
Pagi telah datang. Kuncup kuncup bunga telah bermekaran meninggalkan harumnya cinta yang semakin tumbuh dalam hati.
Dini sedang duduk seorang diri di teras kosnya, matanya terpejam dengan handsfree yang terpasang di telinganya. Tanpa ia tau, Andi yang baru saja keluar dari kamar dan memakai sepatu segera mendekat ke arahnya dan duduk di sebelahnya.
Andi memperhatikan Dini, ia lalu tersenyum tipis mengingat bagaimana ia sangat mencintai gadis di hadapannya itu.
"apa aku bener bener sanggup liat kamu sama Dimas selamanya? apa nggak ada sedikitpun aku di hati kamu Din? apa perasaan ku ini emang nggak seharusnya ada?apa aku salah karena nyimpen perasaan ini terlalu lama?" batin Andi bertanya tanya.
Ia lalu mengambil satu bagian handsfree dari telinga Dini dan memasang di telinganya, membuat Dini seketika menoleh. Andi hanya tersenyum dan dibalas senyuman oleh Dini.
Lagu berjudul Starlight milik aktor dan penyanyi asal Korea Selatan itu mengalun indah di telinga Andi dan Dini. Lagu yang merupakan original soundtrack dari drama Korea yang baru saja rilis itu masuk ke dalam salah satu list lagu favorit Dini.
Dini lalu menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
"Kamu tau Ndi? lagu ini tentang kerinduan, dia merindukan seseorang yang sangat jauh dan dia masih tetep setia nunggu dengan air mata di hatinya," ucap Dini pada Andi.
"Aku juga akan selalu nunggu kamu Din," balas Andi dengan suara pelan agar tak di dengar oleh Dini.
Belum sampai lagu selesai, mobil Dimas telah tiba. Dimas lalu turun dari mobilnya dan menghampiri Andi dan Dini.
"cemburu? apa itu? hahaha.... ya, aku cemburu," ucap Dimas dalam hati.
Dini melepas handsfreenya dan menaruh ponselnya lalu berlari ke arah Dimas. Ia lalu memeluk Dimas seperti anak kecil yang baru saja bertemu ayahnya.
"Jangan lari lari sayang, kaki kamu baru sembuh," ucap Dimas pada Dini, mereka lalu berjalan ke arah Andi.
"Nunggu Aletta Ndi?" tanya Dimas pada Andi.
"Iya, kalian duluan aja!" balas Andi sambil melepaskan handsfree dari telinganya.
"Nggak sekalian bareng?" tanya Dini.
"Enggak, aku mau mampir ke tempat lain dulu sama Aletta," jawab Andi berbohong.
"Oh, ya udah kalau gitu," balas Dini lalu mengambil ponselnya dan pergi bersama Dimas.
Tak lama kemudian, Aletta datang dengan mengendap endap, ia menutup kedua mata Andi dengan tangannya.
"Kamu kira aku nggak denger kamu jalan?" tanya Andi.
"Itu bukan suara langkahku," balas Aletta.
Andi lalu melepas kedua tangan Aletta dari matanya, menggenggamnya lalu menariknya, membuat Aletta seperti memeluk Andi dari belakang.
"Mau aku gendong ke kampus?" tanya Andi.
"Nggak mau," jawab Aletta dengan berusaha menarik tangannya.
"Kenapa? kan romantis!"
"Aku nggak kayak gitu Ndi, kamu tau itu," balas Aletta masih berusaha menarik tangannya.
Biiiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Aletta berdering.
"Lepas Ndi, ini ada panggilan masuk," ucap Aletta dengan masih memberontak agar Andi melepaskan tangannya.
"Siapa pagi pagi hubungin kamu?"
"Ya mana aku tau, HP ku aja di celana!"
Andi lalu melepaskan tangan Aletta. Aletta mengambil ponselnya, setelah melihat nomor yang tak dikenalnya yang menghubunginya ia lalu mengabaikannya.
"Kenapa nggak di angkat?" tanya Andi.
"Nomer iseng, ayo berangkat!"
"Siapa Ta?"
"Nggak penting Ndi, udahlah biarin aja!"
Ponsel Aletta kembali berdering, Andi lalu merebutnya dari tangan Aletta dan menerima panggilan itu.
