Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Masih Malam yang Sama


__ADS_3

Langit malam itu masih belum menghentikan rintiknya. Tetesnya seolah enggan meninggalkan bumi. Membuat bulan dan bintang terpaksa bersembunyi entah sampai kapan.


Di sudut yang gelap di jajaran pertokoan yang gelap dan sepi. Seorang gadis memeluk erat lelaki yang telah memberikan hatinya harapan. Harapan untuk memulai lagi cerita cinta yang baru. Harapan untuk menyemikan kembali bunga bunga yang layu. Harapan untuk merengkuh indahnya cinta yang sudah lama hilang dari hidupnya.


"Gue harap, ini terkahir kalinya gue liat lo samperin Aletta," ucap Andi pada Rizki.


"Lo siapa ngatur ngatur gue, hah?"


"Gue nggak mau ngatur lo, nggak penting buat gue, gue cuma nggak mau lo ganggu Aletta!"


Rizki lalu mengambil kursi di dekatnya, bersiap untuk menyerang Andi.


"Jangan banyak ngomong lo, maju lo!" ucap Rizki menantang.


Andi melepaskan Aletta dari pelukannya dan memintanya untuk menghindar.


"Enggak Ndi, jangan," ucap Aletta pelan.


"Nggak papa Ta, kamu diem di sini, oke?"


"Tapi Ndi......"


Cuupppp!


Satu kecupan dari Andi mendarat di kening Aletta.


"Aku pasti baik baik aja," ucap Andi lalu menghampiri Rizki yang sudah siap dengan kursi di tangannya.


"Asal lo tau ya, gue itu cinta pertamanya Aletta, dia nggak akan lupain gue gitu aja!" ucap Rizki.


"Itu nggak penting, yang penting siapa yang akan jadi pilihan terakhirnya," balas Andi.


Rizki lalu melemparkan kursi yang dibawanya ke arah Andi, tepat ketika Andi menghindar, Rizki segera menyerang Andi dengan pukulan pukulannya. Beberapa saat Rizki bisa melampiaskan semua kekesalannya pada Andi, membuat Andi terjatuh dan menghantam tumpukan beton di dekatnya. Andi berusaha bangkit, dengan kepala yang mulai berdenyut dan keningnya yang berdarah, ia masih mampu berdiri tegak. Rizki yang bersiap menghajarnya segera ditangkis oleh Andi.


Beberapa saat mereka berkelahi hingga akhirnya Andi berhasil melumpuhkan pergerakan Rizki. Andi membuat Rizki jatuh tersungkur dan memutar tangan Rizki ke belakang.


"Lo pasti nyesel karena udah belain Aletta sekarang!" ucap Rizki dengan menahan sakit.


Andi semakin mencengkeram tangan Rizki membuat Rizki berteriak kesakitan.


"Aletta pasti nyesel karena udah pilih lo buat jadi cinta pertamanya!" balas Andi lalu berdiri meninggalkan Rizki.


"Ayo pergi," ajak Andi pada Aletta.


Aletta menurut. Andi menggandeng tangan Aletta dan meninggalkan tempat itu. Namun Rizki masih belum menyerah, ia masih berniat untuk membuat Andi menjauh dari Aletta.


"Gue udah tidur sama dia," ucap Rizki dengan berteriak.


Andi menghentikan langkahnya. Ia menatap gadis dalam genggamannya. Aletta hanya diam, ia benar benar merasa jatuh sekarang, jatuh sejatuh jatuhnya dalam kubangan lumpur yang dalam.


Rizki yang melihat hal itu perlahan melangkah mendekati Andi dan Aletta.


"Kasih tau dia Al, bilang sama dia apa aja yang udah kita lakuin dulu, aku udah milikin kamu Al, nggak cuma hati kamu, tapi juga tubuh kamu hahaha......"


Aletta masih diam, air matanya perlahan tumpah tanpa permisi. Ia merasa dirinya begitu menjijikkan. Bahkan rasa malu pun tak cukup untuk menggambarkan keadaannya saat itu. Ia tidak menyalahkan Rizki, dirinya sendirilah yang patut untuk di salahkan. Dirinya yang tak bisa menjaga kehormatannya sebagai perempuan. Dirinya yang terlalu mengagungkan cinta di atas segalanya. Dirinya yang telah buta oleh kebahagiaan palsu yang Rizki berikan padanya.


