Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Jahat?


__ADS_3

Langit malam masih ditemani temaram bulan yang hampir tak terlihat. Di bawah remang cahaya, dua pasang manusia tengah bercumbu mesra dengan segala macam rasa dalam hati mereka. Beberapa waktu berlalu seperti hanya milik mereka berdua. Tak peduli pada langit yang semakin gelap, hati mereka bergemuruh menggemakan nada nada asmara. Sesaat, waktu seperti berhenti. Memberikan jeda pada mereka yang sudah lama terkekang oleh hasrat cinta yang menggelora. Tanpa sadar mereka saling menggenggam. Membiarkan rasa indah menjalari hati yang terluka.


Jeda waktu telah usai, Andi melepaskan Aletta dari genggaman tangannya. Ia sedikit meringis menahan luka dan bekas pukulan Rizki beberapa waktu yang lalu.


Aletta mengusap bibirnya, ada sedikit darah yang menempel di jarinya.


"Sakit ya?" tanya Aletta pada Andi. Ia berusaha setengah mati untuk bisa mengendalikan hatinya saat itu. Bagaimanapun juga ia belum pernah dicium oleh lelaki lain selain Rizki.


"Dikit, hehehe....." jawab Andi. Ia juga berusaha untuk bisa menguasai keadaan. Ia berharap Aletta tidak marah atas apa yang baru saja ia lakukan.


"Ayo aku obatin," ucap Aletta dengan menarik tangan Andi, namun Andi masih diam di tempatnya dan menarik Aletta untuk mendekat.


Ia kembali menatap Aletta, membuat Aletta semakin tak bisa mengendalikan degupan indah dalam hatinya. Andi mengusap bibir Aletta, menghapus bekas darah dari bibirnya di bibir Aletta.


"Maaf Ta, aku nggak bermaksud kurang ajar sama kamu, aku......."


"Iya, aku ngerti," ucap Aletta memotong ucapan Andi, lalu mengajaknya untuk segera kembali ke kos.


"Kalau anak anak nanya kamu kenapa, kamu jawab apa Ndi?" tanya Aletta pada Andi. Gara gara berkelahi dengan Rizki, bibir Andi berdarah dan ada beberapa memar di wajahnya.


"Abis jatuh?"


"Mana mungkin kayak gini kalau abis jatuh!"


"Ya aku bilang apa adanya aja, aku liat kamu digodain cowok, jadi aku berantem sama cowok itu."


Aletta mengangguk anggukkan kepalanya.


"Eh, tapi aku nggak punya obat di kamar, aku ke apotik dulu ya!"


"Nggak usah, aku ada kok!"


"Kalau gitu aku obatin di kamar kamu aja ya!"


Andi mengangguk.


Sesampainya di tempat kos, mereka segera masuk ke kamar Andi. Aletta duduk di lantai, sedangkan Andi mencari kotak P3K nya lalu menyerahkannya pada Aletta.


"Waahh, lengkap banget, udah kayak apotik aja!" ucap Aletta ketika membuka kotak yang diberikan Andi.


Andi lalu mengambil kapas untuk membersihkan lukanya, namun Aletta segera merebutnya dan membersihkan luka di bibir Andi.


"Maaf ya Ndi, gara gara bantuin aku kamu jadi kayak gini," ucap Aletta di sela sela mengobati luka Andi.


"Dia siapa Ta?"


Aletta hanya tersenyum, tak menjawab apapun.


"Mantan kamu?" tanya Andi lagi.


Aletta mengangguk.


"Yang Nico bilang udah nikah itu?"


Aletta mengangguk lagi.


"Kamu kenal sama istrinya?"


"Iya, dia kakakku," jawab Aletta dengan menundukkan kepalanya. Hatinya kembali sakit. Sekeras apapun ia berusaha melupakan, sakit hati dari cinta pertamanya masih nyata terasa dalam hatinya.


"Kakak? dia nikah sama kakak kamu?"


Aletta mengangguk. Ia menatap langit langit kamar Andi. Berusaha tersenyum untuk menguatkan hatinya.


Andi mendekat dan memeluk Aletta.


"Lupain dia Ta, Tuhan pasti udah siapin seseorang yang lebih baik dari dia buat jadi masa depan kamu," ucap Andi, membuat tangis Aletta kembali pecah.