"Jangan Ndi!"
"Sssttt!"
Tak ada suara apapun yang terdengar, Andi lalu memutus panggilan itu.
"Aku kan udah bilang, orang iseng!" ucap Aletta.
Andi lalu menghubungi nomer itu menggunakan ponsel Aletta. Tersambung. Tak butuh waktu lama seseorang menerima panggilannya.
"Aku tau kamu pasti hubungin aku sayang, kamu pasti kangen kan sama aku?" tanya seseorang dari ujung sambungan ponsel.
"Ini siapa?" tanya Andi.
"Lo siapa? ini nomernya Aletta kan?"
"Iya, lo siapa? kenapa pagi pagi ganggu pacar gue?"
"Pacar? lo lagi? gue tau kalian pasti cuma pacar bohongan, gue....."
"Kita emang pacaran, lo ada masalah?"
"Kalau lo emang pacar dia, lo udah ngapain aja sama dia? dia pasti kasih semua yang lo mau kan? apa kalian udah......."
"Dia udah kasih hatinya buat gue, itu udah lebih dari cukup buat gue jadi gue minta jangan pernah ganggu Aletta lagi atau lo akan nyesel!"
"Lo pikir gue takut sama ancaman lo?"
"Terserah lo, tapi gue nggak akan tinggal diam kalau sampe' lo gangguin Aletta lagi!"
Klik. Sambungan terputus. Andi sengaja mematikan sambungan ponselnya. Menonaktifkan ponsel Aletta dan mengambil sim card yang terpasang di dalamnya lalu mematahkannya.
Aletta hanya diam melihat sikap Andi.
__ADS_1
"Abis ini kita beli lagi," ucap Andi sambil memberikan ponsel Aletta.
Aletta hanya mengangguk tak bersuara.
"Kamu marah Ta?" tanya Andi yang melihat Aletta hanya diam.
Aletta menggeleng. Ia selalu menjadi gadis yang pendiam dengan tiba-tiba ketika hatinya tengah berdebar. Itu juga yang ia rasakan ketika ia bersama Rizki.
Melihat sikap Andi yang tegas dan melindunginya, membuatnya semakin jatuh hati pada Andi. Membuatnya semakin merasakan dengan jelas debar debar asmara dalam hatinya.
Andi lalu mendekat dan memeluk Aletta.
"Aku minta maaf kalau sikapku tadi keterlaluan, aku cuma nggak mau dia ganggu kamu," ucap Andi dengan masih memeluk Aletta.
Aletta masih diam. Pelukan Andi seolah membuat dirinya membeku.
"Ta, kamu masih marah?" tanya Andi dengan melepaskan Aletta dari pelukannya dan menatap Aletta lekat lekat.
Aletta kembali menggeleng.
"Ayo berangkat!" ajak Aletta lalu berlari meninggalkan kos. Ia berusaha menghindari kegugupannya.
"Ke kampus lewat sini Ta!" ucap Andi yang melihat Aletta berjalan berlawanan dengan arah kampus.
Aletta lalu memukul keningnya pelan dan berbalik lalu berlari ke arah Andi.
Andi hanya tersenyum melihat Aletta yang begitu menggemaskan ketika sedang salah tingkah.
Andi lalu menggandeng tangan Aletta selama di perjalanan.
"Beli sim card dulu ya?"
"Iya."
Setelah membeli sim card baru dan memasangnya, Andi dan Aletta kembali berangkat ke kampus.
"Nico masih tidur ya?" tanya Aletta.
"Iya, berangkat agak siang katanya," jawab Andi.
Sebelum Andi dan Aletta memasuki area kampus, mereka melihat seorang wanita dan lelaki sedang berdiri di depan gapura kampus. Aletta segera berlari dengan menggandeng tangan Andi.
"Aku kenalin tante Rosa," ucap Aletta pada Andi.
Andi hanya mengikuti Aletta berlari sampai ia sadar jika ia mengenal lelaki yang berada tak jauh darinya.
"Tante!" panggil Aletta.
Tante Rosa menoleh dan melambai.
"Tante ngapain di sini?" tanya Aletta.
"Tante mau cari kamu, tante hubungin kamu tapi nggak bisa makanya tante ke sini," jawab tante Rosa.