"Aku rindu Al, aku rindu malam malam kita bersama, aku rindu wangi tubuh kamu yang tidur tanpa sehelai benangpun di sampingku, aku rindu kamu Al, Asyila nggak bisa kayak kamu, dia nggak sepandai kamu, cuma kamu yang bisa puasin aku Al, cuma kamu," ucap Rizki yang membuat Aletta semakin menangis dalam penyelasannya.


Perlahan, Aletta menarik tangannya dari genggaman Andi. Ia merasa tak pantas untuk merasakan genggaman tangan itu. Dirinya yang begitu hina, tak seharusnya mengharapkan cinta dari laki laki manapun, terlebih Andi.


Andi menahan tangan Aletta, ia semakin erat menggenggamnya. Sejujurnya ia tak pernah menyangka jika hubungan Aletta dengan cinta pertamanya sudah sejauh itu. Namun tak pernah sedikitpun ia merendahkan Aletta. Ia mengerti bagaiamana sakit dan kecewa yang Aletta rasakan.


"Kamu udah nggak punya masa depan selain sama aku Al, jadi ayo kita mulai lagi dari awal hubungan kita yang indah," ucap Rizki.

__ADS_1


Andi yang sudah sangat geram dengan Rizki segera melepaskan tangan Aletta dari genggamannya. Ia lalu menghampiri Rizki dan bersiap untuk menyerangnya lagi. Namun Aletta menahannya, ia memeluk Andi dari belakang berharap Andi akan segera mengajaknya pergi dari sana.


"Jangan Ndi!"


"Dia nggak bisa dibiarin Ta," balas Andi yang hanya bisa menatap Rizki dengan pandangan membunuh.


"Aku mau pergi dari sini, aku mohon," ucap Aletta dengan suara serak, menahan tangis.


Andi menyerah. Ia mengalah untuk saat itu, hanya saat itu. Ia lalu berbalik dan membalas pelukan Aletta. Ia mengusap lembut rambut Aletta, berharap pelukannya bisa menenangkan Aletta.


Andi merenggangkan pelukannya, namun tangan kirinya masih melingkar di pinggang Aletta, sedangkan tangan kanannya mengusap air mata Aletta.


"Air mata kamu terlalu berharga buat cowok brengs3k kayak dia," ucap Andi lalu mencium kening Aletta.


Aletta tak bergeming. Jika saja bisa, ia tak akan pernah lagi menumpahkan air mata yang sudah sejak lama ia pendam. Ia bahkan sudah berdamai dengan rasa sakit dan kecewa dalam dirinya. Namun, kehadiran Rizki seperti kembali mengoyak luka yang sudah ia tutup rapat rapat di dalam hati yang tak akan pernah terjangkau oleh siapapun. Tapi nyatanya, ia salah. Kepingan cinta yang dulu ada dan telah pecah, kembali menyatu dengan hadirnya Rizki dalam kehidupannya yang baru. Secercah kebahagiaan datang menyapu bak angin lalu yang sekedar lewat. Semerbak wangi cinta dalam hatinya masih tersisa untuk cinta pertamanya yang kembali hadir dari jurang pengkhianatan.


Sekarang, semuanya menjadi lebih jelas dalam pandangan mata Aletta. Hatinya seperti lolos meninggalkan luka yang semakin sakit ia rasakan. Ia kembali menjadi gadis yang lemah oleh cinta. Keteguhannya luntur seiring kembalinya masa lalu yang sudah ia kubur dalam dalam.


Andi lalu menggandeng tangan Aletta, membawa Aletta meninggalkan sudut kota yang gelap, membiarkan semua kesakitan dan kekecewaannya tertinggal di sana. Mereka tak mempedulikan Rizki yang masih terus meracau tentang masa lalunya bersama Aletta. Bagi Andi, bagaimanapun masa lalu Aletta, dia tetap gadis barbar yang selalu bisa membuatnya tertawa bahagia. Dia gadis yang kuat dan tak mudah rapuh.


Sekarang Andi tau, segelap apa masa lalu yang menghantui Aletta. Ia hanya bisa berharap jika Aletta mampu bangkit dan benar benar melupakan semuanya. Tentang semua yang telah menyakiti hatinya, tentang semua kebahagiaan semu yang berakhir luka.