Andi ingat, Aletta pernah seperti ini sebelumnya, yaitu ketika di rumah sakit.


Andi melepaskan Aletta dari pelukannya dan menatap Aletta, namun Aletta menghindari tatapan mata Andi, membuat Andi memaksa Aletta untuk menatapnya.


"Jawab jujur Ta, apa yang bikin kamu nangis waktu di rumah sakit cowok itu?" tanya Andi.


Aletta mengangguk lemah.


Andi lalu kembali memeluk Aletta. Ia mengerti kenapa Aletta bisa sesedih itu. Mantan kekasihnya yang sekarang menjadi suami dari kakaknya adalah cerita cinta yang sangat menyakitkan baginya.


"apa dia tau masa lalu kamu Al? apa dia tau apa aja yang udah kamu lakuin sama aku? apa dia tau kalau kamu udah........"


Pertanyaan itu menggema dalam pikiran Andi.


"masa lalu apa? apa aja yang udah mereka lakuin dan kenapa Aletta bisa semarah itu sampe' nampar dia, apa masa lalu kamu benar benar buruk Ta? seburuk apa?"


Aletta melepaskan pelukan Andi darinya.


"Aku ke kamar dulu ya," ucap Aletta pada Andi.


"Kamu baik baik aja Ta?"


"Iya," jawab Aletta dengan tersenyum. Senyum yang menyimpan luka yang sangat dalam.


"Kamu bisa cerita apa aja sama aku Ta, aku selalu siap dengerin cerita kamu," ucap Andi.


"Makasih Ndi!"


Aletta lalu berjalan ke arah pintu kamar Andi, namun Andi segera menarik tangannya dan membawa Aletta kembali ke pelukannya. Mereka sangat dekat, Andi menunduk memandang wajah Aletta, sedangkan Aletta mendongakkan kepalanya menatap Andi. Mereka diam untuk beberapa saat.


"Kenapa kamu pejamin mata?" tanya Andi dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar.


"Mmmm... ma.... maksud kamu?" tanya Aletta seolah olah tak mengerti.


"Lupain aja, maaf soal tadi."


"Soal apa?"

__ADS_1


"Karena udah kotorin bibir kamu," jawab Andi dengan berbisik di telinga Aletta.


Aletta merasa jantungnya ingin lepas saat itu juga karena terlalu cepat berdegup. Ia segera melepaskan dirinya dari pelukan Andi dan segera keluar dari kamar Andi. Pipinya pasti sudah merah saat itu juga.


Andi hanya tersenyum kecil melihat Aletta yang tampak salah tingkah.


**


Mentari mulai beranjak dari rumahnya. Perlahan berdiri tegak di singgasananya dengan cahaya emasnya yang menyilaukan.


Dini keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Ia tidak melihat Andi, hanya melihat Nico yang sedang memakai sepatu di depan kamarnya.


"Andi belum bangun Nic?" tanya Dini pada Nico.


"Udah kayaknya, ketuk aja pintunya!"


Belum sampai Dini mengetuk pintu, Andi sudah keluar. Dini yang melihat luka dan lebam di wajah Andipun segera menanyakannya pada Andi.


"Kamu kenapa Ndi? abis berantem?" tanya Dini.


"Nggak papa kok, cuma......"


"Waaahh, itu sih kayak abis berantem!" sahut Nico yang juga memperhatikan wajah Andi.


"Cuma berantem kecil kok, yang penting masih cakep kan?"


"Udah diobatin belum?" tanya Dini.


"Udah kok, semalem diobatin......."


"Pagi guys, yookk berangkat!" ucap Aletta yang baru saja datang.


Mereka semua pun berangkat.


"Lo berantem sama siapa Ndi?" tanya Nico penasaran.


"Gue juga nggak tau, ada cowok yang gangguin Aletta semalem, kebetulan gue lewat jadi ya gitu deh!"


"Gangguin Aletta? siapa Al?" tanya Nico pada Aletta


"Cowok iseng," jawab Aletta asal.


"Lo pasti lewat gang sempit itu ya?"


Aletta mengangguk.


"Kan gue udah bilang Al, jangan lewat situ, bahaya!"


"Gue lebih suka lewat situ karena cepet Nic!"


"Kalau udah kejadian kayak gitu, lo masih mau lewat sana?"


