Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Rencana Makan Malam (2)


__ADS_3

Jika bisa digambarkan, entah berapa banyak luka yang tersimpan dalam hati. Jika bisa di dengar, entah seberapa keras jeritan hati yang tersakiti. Bukan hanya sekali atau dua kali, berkali kali hati terasa sakit, berkali kali jiwa terasa rapuh, berkali kali rasa ingin pergi itu hadir. Namun cinta selalu bisa menahannya, menguatkannya agar tetap bersama dan menerima segalanya.


Dini masih berada di butik bersama mama Dimas. Dini memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk makan malam nanti, sedangkan mama Dimas memilihkan pakaian untuk Sintia di barisan yang berbeda dengan Dini.


Tiba tiba Anita datang menghampiri Dini bersamaan dengan sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Pesan yang seharusnya tidak ia buka, pesan yang pada akhirnya hanya menyakiti hatinya.


"Sayang, udah selesai?" tanya mama Dimas yang tiba-tiba datang.


Dini menoleh cepat ke arah mama Dimas, menghapus semua kesakitan yang sedang ia rasakan dengan sekuat tenaga.


"Anita, kamu di sini?" tanya mama Dimas yang melihat Anita berdiri di hadapan Dini.


"Mama, Anita kangen banget sama mama," balas Anita dengan niat memeluk mama Dimas, namun mama Dimas menghindar.


"Jaga sopan santun kamu Anita, saya bukan mama kamu, jadi jangan panggil saya dengan sebutan mama lagi!"


"Tapi ma....."


"Sayang, udah milih baju?" tanya mama Dimas pada Dini.


"Belum ma, Dini masih bingung," jawab Dini berusaha menguasai keadaan dan hatinya.


"Ya udah, ayo sini!" ajak mama Dimas dengan menggandeng tangan Dini.


"Sis, aku pergi dulu, lain kali aku ke sini lagi!" ucap mama Dimas pada di pemilik butik.


"Oke Sis, thanks ya udah mampir!"


Mama Dimas hanya membulatkan jarinya sebagai jawaban lalu pergi meninggalkan butik bersama Dini.


"Din, are you okay?" tanya mama Dimas pada Dini.


Dini hanya mengangguk dan tersenyum. Hatinya masih terasa sesak.


"Apa Anita nyakitin kamu? apa dia ngomong aneh aneh sama kamu?" tanya mama Dimas yang masih belum puas dengan jawaban Dini.


"Enggak kok ma," jawab Dini singkat.


"Kamu jangan pernah percaya sama semua ucapannya, mama tau betul seburuk apa dia, mama nyesel karena udah pernah masuk perangkapnya dan malah membenci kamu, maafin mama ya sayang."


"Iya ma, mama nggak salah apa apa kok," balas Dini.


"Mama sekarang tau kalau kamu emang baik, pantesan Dimas tergila gila sama kamu, dia itu cinta banget sama kamu, mama tau itu, kamu gimana?"


Belum sempat Dini menjawab, ponsel mama Dimas berdering. Ada panggilan dari Dimas.


"Coba kamu buka tas mama sayang, tolong liatin siapa yang telfon!" ucap mama Dimas pada Dini.


"Tapi ma...."


"Udah nggak papa, buka dan ambil HP mama!"


Dengan sungkan Dini membuka tas mama Dimas dan mengambil ponsel milik mama Dimas.


"Dimas ma," ucap Dini.


"Angkat aja, kamu bilang mama lagi nyetir!"


Dini mengangguk.


"Loudspeaker sayang," ucap mama Dimas pelan.


Dini kembali mengangguk dan menerima panggilan Dimas.


"Ma, mama masih sama Andini? HP nya nggak bisa dihubungi, tolong mama tanyain dong, atau mama share loc aja posisi mama, Dimas jemput Andini sekarang ke sana, Dimas....."


"Kamu ini, baru juga ditinggal bentar udah kalang kabut kayak gini!" balas mama Dimas dengan cekikikan.


"Mama masih sama Andini?"


"Iya, ini mama lagi nyetir kamu ngomong aja sama dia!"


