
Dari lantai dua, Dini dan Aletta melihat tingkah para laki laki di bawah pohon. Mereka mengikat Andi dan menutup mulutnya menggunakan lakban lalu menggelitikinya.
"Kasian banget pacar kamu," ucap Dini pada Aletta.
"Gara gara pacar kamu tuh," balas Aletta, mereka lalu tertawa bersama.
"Kaki kamu kenapa? abis jatuh?" tanya Dini yang melihat luka di kaki Aletta.
"Iya, kamu tadi dijemput Dimas?"
Dini mengangguk.
"Dimas sama Andi deket banget ya dari dulu? Andi bilang kalian temen dari SD!"
"Kita emang sekelas waktu SD, tapi Dimas bukan temenku, dia selalu gangguin aku dan aku benci banget sama dia," balas Dini.
"Itu dia cuma cari perhatian kamu Din!"
"Enggak Al, dia bener bener nakal banget pokoknya, Andi juga nggak suka sama dia, mereka berdua udah kayak tikus sama kucing kalau ketemu."
"Serius? kenapa sekarang jadi deket banget?"
Dini menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban. Ia mengingat saat itu, saat dimana Dimas hujan hujan di depan rumahnya dan entah kenapa Andi tiba tiba datang dan ikut berdiri di bawah hujan bersama Dimas. Dari sana hubungan mereka mulai hangat.
"Kalau kamu, kenapa kamu bisa deket sama Dimas?" tanya Aletta yang masih penasaran.
"Aku sendiri nggak tau gimana pastinya, tapi yang aku tau Dimas nggak pernah berhenti berjuang buat aku sampe' akhirnya aku sadar kalau Dimas yang aku kenal sekarang bukan Dimas yang dulu aku kenal waktu SD," jelas Dini.
"Kamu cinta banget ya sama dia?"
Dini mengangguk dengan pandangan yang masih tertuju pada laki laki yang dicintainya di bawah sana.
"Kalau kamu disuruh pilih antara Andi atau Dimas, kamu pilih siapa?" tanya Aletta membuat Dini menoleh cepat ke arah Aletta.
"Lupain aja, maaf kalau pertanyaanku bikin kamu nggak nyaman," lanjut Aletta yang merasa bersalah karena melihat raut wajah Dini yang tiba tiba berubah.
"kenapa selalu ada pertanyaan itu? apa aku emang harus pilih salah satu dan ninggalin salah satu? enggak kan? apa hubunganku sama Andi akan berakhir kalau aku sama Dimas? enggak kan?" batin Dini dalam hati.
"Al, sebelumnya aku minta maaf kalau apa yang aku ucapin ini menyinggung perasaan kamu, aku sayang sama Andi lebih dari yang kamu tau Al, hubungan kita nggak cuma sebatas sahabat yang selalu sama sama dari kecil, kita lebih dari itu, aku nggak mau kehilangan dia dan aku yakin dia juga ngerasain hal yang sama, tapi hati aku udah milih Dimas, aku cinta sama Dimas, mereka udah punya tempatnya masing masing di hati aku, aku nggak bisa milih salah satu diantara mereka berdua," jelas Dini.
Aletta hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dini.
"Kamu tenang aja Al, aku tau batas hubunganku sama Andi, kita tau batas persahabatan kita, aku udah pilih Dimas dan Andi udah pilih kamu tanpa harus mengorbankan persahabatan kita, kalau kamu minta aku jauhin Andi, aku minta maaf Al, aku nggak bisa," lanjut Dini.
"Aku nggak akan ngelakuin itu Din, aku tau sedeket apa kamu sama Andi dan aku percaya sama kalian," balas Aletta.
"Aku nggak mau ada salah paham diantara kita Al, aku seneng Andi bisa nemuin seseorang yang selalu bisa bikin dia bahagia kayak kamu, makasih karena udah mau memahami hubunganku sama Andi."
