
Dimas yang melihat loker Dini kosongpun terheran-heran. Ia sangat yakin jika pelakunya sudah memasukkan surat itu ke dalam loker Dini.
"apa mungkin dia nggak jadi masukin ke loker karena dia liat aku ya?" pikir Dimas dalam hati.
"Ayo pulang," ajak Dini sambil berjalan meninggalkan loker.
"Tunggu!" cegah Dimas dengan menahan tangan Dini.
Dini berhenti dan menoleh.
"Kamu percaya kan sama aku?" tanya Dimas.
"Iya Dimas, aku percaya sama kamu, aku yakin kita pasti bisa dapat petunjuk lain, entah kapan."
"Aku pasti bantuin kamu Andini."
Dini tersenyum lalu mereka berdua pergi meninggalkan loker.
"Cari bahan buat ngerjain tugas kesenian yuk!" ajak Dimas.
"Boleh."
Setelah mengambil mobilnya di tempat parkir, Dini dan Dimas segera menuju ke salah satu pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari sekolah mereka.
"Kamu mau bikin apa Dimas?" tanya Dini.
"Mmmmm, aku mau bikin dekorasi pelaminan," jawab Dimas tersenyum.
"Serius?" tanya Dini antusias.
"Iya, semacam miniatur pelaminan gitu, dari kertas sama kardus bekas terus nanti ada aku sama kamu deh di sana."
"Mana muat Dim kalau cuma miniatur."
"Kamu mau di pelaminan yang beneran sama aku?"
"Eh, enggak, bukan gitu maksudnya," jawab Dini gugup karena ia baru sadar jika kata-katanya tadi bisa bermakna ambigu.
"Hahaha, kenapa wajah kamu merah Andini?"
"Enggak kok," jawab Dini sambil memegang kedua pipinya yang kini sudah seperti kepiting rebus.
"Sini ikut aku!" ajak Dimas ketika mereka sudah berada di dalam mall.
"Kemana?"
"Udah, ikut aja," jawab Dimas sambil menggandeng tangan Dini.
Dimas mengajak Dini ke sebuah pameran dekorasi pelaminan di mall itu. Di sana berjajar macam-macam miniatur dekorasi pelaminan lengkap dengan segala pernak perniknya.
"Nah, aku mau bikin kayak gitu sayang," ucap Dimas sambil menunjuk ke arah pameran.
"Waaahh, itu bagus banget Dimas, mewah semua lagi," ucap Dini terkagum-kagum.
"apa pernikahannya nanti juga bisa semewah itu? aaahhhh indah banget," batin Dini kegirangan.
__ADS_1
"Kamu suka yang mana sayang?" tanya Dimas membuyarkan lamunan Dini.
"Semuanya bagus Dimas, semuanya keliatan mewah banget, aku suka semuanya," jawab Dini yang tidak bisa menahan kekagumannya.
Beberapa pasang mata memandang mereka. Bagaimana tidak, Dini dan Dimas masih mengenakan seragam SMA saat itu.
Sedangkan mayoritas dari pengunjung pameran adalah para calon suami istri yang sudah siap untuk menikah atau bahkan para orangtua yang sedang memilihkan dekorasi pelaminan untuk pernikahan anaknya.
"Kamu mau bikin kayak gini Dimas?" tanya Dini sambil menunjuk salah satu dekorasi pelaminan di sana.
"Kalau kamu suka, aku akan bikin," jawab Dimas tersenyum.
Ia tak pernah melihat Dini sebahagia ini sebelumnya, bahkan ketika bersama Andi.
"Beneran?" tanya Dini meyakinkan.
"Iya, tapi yang versi sederhana, nggak serumit itu dan nggak pake' lampu-lampu hehehe....." jawab Dimas terkekeh.
Dini mengangguk angguk.
"Kamu mau ice cream?" tanya Dimas.
Dini mengangguk cepat, ia sangat menyukai ice cream tapi jarang membelinya karena mahal menurutnya.
Setelah membeli ice cream dan beberapa jajanan, mereka duduk di kursi food court.
"Kamu suka ice cream?" tanya Dimas.
