Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Kebahagiaan di Ujung Senja


__ADS_3

Masih di hari yang sama, dengan sinar mentari yang masih memaparkan teriknya. Andi dan Aletta duduk bersandar pada pohon besar tempat mereka berteduh. Tak ada seorangpun yang mereka lihat di sana selain bermacam macam wahana permainan yang seolah tengah kesepian.


"Sepi Ndi, beda banget sama waktu malem," ucap Aletta.


"Iya, tapi aku suka," balas Andi.


"Kenapa?"


"Karena aku bisa berdua sama kamu," jawab Andi dengan senyum manisnya.


"Kamu ketularan Dimas deh kayaknya," balas Aletta dengan mengernyitkan dahinya.


"Haha.... kalau ketularan yang baik baiknya kan nggak papa," balas Andi.


"Kalian udah lama kenal ya? kalian keliatan deket banget!"


"Dia dulu temen SD aku sama Dini, tapi pindah sebelum lulus, ketemu lagi waktu SMA dan lagi lagi nggak sampe' lulus udah pindah," jawab Andi.


"Aku boleh tanya sesuatu?" tanya Aletta serius.


"Tanya apa?"


"Tentang masa lalu kamu, apa kamu mau cerita tentang masa lalu kamu?"


"Nggak ada yang istimewa dari masa lalu aku Aletta, semuanya biasa biasa aja," jawab Andi.


"Oh, ya udah kalau gitu," balas Aletta dengan menghembuskan napasnya pelan.


"Tanyain apa aja yang mau kamu tau, aku akan jawab, jadi jangan simpan pertanyaan itu sendiri lalu kasih kesimpulan sendiri tanpa kamu tau yang sebenarnya," ucap Andi pada Aletta.


"Anita temen SMA kamu?"


"Iya, kita satu SMA tapi nggak satu kelas, apa dia ngomong sesuatu sama kamu?"


Aletta mengangguk pelan.


"Dia bilang apa?"


"Tentang masa lalu kalian," jawab Aletta.


"Masa lalu? aku bahkan lupa kalau punya masa lalu sama dia," balas Andi.


"Apa aku nanti juga kamu lupain kayak kamu lupain dia sekarang?"


Andi menoleh cepat ke arah Aletta.


"Kamu ngomong apa sih? kamu sama dia beda, kamu......"


"Kamu bahkan sembunyiin masa lalu kamu sama dia dari aku," ucap Aletta memotong ucapan Andi.


Andi lalu menggeser posisi duduknya dan menarik tangan Aletta ke dalam genggamannya.


"Oke, aku cerita, kamu dengerin baik baik ya!"


Aletta mengangguk pasti.


"Aku dulu emang sempet deket sama dia, tapi aku nggak punya perasaan apa apa sama dia, semakin lama aku deket sama dia semakin aku sadar kalau rasa di hati ku ini bukan sebuah kasih sayang, apa lagi cinta, aku cuma kasian sama dia, toh pada akhirnya dia lebih pilih Dimas dan aku nggak pernah ngerasa sakit hati karena pilihannya, aku cuma nggak suka dia ganggu Dini, itu aja," jelas Andi panjang.


"Sedeket apa kamu sama dia?"


"Yang jelas nggak sedeket aku sama kamu sekarang," jawab Andi dengan menatap mata Aletta.


Aletta hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Andi.


"dia bahkan dapet first kiss kamu Ndi, apa itu nggak menunjukkan sedeket apa kalian dulu?"


"Ada hal yang aku nggak bisa cerita sama kamu Ta, tentang Anita dan keluarganya, itu yang bikin aku simpati sama dia," ucap Andi.


Aletta hanya diam, ia menunggu Andi memberinya penjelasan yang sesuai dengan ucapan Anita tadi pagi.


"Dia masa lalu aku dan aku udah lupain dia, nggak ada sedikitpun rasa yang tertinggal buat dia karena emang sebelumnya pun rasa cinta itu nggak ada," lanjut Andi.


"Kamu pernah ciuman sama dia?"


"Enggak, nggak pernah," jawab Andi cepat.


"Bohong!"


"Beneran, aku....."


"Dia udah cerita semuanya sama aku Ndi!"


"Ciuman seperti apa yang kamu maksud Ta? dia emang first kiss ku, tapi dia yang mulai, bukan aku, lagian itu bukan ciuman, itu cuma kecupan hehe......"