Aletta hanya tersenyum membalas ucapan Dini. Dalam hatinya ada sedikit rasa yang mengganggunya. Cemburu? iya, rasa itu pasti ada walaupun ia sudah coba untuk musnahkan. Ia cukup memahami posisinya sebagai seseorang yang baru hadir dalam hidup Andi dan ia tidak akan berharap lebih. Seperti ini saja sudah membuatnya bahagia dan ia tidak ingin terlalu berharap yang hanya berakhir dengan luka di hatinya.
Di bawah pohon, Andi sudah lemas karena ulah teman temannya. Setelah puas menggelitiki Andi, mereka lalu melepaskan tali yang mengikat Andi.
"Thanks guys," ucap Dimas pada teman teman Andi di kos.
Mereka lalu kembali dengan kesibukan mereka masing masing, meninggalkan Andi dan Dimas yang masih berada di bawah pohon.
Andi terduduk lemas di bawah pohon. Selama ini ia selalu ikut "mengeksekusi" mantan mantan Dini yang bermasalah dan sekarang ia harus merasakan sendiri bagaimana rasanya disiksa seperti itu.
Dimas lalu memberikan satu botol air minum pada Andi.
"Lo nggak papa kan?" tanya Dimas memastikan.
"Lo emang gila Dim!"
"Hahaha, lo tau siapa yang kasih ide ini? apa lo bakalan marahin dia juga karena udah kasih ide ini?"
"Siapa? Dini?"
Dimas mengangguk.
"Kalian berdua emang sama sama kejam!" ucap Andi lalu meneguk minuman yang Dimas berikan padanya.
Dimas lalu duduk di samping Andi. Mereka berdua duduk dengan bersandar pada pohon di belakang mereka.
"Kenapa lo ninggalin Andini?" tanya Dimas dengan memandang langit yang tampak bahagia malam itu.
"Awalnya gue nggak mau ninggalin dia, tapi dia maksa gue sama Aletta buat pergi duluan, dia bilang lo bakalan jemput dia."
"Jadi lo pergi duluan sama Aletta dan ninggalin Andini sendirian? kayak gitu yang lo sebut sahabat?"
"Gue terpaksa Dim, Aletta salah naik bis sendirian, gue khawatir sama dia jadi gue......"
"Jujur sama gue Ndi, gimana perasaan lo sama Aletta!"
__ADS_1
"Lo kenapa kepo banget sih sama hubungan orang!"
"Belum apa apa aja lo udah ninggalin Andini sendirian, gimana nanti kalau lo udah makin serius sama Aletta? lo nggak mikir waktu lo ninggalin dia sendirian, di pinggir jalan, malem malem, lo......"
"Lo sendiri apa kabar? lo kan pacarnya, lo kemana aja? hah?"
"Gue.... gue tadi..."
"Akhir akhir ini gue jarang banget liat kalian berdua, tiap lagi keluar bareng kayak tadi lo selalu balik duluan, ada apa sih?"
"Nggak ada apa apa," jawab Dimas.
"Lo nggak bisa bohong sama gue Dim, lo pikir lo jago bohong? ketahuan banget kali!"
"Hubungan gue sama Andini udah adem adem aja ini Ndi, jadi jangan diganggu sama prasangka prasangka lo yang nggak jelas itu!"
"Gue cuma nggak mau lo bikin dia sedih, dia cinta banget sama lo," ucap Andi dengan hati yang terasa seperti tertusuk pedang oleh tangannya sendiri.
"Gue tau, gue nggak akan pernah berhenti berjuang buat Andini, gue yakin gue bisa bahagiain dia," balas Dimas.
"Lo kenapa nggak jawab pertanyaan gue? gimana perasaan lo sama Aletta sebenernya?" tanya Dimas mengulang pertanyaannya.
"Gue nggak tau Dim, gue rasa gue sayang sama dia," jawab Andi.
"Dari yang gue denger, lo masih ragu sama perasaan lo sendiri!"
Andi mengangguk.
"Yang gue tau, gue masih cinta sama Dini," ucap Andi.
"Lo sadar nggak sih, cewek yang lo maksud itu pacar gue!" balas Dimas sinis.
"Hahaha..... sadar banget, kenapa? lo takut gue rebut dia dari lo?"
"Pertanyaan lo bikin gue takut Ndi!"