Andi membawa Aletta duduk di taman yang tak jauh dari rumah sakit. Ia berjongkok di depan Aletta. Gadis barbar yang selalu ceria itu kini seperti bunga yang sedang layu. Aletta hanya menunduk, ia malu. Masa lalu yang disimpannya kini telah diketahui Andi. Entah kenapa itu membuat air matanya masih saja menetes tanpa henti. Ia ingin pergi saat itu juga. Pergi jauh dari laki laki yang memberinya harapan dalam hatinya. Ia tidak ingin terluka lebih dalam. Baginya, dirinya begitu hina hingga tak pantas untuk mencintai, apa lagi dicintai. Ia pupuskan harapan dalam hatinya. Menyerah pada apa yang tak akan pernah bisa ia jangkau.


"Aletta, lupain dia, jangan ada air mata yang menetes cuma karena dia," ucap Andi dengan menggengam kedua tangan Aletta.


Aletta masih diam, ia bahkan tidak berani untuk menatap Andi. Andi lalu duduk di samping Aletta dan memeluknya.


"Ta, kepalaku pusing banget," ucap Andi, membuat Aletta segera melepaskan diri dari pelukan Andi.


"Kita ke rumah sakit ya," ajak Aletta yang langsung berdiri menggandeng tangan Andi, namun Andi masih duduk, ia tersenyum dan menarik tangan Aletta agar kembali duduk.


"Aku bohong," ucap Andi. Ia sengaja berbohong agar Aletta mengangkat wajahnya dan menatapnya.


Andi mengusap darah di keningnya, perih, tapi ia biarkan begitu saja.


"Cuma luka kecil," ucap Andi.


"Aku cuma mau kamu liat aku Ta dan lupain dia," lanjut Andi.


Aletta kembali menunduk. Andi mendekat dan memeluk Aletta lagi.


"Aku anter kamu pulang," ucap Andi lalu menggandeng tangan Aletta untuk diajak kembali ke kos.


**


Di rumah sakit.


Dini masih menunggu Aletta dan Andi. Tiba tiba pintu ruangannya terbuka. Dini segera membawa pandangannya ke arah pintu mengira Andi atau Aletta yang datang. Namun ternyata, ia salah.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dini.


"Aku minta maaf," jawab Dimas.


"Sejak kapan Dimas? sejak kapan kamu sama Anita bodohin aku kayak gini?"


"Aku nggak bermaksud kayak gitu Andini, aku......."


"Sejak kapan Dimas?"


Dimas menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.


"Sejak di rumah tua itu, sejak Dika ceritain semua masa lalu aku," jawab Dimas.

__ADS_1


Dini menatap Dimas tak percaya. Ia tidak menyangka jika Dimas benar benar mempermainkannya. Ingatan Dimas sudah pulih sejak lama dan ia masih tidak bisa meninggalkan Anita. Dini benar benar kecewa dengan itu. Hatinya terasa sakit.


"Aku nggak bermaksud sembunyiin semua itu dari kamu Andini, aku cuma mau nunggu waktu yang tepat," ucap Dimas.


"Kenapa kamu selalu nyakitin aku Dimas? kenapa kamu harus mempermainkan aku sejauh ini?" tanya Dini dengan suara tertahan menahan tangis.


"Aku nggak mempermainkan kamu, aku cuma......"


"Pergi Dimas, aku cuma masa lalu kamu dan kamu juga cuma masa lalu ku!"


"Enggak Andini, kamu masa depanku, aku udah perjuangin kamu sejauh ini, aku yakin akan bisa sama sama kamu, aku minta maaf, aku janji......"


"Jangan pernah janji kalau kamu nggak akan bisa tepati janji kamu!"


"Aku sayang sama kamu Andini,"


"Kalau kamu sayang sama aku, kenapa kamu tunangan sama dia? karena dia yang nemenin kamu waktu kamu amnesia? sekarang pun kamu masih nggak bisa ninggalin dia walaupun kamu udah inget semuanya, kenapa? apa karena kamu udah mulai jatuh cinta sama dia?"