"Mmmm, mungkin hehehe....."


"Dasar, susah banget dibilangin!" gerutu Nico kesal.


"Kamu kenapa nggak lewat jalan depan aja Al? bener kata Nico, bahaya lewat situ!" ucap Dini.


"Kejauhan Din kalau ke mini market lewat jalan depan, lewat situ lebih cepet, biasanya juga aman aman aja, emang lagi apes aja semalem, untung aja ada Andi," jelas Aletta.


"Lain kali kamu bisa ajak kalau mau ke mini market, ajak aku biar ada yang nemenin jalan, tapi lewat jalan depan ya!"


"Gue takut ganggu lo Din!"


"Santai aja Al, kalau aku bisa pasti aku anterin, daripada kamu bahayain diri sendiri gara gara lewat gang sempit itu!"


"Oke deh, lain kali gue bakalan ngajak lo!"


**


Sesampainya di kampus, mereka semua berpencar.


Dini berjalan seorang diri, Cika masih marah padanya. Tanpa Dini tau, Cika dan Andi sedang bertemu di kantin fakultas bisnis.


"Pasti soal Dini kan?" tanya Cika.


"Lo salah paham Cik, biar gue jelasin semuanya, setelah gue jelasin terserah lo masih mau temenan sama Dini atau enggak, gue nggak maksa lo!"


"Oke, jelasin aja!"


"Gue, Dini, Dimas sama Anita, kita satu SMA, bisa dibilang kita temen deket, kita juga sering jalan berempat," ucap Andi memulai ceritanya.


"Anita tunangannya Dimas?" tanya Cika.


"Iya, waktu SMA, Dini sama Dimas deket banget, bisa dibilang mereka pacaran, tapi Dini nggak mau pacaran karena mau fokus sama sekolahnya, jadi mereka berdua deket tanpa ada status pacaran, tapi gue tau kalau mereka saling menyayangi dan beberapa hari sebelum ujian nasional, Anita bilang kalau selama ini dia iri sama Dini, dia sengaja deketin gue biar gue jauh sama Dini, untungnya gue nggak segampang itu dibodohi, Anita bilang kalau dia suka sama Dimas, tapi Dimas nggak suka sama dia, Dimas cuma suka sama Dini dan......"


"Dini tau soal itu?"


"Iya, Dini baru tau hari itu dan hari itu juga Dimas kecelakaan waktu pulang sekolah, sejak saat itu hubungan Anita sama Dini jadi renggang, waktu Dimas ketemu Dini lagi ternyata Dimas amnesia, nggak tau apa yang udah Anita ceritain ke Dimas sampe' Dimas mau tunangan sama Anita, tapi yang namanya hati nggak bisa bohong kan, Dimas tau hatinya cuma buat Dini walaupun dia nggak bisa inget apa apa tentang Dini," jelas Andi panjang.


"Iiissshh, jahat banget si Anita itu, kenapa Dini nggak cerita dari awal, tau gitu aku....."


"Dia udah mau cerita tapi lo malah marah!"


"Iya sih, duuuhh, jadi ngerasa bersalah!"


"Gue yakin lo temen yang baik buat Dini, itu kenapa gue bisa ceritain semua ini sama lo!"


"Berarti Dini sama Dimas saling suka?"


"Lebih dari itu!"


"Sedih banget jalan ceritanya, kalau Dimas udah nggak amnesia pasti dia ninggalin Anita kan?"


"Kalau itu gue nggak tau," jawab Andi.

__ADS_1


"Harusnya iya dong, kan dia cintanya sama Dini, kenapa tunangan sama Anita kalau emang ingatannya udah balik?"


"Lo bisa tanyain Dimas langsung, gue duluan ya!" ucap Andi lalu melangkah meninggalkan Cika.


Sedangkan Cika, ia segera mencari Dini untuk meminta maaf. Ia tidak menyangka jika jalan cinta Dini sesedih itu.


"DIINIIII!" panggil Cika ketika ia melihat Dini dari jauh.


Ia segera berlari dan memeluk Dini.


"Dini, maafin aku ya!"


"Maaf buat apa Cik? kamu udah nggak marah sama aku?"


Cika menggeleng.


"Aku akan jelasin semuanya sama kamu biar kamu nggak salah paham," ucap Dini.