"Hahaha.... kalau emang gue mau ya udah gue lakuin dari dulu Dim!"
"Ndi, lo harus janji sama gue, jangan tinggalin Andini lagi, bisa?"
"Itu artinya lo harus siap siaga kapanpun buat Dini, bisa?"
"Gue serius Ndi, lo jangan pernah biarin dia sendirian, apa sesayang itu lo sama Aletta sampe' tega ninggalin Andini sendiri?"
Dimas hanya mengacak acak rambutnya kasar mendengar jawaban Andi.
"Sebenarnya ada apa sih Dim? kenapa lo bikin ini jadi masalah besar buat lo?"
"Ndi, gue udah bilang kan kalau gue cuma percaya sama lo, gue yakin lo bisa bahagiain Andini kalau gue udah nggak ada nanti, tapi sikap lo itu bikin gue ragu, gue ragu kalau perasaan lo sama Dini masih tetep kayak dulu!"
"Emang lo mau kemana? lo sakit parah? kanker? tumor? atau...."
PLAAKK
Dimas memukul kepala Andi.
"Omongan lo ngaco banget, lo mau gue penyakitan?"
"Ya nggak gitu, tapi kata kata lo ngarahnya ke sana!"
"Emang otak lo aja yang geser!"
"Mau otak gue geser atau gimanapun, perasaan gue sama Dini nggak pernah berubah Dim, gue masih cemburu liat lo sama dia, lo tau itu!"
Dimas mengangguk pelan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Andi. Mereka sudah seperti pasangan kekasih saat itu.
**
Di apartemen Anita, Ivan sedang menyiapkan beberapa barang yang akan ia letakkan di beberapa sudut apartemen Anita.
"Kamu bawa apa aja?" tanya Anita yang melihat Ivan menaruh beberapa barang di meja.
"Boneka beruang yang lucu kayak kamu," ucap Ivan sambil mencubit kecil pipi Anita.
"Sebanyak itu?" tanya Anita yang melihat boneka beruang kecil dengan jumlah yang lumayan banyak.
"Iya, ini bunga sintesis jadi nggak perlu kamu siram, ini frame foto buat naruh foto kita nanti, ini jam hiasan aku beli waktu di Amerika sama mama, ini semua cuma sementara di sini, setelah aku ambil bayaranku, aku ambil semua barang barang ini, nggak papa kan?"
"Nggak papa, tapi kenapa gitu?"
"Nggak papa, kamu turutin aja, oke?"
Anita mengangguk tanpa banyak bertanya lagi.
__ADS_1
"Besok aku beliin buat aku," ucap Ivan lalu menyisir rambut Anita dan mengikatnya ke atas.
Kini Anita hanya mengenakan lingerie dengan rambut yang diikat ke atas. Anita menyapu, membersihkan meja, rak dan banyak hal lainnya yang ia lakukan sesuai permintaan Ivan. Sedangkan Ivan sibuk dengan laptop di hadapannya.
"Kamu lagi ngapain sih?" tanya Anita kemudian duduk di samping Ivan.
Ivan segera menjauh dan menutup laptopnya begitu Anita menghampirinya.
"Kenapa menjauh? kamu ngapain tadi?"
"Aku ngerjain kerjaanku, kamu tau kan aku freelancer jadi aku kerja kapan aja selagi ada waktu," jawab Ivan lalu meletakkan laptopnya dan mendekati Anita yang duduk di sofa.
"Dan lagi aku cowok normal Anita, apa menurut kamu aku akan diem aja liat kamu kayak gini?" tanya Ivan dengan semakin merapatkan tubuhnya pada Anita, membuat Anita terpojok di sofa.
"Ivan kamu udah janji sama aku, kamu nggak akan....."
Cuuupp!
Satu kecupan Ivan mendarat di bibir Anita. Tangannya bergerilya menyapu bagian atas tubuh Anita. Entah kenapa Anita hanya diam, ia ingin menolaknya namun jiwanya seakan menerima begitu saja perbuatan Ivan.
