Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Aku Tau dan Aku Mengerti


__ADS_3

Hari masih pagi, mentari bahkan belum menyebarkan sinar teriknya. Dimas berjalan dengan suasana hatinya yang begitu kacau. Ia cemburu, ia kesal, ia marah dan semua rasa yang membuat paginya terasa buruk.


Tak jauh dari jogging track ia melihat Andi yang berjalan ke arahnya. Entah kenapa setiap melihat Andi, semua ingatan Dimas tentang kejadian malam itu kembali berputar di otaknya.


Tanpa banyak berpikir ia melayangkan tinjunya pada Andi, membuat beberapa mahasiswa yang lewat segera melerainya, menarik tubuhnya agar menjauh dari Andi.


"Lo ini mahasiswa Dim, pake' otak lo kalau mau bertindak!" ucap salah seorang mahasiswa lain yang mengenal Dimas. Ia masih menahan Dimas agar tak kembali menyerang Andi.


Dimas hanya menatap Andi dengan pandangan membunuh. Ia kemudian berlalu meninggalkan Andi dan beberapa mahasiswa lainnya di sana.


Apa yang dilakukan Dimas dengan cepat menyebar ke seluruh kampus. Tak hanya karena tindakannya yang dilakukan di area kampus, karena Dimas adalah seseorang yang sangat di kenal di kampus itu. Selain karena orangtuanya yang seorang pengusaha terkenal, wajah rupawan dan sikap ramah Dimas membuatnya dikenal oleh banyak orang.


Hari itu Dimas tidak memasuki kelasnya, ia keluar dari kampus untuk menuju ke kafe. Ia melajukan mobilnya ke arah kafe cabangnya.


Sedangkan di kampus, Dini berusaha menghubungi Dimas setelah ia mendengar apa yang sudah Dimas lakukan di kampus.


"Kamu beneran nggak tau dia berantem sama siapa Cik?" tanya Dini pada Cika.


"Aku nggak tau Din, bentar lagi kelas mulai, dia nggak masuk?"


"Kayaknya enggak Cik," jawab Dini.


"Kalian lagi berantem ya?"


Dini mengangguk pelan.


"Kenapa?"


"Aku juga nggak tau, kalau kamu tau dia berantem sama siapa tolong kasih tau aku ya!"


Cika mengangguk cepat.


Tak lama kemudian dosen masuk. Setelah menyelesaikan kelas pertamanya, Dini masih berusaha untuk menghubungi Dimas namun masih tak ada jawaban.


"Gimana Cik? udah tau Dimas berantem sama siapa?"


"Sama anak Seni, tapi aku belum tau siapa," jawab Cika.


"Seni? Andi?" batin Dini dalam hati.


"Nanti kalau aku udah tau siapa, aku......."


"Aku pergi dulu Cik, makasih infonya," ucap Dini lalu segera pergi ke fakultas Seni meninggalkan Cika.


Dini mencoba untuk menghubungi Andi, namun tak ada jawaban. Tak lama kemudian matanya menangkap sosok yang di carinya. Ia segera berlari ke arah sahabatnya itu. Dengan napas tersengal sengal ia menghampiri Andi.


"Dini, kamu ngapain ke sini? bukannya kamu ada kelas?" tanya Andi.


"Apa yang udah terjadi Ndi?" tanya Dini dengan napas yang masih tak beraturan.


Andi hanya tersenyum lalu menarik tangan Dini untuk duduk di sampingnya.


"Kamu lari lari ke sini cuma buat nanyain ini?"


"Aku hubungin kamu nggak bisa, aku khawatir sama kamu, aku....."


"Aku nggak papa," ucap Andi dengan mengusap rambut Dini.


"Bibir kamu luka, udah diobati?"


"Udah, cuma luka kecil kok, anggap aja ini balasan karena aku dulu sering hajar dia hehe...."


"Kalian ada masalah apa?" tanya Dini.


"Cuma salah paham kayaknya, kamu sama dia baik baik aja kan?"


