Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Ingatan Masa Lalu


__ADS_3

Aletta masih berada di rumah sakit bersama Andi. Ucapan Andi membuatnya kembali mengingat masa lalunya, mengusik kembali luka yang sudah hampir sembuh. Hatinya masih terasa sakit jika mengingatnya, masa lalu yang sudah ia coba untuk lupakan itu nyatanya masih sangat membekas di hatinya, meninggalkan luka abadi yang tak akan mudah untuk sembuh.


Ia ingat betul apa yang kakaknya katakan sebelum hari pernikahan itu. Asyila sengaja datang ke rumah tante Rosa untuk menemui Aletta. Memberi tahu Aletta tentang hubungannya dengan Rizki yang sudah terjalin lama secara diam diam. Ia meminta izin pada Aletta untuk membiarkan Rizki menikahinya dan melarang Aletta untuk menemui Rizki lagi. Kata kata Asyila begitu membekas dalam ingatannya saat itu.


"ini anak Rizki Al, kakak mohon relain Rizki buat nikah sama kakak dan jangan pernah temui kakak sama Rizki lagi, demi kebaikan kita semua,"


Aletta tersenyum tipis mengingatnya. Jangankan untuk menemui, melihat Rizki saja ia sudah tak mau. Baginya hubungan mereka berdua sangat menjijikkan di matanya.


Sejak saat itu Aletta tak pernah bertemu dengan Asyila ataupun Rizki. Ia hanya mendengar kabar mereka dari tante Rosa, karena bagaimanapun juga Asyila adalah keponakan tante Rosa. Aletta marah, sangat marah atas apa yang sudah dilakukan Asyila padanya, tapi ia tak membencinya, ia masih menganggap Asyila kakaknya meski hatinya masih terasa sakit.


Ia mendengar dari tante Rosa jika Asyila keguguran saat kandungannya sudah berusia 6 bulan. Tante Rosa memberi tahu Aletta jika keadaan Asyila dan Rizki sangat memprihatinkan. Asyila harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga meski tengah hamil, hingga akhirnya ia mengalami keguguran. Sedangkan Rizki masih sibuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya, ia sangat pemilih dalam hal itu. Aletta ikut bersedih atas apa yang terjadi pada kakaknya, tapi ia memilih untuk abai, karena Asyila sendiri yang melarangnya untuk menemui mereka.


Hingga beberapa hari yang lalu tanpa sengaja ia bertemu dengan Rizki di kantin rumah sakit. Jika Rizki tak menyapanya terlebih dahulu, ia tak akan tau jika ada Rizki di tempat itu.


"Aletta!" panggil Rizki waktu itu.


Aletta menoleh ke arah si pemanggil. Ia melihat Rizki yang berjalan ke arahnya dengan senyum yang sudah lama tak ia lihat. Senyum cerah seperti cahaya bulan yang menerangi kegelapan hidupnya dulu. Aletta memegangi dadanya yang bergejolak, getaran itu masih ada, rasa itu masih nyata terasa di hatinya. Ia segera menampik semua rasa indah di hatinya, rasa indah yang dulu pernah mewarnai hidupnya yang hanya mengenal abu abu, rasa indah yang membawanya jauh ke dalam jurang kehancuran. Ya, indah namun menghancurkan.


Aletta segera menguasai hatinya. Ia berlalu begitu saja mengabaikan Rizki yang berjalan ke arahnya.


"Aletta!" panggil Rizki lagi.


Aletta masih berjalan hingga tangan itu menahannya untuk pergi. Hangat genggaman tangan itu masih terasa, kehangatannya menghantarkan rindu yang selama ini tersimpan di hatinya. Rizki adalah cinta pertamanya, cinta pertama yang sangat ia percayai, cinta pertama yang sudah membodohinya dengan semua omong kosong dan janji manisnya.


Aletta diam beberapa saat hingga seorang perempuan datang dan menarik tangan Rizki dengan paksa. Lalu menampar Aletta. Aletta membawa matanya menatap seseorang yang menamparnya. Ia tak percaya kakak yang selama ini ia sayangi menamparnya begitu saja.