Ivan lalu berdiri dan kembali membuka laptopnya lalu duduk di sebelah Anita. Ia tidak akan melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Anita masih diam di tempatnya, dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak cepat. Ia seperti terhipnotis oleh sentuhan Ivan.
"Kenapa diem aja?" tanya Ivan tanpa menoleh ke arah Anita. Ia fokus pada laptop di pangkuannya.
"Aa.... aku... aku...."
"Apa itu yang pertama kali?" tanya Ivan yang kini menoleh ke arah Anita.
Anita mengangguk pelan dengan menundukkan kepalanya. Ivan tersenyum kecil lalu mengusap rambut Anita.
"Sini, aku kasih tau apa yang aku kerjain," ucap Ivan dengan menarik tangan Anita.
Anita lalu mendekat ke arah Ivan. Ivan menarik tubuh Anita agar semakin dekat dengannya, ia menyandarkan kepala Anita di bahunya.
"Aku harus ngerjain ini sayang, deadline nya udah besok jadi harus aku selesaiin sekarang," ucap Ivan sambil menunjukkan tampilan desain sebuah produk yang hampir jadi.
"Bagus."
"Ini masih 60% masih banyak yang harus aku kerjain."
"Mama kamu bilang kamu kuliah di Universitas X, bener?"
"Iya bener, fakultas Teknik jurusan Teknik Informatika," jawab Ivan.
"Tapi kampus kamu kan lumayan jauh dari sini."
"Aku tinggal di kos deket kampus, jadi nggak tiap hari pulang."
"Kamu kan udah lulus, kenapa nggak nyari pekerjaan tetap aja sih?"
"Aku nggak suka diatur atur, kerja di perusahaan manapun pasti banyak aturannya dan aku nggak suka, aku mau kerja yang sesuai sama apa yang aku mau, itu kenapa aku pilih freelance aja, nggak ada yang ngatur yang penting aku bisa selesaiin kerjaanku tepat waktu," jelas Ivan.
"Tapi kan sayang sama pendidikan kamu itu, mama kamu udah keluarin banyak biaya buat kuliahin kamu tapi kamunya nggak mau kerja yang bener!"
"Gini ya sayang, papa ku meninggal waktu aku masih SMP, dari sana aku mulai cari cara gimana cara hasilin uang sendiri sampe' aku SMA dan aku kuliah sampe' lulus itu dari hasil kerjaku sendiri, aku sama sekali nggak pernah minta uang sama mama buat biaya kuliah ataupun biaya hidupku selama kuliah," jelas Ivan yang membuat Anita melongo tak percaya.
"Serius? mama kamu nggak pernah cerita soal itu, mama kamu cuma bilang kalau kamu itu mandiri dan nggak pernah nyusahin keluarga."
"Emang kerja yang bener menurut kamu itu yang gimana? kerja di perusahaan besar? punya kafe kayak pacar kamu itu? gitu?"
"Enggak juga sih, tapi apa hasil dari freelance kamu ini cukup buat masa depan kamu?"
"Lebih dari cukup sayang, sebandinglah sama pacar kamu yang punya kafe itu!"
"Kamu nggak punya pacar?"
"Pacar? ada, kamu kan pacar ku," jawab Ivan dengan mencium tangan Anita.
"Sejak kapan?"
"Sejak ada saudara kamu ke sini, kamu bilang aku pacar kamu kan?"
"Itu cuma pura pura Ivan, biar mbak Dewi nggak minta aku balik ke rumah!"
"Kenapa kamu nggak mau pulang? karena Dimas juga disini?"
"Nggak cuma itu, aku juga nggak mau ketemu papa, aku nggak akan balik lagi ke rumah itu."
"Anita, dengerin aku, apapun masalah kamu sama keluarga kamu jangan pernah kamu nyimpen dendam dan amarah dalam hati kamu, suatu saat kalau mereka udah nggak ada kamu cuma bisa nyesel tanpa bisa ngelakuin apa apa lagi," ucap Ivan dengan menggengam tangan Anita.
Entah kenapa sikap Ivan malam itu sangat manis, membuat Anita terlena untuk beberapa saat.
__ADS_1