"Apa bedanya Ndi, sama aja!"


Andi lalu menarik wajah Aletta dan mendaratkan kecupan singkat di bibir Aletta. Membuat Aletta seketika seperti menerima ribuan aliran listrik yang menjalari setiap inci tubuhnya.


"Itu kecupan," ucap Andi dengan senyum tak berdosa.


"Nggak lebih dari yang kita lakuin waktu di gang gelap itu kan?" lanjut Andi membuat Aletta tersipu.

__ADS_1


Ingatan mereka kembali ketika mereka tengah berciuman di gang gelap dan sempit ketika Aletta bertemu Rizki.


"Kamu inget itu kan?" tanya Andi yang sengaja menggoda Aletta.


"Enggak, aku nggak inget apa apa," jawab Aletta lalu berdiri, menyembunyikan wajahnya yang sudah tampak memerah karena menahan malu.


Andi lalu menarik tangan Aletta dan menggenggamnya.


"Jangan dengerin apa yang orang lain bilang Ta, percaya aja sama hati kamu, aku ataupun kamu, kita punya masa lalu kita masing masing, aku nggak peduli gimana masa lalu kamu, yang penting buat aku adalah bagaimana kamu sekarang dan aku harap kamu juga bisa terima masa lalu ku," ucap Andi dengan menatap ke dalam mata Aletta.


Aletta mengangguk lalu memeluk Andi.


"Aku minta maaf," ucap Aletta yang masih berada dalam pelukan Andi.


"Apa kamu tadi pagi diem gara gara masalah first kiss yang Anita ceritain? kamu cemburu sama Anita atau kamu iri sama dia?" tanya Andi yang sengaja menggoda Aletta.


Aletta lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi.


"Enggak, aku....... aku cuma....."


Andi kembali menarik tangan Aletta dan membawanya ke dalam pelukannya. Mereka diam beberapa saat, membiarkan pikiran mereka mengembara dengan bebas.


"apa yang Anita bilang itu bener Ndi? kamu mau deket sama aku cuma buat lupain Dini? aku nggak mungkin nanyain hal ini, karena aku takut jawaban kamu akan sangat menyakitkan buat aku," batin Aletta dalam hati.


"maafin aku Ta, maaf karena sampai saat ini nggak ada yang bisa gantiin posisi Dini di hati ku, maafin aku," ucap Andi dalam hati.


"Lepas Ndi, ntar ada yang liat," ucap Aletta dengan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Andi.


"Aku masih mau peluk kamu!" balas Andi dengan semakin erat memeluk Aletta.


"Aduuuhh, wajahku gatel lagi Ndi," ucap Aletta merintih.


Andi segera melepaskan Aletta dari pelukannya, ia khawatir jika serbuk bunga yang membuat Aletta alergi ternyata menempel di pakaiannya. Sedikit banyak ia tau jika seseorang yang mengalami alergi bunga tiba tiba bersin bersin dan gatal di area wajahnya, itu pasti karena seseorang itu sedang berdekatan dengan pemicu alerginya, yaitu serbuk bunga itu sendiri.


"Satu kosong, kena tipu deh, kasian haha......" ucap Aletta dengan tertawa lepas dan melangkah mundur perlahan lahan.


"Aletta, kamu......"


Andi lalu melangkah ke arah Aletta namun Aletta berlari menghindari Andi. Mereka kemudian berkejar kejaran di bawah terik sinar matahari. Mereka tertawa dan terlihat sangat bahagia. Beberapa menit berlari, Aletta menyerah, panas matahari membuatnya kehilangan tenaganya. Andi segera mendekat dan memeluk Aletta dari belakang lalu mengangkat tubuhnya dan berputar. Mereka tertawa lepas seperti anak kecil yang tak memiliki beban hidup.


Andi lalu menggandeng tangan Aletta, mengajaknya berlari kembali ke bawah pohon.


"Panas banget Ta, aku jadi bau keringat haha......"


"Aku juga, udah kayak mandi sama kamu!"


"ups, salah ngomong!"


"Kamu selain barbar ternyata mesum juga ya, hehe....."


"Aku salah ngomong Ndi, aku cuma......"


"Cuma apa? cuma pingin mandi sama aku?"


