Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Keputusan Yoga


__ADS_3

Malam yang berat bagi Yoga dan Toni. Mereka harus memberikan satu keputusan besar pada mama Dimas besok pagi. Sulit bagi Yoga untuk membiarkan kafe itu tutup begitu saja, mengingat bagaimana ia dan Dimas memulai kafe ini dari nol dan perjuangan Dimas yang tak pernah menyerah ketika kafe sudah diambang kehancuran karena ditinggal oleh Yoga.


Yoga yakin jika Dimas ada di sini, ia tak akan setuju untuk membiarkan kafe itu tutup. Begitu juga Toni, baginya kafe itu tak sekedar tempat kerjanya. Di sana ia menemukan sebuah keluarga baru yang sudah hilang dari hidupnya. Meski ia hanya pegawai, kafe sudah menjadi bagian penting di hidupnya.


Di lain sisi, Yoga merasa tak adil jika harus membiarkan Dimas melupakan masa lalunya begjtu saja. Ia tau betul bagaimana perasaan Dimas terhadap Dini, bagaimana usaha Dimas untuk mendapatkan Dini dan ia yakin jika Dini juga memiliki perasaan yang sama pada Dimas.


Separuh hidup Dimas sudah ia lalui dengan penyesalan karena meninggalkan Dini begitu saja dan sekarang ketika ia sudah mendapatkan Dini, takdir harus memaksa mereka untuk berpisah lagi.


Sedangkan Sintia, ia ingat bagaimana Dimas mencampakkannya demi seorang Dini. Ia yakin jika Dimas benar benar mencintai Dini, begitu juga dengan Dini. Akan sangat susah baginya untuk merahasiakan soal Dimas dari Dini.


Yoga mengusap wajahnya kasar, kesal dengan keadaan yang memaksanya untuk memilih hal yang sama sekali tak diinginkannya.


Sintia melihat Yoga begitu frustrasi, ia tau ini pilihan yang sulit untuk Yoga. Ia pun memeluk Yoga, berharap bisa sedikit menenangkan kekacauan hatinya.


"Kakak bingung Sin!" ucap Yoga pada Sintia.


"Sintia yakin keputusan kakak itu yang terbaik buat semuanya!"


"Bener bang, apa pun keputusan lo, gue ikut!" ucap Toni menimpali.


"Lo bisa jaga rahasia ini Ton? lo bisa ikutin kata kata tante Angel?" tanya Yoga pada Toni.


"Bisa bang, kalau lo tetep mau kafe ini buka, gue pasti ikutin kata kata tante Angel, tapi kalau lo mau kafe ini tutup, gue pasti ceritain semuanya sama kak Dini!" jawab Toni penuh keyakinan.


"Kamu Sin?" tanya Yoga pada Sintia.


"Sama kayak kak Toni, kakak percaya aja sama Sintia!"


"Oke kalau gitu, jangan pernah cerita soal Dimas ke siapapun, termasuk Dini atau Andi, gue tetep mau kafe ini buka, gue yakin kalau mereka jodoh, mereka akan tetep bisa sama sama lagi!" ucap Yoga memberikan keputusan.


"Siap bang, lo bisa percaya sama gue!"


"Thanks Ton!"


"Gue ke bawah dulu bang, ada yang harus gue beresin!"


Yoga mengangguk. Kini hanya ada Yoga dan Sintia di lantai 2 kafe, di sofa panjang tempat kafe belajar yang merupakan ide dari Dini ketika kafe sudah diujung tanduk kehancuran.


"Apa kakak egois Sin?" tanya Yoga pada Sintia.


"Enggak kak, ini yang terbaik buat semuanya, ada kak Andi yang selalu jagain kak Dini, Sintia yakin kak Dini akan baik baik aja!" ucap Sintia dengan kembali memeluk Yoga.


Yoga mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Sintia dan memeluknya erat.


"Kamu jangan pernah tinggalin kakak ya!"


"Enggak kak, Sintia selalu di sini sama kakak!"


Sintia melepas pelukannya lalu mencium pipi Yoga.


"Kakak jangan sedih lagi ya!" ucap Sintia dengan senyum manisnya.


Yoga tersenyum lalu melingkarkan tangannya di pinggang Sintia dan menariknya agar semakin dekat dengannya.