"Sama sekali nggak ada sedikitpun tempat buat Anita di hati aku, aku cuma sayang sama kamu Andini, aku cuma mau kamu, aku mohon maafin aku," jawab Dimas dengan memohon.


"Kamu selalu kayak gini Dim, kenapa begitu banyak hal yang kamu sembunyiin dari aku? kenapa?"


Dimas diam. Ia masih tidak bisa menjelaskan semuanya pada Dini. Ia tidak mungkin mengakui apa yang sudah ia perbuat pada Anita. Terlebih, ia sekarang ragu dengan semua itu. Ia harus memastikan terlebih dahulu, apakah yang diceritakan Anita itu benar atau tidak. Jika tidak, ia akan dengan segera melepaskan Anita dan menjauh darinya, benar benar menjauh hingga Anita tak dapat mengganggunya lagi. Setelah semua itu pasti, ia akan memulai lembaran barunya bersama Dini. Menjalani hari hari indah sampai saatnya nanti tiba, saat dimana ia akan menjadikan Dini miliknya seutuhnya.


Namun jika semua itu benar benar terjadi, Dimas tidak punya pilihan lain selain bersama Anita. Setidaknya, ia akan menghabiskan masa kuliahnya bersama Dini. Setelah itu ia akan pergi jauh bersama Anita, meninggalkan hati dan cintanya yang masih menjadi milik Dini. Berat memang, tapi tak ada pilihan lagi baginya. Ia harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia perbuat pada Anita.


Sebelum semuanya terlalu jauh, ia akan memastikan kebenaran itu. Besar harapannya jika semua itu hanya kebohongan yang Anita ciptakan karena keegoisannya sendiri.


Tiba tiba, pintu terbuka. Andi masuk ke ruangan Dini dengan keningnya yang masih tampak berdarah. Ia tidak tau jika Dimas ada di sana, jika ia tau sudah pasti ia tak akan masuk.


"Sorry sorry," ucap Andi lalu hendak kembali keluar.


"Andi," panggil Dini.


"Iya, ada apa Din?" tanya Andi yang baru menyadari jika mata Dini tampak sembab.


Andi lalu mendekat.


"Aku nggak mau dia di sini," ucap Dini lalu merebahkan badannya membelakangi Dimas dan Andi.


"Andini, aku......"


"Pergi Dim, jangan temui aku lagi," ucap Dini.


"Lo balik aja dulu," ucap Andi pada Dimas.


Dimas lalu berdiri dari duduknya.


"Andini, satu yang harus kamu tau, dari dulu sampai sekarang, aku sayang dan cinta sama kamu, maaf karena sering bikin kamu sedih, maaf karena caraku mencintai kamu sering bikin salah paham, tapi sampai kapanpun aku nggak akan berhenti perjuangin kamu," ucap Dimas lalu pergi meninggalkan ruangan Dini.


Dini tak bergeming, air matanya menetes dalam diam. Hatinya sakit, tapi cinta di hatinya tak menginginkan Dimas pergi. Hatinya masih merindukannya, hatinya masih mengharapkannya kembali.


Andi lalu duduk di ranjang Dini.


"Din, ada apa?" tanya Andi dengan mengusap punggung Dini.


Dini lalu bangun dan memeluk Andi.


"Dimas udah inget semuanya Ndi, dia inget semuanya," jawab Dini dengan isak tangis yang tak mampu ia tahan.


"Tapi kenapa dia masih sama Anita? kenapa dia nggak bisa ninggalin Anita? kenapa dia datang kalau cuma buat nyakitin aku Ndi? kenapa?"


Andi hanya diam dengan mengusap rambut Dini. Ia biarkan Dini menumpahkan semua kesedihan dalam pelukannya.

__ADS_1


Dini merasa sangat kacau, ia bahkan tidak menyadari luka di kening Andi. Ia bukan dibodohi oleh Dimas, tapi cinta yang sudah membodohinya. Cinta sudah melumpuhkan logikanya. Seseorang sangat ia cintai, untuk kesekian kalinya mengecewakannya, membuat patah hatinya, menggoreskan luka yang menyakitkan untuknya. Ia marah, ia kecewa, ia terluka, namun hatinya masih menginginkannya, hatinya masih berharap untuk bisa bersama dengannya selamanya.


__ADS_2