Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Harapan


__ADS_3

Di rumah kontrakan Toni, Tiara sedang sibuk mengemasi barang barangnya. Memang susah mencari tempat kos di daerah itu, jikapun ada tempat itu tak sesuai dengan apa yang Tiara inginkan, itu kenapa ia masih tinggal bersama Toni. Meski sering bertengkar, nyatanya mereka masih bisa tinggal dalam 1 atap yang sama.


Setelah selesai memasukkan semua barang barangnya ke dalam tas, Tiara segera keluar dari kamar.


"Mau ke mana?" tanya Toni.


Tiara tak menjawab, ia melewati Toni begitu saja. Ketika membuka pintu depan, angin malam menyapu wajahnya. Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, pertanda akan turun hujan.


Baru saja Tiara melangkahkan kakinya pergi, hujan deras turun tanpa permisi. Tiara segera berlari kembali ke rumah Toni.


Toni yang memperhatikan dari balik jendela hanya terkekeh melihat Tiara. Ia kemudian keluar dan membukakan pintu untuk Tiara.


"Masih hujan, besok aja pindah!" ucap Toni pada Tiara, namun Tiara masih diam.


"Masuk, di luar dingin!"


Tiara segera masuk tanpa berkata apapun. Ia masih kesal pada Toni.


Toni memasak 2 mie instan di dapur. Setelah selesai, ia mengajak Tiara untuk makan.


"Ra, keluar, aku bikin mie kuah kesukaan kamu!" ucap Toni dari depan pintu kamar.


Tak ada jawaban. Toni mengulangi ucapannya, satu kali, 2 kali hingga 3 kali, masih tidak ada jawaban dari balik kamar.


"Ra, kamu baik baik aja kan?" tanya Toni yang mulai khawatir.


"Ra, aku masuk ya!"


Toni menunggu hingga mie instan buatannya dingin namun Tiara tak kunjung keluar, bahkan tak menjawab semua pertanyaannya.


Dengan hati hati Toni membuka pintu kamarnya. Ia mendapati Tiara yang sedang menggigil di balik selimut. Ia mendekati Tiara. Keringat dingin tampak membasahi wajah manisnya. Wajahnya terlihat pucat, dia demam.


Toni segera mencari kotak obat miliknya, membuatkan Tiara teh hangat dan memintanya untuk segera meminum obat dan teh hangat darinya.


"Apa kita ke rumah sakit aja?"


Tiara menggeleng. Air matanya tiba tiba menetes. Setiap ia sakit, ia selalu merindukan ibunya. Kedua orangtuanya sudah meninggal dalam kecelakaan ketika ia masih SMP.


"Apa kepala kamu pusing? apa sesakit itu sampe' kamu nangis? atau kamu marah sama aku? aku minta maaf Ra, aku......."


"Aku kangen ibu," ucap Tiara pelan, namun bisa di dengar oleh Toni.


Toni bingung, ia tidak tau apa yang harus di lakukan pada gadis ceroboh di depannya.


"kangen ibu? aku tau rasanya seperti apa Ra," ucap Toni dalam hati.


Toni mendekat dan memeluk Tiara. Ia tidak tau kenapa ia melalukan hal itu, ia hanya mengikuti nalurinya sebagai laki laki.


Tiara mempererat pelukan Toni padanya. Ia menangis dalam pelukan Toni hingga ia tertidur.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Toni masih duduk bersandar di ranjang kamarnya dengan memeluk Tiara. Mereka berdua tertidur dengan berpelukan.


Perlahan Tiara mengerjapkan matanya. Ia baru sadar apa yang sudah dilakukannya pada Toni.


"memalukan, bisa bisanya aku peluk dia, oh Tuhan tolong hilangkan ingatannya sekarang juga," batin Tiara masih dengan posisi memeluk Toni.


Toni sedikit menggerakkan badannya yang terasa kaku, membuat Tiara kembali memejamkan matanya dan berpura-pura masih tidur.


"Ra, kamu harus bangun, kamu belum makan," ucap Toni pelan.


