
Goresan tinta sang Pencipta terlukis indah di ujung barat langit sore. Ujung dari singgasana sang mentari. Tempat dimana cahaya terik mentari bertukar dengan cahaya mesra bulan dan bintang yang memenuhi langit malam.
Aletta masih berada dalam pelukan Andi untuk beberapa waktu, menuntaskan semua kepedihan yang selama ini ia kubur jauh di dalam hatinya. Luka yang ia pikir telah sembuh nyatanya masih menganga lebar, menyimpan perih yang teramat sangat.
Sedangkan Andi, ia hanya diam membiarkan Aletta mengupas habis semua rasa sakit yang menyiksanya. Ia tidak mengerti kesakitan seperti apa yang membuat air mata Aletta tumpah tanpa henti. Dadanya terasa sesak melihat gadis yang selalu ceria itu kini tampak lemah dalam pelukannya.
Perlahan Aletta melepaskan diri dari pelukan Andi. Pelukan yang membuatnya nyaman, membuatnya tak ingin pergi dari rengkuhan hangat yang menenangkannya. Aletta menundukkan kepalanya. Ia merasa dirinya sangat kacau. Ia malu atas apa yang baru saja terjadi. Sepanjang hidupnya, hanya ada 2 laki laki yang pernah memeluknya erat, Rizki dan Andi. Pelukan dua laki laki itu berhasil membuatnya merasa nyaman, membuatnya tenang dan ingin selalu ada dalam hangat dekapannya.
Andi memegang kedua pipi Aletta dan mengangkat wajahnya pelan, membawa pandangan Aletta ke arahnya. Aletta mengangkat wajahnya, tapi ia tidak berani memandang Andi.
"Ta, liat aku," ucap Andi pelan. Suaranya terdengar sangat lembut di telinga Aletta.
Namun Aletta masih mendunduk.
"Ta, apapun masalah yang kamu hadapi, jangan dipendem sendiri, kamu punya aku sekarang, aku akan dengerin apapun keluh kesah kamu," lanjut Andi dengan masih memegang kedua pipi Aletta.
"Liat aku Ta, kamu bisa cerita apa aja sama aku, aku nggak mau kamu ngerasain sendiri kesedihan kamu," lanjut Andi.
Aletta membawa pandangannya pada Andi. Ia menatap mata indah di hadapannya. Pandangannya begitu meneduhkan, membuat Aletta ingin memiliki si pemilik mata indah itu. Tapi itu tak mungkin. Hatinya masih terluka, hatinya masih menyimpan setitik rasa pada cinta pertamanya. Cinta pertama yang telah mengkhianatinya itu masih menyisakan keindahan dan kebahagiaan dalam hatinya, meski hanya setitik.
Andi tersenyum dan mengusap sisa air mata yang membasahi pipi Aletta.
"Aku akan di sini nemenin kamu," ucap Andi pelan.
Aletta mengangguk.
Andi beranjak dan mengambil satu gelas air dari meja di sebelahnya lalu memberikannya pada Aletta.
"Minum dulu," ucap Andi dengan membawa gelas itu mendekati bibir Aletta.
Aletta masih terdiam dengan menatap Andi.
"Tangan kamu nggak boleh digerakin dulu, pamali minum pake' tangan kiri!" ucap Andi.
Aletta tersenyum lalu meminum air dari gelas yang dipegang Andi.
Andi kembali duduk dan mengusap lembut rambut Aletta.
"Ada yang mau kamu ceritain?" tanya Andi.
Aletta menggeleng.
"Luka kamu kenapa bisa berdarah lagi?"
Aletta masih diam, air matanya kembali memenuhi kedua sudut matanya. Ia kembali mengingat pertemuannya bersama Rizki beberapa waktu yang lalu.
"Apa itu sakit banget Ta?" tanya Andi yang melihat air mata Aletta sudah menggenang.
Aletta mengangguk pelan.
"Kamu harus lebih hati hati, jangan gerakin tangan kanan kamu dulu, ikutin ucapan Dokter, jangan bantah!"
Aletta mengangguk. Tentu saja ia menangis bukan karena sakit di lengannya, melainkan luka yang terasa menyayat hatinya.
Andi menghembuskan napasnya pelan. Ia merasa frustrasi melihat Aletta yang hanya diam, mengangguk dan menggeleng tanpa suara.