Dini langsung memasang wajah cemberut mendengar pertanyaan Andi. Ia masih sangat kesal pada Dimas.


"Ada apa Din?"


"Aku juga nggak tau dia nggak cerita apa apa, dia juga masuk kelas tadi, nggak tau kemana, nggak bisa dihubungi juga."


"Aku capek Ndi," lanjut Dini.


"Nanti langsung pulang aja sama Aletta, nggak usah nunggu aku!"


"Bukan capek gitu, aku capek sama hubungan ini," jelas Dini.


"Maksud kamu?"


"Mungkin aku sama Dimas emang nggak ditakdirkan buat sama sama, mungkin kita terlalu memaksa takdir buat ikutin mau kita, padahal itu nggak bisa," jawab Dini.

__ADS_1


"Kalian lagi sama sama emosi sekarang, jangan berpikir terlalu jauh, jangan ambil keputusan saat kamu emosi, jangan biarin emosi yang kendaliin diri kamu, bicarain baik baik Din," ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini


"Kenapa nggak kamu aja sih yang jadi pacarku?"


Andi hanya tersenyum kecil lalu mengacak acak rambut Dini.


"Aku masuk dulu, bentar lagi kelasku mulai!" ucap Andi lalu melangkah pergi meninggalkan Dini.


Dini hanya mengangguk memperhatikan Andi yang semakin jauh dari matanya. Tanpa Dini tau, Andi sengaja menghindar karena pertanyaan Dini membuatnya gugup, sangat gugup hingga ia tidak berani untuk menatap mata Dini.


"kenapa nggak kamu aja sih yang jadi pacarku? bisa bisanya dia ngomong kayak gitu tanpa beban, bikin sport jantung aja pagi pagi," ucap Andi dalam hati.


**


Di kafe.


Dimas masuk ke dalam kafenya di sambut oleh Tari dan pegawainya yang lain.


"Selamat pagi pak."


Dimas hanya tersenyum menjawab sapaan pegawainya. Ia lalu masuk ke dalam ruang kerja yang tampak kosong. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Yoga melalui riwayat panggilan. Entah apa yang membuat Dimas tanpa sadar malah menghubungi papanya.


"Lo dimana Ga, buruan ke kafe gue butuh lo!" ucap Dimas setelah panggilannya di terima.


"Ada apa lagi?" tanya sang papa.


Menyadari jika itu bukan suara Yoga, Dimas segera melihat layar ponselnya dan tampak Papa yang sedang ia hubungi.


"Maaf pa, hehe...."


Klik. Sambungan terputus. Dimas sengaja mematikan panggilannya agar sang papa yang sangat kritis itu tidak menanyakan banyak hal padanya.


Dimas lalu membuka laptop kerja di hadapannya. Ia melihat perkembangan kafenya yang sangat baik.


Sudah 2 jam Dimas berkutat dengan laptop di hadapannya sampai tiba tiba seseorang masuk dan duduk di hadapannya.


"Papa, papa ngapain ke sini?" tanya Dimas yang begitu terkejut melihat papanya yang tiba tiba datang.


"Dia temen kamu?" tanya papa tanpa basa basi.


"Siapa?" tanya Dimas tak mengerti.


"Yang kamu hajar tadi!"


"Kamu ini mahasiswa Dim, selesaiin masalah kamu dengan cara yang baik, cara yang sesuai dengan titel kamu sebagai seorang mahasiswa!"


"Maaf pa, Dimas kebawa emosi," balas Dimas.


"Dari dulu masalah kamu selalu sama dia, kalau nggak dia yang mulai, kamu yang mulai, padahal kalian kan temen dari SD!"


Dimas hanya diam. Tak ada rasa bersalah dalam dirinya saat itu.


"Pastiin dulu keraguan kamu, baru kamu bertindak, jangan bertindak atas dasar keraguan, itu bukan cara laki laki sejati Dimas!"


"Dimas percaya sama mereka pa, tapi mereka sendiri yang bikin Dimas ragu!"