"Aletta baru ganti nomor tante, maaf belum sempet ngabarin, tante udah mau berangkat?"
Aletta yang baru sadar jika masih menggandeng tangan Andi segera melepasnya.
"Kenalin tante, ini Andi, Ndi ini tante Rosa," ucap Aletta saling memperkenalkan.
"Andi," ucap Andi sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Rosa, tantenya Aletta," balas tante Rosa dengan menerima uluran tangan Andi.
"Oh ya, kenalin Al ini om Sonny," ucap tante Rosa memperkenalkan lelaki di sampingnya.
"Aletta om," ucap Aletta dengan menunduk.
"Pak Sonny, apa kabar pak?" tanya Andi membuat tante Rosa dan Aletta sedikit terkejut.
"Baik, saya denger kamu kuliah di sini sama Dini," jawab Pak Sonny.
"Iya Pak, saya sama Dini kuliah di sini tapi beda fakultas."
"Udah saling kenal?" tanya tante Rosa.
"Dia salah satu murid terpandai di sekolah," jawab pak Sonny.
"Waahh waaahh, kamu pinter pilih Al," goda tante Rosa pada Aletta.
Aletta hanya tersenyum malu dengan godaan tante Rosa.
"Saya bisa bicara sama kamu Ndi? berdua!" tanya Pak Sonny pada Andi.
"Bisa Pak!"
Andi dan Pak Sonny lalu berjalan sedikit menjauh dari Aletta dan tante Rosa.
"Saya pikir kamu masih sama Anita," ucap Pak Sonny.
"Saya udah lama nggak pernah berhubungan lagi sama Anita, jadi kalau Bapak nanyain soal Anita, saya nggak tau apa apa," balas Andi.
"Iya saya tau dia sekarang sama Dimas, tapi nggak tau kenapa saya lebih suka kalau dia sama kamu daripada sama Dimas, sejak dia sama Dimas dia jadi lebih brutal, dia ngelakuin hal hal yang bodoh buat tetep deket sama Dimas, Anita bener bener udah diluar kendali saya Ndi!"
Andi hanya diam. Ia ingat bagaimana dulu Pak Sonny memperlakukan Anita. namun jika ditelisik lebih jauh, Anita juga terlalu keras kepala dan tidak pernah mendengarkan ucapan pak Sonny, mereka berdua sama sama memiliki keegoisan yang tinggi.
"Dia tadi pacar kamu?" tanya Pak Sonny.
Andi menoleh ke arah Pak Sonny, ia sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
"Maaf kalau saya ikut campur masalah pribadi kamu, saya cuma berharap kalau Anita bisa sama kamu lagi," ucap Pak Sonny.
"Kita udah punya jalan masing masing Pak, Anita udah memilih jalannya sendiri, begitu juga saya," balas Andi.
"Apa kamu nggak pernah mencintai anak saya?"
"Saya pernah punya perasaan sama Anita, tapi saya nggak yakin kalau itu cinta, buat saya yang terpenting sampai sekarang adalah pendidikan saya, jadi saya nggak pernah berpikir terlalu jauh tentang itu," jawab Andi.
__ADS_1
"Iya, saya tau, laki laki sebaik kamu memang seharusnya mendapatkan gadis yang baik juga, saya bisa minta tolong sama kamu Ndi?"
"Minta tolong apa Pak?"
"Berikan ini pada Anita, saya yang akan bayar semua pengeluarannya dan tolong minta dia buat hubungin saya," ucap Pak Sonny sambil memberikan sebuah credit card pada Andi.
"Tapi Pak, saya......"
"Saya cuma bisa minta tolong sama kamu Ndi," ucap Pak Sonny.
"Baik Pak," jawab Andi.
Setelah itu mereka kembali menghampiri Aletta dan tante Rosa.
"Udah selesai?" tanya tante Rosa.
"Iya, mau berangkat sekarang?" balas Pak Sonny.
"Iya, tante berangkat dulu ya Al, kamu jaga diri baik baik!" ucap tante Rosa sambil memeluk Aletta.
"Iya tante, tante juga jaga diri baik baik ya!"
"Iya sayang," balas tante Rosa lalu melepaskan Aletta dari pelukannya.
"Tante nitip Aletta sama kamu ya Ndi!" ucap tante Rosa pada Andi.