"Jangan temui dia lagi, aku udah pernah bilang itu!" ucapnya dingin.


"Kak, Aletta kangen sama kakak," ucap Aletta dengan suara tercekat menahan tangis. Ia bukan menangis karena sakit di pipinya, ia menangis karena rindunya pada sang kakak. Kakak yang sedari dulu selalu menjaganya, kakak yang memberinya kehangatan cinta dan kasih sayang setelah mamanya meninggal.


"Simpan ucapan manis kamu Al, sekali lagi aku ingetin jangan pernah temui Rizki lagi, dia udah jadi milikku sekarang!"


"Dia milikku yang udah kakak rebut!" balas Aletta dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca kaca ketika mengucapkan kalimat itu.


Asyila membuka tutup minuman yang ia pegang dan menyiramkannya ke arah Aletta.


"Jaga ucapan kamu anak kecil!" ucap Asyila lalu pergi dengan menarik tangan Rizki untuk meninggalkan Aletta.


Aletta hanya diam, jika saja itu bukan kakaknya, ia pasti sudah membalasnya.


Tak terasa matanya sudah penuh dengan air mata yang siap untuk segera tumpah. Menyadari hal itu, Aletta segera membawa pandangannya untuk melihat ke atas, menahan air mata itu agar tak menetes.


"Lo nggak papa Ta? sorry kalau ucapan gue......"


"Nggak papa, santai aja, mataku lagi eror nih kayaknya hehe," balas Aletta.


Andi mendekat dan memeluk Aletta.


"Nangis aja Ta, jangan di tahan," ucap Andi dengan mengusap punggung Aletta.


Aletta mendorong tubuh Andi untuk menjauh darinya. Ia tak mau terlihat lemah, ia tak mau Andi mengasihaninya.


"Gue nggak papa Ndi, sana pulang!"


"Lo yakin?"


"Seratus persen yakin, sana pulang, gue mau tidur!" ucap Aletta lalu berbaring dan membelakangi Andi.


"Ya udah kalau gitu, gue balik dulu ya!"


"Hmmmm," balas Aletta tanpa menoleh ke arah Andi.


Andipun keluar dari ruangan Aletta dan kembali ke kos. Sedangkan Aletta, ia masih belum terpejam. Ia masih menikmati sakit di hatinya. Sakit karena masa lalu yang kembali tersingkap dan semakin menusuk hatinya.


Jauh di lubuk hatinya, ia merindukan kakaknya. Seorang kakak yang selalu bersamanya, kakak yang selalu menjaganya, kakak yang selalu menemani dan membantunya. Setelah kepergian mamanya, hanya sang kakak yang memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus untuknya.


Hingga suatu hari ia menemukan cinta yang lain di hatinya, cinta dari laki laki yang sudah berjanji akan menjadi masa depannya, laki laki yang memberinya begitu banyak hal indah dalam hidupnya. Namun semuanya seakan palsu, dua orang yang ia cintai tega mengkhianatinya.

__ADS_1


Tanpa ada yang tau, Aletta membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit. Sakit karena pada kenyataannya ia masih mencintai laki laki itu, cinta pertamanya yang sekarang menjadi suami kakaknya. Namun, sikap Asyila padanya membuatnya lebih sakit. Kakak yang dari dulu selalu menyayanginya, memandangnya dengan penuh cinta dan kasih sayang, kini seperti menganggapnya musuh. Tatapan matanya penuh kebencian karena tanpa Aletta tau Asyila memendam ketakutan yang besar dalam dirinya, takut jika suatu saat nanti Rizki akan meninggalkannya dan kembali pada Aletta. Padahal jika Asyila tau, Aletta sudah tak mengharapkan Rizki lagi meski ia masih mencintainya.


Aletta tak peduli bagaimana ia akan menjalani masa depannya nanti, ia tak peduli jika tak ada laki laki yang mau menerimanya apa adanya. Kesalahannya di masa lalu sangat besar, kebutaannya akan cinta membuatnya harus menanggung sesal seumur hidupnya.


