
Setelah berdiskusi dengan Toni, Dimas mengajak Dini untuk kembali ke lantai dua.
Dimas mulai mengerjakan laporan harian yang belum dikerjakannya. Dimas mengacak acak rambutnya kesal, ia bingung harus mengerjakan dari mana karena ia tidak mengerti bagaimana Yoga bisa mengerjakan laporan itu dengan mudah sedangkan Dimas butuh berjam jam untuk menyelesaikannya.
"Kenapa Dim?" tanya Dini yang melihat Dimas gelisah.
"Aku bingung Din, Yoga biasanya cepet banget ngerjain ini, tapi aku dari kemarin ngerjain lama banget, nggak tau deh gimana Yoga ngerjainnya."
"Coba liat!"
Dimas memberikan beberapa lembar kertas dan buku pada Dini dan mengarahkan layar laptopnya ke arah Dini.
"Kamu salah jalan Dimas!" ucap Dini setelah memeriksa hasil dari laporan Dimas yang sebelumnya.
"Maksud kamu?" tanya Dimas tak mengerti.
"Kamu lihat, ini punya kak Yoga, ini punya kamu, cara kamu sama kak Yoga ngerjain beda, walaupun hasilnya sama tapi cara kamu kurang efisien Dimas, kamu terlalu muter muter!"
"Itu yang aku nggak tau, aku bisanya ya kayak gitu, nggak bisa pake' cara Yoga."
"Ini harusnya nggak perlu kamu jumlah satu per satu Dimas, kamu tinggal masukin datanya di Ms Excel aja, nih, kak Yoga udah bikin rumusnya, kamu tinggal masukin datanya ke sini, ini ke sini dan ini ke sini, tinggal di tarik ke bawah, selesai, lebih gampang lagi kamu pake' rumus ini di tabel yang lain, tinggal masukin ini sama ini, klik selesai! sekalian bikin grafik biar keliatan jelas hasilnya!" jelas Dini panjang.
Dimas bertepuk tangan pelan melihat Dini bisa dengan mudah mengerjakan laporan hariannya.
"Aku nggak salah pilih emang!" ucap Dimas.
"Pilih apa?"
"Pilih kamu jadi masa depanku," jawab Dimas dengan senyum termanisnya.
"Apaan sih Dim, udah bisa kan sekarang?"
"Bisa, makasih sayang," ucap Dimas dengan mendekatkan wajahnya bersiap untuk mencium pipi Dini, namun Dini segera menutup wajahnya dengan buku.
"Sana lanjutin, abis itu anter pulang!"
"Hmmmm, oke oke!" balas Dimas pasrah.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dimas mengambil ponsel dari saku celananya. Ia ingin menghubungi Sintia, menanyakan keadaan Yoga.
Biasanya Dimas selalu mengantarkan Sintia ke rumah sakit setelah pulang dari sekolah, tapi tadi mamanya yang mengantarkan, membuat Dimas tidak mengetahui kabar Yoga hari ini.
"Mmmm, Andini, aku hubungin Sintia buat nanyain kabar Yoga nggak papa?" tanya Dimas pada Dini, karena takut Dini akan marah lagi.
"Nggak papa," jawab Dini dengan tersenyum.
Dimaspun segera menghubungi Sintia.
"Halo Sin, gimana keadaan Yoga?" tanya Dimas setelah Sintia menerima panggilannya.
"Masih tetep kak," jawab Sintia sendu.
"Kamu udah makan?"
"Udah," jawab Sintia singkat. Sejak Yoga di rumah sakit, Sintia memang menjadi pendiam pada semua orang, termasuk Dimas.
"Mbak Sri ada di situ? aku mau ngomong sama dia dong!"
"Oke," jawab Sintia sambil memberikan ponselnya pada Mbak Sri, anak dari pembantu rumah tangga Dimas yang memang ditugaskan oleh mama Dimas untuk menjaga Sintia di rumah sakit, karena Sintia tidak mau pulang sama sekali.
"Halo, ada apa mas?" tanya Mbak Sri pada Dimas.
"Sintia baik baik aja kan Mbak?"
"Baik baik aja kok mas, ada saya yang jagain non Sintia."
"Jangan sampe' dia telat makan ya Mbak!"