Kini mereka sudah sangat dekat, Sintia mendongakkan kepalanya menatap Yoga. Mata mereka bertemu, tak ada kata yang keluar, mereka hanya diam, degup jantung yang tak beraturan dan deru napas yang memburu tanpa aba membuat Yoga mendaratkan bibirnya ke arah bibir Sintia. Tak hanya kecupan, Yoga mengusap bibir Sintia dengan bibirnya.


Dengan detak jantung yang sudah tak terkendali, Sintia membuka sedikit bibirnya dan membalas usapan bibir Yoga di bibirnya. Bibir mereka beradu untuk beberapa saat. Yoga memegang kedua pipi Sintia seolah enggan untuk menyudahi "acara" mereka itu.


"Bang, biji kopi yang........" ucap Toni yang tiba tiba datang dan begitu terkejut melihat apa yang dilakukan Yoga dan Sintia.


"Sorry sorry!" lanjut Toni lalu segera kembali turun.


"Duuhh, sial banget sih, kenapa mesti liat kejadian kayak gitu coba', diitung itung udah berapa kali gue liat kejadian kayak gitu, hahaha malang sekali nasibmu Ton Ton...." ucap Toni menertawakan dirinya sendiri.


Sedangkan Yoga yang menyadari keberadaan Toni segera menyudahi "acaranya" bersama Sintia.


"Maaf Sin, kakak......"


Sebelum Yoga menyelesaikan ucapannya, Sintia kembali mencium bibir Yoga dan kembali memulai "acara" mereka.


Sikap Sintia membuat napas Yoga semakin memburu. Ia segera melepaskan Sintia sebelum ia benar benar kehilangan akal sehatnya.


"Kenapa kak?" protes Sintia yang merasa ditolak oleh Yoga.


"Maaf Sin, ayo kakak anter pulang!" ucap Yoga sambil menarik tangan Sintia.


Sintia berdiri dari duduknya dan memeluk Yoga dari belakang dengan sangat erat. Yoga merasa punggungnya begitu hangat. Ia merasakan ada sesuatu yang "bangun" dari dirinya.


Ia segera melepas pelukan Sintia darinya dan duduk dengan napas yang tak beraturan.


"Kakak nggak suka?" tanya Sintia dengan wajah manyun yang membuat Yoga semakin gemas padanya.


"Bukan itu Sin, kakak....... kakak.... ada.... ada yang harus kakak selesaiin, kakak belum ngerjain laporan hehehe....." jawab Yoga beralasan.


"Ya udah ayo di kerjain, Sintia temenin ya!"


"Kamu harus pulang Sin, ini udah malem, jangan bikin tante Angel khawatir!"


"Tapi......"


"Kakak suka kok, suka banget," ucap Yoga setengah berbisik di telinga Sintia, membuat Sintia tersipu malu.

__ADS_1


"Ayo pulang!" lanjut Yoga dengan menggandeng tangan Sintia untuk turun ke bawah.


"Ton, gue anterin Sintia pulang dulu ya!" pamit Yoga pada Toni.


"Hati hati bang!" balas Toni yang masih sibuk membereskan pantry.


Yoga dan Sintiapun segera menuju ke tempat parkir dan pergi meninggalkan kafe.


Sesampainya di depan rumah Dimas, Sintia masih menggoda Yoga sebelum ia turun.


"Bibir kakak manis, kayak lolipop!" ucap Sintia berbisik di telinga Yoga, membuat Yoga kembali salah tingkah karenanya.


"Kakak nggak turun?" tanya Sintia tanpa rasa berdosa.


"Mmmm, enggak, kakak... kakak masih banyak kerjaan, salam buat om sama tante aja ya!" jawab Yoga gugup.


"Ya udah kalau gitu, hati hati ya kak!"


Yoga mengangguk lalu segera meninggalkan rumah Dimas dan kembali ke kafe.


Setelah masuk ke dalam rumah Dimas, hanya terlihat papa Dimas yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Baru pulang Sin?" tanya papa Dimas.


"Iya om, tante Angel nggak di rumah?" balas Sintia yang langsung duduk di sebelah papa Dimas.


"Tante kamu di rumah sakit, nemenin Dimas!"


"Om, soal kak Dimas......"