"Sayang, buruan pulang, jangan mau disuruh disuruh sama mama ya!" ucap Dimas membuat Dini malu dan segera mengubah mode loudspeaker menjadi normal kembali. Sedangkan mama Dimas hanya menahan tawanya mendengar ucapan Dimas.


"HP ku lowbatt, jadi aku matiin sekalian," ucap Dini berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Mau beli yang baru?"


"Enggak, kamu ini boros banget!"


"Buat kamu nggak ada kata boros sayang hehe...."


"Nanti aku hubungin kamu kalau udah nyampe' kos, bye!"


"Tapi sayang......"


Klik, sambungan terputus karena sengaja dimatikan oleh Dini.


Setelah mendapat pakaian yang cocok di tempat lain, mama Dimas mengantarkan Dini kembali ke kosnya.


"Kamu tinggal di sini?" tanya mama Dimas ketika mereka sampai di depan tempat kos Dini.


"Iya ma, mau mampir dulu?"

__ADS_1


"Lain kali ya sayang, mama masih banyak kerjaan, kamu kenapa nggak minta pindah ke apartemen aja sama Dimas?"


"Pindah ke apartemen?"


"Iya, Dimas pasti bisa bayarin apartemen kamu kok!"


"Dini suka tinggal di sini kok ma, walaupun kecil tapi kita semua udah kayak keluarga di sini," balas Dini.


"Tapi kan lebih nyaman kalau kamu tinggal di apartemen atau kamu mau tinggal satu apartemen aja sama Dimas?"


"Haah, enggak ma, enggak, Dini nyaman kok di sini," jawab Dini yang begitu terkejut dengan penawaran mama Dimas.


"Tenang aja sayang, mama bukan orangtua yang kolot, mama percaya sama kalian," ucap mama Dimas.


"Makasih ma, kalau gitu Dini turun dulu ya, terima kasih bajunya ma!"


"Sama sama sayang, mama lanjut dulu ya!"


"Hati hati di jalan ma!"


Mama Dimas mengangguk lalu menjalankan mobilnya menjauhi tempat kos Dini.


Tak lama setelah mama Dimas pergi, mobil Dimas tampak mendekati tempat kos Dini. Dini segera berjalan masuk untuk menjauhi Dimas, setidaknya untuk beberapa saat ia tidak ingin bertemu Dimas.


Setelah Dimas memarkirkan mobilnya, ia segera mengejar Dini yang tampak tergesa gesa untuk naik ke lantai dua.


"Sayang tunggu!"


Dini tak mempedulikan panggilan Dimas, ia masih berjalan cepat ke arah kamarnya, namun Dimas berhasil menarik tangannya sebelum ia membuka pintu kamarnya.


"Aku capek Dim!" ucap Dini tanpa menoleh ke arah Dimas.


"Bentar aja, aku punya sesuatu buat kamu," balas Dimas dengan masih menggenggam tangan Dini.


"Nanti aja, aku mau istirahat," ucap Dini dengan menarik tangannya dengan kasar.


"Apa mama minta kamu ngelakuin sesuatu? apa mama ngelakuin sesuatu yang buruk sama kamu?" tanya Dimas yang menyadari sikap dingin Dini.


"Enggak," jawab Dini singkat lalu membuka pintu kamarnya.


Tanpa aba aba, Dimas segera masuk mengikuti Dini sebelum Dini kembali menutup pintu.


"Kamu kenapa masuk?" tanya Dini yang tak suka dengan kehadiran Dimas.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas dengan memegang kedua bahu Dini di hadapannya.


"Nggak papa," jawab Dini tanpa menoleh ke arah Dimas.


"Aku nggak papa Dimas, aku cuma capek, aku mau istirahat!"


"Liat aku dan jawab pertanyaan ku!" ucap Dimas dengan menarik dagu Dini agar melihat ke arahnya.


"Kamu kenapa? cerita sama aku," ucap Dimas dengan menatap ke dalam mata Dini.


Dini tak menjawab, ia lalu memeluk Dimas. Di semua hamparan kebahagiaan yang Dimas berikan padanya, ada setitik rasa sakit yang tumbuh di hatinya.