"Siap mas!"
"Makasih Mbak!"
"Iya mas, sama-sama."
Dimas menutup panggilannya dan menaruh ponselnya di atas meja.
"Gimana Dim?" tanya Dini.
"Belum ada perubahan, do'ain Yoga cepet sadar ya sayang!"
"Iya, pasti, tapi aku penasaran, sebenarnya kenapa kak Yoga bisa kecelakaan!"
"Kamu nggak tau?"
Dini menggeleng.
"Inget waktu kamu pergi dari tempat parkir kemarin? aku ngejar kamu, tapi di tahan sama Sintia, aku udah emosi banget waktu itu jadi aku dorong dia dan ngejar kamu, terus Yoga dateng nyamperin Sintia dan nyatain perasaannya sama Sintia, tapi Sintia malah lari dan Yoga ngejar dia sampe' nggak perhatiin jalan dan kejadian deh," jelas Dimas panjang.
"Kak Yoga suka sama Sintia? tapi Sintia kan....."
"Iya, Yoga suka sama Sintia dari pertama kali aku kenalin mereka dan aku nggak tau sejak kapan Sintia suka sama aku, aku cuma ngerasa dia mulai agresif aja sama aku, aku pikir karena kita lama nggak ketemu dia jadi gitu."
"Kamu nggak peka!" balas Dini.
"Serba salah ya jadi aku, aku peka dipikir PHP, aku nggak peka juga salah," gerutu Dimas.
"Begitulah cowok, kamu sendiri gimana sama Sintia?"
"Gimana apanya?"
"Kamu suka sama dia?"
"Kan aku udah bilang, aku anggap dia adik kandungku sendiri Andini, sayang dan perhatianku sama dia ya sebatas kakak sama adik."
Dini mengangguk anggukkan kepalanya.
"Kamu masih nggak percaya sama aku?" tanya Dimas dengan menatap tajam mata Dini.
__ADS_1
"Kalau aku bilang nggak percaya, apa yang mau kamu lakuin?"
"Kasih tau aku harus gimana, jangan pergi gitu aja, jangan cuekin aku, cukup kasih tau apa yang harus aku lakuin pasti aku lakuin buat kamu asal jangan minta aku buat jauhin kamu, aku nggak bisa," jawab Dimas dengan menggenggam tangan Dini.
Dini hanya tersenyum mendengar jawaban Dimas.
"kita lihat sampai mana batas perjuangan kamu Dimas, karena sampe' sekarangpun aku masih belum bisa ngasih kepastian buat kamu, maaf kalau aku egois," ucap Dini dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dimas mengajak Dini untuk pulang.
"Aku anter pulang ya!"
"Sekarang?"
"Iya, biar nggak terlalu malem, jaga kesehatan kamu Andini!" ucap Dimas dengan membelai rambut Dini.
"Kamu juga jaga kesehatan ya!"
Dimas mengangguk lalu memasukkan semua barangnya yang ada di meja ke dalam tas, begitu juga Dini.
Merekapun turun dari lantai dua dan berpamitan pada Toni.
"Gue anter Andini pulang dulu ya, ntar gue balik lagi!" ucap Dimas pada Toni.
"Hati hati bos!" balas Toni.
"Pulang dulu ya!" pamit Dini pada Toni.
"Hati hati kak!"
Di perjalanan mengantar Dini pulang, sesekali Dimas mencuri pandang ke arah Dini.
"Ada apa sih Dim?" tanya Dini yang merasa diperhatikan Dimas.
"Nggak papa," jawab Dimas dengan tersenyum.
"kamu harus jadi milikku Andini, gimanapun caranya, apapun akan aku lakuin buat sama sama kamu, aku yakin aku bisa kasih kebahagiaan lebih dari yang Andi bisa kasih buat kamu," ucap Dimas dalam hati.
Sesampainya di rumah Dini, Dini segera turun dari mobil Dimas, diikuti Dimas yang juga turun mengantar Dini sampai depan pintunya.
"Buruan balik Dimas, kasian Toni sendirian!"
"Kamu nggak minta aku mampir?"
"Kamu kan harus ke cafe!"
"Bisa nanti, cafe lagi sepi."
"Ya udah, ayo masuk!"
Dimas mengikuti Dini untuk masuk ke rumahnya.