"Banget," jawab Dini kegirangan sampai ia tak sadar jika ada sisa ice cream di sudut bibirnya.
Entah kenapa jantungnya mulai berdetak tidak beraturan melihat wajah Dimas yang sangat dekat dengannya.
"sekarang aku tau, kenapa banyak cewek yang suka sama kamu," ucap Dini dalam hati.
"Pipi kamu merah lagi," ucap Dimas membuat Dini segera tersadar dari lamunan singkatnya.
"Eh, enggak kok, panas di sini," balas Dini sambil mengibaskan ngibaskan tangannya.
"Ada-ada aja kamu ini," ucap Dimas yang sadar jika Dini selalu salah tingkah jika dekat dengannya.
"Mau nonton?" tanya Dimas
"Langsung pulang aja ya, kita belum ngerjain tugas keseniannya," jawab Dini sambil membersihkan meja dengan tissue yang dia bawa.
"hmmm, dasar maniak belajar, lagi kencan juga mikirin tugas sekolah," batin Dimas.
"Ya udah, ayo!"
Dimas mengalah, ia menuruti kemauan Dini untuk pulang.
Setelah membeli semua keperluan yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas kesenian, Dimas segera mengantar Dini pulang.
"Makasih Dimas," ucap Dini setelah sampai di depan rumahnya.
"Besok pagi aku jemput ya?"
__ADS_1
"Jangan dulu ya, aku nggak enak sama Andi."
"Hmmm, ya udah kalau gitu."
"Andi lagi Andi lagi, Andini cuma nggak enak sama lo Ndi," batin Dimas.
Malam harinya, Dini dan Andi mengerjakan tugas kesenian bersama di rumah Andi.
"Waaaahh, gambar-gambar kamu keren banget Ndi," ucap Dini sambil membolak balik buku sketsa Andi.
"Kamu jangan muji aku terus Din, bisa besar kepala aku nanti," balas Andi yang masih sibuk dengan mesin jahit milik ibunya.
"Tapi ini emang bagus banget Ndi, kamu cocok deh jadi desainer."
"Nggak lah Din, masih banyak di luar sana yang jauh lebih bagus dari itu."
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Dini dan Andi sudah menyelesaikan tugasnya.
Dinipun berpamitan untuk pulang.
Di rumahnya, Dini segera membaringkan badannya di atas kasur.
Tak lama kemudian Dinipun tertidur.
Dalam tidurnya samar-samar ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Andiiniiii," panggil seorang lelaki, suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.
"Bangunlah sayang!" ucap lelaki itu.
Dini mengerjap, ia duduk, samar-samar terlihat sebuah pelaminan mewah di hadapannya. Bunga-bunga warna warni, lampu kerlap kerlip dan air mancur kecil di samping kanan dan kirinya.
Dini tak berkedip melihat pemandangan indah di depannya. Pelaminan mewah yang sangat ia inginkan ada di depan matanya.
"Sini sayang!" panggil lelaki yang mengenakan jas rapi dengan dasi kupu-kupu di lehernya.
Dini tidak bisa melihat dengan jelas lelaki itu.
Dinipun berdiri dan turun dari ranjangnya.
Bruukk!!
"Aduuuhhh!" pekik Dini kesakitan karena jatuh dari ranjangnya.
"Cuma mimpi ternyata, gara-gara Dimas ngajak liat pameran tadi nih, tapi siapa lelaki yang di mimpi tadi ya?" tanya Dini pada dirinya sendiri.
Tak mau terlalu memikirkan mimpinya, Dini segera merapikan tempat tidurnya dan mandi.
Setelah selesai bersiap-siap, Dini berangkat ke sekolah bersama Andi.
Tak lupa dia membawa sebuket bunga warna warni yang dia buat dari kertas bekas yang diwarnai.
Sesampainya di sekolah, ia segera menaruh hasil karyanya itu di loker miliknya.
Sayangnya, ketika dia akan mengumpulkan hasil karyanya pada Bu Indah, dia begitu terkejut karena melihat lokernya sangat berantakan.
__ADS_1
Bunga warna warni yang sudah susah payah ia buat semalam kini hancur tak bersisa.