"Enggak lah, buang jauh jauh pikiran kotor kamu itu Andi Putra Prayoga!"


Andi hanya tersenyum kecil, ia terus menggoda Aletta membuat Aletta semakin kesal karenanya. Namun ia juga bahagia, meski ia belum bisa memiliki Andi sepenuhnya. Setidaknya, ia masih bisa merasakan kebahagiaan itu. Ia tau Andi tidak akan dengan sengaja menyakitinya, ia tau jika Andipun berusaha untuk membawanya ke dalam hatinya.


**


Di tempat lain, Dimas masih duduk di depan kamar kos Dini. Ia bersandar di depan pintu dengan harapan Dini akan segera membuka pintu kamarnya. Satu jam telah berlalu, Dimas masih diam di tempatnya.


Di dalam kamar, Dini masih sangat kesal pada Dimas. Ia tidak akan dengan mudah memberikan maafnya pada Dimas. Ia sudah menahan hatinya yang sangat mudah memaafkan itu, namun akhirnya ia menyerah. Memori singkat membawanya ke masa beberapa tahun yang lalu, saat dimana ia meminta Dimas pergi dan pada akhirnya Dimas benar benar pergi darinya untuk waktu yang cukup lama.


Dini segera membuka pintu kamarnya, ia tidak ingin hal buruk itu terulang lagi. Sesaat setelah pintu terbuka, Dimas yang bersandar pada pintu terjatuh tepat di bawah Dini.


"Dimas, kamu....."


"Aduuuhh, kayaknya aku amnesia lagi deh," ucap Dimas merintih dengan memegangi kepalanya yang terbentur lantai.


Dini lalu berjongkok dan mengusap usap kepala Dimas yang terbentur.


"Suka banget ya kalau amnesia?"


"Enggak lah, aku tersiksa tau!" balas Dimas lalu merangkak masuk ke kamar Dini.


Mereka lalu duduk di lantai dengan bersandarkan dinding.


"Andini, aku minta maaf," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini, namun Dini segera menarik tangannya. Ia tidak akan mudah luluh saat itu.


"Kalau kamu ke sini cuma buat maksa aku ketemu psikiater itu, mending kamu pulang aja!"


"Enggak, aku nggak akan maksa kamu, aku tau aku salah, aku ke sini buat minta maaf, aku janji nggak akan kayak gini lagi, aku nggak akan buat keputusan sendiri kayak kemarin, jadi aku mohon maafin aku," ucap Dimas memohon.


"Kali ini jangan harap aku bisa dengan mudah maafin kamu Dimas!"


"Kenapa? aku yakin kamu akan maafin aku, iya kan? kamu selalu maafin aku Andini, kamu nggak bisa marah sama aku lama lama, iya kan?"


"Itu karena aku cinta sama kamu, tau?"


"Iya aku tau, karena aku juga ngerasain hal yang sama sama kamu, aku juga cinta sama kamu," ucap Dimas dengan senyum manisnya. Senyum yang bisa meluluhkan hati setiap gadis yang melihatnya.

__ADS_1


"Jangan senyum senyum, aku nggak suka liat senyum kamu!"


"Beneran kamu nggak suka?" tanya Dimas dengan memamerkan senyumnya di hadapan Dini.


Dini memejamkan matanya erat erat. Senyum itu selalu bisa membiusnya, meluluhkan hatinya dengan sangat cepat dan dalam keadaan "perang" seperti ini senyum Dimas adalah hal yang harus ia hindari dari pandangannya.


Dimas semakin gemas melihat tingkah Dini. Tanpa pikir panjang ia segera mengecup bibir mungil itu. Tangan Dimas melingkar di pinggang Dini dan menariknya agar semakin dekat. Deru napas keduanya memburu, detakan dalam dada seolah seperti ombak yang bergemuruh menghantam karang.


Dini telah kalah, Dimas selalu berhasil meluluhkan hatinya, Dimas selalu bisa memberinya suasana indah yang membahagiakannya. Tautan mesra nan romantis itu telah menggetarkan seluruh jiwanya, membuat Dini hanyut dalam keindahan yang Dimas ciptakan.


Dimas lalu melepaskan tangannya dari pinggang Dini dan dengan pelan menyudahi tautan indah yang sudah ia berikan pada Dini. Ia lalu mencium kening Dini dan memeluknya.