Dini duduk di kursi panjang ruang tamunya dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia tampak sangat lelah.
Dimas duduk di sebelahnya dan memindahkan posisi kepala Dini ke bahunya.
"Maaf ya, aku ngrepotin kamu," ucap Dimas pelan.
"Aku beruntung banget punya kamu," ucap Dimas dengan membelai rambut Dini.
"Makasih ya Dim, udah sabar sama aku," balas Dini dengan memindahkan posisi kepalanya ke paha Dimas, membuat Dimas sedikit gelisah.
"Mmmm, sayang, kepala kamu nggak sakit tiduran di sini?" tanya Dimas berharap Dini segera bangun dari posisi tidurnya.
"Enggak kok, sakit ya?"
"Eeee..... enggak sih, cumaaaa.... itu.... mmm...." Dimas tak bisa menjawab pertanyaan Dini karena posisi kepala Dini yang sangat membuatnya tak nyaman, tapi ia juga tak mungkin meminta Dini untuk bangun.
"Kenapa sih Dim?" tanya Dini sambil bangun dari posisi tidurnya.
"Itu.... aku mau buang air kecil hehehe...." jawab Dimas beralasan.
"Oh, ya udah sana ke kamar mandi!"
Dimas segera ke kamar mandi, namun segera kembali lagi untuk mengambil ponselnya.
"HP nya ketinggalan hehehe......"
"Kenapa bawa HP?"
"Nggak papa, aku nggak bisa buang air kalau nggak pegang HP hehehe," jawab Dimas asal.
Dini hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Dimas.
Tak lama kemudian Dimas keluar dari kamar mandi dan melihat Dini yang sudah tidur di kursi.
"Andini, kamu tidur?" tanya Dimas memastikan.
Tak ada jawaban.
Dimaspun membopong Dini ke kamarnya, memakaikannya selimut dan mengusap lembut rambut Dini.
"Aku minta maaf kalau sering bikin kamu sedih, aku harap apa yang terjadi kemarin adalah terkahir kalinya aku bikin kamu sedih, aku sayang kamu Andini," ucap Dimas pelan lalu keluar dari kamar Dini dan pulang.
***********************
Esok harinya, seperti biasa Dimas menjemput Sintia di rumah sakit. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit ke sekolah tak ada obrolan sama sekali antara Dimas dan Sintia. Sintia masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri, ia merasa dirinya lah penyebab Yoga koma sampai sekarang. Matanya selalu sembab karena sering menangis. Sedangkan Dimas mulai sedikit menjaga jarak dengan Sintia, ia harus bisa membatasi dirinya sendiri agar tidak terjadi salah paham lagi.
Sesampainya di sekolah, ia segera menghubungi Dini.
"Udah berangkat? kalau belum aku jemput ya!"
"TELAATTT!" jawab Andi yang sudah berada di belakang Dimas.
"Kampret lo!" balas Dimas dengan memukul lengan Andi.
"Hahaha..... jadi pangeran kesiangan apa kesialan lo?" ledek Andi dengan berlari meninggalkan Dimas dan Dini.
__ADS_1
Dimas mengejar Andi, meninggalkan Dini yang saat ini sudah bersama Anita.
"Kelakuan pacar kamu Din!" ucap Anita sambil menyenggol lengan Dini.
Dini hanya tersenyum.
"Kamu sama Andi gimana Nit?" tanya Dini.
Anita hanya tersenyum penuh arti.
"Kalian udah......"
Anita mengangguk dan tersenyum malu.
"Akhirnyaaaaa, dari kapan?"
"Baru kok, kamu jangan nanya mulu dong, kan aku malu!" jawab Anita sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Kamu beruntung punya Andi," ucap Dini dengan senyum yang sulit diartikan.
"Kamu nggak keberatan kan kalau aku sama Andi?"
"Enggak lah Nit, Andi itu sahabat aku dari kecil, dia yang paling tau semua hal tentang aku, begitu juga aku, aku tau semua hal tentang Andi, tapi kita sebatas sahabat, dari dulu sampe' sekarang, tapi......."
"Tapi apa Din?"
"Sebelumnya aku minta maaf ya Nit, aku nggak ada maksud apa apa, aku cuma minta tolong aja, itupun kalau kamu bisa."