"Papa yakin kalau kamu tanya Dini pilih siapa sekarang, pasti dia pilih Andi, karena sikap kamu udah bikin dia kecewa!"


"Tapi mereka yang nyakitin Dimas pa, apa Dimas nggak boleh marah? apa Dimas harus diem aja liat Andi sama Dini pelukan?"


"Kamu boleh marah, asal kamu punya alasan yang tepat untuk itu, kamu tau Dim siapa yang lebih dulu kenal Dini, siapa yang lebih dulu nemenin Dini, siapa yang lebih dulu nyimpen perasaannya buat Dini, apa selama ini kamu nggak mikirin Andi juga? apa menurut kamu mudah jadi Andi? seberapa besar cintanya sama Dini sampe' dia bisa nahan semua rasa sakit dan kecemburuannya? sangat besar Dim dan mungkin lebih besar daripada kamu!"


Dimas hanya diam. Ia tidak menyangka jika papanya tau semua permasalahannya, termasuk orang orang di sekitarnya.


"Jangan tanya papa tau dari mana semua itu, jangan bilang papa sok tau karena papa emang tau, kamu tau papa sama mama selalu kasih kebebasan buat kamu pilih jalan hidup kamu sendiri, selama papa ada di sini papa cuma pastiin kalau kamu tetep tau arah dan nggak tersesat," ucap papa.


"Sekarang, tanyain sama diri kamu sendiri, apa kamu pantas buat Dini? apa Andi benar karena udah mempercayakan kamu buat Dini? dengan sikap kamu sekarang, apa kamu siap jika Dini akan pergi dari kamu dan lebih memilih Andi? semua jawaban itu ada dalam hati kamu Dim, bukan dalam emosi kamu!"


"Dimas yakin Dimas pantas buat Andini pa, Dimas yakin dia masa depan Dimas!" jawab Dimas penuh keyakinan.


"Kalau kamu udah yakin, tugas kamu adalah yakinin dia dan buang jauh jauh keraguan yang cuma akan menghancurkan keyakinan kamu itu!"


Dimas mengangguk. Kini ia tau apa yang harus ia lalukan. Ia harus bisa menekan rasa cemburunya. Ia harus bisa mengerti seperti apa hubungan Andi dan Dini. Meski Andi mempunyai perasaan yang lebih pada Dini selama ini ia hanya memperlakukan Dini sebagai seseorang yang berarti dalam hidupnya. Tak ada niat dalam dirinya untuk menyatakan perasaannya pada Dini.


Tentang Dini, tak seharusnya Dimas meragukan perasaan Dini padanya. Kini ia bisa mengerti kenapa Dini begitu marah padanya tadi pagi, itu karena Dimas menanyakan pertanyaan yang seolah meragukan perasaan Dini padanya dan itu cukup membuatnya kecewa.


Kini ia kembali berdamai dengan hatinya. Tentang Dini dan Andi, ia harus terus memupuk kepercayaannya pada mereka. Bagiamanapun juga Andi adalah seseorang yang telah lama bersama Dini, menjaga bahkan mencintai Dini dengan begitu tulusnya.


"Kamu nggak kuliah?" tanya papa.


Dimas menggeleng.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu papa balik dulu, oh ya Yoga sekarang lagi di luar kota, papa yang minta!"


"Ke luar kota? kemana?"


"Ke kota X, papa yang tugasin dia!"


"Kok dia nggak bilang apa apa sama Dimas?"


"Jangan marahin Yoga, papa yang minta dia buat nggak kasih tau kamu!"


"Kenapa Dimas baru dikasih tau?"


"Nanti kamu akan ngerti!"


"Tapi pa....."


"Tenang aja, Yoga masih bisa handle kafe, papa juga udah siapin orang orang papa buat jaga kafe, kamu harus terima kasih sama Yoga karena dia bisa handle kafe kamu dengan baik!" ucap papa sebelum benar benar keluar dari ruang kerja.


"papa minta Yoga ke kota X? buat apa? kenapa aku nggak tau apa apa?" batin Dimas bertanya tanya.