"Om minta maaf ya Sin, om janji akan secepatnya ganti mobil kamu!" ucap Pak Tama memotong ucapan Sintia. Ia merasa bersalah karena mobil yang digunakan Dimas dalam kecelakaan itu adalah mobil milik Sintia.


"Sintia nggak mikirin soal itu kok om, Sintia cuma mau nanyain keadaan kak Dimas, tante Angel nggak kasih tau Sintia dimana kak Dimas di rawat," balas Sintia dengan raut wajah sedih.


"Dia masih koma, om sama tante sengaja tutup masalah ini dari banyak orang Sin, buat kebaikan Dimas kedepannya karena om yakin Dimas akan segera sadar dan memulai hidup barunya lagi!"


Mendengar jawaban Pak Tama, Sintia mengurungkan niatnya untuk menanyakan perihal Dini. Ia tidak ingin membuat Pak Tama merasa terbebani dengan pertanyaannya tentang Dini.


"Om sama tante mau bawa kak Dimas ke Singapura?"


"Iya Sin, tapi kamu tenang aja, kamu masih bisa tinggal di sini kalau kamu mau, om sama tante mungkin akan pulang sebulan sekali kalau keadaan Dimas sudah membaik, kamu nggak perlu khawatir, om percayain Yoga buat jaga kamu!"


"Makasih om!"


Pak Tama mengangguk lalu kembali sibuk dengan laptop di pangkuannya.


Sintiapun masuk ke kamarnya.


Dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis, Dini keluar dari rumahnya bersiap untuk berangkat ke sekolah.


"Mata kamu jadi sipit Din!" ejek Andi yang melihat mata sembab Dini.


Dini hanya diam dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


"Semangat dong Din!" ucap Andi dengan memegang kedua bahu Dini.


"Penyemangatku udah nggak ada Ndi, dia udah pergi, lagi!"


"Din, dia udah milih pergi dari kamu, jadi buat apa kamu tetep berharap sama dia kayak gini?"


"Dia pergi karena aku yang minta dia pergi Ndi, seandainya waktu itu......"


"Udah Din, aku nggak mau denger apa apa soal dia!" ucap Andi memotong ucapan Dini yang membuatnya kesal.


"kamu yang minta dia pergi, sekarang dia udah pergi sesuai keinginan kamu, tapi kamu malah nyari dia, apa sih mau kamu?" batin Andi kesal.


"Maaf Ndi!"


"Ayo berangkat!" ucap Andi sambil menggandeng tangan Dini namun Dini segera melepasnya.


Andi hanya menghembuskan napasnya kasar lalu segera melanjutkan langkahnya menuju ke sekolah.


Tak banyak yang terjadi di sekolah. Dini masih terlihat murung memikirkan Dimas. Menyesali kata katanya yang meminta Dimas untuk pergi. Seandainya ia bisa memutar waktu, ia ingin membiarkan Dimas menemui Anita tanpa ia tau. Ia lebih memilih untuk tidak mengetahui kebenaran yang menyakitkan untuknya daripada harus kehilangan Dimas seperti ini. Tapi apa lacur, waktu tak dapat di putar dan apa yang sudah terjadi tak akan bisa diulang lagi.


Bel pulang sekolah berbunyi. Ia segera pulang dan menuju ke bukit bersama Andi. Mereka duduk berdua seperti biasa.


"Din, kamu nyesel?" tanya Andi pada Dini.


Dini mengangguk pelan.


"Kalau dia ada di sini, apa kamu akan maafin dia walaupun kamu tau apa yang udah dia sembunyiin dari kamu?"


Dini kembali mengangguk dengan air mata yang memenuhi sudut matanya.


"Kenapa?"


Dini menggeleng lemah. Ia tak tau kenapa begitu sulit baginya untuk membuat Dimas pergi dari hati dan pikirannya, meski ia sudah berkali kali dikecewakan oleh Dimas.


"Ikut aku Din!" ucap Andi dengan menarik tangan Dini agar berdiri.


"Kemana?"

__ADS_1


"Aku tau kita harus cari Dimas di mana!"


"Dimana?"


"Udah, ikut aja!"


Andi mengajak Dini untuk pergi ke kafe, berharap Dimas ada di sana atau setidaknya Yoga akan memberitahunya dimana keberadaan Dimas saat itu.