"Apa sih Din? jadi deg-deg an deh!"
"Mmmm, tolong jangan jauhin Andi dari aku ya, aku nggak akan ganggu hubungan kalian, aku cuma nggak mau kehilangan sahabat aku, aku harap kamu ngerti," ucap Dini hati hati karena takut Anita akan salah paham.
Anita tersenyum dan memeluk Dini.
"Tenang aja Din, kita bisa jadi sahabat, aku, kamu, Andi dan Dimas."
"Makasih Nit!"
Anita menggandeng tangan Dini dan berjalan ke kelasnya.
"Eh, aku ikut ke kelas kamu dulu ya!"
"Ayo!"
Mereka melihat Dimas dan Andi yang masih duduk di depan kelas. Merekapun menghampiri Dimas dan Andi lalu duduk diantara mereka.
"Jadi empat serangkai nih!" celoteh Andi.
"Eh iya, mumpung pada ngumpul nih, aku bisa minta tolong nggak, Ndi? Nit?"
"Minta tolong apa Dim?" tanya Anita.
"Gue mau renovasi cafe dikit, kalian bisa bantuin nggak?"
"Bisa bisa, kapan?" tanya Andi penuh semangat.
"Rencananya pulang sekolah nanti gue sama Andini mau cari bahan bahannya, kalian ke cafe aja dulu, mindahin beberapa frame yang di lantai dua buat ditaruh di lantai satu," jelas Dimas.
"Oh, oke oke!"
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Dimas dan Dini bergegas untuk mencari bahan yang ia perlukan untuk di pajang di lantai dua, sedangkan Anita dan Andi segera ke cafe untuk menurunkan beberapa frame yang sudah dijelaskan oleh Dimas.
Andi dan Anita yang sudah sampai di cafe segera menemui Toni.
"Bang Andi ya?" tanya Toni begitu melihat Andi dan Anita yang berjalan ke arahnya.
"Iya, kenalin Nit, ini Toni yang kerja sama Dimas."
"Anita," ucap Anita dengan mengulurkan tangannya.
"Toni," balas Toni dengan menerima uluran tangan Anita.
"Duduk dulu bang, gue siapin minum!" ucap Toni sambil menggeser tempat duduk untuk Anita dan Andi.
"Nggak usah Ton, gue ke sini mau bantuin Dimas, katanya dia mau renovasi lantai dua," cegah Andi.
Toni yang sudah membuatkan minuman untuk Andi dan Anita segera menaruhnya di meja.
"Santai aja dulu, baru juga nyampe', minum dulu lah!" balas Toni.
"Thanks Ton!"
Di sisi lain, Dini dan Dimas masih mencari barang barang yang sudah mereka list sebelumnya.
Setelah mendapatkan semuanya, Dini dan Dimas segera menuju ke cafe.
Sesampainya di cafe, Dini dan Dimas segera membawa barang barang yang sudah mereka beli untuk segera di pasang di lantai dua.
Toni yang melihat Dini dan Dimas membawa banyak barangpun segera menghampiri dan membantu membawanya.
"Langsung ditaruh di atas bos?" tanya Toni.
"Iya Ton, abis itu ikut gue ke pantry ya, ada yang mau gue bicarain sama lo!"
"Siap bos!"
Setelah menaruh semua barang barang di lantai dua, Dimas dan Toni segera turun ke pantry.
"Gue turun bentar ya!" pamit Dimas pada teman temannya.
"Oke!" jawab semuanya serempak.
Sesampainya di pantry, Dimas segera mengutarakan hal yang begitu mengganjal pikirannya pada Toni.
"Ada apa bos?" tanya Toni yang melihat Dimas begitu serius.
"Ton, gue minta maaf ya kalau belum bisa kasih gaji yang layak buat lo, gue nggak akan nahan lo kalau lo mau cari kerja lain, tapi gue harap lo masih bertahan di sini sama gue," ucap Dimas serius.
__ADS_1
"Gue boleh keluar dari cafe bos?" tanya Toni memastikan.
Dimas sedikit terkejut mendengar pertanyaan Toni yang seakan memang sudah ingin keluar dari cafe. Dimaspun menganggukkan kepalanya dengan berat hati.