"Sayang, kamu kenapa? ada apa? cerita sama aku biar aku tau, jangan kamu simpan sendiri, aku nggak mau ada salah paham lagi," ucap Dimas dengan suara yang begitu lembut.


Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas, ia duduk di tepi ranjangnya.


"Dimas, kenapa kamu cinta sama aku?" tanya Dini dengan menundukkan pandangannya. Ia masih menghindari tatapan mata Dimas yang mungkin dengan mudah meluluhkan hatinya.


Dimas lalu berjongkok di depan Dini dan menggenggam kedua tangan Dini.


"Rasa di hati ku tulus dan tanpa alasan Andini, aku sayang dan cinta sama kamu tanpa aku tau kenapa, satu yang harus kamu tau, bukan aku yang memilih kamu, tapi hatiku dan aku yakin takdir yang membawa hatiku buat memilih kamu," jawab Dimas dengan penuh keseriusan.


"Kenapa kamu tanyain itu sayang? apa kamu ragu sama aku?"


Dini menggeleng.


"Sejauh apa hubungan kamu sama Anita?" tanya Dini yang membuat Dimas sedikit terkejut karena pertanyaan Dini.


"Hubungan apa yang kamu maksud sayang? aku nggak ada hubungan apa apa sama dia selain paksaan dan perjanjian yang pernah aku ceritain sama kamu!"


"Tapi kalian sering sama sama sekarang, Anita cantik Dimas, cowok manapun akan suka dan mudah buat jatuh cinta sama dia!"


"Tapi aku bukan termasuk dalam kategori cowok itu," balas Dimas.


"Kamu nggak normal!"


"Emang, di mataku cuma kamu yang patut untuk dicintai dan diperjuangkan!"


Dini lalu melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dimas dan mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia menunjukkan pada Dimas apa yang ia lihat dari nomor yang tak dikenalnya.


"Kamu dapet itu dari mana?" tanya Dimas setelah ia melihat apa yang membuat Dini bersikap dingin padanya.


Dini hanya menggeleng.


"Sayang, Anita baru pulang dari rumah sakit, aku cuma peluk dia karena aku kasian sama dia, dia nggak punya siapa siapa di sini dan aku gendong dia karena dia ketiduran, aku sengaja nggak bangunin dia biar aku bisa cepet keluar dari apartemennya," jelas Dimas.


"kasian? ya, itu alasan kamu dari dulu, kamu masih nggak sadar kalau sikap kamu itu yang bikin dia semakin nggak mau jauh dari kamu, dia tau kelemahan kamu tanpa kamu sadari," ucap Dini dalam hati.


"Maafin aku karena masih bikin kamu sedih," ucap Dimas dengan kembali menggengam kedua tangan Dini.

__ADS_1


Dini lalu tersenyum. Berusaha menghilangkan semua rasa sakit dalam hatinya. Ia tau Dimas mencintainya dan iapun juga sangat mencintai laki laki di hadapannya itu. Ia hanya perlu percaya pada Dimas dan bertahan dengan semua gelombang yang menerpa hubungan mereka.


"Kamu bilang kamu punya sesuatu buat aku, mana?" tanya Dini mengalihkan pembicaraan.


"Bentar," ucap Dimas lalu mengambil sebuah paper bag dengan logo merk ternama.


Dimas lalu memberikannya pada Dini dan segera di buka oleh Dini.


"Tas? buat aku?" tanya Dini memastikan.


Dimas mengangguk dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Kamu suka?"


"Suka banget, tapi ini pasti mahal ya? kamu nggak perlu beliin aku tas semahal ini Dimas, kamu tau uang yang kamu pake' buat beli tas ini bisa aku pake' buat beli 500 tas lain di pasar, aku....."


Cuuuuppp


Satu kecupan mendarat di bibir Dini dengan tiba tiba membuat Dini menghentikan ucapannya.


"Buat aku yang penting kamu suka, kalau kamu mau aku bisa beliin 500 tas kayak gini lagi buat kamu, tapi aku harus jual semua kafe dulu haha....."


