
Mendengar pertanyaan Dini, Andi diam seribu bahasa. Ia tak tau harus menjawab apa. Meski ia tak mau berpisah dengan Dini, ia juga harus bisa menerima kenyataan bahwa suatu hari nanti Dini pasti akan menghabiskan sisa hidupnya bersama lelaki pilihannya, lelaki kaya raya yang tak hanya memberinya kasih sayang tapi juga masa depan yang cerah untuknya.
Sedangkan Andi, ia sama sekali tak pernah memikirkan masa depannya akan dibawa kemana. Ia juga tak tau apa perasaannya pada Dini akan selalu sama atau suatu saat nanti akan ada perempuan lain yang mampu menggeser Dini dari hatinya.
"Kamu mikir Ndi?" tanya Dini mencoba memecahkan suasana yang mulai membeku.
"Eh, apa?" tanya Andi yang terbangun dari lamunannya.
Dini hanya tersenyum kecut dan mengajak Andi pulang.
"Ayo pulang!"
Andi mengangguk dan mengikuti Dini dari belakang.
Dalam perjalanan pulang, Andi dan Dini tak banyak bicara. Entah kenapa mereka merasa canggung untuk memulai obrolan. Di tengah perjalanan dekat rumah Dini, terlihat Anita sedang berjalan kearah mereka.
Ya, Anita memang sengaja untuk bertemu Andi. Sebelumnya ia pergi ke rumah Andi, tapi Andi tidak ada. Ia yakin kalau Andi pasti berada di bukit bersama Dini. Anita segera berjalan ke arah bukit sebelum akhirnya ia bertemu Andi dan Dini di persimpangan jalan.
"Anita, kamu ngapain kesini?" tanya Andi.
"Aku nyari kamu, kata orangtua kamu tadi kamu nggak di rumah jadi aku mau cari kamu ke bukit," jawab Anita.
"Ada apa?"
"Aku mau bahas soal hasil rapat tadi."
Andi mengangguk.
"Kamu udah baikan Din? udah sehat?" tanya Anita pada Dini.
"Udah kok."
"Aku ikut kamu pulang ya Ndi, kamu mau pulang kan?" tanya Anita pada Andi.
"Iya."
Sesampainya di depan rumahnya, Dini berpamitan pada Anita dan Andi lalu segera masuk ke dalam rumahnya.
Di rumahnya, Dini tidak melihat ibunya.
"ibu belum pulang," pikir Dini.
Ia pun segera masuk ke kamarnya. Mengambil beberapa buku pelajaran yang tersusun rapi di meja belajarnya. Sekadar membaca materi yang akan di pelajari besok. Ia sudah melupakan Andi yang berbohong padanya siang tadi. Ia berusaha tak memikirkannya terlalu jauh.
__ADS_1
Tiba-tiba ia mendengar ketukan pintu dari luar rumahnya.
"Nggak dikunci kok Bu!" teriak Dini dari dalam kamarnya.
Ia mengira yang mengetuk pintu itu adalah ibunya. Beberapa menit ia menunggu, tak ada suara orang masuk ke dalam rumahnya.
"Bu!" panggil Dini.
Tak ada jawaban. Ia pun berniat untuk keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap. Ia takut jika ada orang asing yang masuk ke rumahnya meski tak ada barang berharga yang bisa diambil.
Dini berjalan pelan ke seluruh ruangan, tak ada siapapun karena memang ia tak mendengar suara langkah sebelumnya. Ia hanya ingin memastikan bahwa tidak ada orang lain di rumahnya.
Setelah memeriksa semua ruangan, ia membuka gorden jendelanya perlahan-lahan, mengintip dari balik jendelanya, namun nihil, tak ada siapapun di luar. Ia membuka pintu rumahnya dan melihat ada sebuah kotak di lantai terasnya.
Ya, itu adalah kotak yang sama yang sudah ia dapatkan.
"jika aku baru aja denger ketukan pintu dan itu bukan ibu, pasti itu adalah pengirim kotak ini, karena denger suaraku, bukan suara ibu, ia meninggalkannya di depan dan segera kabur sebelum aku keluar, itu artinya dia masih di sekitar sini."
Dini segera berlari berharap bisa menemukan siapa pengirim kotak misterius itu dan apa maksudnya melakukan hal itu. Setelah berlari hingga dadanya terasa sesak, Dini menyerah, ia tak bisa menemukan siapapun yang terlihat mencurigakan. Hanya ada para penjual kaki lima dan para tetangganya yang ia kenal.