Biiipp Biiipp Biiipp
Ponsel Andi berdering, ada pesan dari Dini.
Damn!
Andi lupa jika ia ke rumah sakit bersama Dini tadi. Ia begitu panik dan mencemaskan keadaan Aletta sampai ia berlari meninggalkan Dini. Entah berapa lama ia memeluk Aletta hingga ia benar benar lupa pada Dini.
Ndi, aku ada urusan bentar, jadi aku balik dulu, lain kali aku ke sana lagi -isi chat Dini-
"maaf Din," ucap Andi dalam hati.
Aletta memperhatikan raut wajah Andi yang berubah, ia ingin bertanya namun ia urungkan. Mulutnya terasa enggan untuk terbuka.
Andi kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya setelah membalas pesan Dini.
"Mau buah?" tanya Andi.
Aletta menggeleng, namun Andi tetap mengambil apel di meja dan mengupasnya lalu memotongnya dan menyuapkannya pada Aletta.
Aletta membuka mulutnya menerima potongan apel dari tangan Andi, namun dengan cepat Andi menarik kembali tangannya yang memegang potongan apel dan memakannya sendiri.
Aletta menahan senyumnya dengan kesal, sedangkan Andi tertawa kecil melihat Aletta yang tertipu olehnya.
"Katanya tadi nggak mau," ucap Andi meledek.
Aletta memperlihatkan wajah kesalnya dan mengalihkan pandangannya dari Andi.
"Nih," ucap Andi sambil memberikan lagi potongan apel pada Aletta.
Aletta hanya menggeleng sambil tetap memalingkan wajahnya dari Andi.
"Aku pikir kamu nggak bisa ngambek," ucap Andi lalu duduk di ranjang Aletta.
Aletta masih diam tak menghiraukan Andi.
"Kayaknya aku harus kenal kamu lebih jauh deh," lanjut Andi.
"mengenal lebih jauh? maksudnya? paca....... enggak, nggak mungkin," batin Aletta bertanya tanya.
"Maksud kamu?" tanya Aletta.
"Iya mengenal kamu lebih jauh, jadi kamu harus cerita semuanya sama aku, aku siap buat jadi tempat kamu berbagi kesedihan atau kebahagiaan kamu, jadi jangan pendam masalah kamu sendiri ya!"
__ADS_1
Aletta tersenyum kecil dan mengangguk.
Andi kembali menyuapkan potongan apel di tangannya pada Aletta. Setelah 1 buah apel habis, Andi memberikan komik yang baru saja ia beli bersama Dini pada Aletta.
"Komik Conan?"
Andi mengangguk.
"Aku nggak tau apa yang kamu suka, sekedar buat hilangin kebosanan kamu di sini, nggak ada salahnya kan kamu baca komik ini!"
Aletta diam beberapa saat sambil membolak balikkan komik di tangannya, raut wajahnya tampak tak bersemangat.
"Kamu nggak suka Ta?" tanya Andi.
Aletta masih diam dan menunduk lesu.
"Yaaahh, aku bener bener nggak tau kamu sukanya apa, kalau kamu nggak suka nggak papa, aku bawa balik aja, besok aku beli apa yang kamu suka," ucap Andi yang melihat raut kekecewaan di wajah Aletta.
Aletta membawa pandangannya ke arah Andi dan tersenyum.
"Aku suka, suka banget malah!" ucap Aletta dengan senyum menghiasai wajah cantiknya.
Kini mendung di wajahnya telah sirna. Andi berharap wajah cantik di hadapannya akan selalu menampakkan senyum ceria secerah matahari di musim panas.
"Dasar, bikin kaget aja, aku pikir kamu nggak suka," balas Andi dengan mengacak acak rambut Aletta.
"Suka banget, aku udah punya beberapa serinya dan yang ini aku belum punya," jelas Aletta yang tampak bersemangat.
Tak terasa, hari sudah larut. Aletta memaksa Andi untuk segera pulang ke kos.
"Kamu yakin?" tanya Andi meyakinkan.
"Yakin, sana pulang, besok lagi aja ke sini!"
"Ya udah kalau gitu, aku balik dulu ya, kamu jaga diri baik baik, jangan nakal!"
"Siap pak Dokter!"
Andipun keluar dari ruangan Aletta dan pulang ke kosnya.