Tiara masih mengatupkan matanya dengan erat. Dengan sangat pelan, Toni menggeser posisi duduknya dan dengan sangat hati hati membaringkan Tiara di tempat tidurnya.


"Oke kalau kamu nggak mau bangun, besok pagi aku akan siapain makanan istimewa buat kamu," ucap Toni pelan dengan menarik rambut yang menutupi mata Tiara, meletakkannya dengan pelan di belakang telinganya.


Toni kemudian keluar dari kamar dan kembali tidur di sofa. Sekilas ia memandang 2 mangkok mie kuah yang sekarang sudah menjadi gendut dan kehilangan kuahnya. Ia tersenyum tipis lalu memejamkan matanya.


Esok paginya, Tiara sengaja bangun lebih awal untuk membuat nasi goreng. Toni yang mencium bau masakan dari dapurnya segera bangun dan mendapati Tiara tengah meletakkan 2 porsi nasi goreng di atas 2 piring.


"Kamu bisa masak?" tanya Toni meremehkan.


"Bisa dong, ayo sarapan!"


Tiara meletakkan 2 piring nasi goreng di meja. Dengan cepat Toni menyendok nasi goreng yang tampak lezat itu. Baru saja nasi goreng itu masuk ke mulutnya, ia menutup matanya rapat rapat, seperti menahan sesuatu.


"Kenapa? nggak enak ya?" tanya Tiara.


"Kamu udah pingin nikah atau emang nasi goreng kamu ketumpahan garam sih!"


Tiara mencoba nasi goreng buatannya dan langsung melepehkannya ke tong sampah.

__ADS_1


"Jangan jangan kamu nggak bisa bedain bumbu dapur ya!" ledek Toni.


"Nggak usah dimakan, sini!" balas Tiara dengan mengambil piring yang berisi nasi goreng dari tangan Toni, namun Toni mencegahnya.


"Aku laper, aku makan ini, kalau kamu nggak mau kamu bisa bikin mie!"


"Serius?"


"Hmmmm," jawab Toni dengan mengunyah nasi goreng asin buatan Tiara, benar benar asin, seperti hanya memakai garam sebagai bumbunya namun Toni menghabiskan nasi goreng itu sampai bersih.


"siap siap darah tinggi hehehe...." batin Toni terkekeh.


Setelah selesai bersiap siap, Toni dan Tiara segera berangkat ke kafe.


"Kamu yakin udah bisa kerja?" tanya Toni meyakinkan, pasalnya semalam badan Tiara sangat panas.


"Yakin seratus persen Pak Toni, saya sudah sehat sekarang, terima kasih karena sudah merawat saya dengan baik," jawab Tiara sambil membungkukkan badannya.


Toni tersenyum tipis lalu segera masuk ke mobilnya, di susul Tiara.


Tak lama setelah mereka sampai di kafe, Yoga datang dan segera menghampiri Toni.


"Kita ganti rencana Ton!" ucap Yoga pada Toni.


"Soal apa bang?"


"Soal Dini sama Dimas, om Tama lagi di luar kota jadi nggak bisa bantuin kita!"


"Lo udah ada rencana baru bang?"


"Udah, gue sama Sintia udah mutusin buat ngajak Dimas sama Dini ke vila, lo juga harus ikut Ton!"


"Sorry bang, gue nggak bisa ninggalin kafe," ucap Toni menyesal.


"Lo yakin nggak ikut?"


"Kafe lagi rame bang, sayang kalau tutup, belum ada yang gue percaya buat jaga kafe juga!"


"Hmmmm, ya udah kalau gitu, gue balik dulu ya!"


"Oke bang!"


********


"Aku nggak boleh ikut?" tanya Dika.


"Maaf Dik, kak Yoga cuma minta aku sama Andi yang ikut, nggak papa kan? cuma satu hari kok!"


"Dimana tempatnya?"


"Aku juga belum tau, tapi nanti pasti aku kabarin kamu kalau udah di sana!"


"Ya udah kalau gitu, kalau ada apa apa kasih tau aku ya, aku nggak mau kamu kenapa napa karena kamu milikku," ucap Dika dengan mengusap lembut rambut Dini.