Sesampainya di kafe, mereka segera masuk dan menemui Yoga yang sedang melayani pembeli.


"Hai Din, Ndi!" sapa Yoga.


"Sibuk kak?" tanya Dini.


"Enggak kok, duduk dulu ya, gue bikinin minum!"


"Enggak usah kak, kita ke sini cuma mau tanya sesuatu!"


"Oh, tanya apa?"


"Kakak tau Dimas di mana?"


Deg!


Sungguh pertanyaan yang sangat sulit untuk Yoga jawab. Meski ia belum memberikan keputusannya pada mama Dimas, tapi ia sudah sepakat jika ia, Toni dan Sintia akan mengikuti ucapan mama Dimas, meski itu artinya ia harus berbohong pada Dini dan Andi.


"Maaf Din, gue nggak tau!" jawab Yoga berbohong.


"Gue lanjut dulu ya, sorry nggak bisa nemenin kalian!" lanjut Yoga berusaha menghindar dari Dini dan Andi.


"Tapi kak....!"


"Udah Din, kak Yoga lagi sibuk, lain kali kita ke sini lagi, ayo pulang!" ucap Andi lalu mengajak Dini keluar dari kafe.


Ketika hendak meninggalkan kafe, Dini melihat mama Dimas dan segera menghampirinya.


"Tante, saya....."


"Kamu ngapain di sini? ada perlu apa?" tanya mama Dimas yang tampak tidak suka dengan keberadaan Dini. Ia khawatir jika Yoga sudah memberitahu Dini tentang keadaan Dimas yang sebenarnya.


"Saya cuma mau nanyain soal Dimas tante, Dimas........"


"Buat apa kamu cari anak saya? dia udah pergi jauh jadi jangan cari dia lagi!" ucap mama Dimas memotong ucapan Dini.


"Saya cuma mau tau dia pindah ke mana, itu aja, saya cuma mau lurusin kesalahpahaman yang........"


"Dimas udah nggak ada sangkut pautnya lagi sama kamu, pergi dari sini sebelum saya panggil satpam buat usir kamu!"


"Nggak perlu, kami bisa pergi sendiri!" balas Andi yang langsung menggandeng paksa tangan Dini untuk meninggalkan kafe.


Setelah memastikan Dini dan Andi pergi, mama Dimas segera masuk ke dalam kafe dan menemui Yoga.


"Gimana Ga?" tanya mama Dimas tanpa basa basi.


"Saya tetep mau kafe ini buka tante!" jawab Yoga penuh keyakinan.


"Bagus, saya yakin itu pilihan yang tepat!"


"Tapi tante....."


"Cukup ikutin kata kata tante dan jangan banyak tanya Ga, paham?"


"Paham tante!"


"Ya udah saya pulang dulu, jaga kafe ini baik baik ya, kalau ada apa apa kamu bisa hubungi saya!"


"Baik tante!"


Mama Dimas pun pergi meninggalkan kafe dan segera pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, ia begitu terkejut karena melihat Dini yang duduk di depan gerbang rumahnya dengan basah kuyup karena hujan.


Ya, sepulang dari kafe, Dini memaksa Andi untuk mengantarnya ke rumah Dimas. Andi tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Dini, karena melihat keadaan langit yang mendung ia takut jika akan turun hujan tiba tiba.


"Tante, saya mohon kasih tau saya dimana Dimas sekarang," ucap Dini memohon namun tetap diabaikan oleh mama Dimas.


Tak lama sebelum gerbang kembali di tutup, Dini pingsan.


Mama Dimas dan Andi segera membawanya ke rumah sakit.


"Kenapa tante bawa Dini ke rumah sakit?" tanya Andi pada mama Dimas.


"Saya ini bukan orang jahat Ndi, saya nggak mau ada orang mati di depan rumah saya!"


"Makasih tante, saya mohon tante kasih tau dimana keberadaan Dimas, setelah ini saya janji...."


"Bukannya ini kesempatan ya buat kamu!"


"Maksud tante?"


"Saya tau kamu suka sama Dini, dengan perginya Dimas sekarang, ini kesempatan besar buat kamu dapetin hatinya Dini, nggak ada lagi saingan buat kamu dapetin Dini, iya kan?"

__ADS_1


__ADS_2