!" ucap Dika dengan pandangan membunuh.
"Aku tau semuanya Din, aku tau siapa Dimas dan apa hubungan kalian sebenarnya!" ucap Dika membuat Dini menoleh cepat ke arahnya.
__ADS_1
"Dika tau? bagaimana mungkin?"