Dini mengangguk cepat.


**********


Hari yang sudah di rencakan Yoga dan Sintia tiba. Yoga dan Sintia menjemput Dini dan Andi. Tak seperti rencana, mereka berangkat ke vila tanpa Dimas.


Tanpa mereka tau, Dimas menjemput Anita terlebih dahulu. Dengan bantuan google maps, Dimas bisa dengan mudah menemukan lokasi vila yang akan ditujunya.


Sesampainya di vila, Sintia dan Dini memilih kamar pertama untuk mereka tidur dan kamar kedua ditempati oleh Yoga dan Andi.


Mereka sampai di vila pada jam 10 siang. Mereka segera merebahkan badan di sofa panjang ruang tamu. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara mobil yang berhenti di depan vila.


Yoga dan Sintia saling tatap dan tersenyum tipis. Ya, mereka merasa rencana mereka akan berhasil sebelum mereka melihat Dimas yang datang bersama Anita.


"Sorry telat, jemput Anita dulu tadi!" ucap Dimas yang belum menyadari keberadaan Dini di sana karena Dini sedang ke kamar mandi.


"Duduk sayang, aku mau ke toilet bentar!"


Anita mengangguk dan duduk di sebelah Sintia.


"Kak Anita ngapain ikut, kita kan nggak ngajak kakak!" tanya Sintia sinis.


"Hei adik kecil, kamu lupa aku siapa? aku tunangan Dimas, jelas dong dia ajak aku!"


"Tapi kamu........"

__ADS_1


"Sssttttt, udah biarin aja!" ucap Yoga menenangkan Sintia.


Andi yang melihat kedatangan Anita hanya diam. Mereka berdua seolah tak pernah kenal sebelumnya.


Ketika Dini keluar dari kamar mandi, hampir saja ia menabrak Dimas yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.


"Andini, kamu....."


"Kamu ngapain di sini?" tanya Dini.


"Yoga yang ngajak aku ke sini, aku nggak tau kalau kamu ada di sini," jelas Dimas dengan jantung yang mulai berdegup kencang.


Dini hanya diam lalu melangkah pergi, namun Dimas menahannya.


"Andini, tolong kamu balik ke kafe ya!" ucap Dimas penuh harap.


Dini tak menjawab, ia menarik tangannya namun Dimas semakin erat mengenggam tangannya.


"Aku mohon, aku minta maaf kalau......"


"Dimas!" panggil Anita yang tiba tiba saja muncul membuat Dimas melepaskan tangan Dini dari genggamannya.


Dimas segera masuk ke kamar mandi dan Dini segera meninggalkan tempat itu.


Dengan sengaja Anita mendorong tubuh Dini hingga Dini terjerembab di lantai.


"Ups, sorry nggak sengaja!" ucap Anita tanpa rasa bersalah.


Dini bangkit dan berdiri tepat di hadapan Anita.


"Mau kamu apa sih Nit? bukannya kamu udah dapetin apa yang kamu mau?"


"Woowww, Dini yang pendiam sekarang galak ya, aku cuma mau ingetin kamu aja, Dimas udah jadi milikku sekarang, kamu itu cuma masa lalu yang udah dia lupain jadi jangan berharap kamu bisa balik lagi sama dia, kamu....."


"Aku udah bilang sama kamu kalau aku nggak peduli, aku udah punya kehidupanku sendiri sekarang!"


"Kalau kamu nggak peduli kenapa kamu selalu ikutin Dimas? kamu pikir aku bodoh? aku tau kamu masih berusaha deketin dia kan? kamu kerja di kafenya, kamu cari perhatiannya, bahkan kamu sampai ikut ke sini, nggak tau malu kamu Din, kamu itu bukan siapa siapa sekarang!"


"Aku? nggak tau malu? kamu yang lebih nggak tau malu Nit, kamu manfaatin keadaan Dimas buat kepentingan kamu sendiri, kamu maksa Dimas buat pilih kamu, apa kamu lupa gimana Dimas perlakuin kamu sebelum dia kecelakaan? apa satu tamparan Dimas nggak cukup buat kamu sadar? apa...... "


PLAAAAKKKKK


Satu tamparan keras mendarat di pipi Dini. Anita sudah kehilangan kesabarannya saat itu. Kebenaran dari ucapan Dini membuat emosinya memuncak.