"Maafin aku sayang, maaf kalau caraku membahagiakan kamu selalu salah," ucap Dimas dengan masih memeluk Dini.


"Aku nggak mau ketemu psikiater itu Dim, aku harap kamu ngerti," balas Dini.


"Iya, aku ngerti, maafin aku ya!"


Dini mengangguk dalam pelukan Dimas. Ia lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas dan kembali duduk bersandar pada dinding. Dimas lalu bergeser, dan merebahkan badannya di lantai dengan membaringkan kepalanya di paha Dini.


"Dimas, apa yang bikin kamu tiba tiba kenalin aku sama Dokter Mela?"


"Jangan di bahas lagi sayang, aku nggak mau kamu marah lagi sama aku," balas Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


"Aku mau kamu cerita!"


"Oke, tapi kamu janji jangan marah ya!"


Dini mengangguk cepat.


"Kamu ingat waktu kita pertama kali liburan ke vila? kamu kehujanan dan pingsan, aku bingung banget waktu itu jadi aku hubungin Dokter Aziz buat dateng, dari situ Dokter Aziz bilang kalau kemungkinan kamu fobia hujan dan fobia itu bisa berasal dari trauma masa lalu kamu, satu satunya cara buat cari kebenarannya dan sembuhin fobia kamu cuma itu, ke psikiater," jelas Dimas panjang.


"Kenapa nggak ada yang cerita sama aku?" tanya Dini.


"Aku sengaja minta semua yang ada di sana buat sembunyiin hal itu dari kamu, waktu itu bentar lagi kita ujian dan aku nggak mau kamu jadi terbebani sama hal itu," jawab Dimas.


"Tapi aku nggak punya masa lalu yang buruk, aku bahkan dari kecil selalu pingsan waktu kehujanan," balas Dini.


"Aku cuma nggak mau kamu tersiksa sama hal itu sayang, makanya aku berusaha bantuin kamu, tapi mungkin caraku yang salah, aku minta maaf!"


"Aku nggak papa Dimas, aku baik baik aja, aku nggak mau ketemu Dokter Mela atau psikiater lainnya."


"Iya sayang, aku nggak akan maksa kamu tapi kapanpun kamu berubah pikiran, kamu bisa bilang sama aku!"


Dini mengangguk.


"Andini, apa kamu masih sering mimpi buruk?"


"Iya, udah hampir satu minggu mimpi itu selalu ganggu tidurku bikin aku takut buat tidur lagi," jawab Dini dengan bersedih. Meski hanya mimpi, hatinya terasa sakit jika mengingatnya.


"Apa menurut kamu itu ada hubungannya dengan fobia kamu?"


Dini menggeleng.


"Itu cuma mimpi Dimas, lagian aku nggak pernah ngalamin hal yang ada di mimpi itu!"


"Kamu mau cerita sama aku tentang mimpi kamu?"


Dini kembali menggeleng.


"Aku udah lupain mimpi itu, walaupun tiap malem mimpi itu selalu dateng, aku selalu berusaha buat lupain semuanya, semua itu cuma mimpi dan aku nggak mau mimpi itu ganggu hari hariku," jawab Dini.


Dimas hanya tersenyum dan membelai wajah Dini. Ia tidak akan memaksa Dini untuk menceritakannya. Meski Dini tidak ingin bertemu Dokter Mela, Dimas yakin akan ada cara lain agar Dini terbebas dari fobianya itu.


**


Perlahan siang telah kembali pulang ke ujung barat peraduannya. Goresan jingga tergambar indah sebelum sang bulan datang menyinari malam. Senja telah hadir meninggalkan kebahagiaan bagi mereka yang saling menjaga hatinya.


.


.


.


terkadang perpisahan bukan cuma karena masalah besar, tapi juga karena prasangka prasangka dalam hati yang tak menemukan jawabannya dan pada akhirnya kita tafsirkan sendiri tanpa tau yang sebenarnya.


.


so guys, komunikasi adalah hal terpenting dalam suatu hubungan, jika ada masalah, bicarakan! jangan biarkan prasangka prasangka buruk itu muncul dan memperkeruh keadaan, oke!


.


peluk cium buat kalian semua 😘😘


.


like, komen dan vote nya boleh dong, biar author makin semangat updatenya 😉


.


Arigatou, xie xie, kamsahamnida 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2