Dini lalu memukul lengan Dimas kemudian memeluknya.


"Makasih ya," ucap Dini dalam pelukan Dimas.


"Apa aja akan aku kasih buat kamu sayang," balas Dimas.


"Bukan cuma karena tas ini, tapi juga karena kesetiaan kamu sama aku!"


"Kamu cukup percaya sama aku, aku nggak akan pernah berhenti berjuang buat kita, buat masa depan kita," balas Dimas lalu mencium kening Dini.


"Sekarang, kamu istirahat, jam 7 nanti aku jemput kamu, oke?"


Dini mengangguk. Dimas lalu kembali memeluk Dini dan mencium keningnya sebelum ia pergi.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dini keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian yang mama Dimas belikan untuknya. Dengan tas bermerk mahal pemberian Dimas, ia turun dari lantai dua dan menghampiri Andi yang sedang belajar di teras seorang diri.


"Tumben cantik, mau kemana?" tanya Andi yang sengaja menggoda Dini.


Sebelum Dini datang, dari jauh ia melihat Dini yang begitu cantik dengan balutan baju barunya, tas mahal dan high heels yang jarang dipakainya serta polesan make up tipis yang membuat wajahnya semakin tampak berseri. Untuk beberapa saat Andi tertegun dengan pemandangan indah di hadapannya, bukan karena tas dan pakaian mahal, tapi karena kecantikan yang semakin terpancar dari raut wajah yang tampak bahagia itu berhasil membuat jantungnya berdebar, membangkitkan gejolak rasa yang semakin tertanam kuat di hatinya.


Andi segera mengalihkan pandangannya pada laptop di hadapannya begitu ia sadar jika Dini semakin mendekat. Ia harus bisa menjaga hatinya baik baik, ia harus bisa menjaga pandangannya agar tak semakin jauh memikirkan sahabat yang dicintainya itu.


"Emang biasanya nggak cantik?" balas Dini balik bertanya.


"Mmmm, cantik, kalau diliat dari puncak gunung hehe....."


"Iiiihhh nyebelin banget!" balas Dini dengan memukul Andi menggunakan tasnya, namun Andi segera menahan tangan Dini dan menariknya agar duduk.


"Kamu cantik, selalu cantik bahkan tanpa pakaian dan tas mahal ini," ucap Andi dengan senyum manisnya.


Tiiiiinn Tiiiiinn Tiiiiinn


Klakson mobil membuat Andi segera melepaskan genggaman tangannya pada Dini. Mereka secara kompak menoleh ke arah sumber suara.


"Udah di jemput tuh," ucap Andi.


"Biasanya dia turun," balas Dini.


"Udah sana pergi, jangan bikin dia nunggu!"


"Biar dia turun dulu lah, masak dia nggak mau nyapa kamu!"


"Emang keras kepala banget ya kamu ini!"


"Biarin," balas Dini sambil melambaikan tangannya ke arah mobil Dimas.


Tanpa Dini tau, Dimas sengaja tidak turun dari mobilnya karena ia masih cemburu melihat kedekatan Dini dan Andi. Tapi melihat Dini yang malah melambai ke arahnya, ia pun keluar dari mobilnya lalu menghampiri Dini dan Andi.


"Gimana luka lo?" tanya Dimas pada Andi.


"Udah mendingan, lo nggak bosen tanya itu mulu?"


"Enggak, rencananya kalau udah sembuh mau gue tambahin lagi haha....."


"Tuh Din, pacar kamu jahat banget emang!"


"Udah udah, aku berangkat dulu ya Ndi!"


Andi mengangguk dengan senyum manisnya.


"Jaga tuh senyum, jangan bikin orang baper!" ucap Dimas pada Andi ketika Dini sudah berjalan terlebih dahulu.


"Kenapa? lo baper sama gue?"


"Dih, najis!" balas Dimas lalu kembali memukul pelan pipi Andi yang masih tampak lebam.


"Aaarrrggghhhh, sialan lo Dim!"


"Hahaha.... sorry nggak sengaja," balas Dimas lalu berlari pergi meninggalkan Andi.

__ADS_1


__ADS_2