Dini melayangkan tangannya bersiap untuk membalas tamparan Anita padanya, namun Andi mencegahnya. Andi menahan tangan Dini untuk tidak menampar Anita.


"Jangan kotori tangan kamu cuma buat perempuan menjijikkan kayak dia Din, kamu jauh lebih baik dari dia," ucap Andi lalu menggandeng tangan Dini untuk kembali duduk di sofa ruang tamu.


Tak terasa, air mata Anita meleleh begitu saja.


"menjijikkan? kata kata kamu menyakitkan Ndi," ucap Anita dalam hati lalu segera menghapus air matanya.


Setelah semua berkumpul, mereka mulai merencanakan kegiatan mereka selama di sana. Mereka memutuskan untuk pesta barbeque di halaman depan vila.


Sebelum gelap, mereka membagi tugas. Dini, Sintia dan Anita memilih untuk mencari kayu bakar di bukit kecil di belakang vila sedangkan Dimas, Yoga dan Andi pergi berbelanja.


Sedikit formasi yang salah memang, tapi para perempuan itu sengaja ingin melihat sunset dari atas bukit ketika mereka mencari kayu bakar.


Belum sampai 10 menit mereka berada di bukit, Sintia segera turun karena ingin buang air kecil, meninggalkan Anita dan Dini berdua di bukit.


"cuma ada kita di sini Din, langit yang mendung sepertinya sedang berpihak padaku hehehe, mungkin dengan nggak adanya kamu, Dimas akan bener bener lupain kamu selamanya," batin Anita dalam hati.


Suara gemuruh mulai terdengar, langit menjadi gelap tertutup awan. Dinipun menyudahi mengambil ranting dan segera turun.


"Awwwwww, Din, tolongin aku!" teriak Anita dengan memegangi kakinya.


"Kamu kenapa?"


"Kaki ku kram, aku nggak bisa berdiri!"


Dinipun mendekat dan membantu Anita berdiri, ketika itu lah Anita mendorong Dini, membuat Dini terjatuh ke dalam jurang, beruntung ia masih berpegangan pada ranting pohon yang menjalar ke bawah jurang.


"Selamat menikmati sunset ya Din, tapi sayang bentar lagi hujan, bye!" ucap Anita lalu pergi meninggalkan Dini.


Rintik hujan mulai turun. Dini berteriak sekuat tenaganya untuk meminta pertolongan. Jantungnya semakin cepat memompa, ia tak bisa mengendalikan kegelisahannya. Keadaannya yang hanya berpegangan pada ranting membuatnya semakin takut.


Tak butuh waktu lama rintik itu berubah menjadi guyuran hujan yang begitu deras. Tetesnya seperti duri tajam yang menyakitkan untuk Dini. Dadanya terasa sesak, hujan selalu membuatnya dipenuhi dengan kegelisahan dan ketakutan.


Jika saja bisa, ia masih ingin berteriak dengan keras saat itu. Namun tenaganya seperti sudah luruh bersama hujan yang semakin memeluknya dalam perasaan yang menyakitkan untuknya. Ia tidak pernah tau, kenapa hujan selalu membasahinya dengan tetes tetes kesakitan yang seakan merengkuh jiwanya. Hatinya terasa begitu sakit, sakit yang tak pernah ia tau dari mana datangnya.

__ADS_1


Wajahnya kini semakin pucat, bibir merah mudanya kini menjadi biru keunguan. Tenaganya mulai lolos dari tubuhnya bersamaan dengan luruhnya hujan yang semakin turun dengan deras.


Ia hanya bisa berharap akan ada seseorang yang menolongnya saat itu. Meski kemungkinan itu kecil, ia masih berharap, setidaknya sampai tangannya masih bisa memegang ranting di tangannya dengan erat, sebelum kesakitannya memaksa untuk melepaskannya.


__ADS_2