**


Malam kembali datang membawa bulan dan bintang. Kilau cahayanya mampu membawa kedamaian di hati seseorang yang tengah terluka di bawah sana. Kerlip bintang seperti memberinya semangat untuk terus menjalani hidup tanpa cinta. Ya, ia sudah tak berani untuk jatuh cinta lagi. Ia akan mengutuk hatinya jika ia mulai merasakan getaran nada cinta di hatinya. Aletta tersenyum memandang jauh ke atas langit. Ia menghembuskan napasnya pelan, membuang semua hal menyakitkan yang ia rasakan.


**


Di tempat kos, Andi dan Nico sedang berada di teras untuk mengerjakan tugas.


"Nic, lo udah lama ya temenan sama Aletta?" tanya Andi pada Nico.


"Dari SMA, kenapa?"


"Lo tau soal mantannya yang nikah itu?"


"Gue nggak banyak tau sih, soalnya dia jarang cerita masalah pribadinya sama orang lain, yang gue tau cuma dia dulu punya pacar waktu SMP, cinta monyet gitu mungkin, terus mereka putus karena si cowok itu harus nikah sama cewek lain, itu yang gue tau!"


"Harus?"


"Iya dia bilang gitu, tapi dia nggak cerita detailnya gimana, lagian itu kejadian waktu dia masih SMP, jadi mungkin ya nggak penting juga kalau cuma cinta monyet!"


"Kalau itu cinta pertamanya pasti itu penting Nic!"


Nico menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk mengetik.


"Iya juga ya, apa selama ini dia sedih ya waktu gue ngeledekin dia soal itu?"


"Bisa jadi," jawab Andi sambil membolak balik buku di hadapannya.


"Oh ya, gue tadi liat Dimas sama mamanya di rumah sakit, mau jenguk Dini katanya," ucap Nico.


"Iya, gue juga ketemu tadi."


"Iya," jawab Andi singkat lalu kembali sibuk dengan tugasnya.


"Serius? wah berat Ndi kalau gitu!"


"Berat kenapa?"


"Saingan lo berat, Dimas nggak cuma cakep, tapi juga kaya raya, punya bisnis, pinter, baik banget lagi, kurang apa coba!"


"Gue nggak saingan sama dia, kalau emang dia yang terbaik buat Dini ya nggak papa, gue nggak masalah yang penting Dini bahagia," balas Andi.


"Apa menurut lo Dini bahagia sama Dimas? apa menurut lo dia layak buat Dini?"


Andi terdiam sesaat. Pertanyaan Nico membuatnya berpikir kembali. Apa Dini bahagia dengan Dimas? apa Dimas layak untuk Dini? Andi tau bagaimana Dimas berusaha keras untuk mendekati Dini, Andi juga tau bagaimana kesedihan Dini ketika harus merelakan Dimas pergi. Tapi ia ragu, apa Dimas layak untuk Dini? Dimas sering mengecewakan Dini, Dimas sering membuat Dini menangis, tak hanya sekali dua kali Dimas melakukan kesalahan yang sama berkali kali. Terlebih sekarang, Dimas adalah tunangan Anita, apakah Dini akan baik baik saja jika Dimas masih mengelilinginya? apakah Dini siap jika suatu saat nanti Dimas akan meninggalkannya demi Anita?


"aku nggak akan biarin air mata kamu jatuh lagi Din, aku yang akan selalu bikin kamu tersenyum meski kamu sedih, aku yang akan peluk kamu saat kamu rapuh, aku yang akan selalu ada di samping kamu, memastikan kamu selalu bahagia dengan atau tanpa Dimas, karena tujuan hidupku cuma untuk kebahagiaan kamu,"


"Woy, jangan ngelamun mulu, berat banget ya pertanyaan gue?"


"Lo tanya apa tadi?"


"Lo nggak dengerin gue?"


"Sorry, gue bingung ini gimana ngerjainnya hehehe....." jawab Andi berbohong.


"Ngeselin lo ya, lo diem aja gue kira lagi mikirin pertanyaan gue, eh malah mikirin tugas!" gerutu Nico kesal.