**
Pagi telah tiba, matahari telah siap memberikan kehangatannya pada dunia. Dini dan Andi segera berangkat ke kampus setelah sarapan.
"Nico belum balik ya?" tanya Andi pada Dini.
"Belum, dari kemarin masih sepi kamarnya," jawab Dini.
"Oh ya, kamu kemarin kemana waktu dari rumah sakit?"
"Mmmm..... ada deh, rahasia!"
Dini mengangguk. Ia berbohong, karena sebenarnya ia langsung pulang ke kos kemarin.
Setelah sampai di kampus, mereka segera berpencar. Andi masuk ke perpustakaan dan Dini pergi bersama Cika.
"Kok nggak sama Dimas lagi?" tanya Cika.
Dini menggeleng.
"Kalian udah jadian belum sih?" tanya Cika penasaran.
Dini hanya menjawab pertanyaan Cika dengan gelengkan kepala.
Mereka segera masuk ke ruangan mereka. Tak lama kemudian Dimas datang dan duduk di samping Dini. Dimas mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengirimkan pesan pada Dini.
Nanti aku anter ya?
Dini yang mengetahui ponselnya bergetar segera mengambil ponselnya dan membaca pesan dari Dimas. Ia tersenyum kecil lalu segera membalas pesan itu.
Anita gimana?
Nggak usah dipeduliin!
Jahat kamu!
Demi kamu (emot cium)
Dini menahan senyumnya membaca pesan dari Dimas, membuat Cika penasaran.
"Kenapa senyum senyum sendiri sih?" tanya Cika.
"Eh, enggak, nggak papa," jawab Dini dengan berusaha menyembunyikan senyumnya.
Dimas kembali mengirimkan pesan pada Dini.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (emot hati)
Belum sempat Dini membalas, Dimas kembali mengiriminya pesan.
Puisi yang ku tulis dari hati yang terdalam
Dini semakin tak bisa menahan senyum di bibirnya. Pasalnya itu adalah puisi karya penyair terkenal tanah air, Sapardi Djoko Damono.
Wahai bapak Dimas yang terhormat, jangan ngaku ngaku Anda, itu bukan puisi ciptaan Anda
Dimas terkekeh membaca balasan dari Dini. Ia merasa konyol karena tidak berhasil memberikan rayuannya pada Dini.
Cika memperhatikan hal itu. Ia melihat Dini yang sibuk dengan ponselnya dan sesekali terlihat tersenyum kecil. Di samping Dini ada Dimas yang juga sedang sibuk dengan ponselnya dan terlihat tertawa kecil.
__ADS_1
"Oke fix, kalian pacaran diem diem!" ucap Cika memberikan kesimpulan dari hasil pengamatannya.
"Siapa?" tanya Dini.
"Kamu sama Dimas, kamu bisa bohongin orang orang Din, tapi kamu nggak bisa bohong sama aku," jelas Cika.
"Aku nggak bohong apa apa sama kamu, beneran!"
"It's okay Din, nggak papa kamu nggak mau jujur, lagian Dimas juga nggak mungkin suka sama aku hahaha......."
"Kamu sok tau deh Cik, apa yang kamu pikirin itu salah!"
Cika hanya tersenyum kecil dan masih meledek Dini.
Setelah semua kegiatan kampus selesai, Dini dan Dimas berjalan ke tempat parkir. Mereka akan mengerjakan tugas di apartemen Dimas. Setelah memberi beberapa makanan ringan dan minuman, mereka segera menuju ke aparetemen Dimas.
Sesampainya di apartemen Dimas, mereka segera mengeluarkan banyak buku yang sudah mereka siapkan untuk mengerjakan tugas. Sesekali mereka bercanda dan tertawa di tengah tugas yang sedang menunggu untuk di selesaikan.
Tak lama kemudian, tamu tak diundang datang.
"Anita?" tanya Dini ketika ia mendengar bel apartemen Dimas berbunyi.
Dimas mengangguk pasti.
"Buka aja!"
"Nggak papa?"
"Nggak papa lah, dia kan tunangan tersayang kamu," jawab Dini sarkasme.
"Andini,"
"Iya nggak papa, aku di sini kan buat ngerjain tugas, biarin aja dia masuk!"
"Kamu yakin?"
"Yakin Dimas, apa kamu mau aku aja yang bukain pintu?"