Dimas lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Yoga. Kali ini ia sudah memastikan jika ia benar benar menghubungi Yoga.


Satu kali, dua kali hingga tiga kali ia menghubungi Yoga, namun tak ada jawaban. Ia pun menyerah, ia akan mencobanya lagi nanti.


Dimas melihat riwayat panggilannya dan mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari Dini. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya atas apa yang ia lakukan pada Dini tadi pagi.


Dimas keluar dari kafe dan kembali ke kampus, bukan untuk kuliah tapi untuk menunggu Dini. Entah sudah berapa jam menunggu, Dimas akhirnya melihat Dini dan Andi yang berjalan keluar kampus bersama.


Dimas segera keluar dari mobil dan menghampiri Dini.


"Andini!" panggil Dimas.


Dini menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Ia tau siapa yang memanggilnya sebelum ia melihat si pemilik suara. Tak ada yang memanggilnya dengan nama itu selain Dimas.


Dini hanya menoleh lalu kembali berjalan dengan menarik tangan Andi yang masih diam di tempatnya.


"Andini, tunggu!" ucap Dimas setelah berhasil menahan tangan Dini.


"Aku minta maaf," ucap Dimas.


"Urusan kamu sama Andi, bukan sama aku!" balas Dini datar.


Andi lalu menarik tangannya dari genggaman Dini dan mengambil ponsel dari saku celananya.


"Halo, kamu di mana Ta?" tanya Andi yang seolah sedang menerima panggilan.


"Oke aku ke sana sekarang," ucap Andi lalu kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Aku harus ke tempat Aletta dulu Din, kamu sama Dimas aja!" ucap Andi lalu berlari pergi meninggalkan Dini dan Dimas.


Entah permasalahan apa yang terjadi antara Dini dan Dimas. Andi hanya merasa keberadaannya di sana tidaklah tepat, itu kenapa ia harus menjauh dari Dini dan Dimas.


Dini menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskan dengan kasar. Ia tau Andi sedang berbohong. Dini lalu berjalan melewati Dimas namun kembali di cegah oleh Dimas.


"Andini aku minta maaf," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


"Simpan maaf kamu itu kalau kamu masih nggak mau cerita sama aku!" balas Dini dengan menarik tangannya dari genggaman Dimas.


"Aku cemburu," ucap Dimas dengan menundukkan kepalanya.


"Cemburu? sama Andi?"


Dimas mengangguk.


"Jadi itu alasan kamu hajar dia tadi pagi?"


Dimas kembali mengangguk.


"Dimas, kenapa kamu kayak gini? kita udah bukan anak SMA lagi sekarang dan kamu tau gimana hubunganku sama Andi, kita emang keliatan deket banget karena kita udah sama sama dari kecil, aku nggak pernah pisah sama Andi selama 21 tahun aku hidup tapi kita sama sama tau kalau kita sahabat, kita punya hati yang akan kita berikan buat masa depan kita nanti, aku pikir kamu bisa ngerti, ternyata aku salah, aku terlalu berharap lebih sama kamu!"


"dan masa depan dia itu kamu Andini, tapi kamu nggak pernah tau itu," ucap Dimas dalam hati.


"Maafin aku, aku sayang sama kamu Andini, aku cuma takut kamu ninggalin aku," ucap Dimas.


"Aku nggak akan nunggu kamu selama ini kalau aku nggak cinta sama kamu Dimas, tapi keraguan kamu bikin aku bertanya, apa selama ini aku salah karena udah nunggu kamu? apa aku salah karena masih nyimpen hati aku buat kamu?"


"Enggak Andini, nggak ada yang salah, aku minta maaf."


"Kamu udah tau jawaban dari pertanyaan kamu tadi pagi?"


"apa kamu sayang sama aku?"

__ADS_1


Dimas mengangguk cepat.


"Aku tau, aku tau kita saling mencintai, aku tau kamu adalah takdir masa depanku dan aku tau kamu selamanya buat aku," ucap Dimas lalu mencium kening Dini dan memeluknya.


__ADS_2