"Baik tante," balas Andi.
Tante Rosa dan Pak Sonny pun meninggalkan kampus. Baru saja Aletta dan Andi akan masuk, seseorang memanggil nama Andi dengan berteriak.
Andi segera menoleh ke arah sumber suara.
"ikatan batin anak sama bapak?" batin Andi bertanya.
Anita lalu berlari mendekati Andi. Ia yang melihat Andi bersama seorang gadis sudah mengira jika ada hubungan khusus di antara mereka berdua, karena ia tau bagaimana Andi sangat sulit untuk di dekati.
Anita lalu memeluk Andi begitu saja, membuat Aletta begitu terkejut.
"Kamu apa apaan sih Nit!" ucap Andi dengan mendorong tubuh Anita.
"Dia siapa?" tanya Anita dengan menunjuk ke arah Aletta.
Andi lalu membawa tangannya ke bahu Aletta dan menariknya.
"Dia pacar ku," jawab Andi.
Anita diam sesaat, ia memperhatikan gadis di hadapannya. Celana jeans, sneakers hitam, kaos polos dengan kemeja yang kancingnya dibiarkan terbuka, rambut diikat kuda tanpa poni, membuat Anita menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kamu serius Ndi?" tanya Anita dengan nada mengejek.
"Serius, ada masalah?"
"Enggak, justru mata kamu yang bermasalah, apa setelah kamu jauh dari aku kamu jadi pilih cewek kayak gini?"
Aletta melepaskan tangan Andi yang berada di bahunya. Ia lalu melangkah maju mendekati Anita.
"Apa ada yang salah sama gue?" tanya Aletta dengan menatap tajam Anita.
"Lo nggak sadar kalau penampilan lo ini kayak cewek cewek tukang bikin onar di jalanan? barbar!"
"Apa lo nggak sadar kalau dengan pakaian mini lo itu, lo mirip kupu kupu malam yang nunggu pelanggan di pinggir jalan?" balas Aletta.
"Apa lo bilang? kupu kupu malam? dasar cewek preman!" ucap Anita dengan melayangkan tamparannya ke arah Aletta, namun dengan sigap Aletta menahan tangan Anita.
"Sekarang siapa yang preman? Hah?"
Aletta lalu melepaskan tangan Anita dengan mendorongnya membuat Anita terjatuh ke trotoar jalan. Melihat Anita yang terjatuh, Ivan segera datang dan mendorong tubuh Aletta, beruntung Andi sempat menangkap tubuh Aletta sebelum Aletta terjatuh.
"Apa apaan lo, cewek kok kasar banget!" ucap Ivan pada Aletta, ia lalu membantu Anita berdiri.
"Lo cowok kenapa beraninya sama cewek?" balas Andi.
"Oh, lo pacarnya? sini lo maju kalau berani!"
"Udah Ndi, jangan, kita di kampus sekarang!" ucap Aletta menahan Andi.
"Dia harus dikasih pelajaran Ta!" balas Andi dengan mata berapi api.
Sebelum Andi dan Ivan saling pukul, Dimas datang bersama Dini.
"STOP WOOYY STOOOPPP!"
Andi, Aletta, Anita dan Ivan lalu menoleh ke arah Dimas dan Dini yang baru datang.
"Ivan, lo ngapain di sini?" tanya Dimas pada Ivan.
"Gue..... gue..... cuma...."
"Dia dateng sama Anita," ucap Andi.
"Anita? kenapa bisa?"
"Nggak ada yang nggak bisa Dimas, apa kamu sekarang nyesel karena udah ninggalin aku?" balas Anita.
"Sama sekali enggak," balas Dimas lalu berbalik dengan menggandeng tangan Dini, meninggalkan Anita, Andi, Aletta dan Ivan.
"Aku kesini mau ketemu kamu Din!" ucap Anita setengah berteriak.
Dini yang hendak berbalik di cegah oleh Dimas.
"Biarin aja," ucap Dimas.
"Tapi dia mau ketemu aku," balas Dini.
"Biarin Andini, jauhin dia dan jangan pernah ngobrol soal apapun sama dia!"
Dini menurut, ia mengabaikan Anita yang berteriak memanggilnya.
__ADS_1