"Jangan, oke aku buka pintunya!"
Dimaspun membuka pintunya dan benar saja, Anita sudah berdiri di depan pintu dengan raut wajah kesal.
"Lama banget sih bukanya!" ucap Anita lalu masuk begitu saja.
Dini yang sedang mengerjakan tugasnya tidak mempedulikan Anita yang melihatnya dengan tatapan yang mengerikan.
"Hai Nit!" sapa Dini tanpa menoleh ke arah Anita.
"Kamu ngapain di sini? kamu mau....."
"Ngerjain tugas, kamu nggak liat?"
"Kenapa harus di sini? apa nggak ada tempat lain?"
"Nanggung, bentar lagi selesai!"
Anita semakin gemas ingin menampar dan menjambak Dini saat itu juga.
"Minum Nit!" ucap Dini sambil menyodorkan satu botol minuman pada Anita, namun Anita segera menepis tangan Dini dengan kasar, membuat botol minuman itu terjatuh.
"Kamu kenapa kasar banget sih!" ucap Dimas pada Anita.
"Aku nggak suka kamu deket sama dia, aku........"
"Aku sama Andini temen satu kampus Anita, kita satu fakultas dan kita lagi ngerjain tugas bareng, apa itu salah?"
"Kenapa harus di sini? kenapa nggak......"
"Ya udah kalau gitu aku sama Andini keluar, kamu di sini aja, gimana?"
"Enggak, bukan gitu maksud ku, aku cuma......"
"Nit, sebagai tunangan yang baik harusnya kamu dukung Dimas dong, kasih semangat bukannya malah kayak gini!" ucap Dini santai.
"Tutup mulut kamu Din, cewek murahan!"
"Sebenernya diantara kita siapa sih yang perebut milik orang? siapa yang murahan? apa kamu lupa, diantara kita ada yang mau jadi pembunuh waktu di bukit, menurut kamu siapa? aku atau kamu?" balas Dini dengan menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan mata Anita.
Anita hanya diam menahan kekesalan di dadanya.
Sedangkan Dini segera mengemasi barang barangnya.
"Aku udah selesai Dim, kita lanjut besok ya, aku pulang dulu!" ucap Dini pada Dimas.
"Aku anterin!"
"Nggak usah, kamu temenin aja tunangan kamu, kasian dia jauh jauh ke sini masak kamu tinggalin LAGI," ucap Dini dengan menekankan kata "lagi".
Dini lalu segera keluar dan meninggalkan apartemen Dimas.
**
Langit sore itu tampak mendung, menggeser cahaya mentari yang belum sampai ke peraduannya. Lampu lampu jalan raya mulai menyala meski malam belum tiba. Gemerlapnya mampu menyinari sudut sudut kegelapan kota. Seorang gadis duduk di bangku mini market yang tak jauh dari apartemen yang baru saja ia datangi. Hembusan angin tipis membelai rambut panjangnya. Sesekali ia tampak menyibakkan rambutnya, menaruhnya ke belakang telinganya. Ia hanya diam di sana, tangannya memegang satu botol minuman coklat yang sudah ia minum setengahnya. Tak jarang ia tersenyum kecil ketika kedua bola matanya memperhatikan sekelilingnya. Ia menyadari dunianya tampak indah.
Ia melihat pasangan muda mudi yang tampak romantis, ia juga melihat para gadis seusianya yang sedang bercengkerama penuh canda tawa bersama teman temannya. Mereka semua tampak bahagia, seperti tak ada beban dalam hidupnya.
Tiba tiba rintik hujan mulai turun, tetes nya mulai membasahi setiap sudut kota. Tak butuh waktu lama, rintik itu semakin deras membuat Dini segera bangkit dari duduknya dengan terburu buru berniat untuk segera masuk ke mini market. Sialnya, ia malah menabrak seseorang. Beruntung laki laki itu degan sigap menopang tubuh Dini agar Dini tak terjatuh. Ia memang tidak terjatuh, namun badannya sudah basah. Jantungnya berdegup kencang, dadanya terasa sesak.
"Dini!" panggil laki laki itu terkejut ketika melihat gadis di hadapannya adalah Dini.
__ADS_1
Belum sempat Dini berucap sepatah kata pun, ia sudah pingsan. Ya, hujan selalu membuatnya lemah.