Ia berjalan pulang dengan lesu.
Ketika melewati rumah Andi, tanpa sengaja ia melihat Andi memeluk Anita di depan rumahnya. Jika saja ia tak tau bahwa Anita menyukai Andi, mungkin ia akan terkejut karena tak mudah untuk meluluhkan hati Andi selama ini.
"Anita baik, cantik, pinter, anak kepala sekolah lagi, dia sempurna buat kamu Ndi, daripada aku yang selalu jadi beban buat kamu," batin Dini dalam hatinya.
Ia membawa masuk kotak yang baru saja ia dapat. Meletakkannya di meja belajar bersama kotak-kotak sebelumnya.
Ia sudah tak memikirkan kotak itu. Ia ingin menangis saat itu. Entah kenapa ada sedikit goresan di hatinya ketika melihat Andi memeluk Anita tadi.
Ia kembali membuka bukunya, mencoba menyibukkan pikirannya agar tak memikirkan Andi. Tapi sia-sia, otaknya telah merekam jelas kejadian tadi. Ada sedikit sesak di hatinya.
Di rumah Andi, ia mengajak Anita untuk duduk di teras rumahnya.
"Jadi gimana Nit?"
Anita tersenyum, tak menjawab pertanyaan Andi.
"Malah senyum-senyum, gimana hasil rapatnya Nit?" tanya Andi yang tau maksud Anita sebenarnya.
Sudah sering Andi menghadapi situasi seperti itu. Terkadang teman perempuannya memintanya untuk mengajari materi pelajaran namun ketika dia menjelaskan temannya hanya tersenyum menatapnya.
"modus yang sama," batin Andi.
__ADS_1
Namun kali ini Andi berbalik menatapnya dan tersenyum, membuat Anita salah tingkah.
"Eee... itu.... aku tadi...." jawab Anita terbata-bata.
Andi yang melihat Anita salah tingkah semakin menggodanya.
"Apa Nit?" tanya Andi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Anita membuat Anita seketika mundur hingga terjatuh.
"Aaaaa......" teriak Anita yang terjatuh dari kursi.
"Eh, kamu nggak papa?" tanya Andi sambil membantu Anita berdiri.
Anita pun tertawa, ia merasa malu juga lucu. Bagaimana tidak, ia terjatuh dari kursi di depan orang yang disukainya.
Andipun ikut tertawa melihat tingkah Anita. Entah kenapa ia suka melihat reaksi Anita ketika salah tingkah.
Tiba-tiba HP Anita berdering, tertulis nama Papa di layar HP nya.
Ekspresinya berubah sedih ketika ia menerima panggilan dari papanya.
Setelah mengakhiri panggilan dengan papanya, matanya semakin berkaca-kaca. Bulir-bulir air mata telah siap untuk jatuh, tapi ia menahannya.
Andi yang melihat hal itu, segera mendekati Anita.
"Ada apa Nit?"
"Papa Ndi," jawab Anita dengan masih menahan air matanya agar tak jatuh.
"Kenapa? Ada apa?"
"Papa udah mutusin buat nikah lagi Ndi!" ucap Anita yang tak mampu lagi menahan tangisnya.
Andipun memeluk Anita, berharap bisa sedikit menenangkannya.
Anita kehilangan ibunya karena kanker yang di derita ibunya selama 3 tahun terakhir. Sebelum ibunya meninggal, papa nya berjanji untuk tidak akan menikah lagi. Namun beberapa hari ini papanya mencoba mengenalkan Anita pada wanita yang akan menjadi mamanya. Tentu saja Anita menolak, tapi ternyata papanya tak mengindahkan penolakan Anita.
Setelah Anita sedikit lebih tenang, Andi mengantar Anita pulang.
"Aku anter pulang ya, tapi pake' sepeda motor itu, kalau kamu mau," ucap Andi menunjuk sepeda motor milik ayahnya.
Anita mengangguk dengan sedikit senyum di bibirnya.
Andi tersenyum dan segera menurunkan sepeda motornya dari teras rumahnya.
__ADS_1
Ketika Andi hendak masuk ke rumah untuk mengambil kunci motor, tanpa sengaja ia menabrak Anita yang berdiri tepat di belakangnya.
Anita pun terjatuh, beruntung Andi sempat menahan kepala Anita agar tak membentur lantai.