"Gue masuk dulu ya, ngantuk!" ucap Andi sambil membereskan buku bukunya.


"Ini belum jam 8 Ndi, lo mau tidur?"


"Iya, ngantuk gue!" jawab Andi lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.

__ADS_1


Ia merebahkan badannya di tempat tidur, namun tidak untuk tidur. Ia sudah tidak fokus mengerjakan tugasnya. Pikirannya mulai kemana mana.


**


Di rumah sakit, Dini masih bersama Dimas.


"Kamu kapan bisa pulang?" tanya Dimas pada Dini.


"Besok udah boleh pulang kok!"


"Aku jemput ya?"


"Nggak usah, udah ada Andi yang jemput aku,"


"Andi?"


"Iya!"


Dimas tersenyum kecut. Andi selalu berhasil membuatnya cemburu. Ia tau bagaimana perasaan Andi pada Dini. Ia tak menyangka jika Andi benar benar merahasiakan hal itu dari Dini sampai sekarang. Ia tak tau apa yang akan terjadi pada hubungan Andi dan Dini jika Dini tau bagaimana perasaan Andi yang sebenarnya.


"Kamu deket banget ya sama Andi?" tanya Dimas berpura pura tak tau.


"Kita sahabat dari kecil," jawab Dini.


"Kamu suka sama dia?"


"Suka gimana maksud kamu?"


"Suka, sayang, cinta!"


"Iya, kita udah sama sama dari kecil, jadi semua yang kamu sebut itu aku rasain, aku suka, sayang dan aku cinta sama dia, karena dia sahabat terbaik ku!"


"Sahabat?"


"Iya, aku kan udah bilang kita sahabat dari kecil, kita saling menyayangi sebagai sahabat, perhatian dan rasa sayang kita sebatas sahabat," jelas Dini.


"Kamu yakin?"


"Yakin dong, walaupun kadang kita berantem kecil, tapi kita nggak bisa marahan lama lama, entah aku atau Andi dulu yang datang buat minta maaf, kita......"


"Aku cemburu," ucap Dimas memotong ucapan Dini.


"Eh, kenapa?"


"Iya, aku cemburu denger cerita kamu tentang dia, aku nggak suka dengernya!"


"Kenapa?"


"Karena aku suka sama kamu, aku nggak suka denger kamu cerita tentang cowok lain di depanku!"


"Kamu lupa kalau punya Anita?"


"Jangan bahas Anita!"


"Kenapa?"


"Dari tadi kamu tanya kenapa kenapa kenapa, nggak semua hal harus dijelasin alasannya Andini!"


"Harus dong, harus ada penjelasan di setiap tanya, biar nggak ada keraguan dan salah paham, kamu tau apa yang sering bikin hubungan orang kacau?"


"Apa?"


"Kesalahpahaman," jawab Dini singkat.


Memori membawanya pada masa lalunya bersama Dimas. Bagaimana sebuah kesalahpahaman berujung perpisahan yang menyakitkan untuknya. Sikap Dimas yang terlalu baik pada Anita di salah artikan sendiri oleh Anita. Ia tak bisa menyalahkan Anita sepenuhnya, karena Dimas sendiri yang membuat rasa cinta itu tumbuh dalam hati Anita. Ia juga tak bisa menyalahkan cinta, karena ia tau cinta datang tanpa aba, tanpa permisi, tanpa alasan, tanpa tau tepat atau tidak cinta hadir begitu saja. Jika saja Dimas tak membuat kesalahpahaman itu semakin besar, mungkin Anita juga tak akan menjatuhkan hatinya begitu dalam pada Dimas. Cinta telah membutakan akalnya, ia melakukan apa saja demi mendapatkan cintanya. Tak peduli jika Dimas tak mencintainya, bagi Anita, mendapatkan Dimas adalah tujuan utamanya.


Dini tersenyum tipis mengingat banyak hal yang patut untuk disalahpahami karena tak hanya sekali dua kali ia melihat Dimas memeluk Anita, tanpa Dimas sadar apa yang ia lalukan itu sudah memupuk rasa cinta di hati Anita.

__ADS_1


__ADS_2