"Andi udah jelasin semuanya, maaf karena aku nggak mau dengerin kamu kemarin, maaf kalau kata kata ku nyakitin kamu, maaf ya Din,"


"Aku udah lupain kok, aku seneng banget kalau kamu udah nggak marah lagi sama aku!"


"Enggak Din, aku akan dengerin cerita kamu nanti, kamu harus cerita semuanya ya?"


"Kan udah dijelasin Andi!"


"Tetep aja, kamu harus cerita juga dong!"


"Oke oke, nanti selesai kelas!"


"Gitu dong, sini peluk lagi!"


Mereka berpelukan lagi. Tak lama kemudian, Dimas datang.


"Ikutan dong!" ucap Dimas membuat Cika melepaskan Dini dari pelukannya.


"Aku duluan ya Din!" ucap Cika lalu berlari pergi tanpa menunggu jawaban Dini.


"Kenapa temen kamu?" tanya Dimas.


"Nggak tau," jawab Dini.


"Nanti ikut aku ya?"


"Kemana?"


"Ada deh, ikut aja!"


"Kalau nggak mau?"


"Aku paksa!"


"Aku marah!"


"Aku cium!"


"Iiiihhh, nyebelin!" balas Dini dengan memukul lengan Dimas.


"Tapi suka kan?" tanya Dimas dengan mengedipkan sebelah matanya.


Dini hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Dimas, aku mau tanya sesuatu sama kamu!"


"Tanya apa sayang?"


"Jangan panggil gitu!"


"Kenapa?"


"Kamu nggak inget udah punya tunangan?"


"Ayo lah Andini, jangan bahas dia kalau lagi sama aku."


"Kenapa?"


"Harus berapa kali aku bilang, aku cuma sayang sama kamu, hubungan aku sama dia itu kesalahan,"


"Kesalahan apa yang udah kamu perbuat Dimas?"


"Aaaa..... aku..... aku....."


"Dimas, apa kamu nggak mau tau tentang masa lalu kamu? apa kamu mau terus terusan hidup dalam ingatan baru kamu? apa kamu nggak mau sembuh dari amnesia kamu?"


Dimas diam beberapa saat. Ia tidak menyangka jika Dini akan menanyakan hal itu padanya.


"Atau sebenernya kamu udah ingat semua?" lanjut Dini yang menambah keterkejutan Dimas.


"Maksud kamu apa Andini? kenapa kamu tiba tiba tanya hal hal aneh kayak gitu?"


Dini tak menjawab, ia hanya menatap tajam ke arah Dimas, membuat Dimas semakin gugup.


"Aku..... aku udah bahagia sama kehidupan ku sekarang, buat aku masa lalu biar jadi masa lalu, yang penting aku harus bisa menjalani kehidupan ku yang sekarang dengan sebaik mungkin demi masa depan ku, juga masa depan kita," jawab Dimas dengan tersenyum ke arah Dini.


"Gimana kalau di masa lalu ada seseorang yang sangat kamu cinta, seseorang yang sudah kamu janjikan masa depan!"


"Mmmmm.... dia tetep bagian dari masa lalu, masa depanku sekarang ada di sini sama aku, aku nggak mau yang lain lagi," ucap Dimas dengan menggengam tangan Dini.


"Tapi kamu udah pilih Anita buat jadi masa depan kamu, kamu udah tunangan sama dia dan sekarang kamu bilang aku masa depan kamu? kamu mau mainin hati aku Dimas?"


"Enggak, aku sama sekali nggak pernah ada niat buat mainin kamu Andini, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku harus gimana biar kamu bisa percaya sama aku?"


"Kalau yang kamu bilang itu bener, kenapa kamu nggak bisa ninggalin Anita? kenapa kamu masih aja nurut sama dia?"


"Kamu mau aku ninggalin Anita?"

__ADS_1


Dini diam, pertanyaan Dimas membuatnya merasa menjadi perempuan yang sangat jahat. Ia merasa jika perkataan Anita benar, ia adalah perebut tunangan orang. Mata Dini terasa panas, kedua sudut matanya sudah penuh dengan air mata yang siap untuk tumpah. Ia tidak ingin menjadi orang jahat, tapi ia juga tidak ingin selamanya tersakiti dengan harapan yang Dimas berikan padanya.


__ADS_2