
Malam semakin larut, Yoga masih sibuk memanggang daging dan sosis bersama Sintia, Andi dan Anita.
"Kakak yakin mereka baik baik aja?" tanya Sintia dengan berbisik pada Yoga.
"Kamu tenang aja, semuanya aman," jawab Yoga dengan berbisik juga.
"Akhirnya mereka punya waktu buat berdua, padahal Sintia udah pesimis banget kalau rencana kita gagal!"
"Selama ada kakak di sini, nggak ada yang namanya gagal!" balas Yoga menyombongkan diri.
Cuuupp
Satu kecupan dari Sintia mendarat di pipi Yoga. Andi berdehem dengan keras ketika Yoga sudah bersiap untuk membalas kecupan Sintia padanya.
"Eeheemmm, uhuukk uhuukk!"
"Hahaha, iri ya lo!" balas Yoga.
"Hargai perasaan jomblo dong kak!" ucap Andi memelas.
"Kak Andi sama kak Anita aja, cocok AA hehehe......" seloroh Sintia.
Andi hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Sintia.
"Kak, Dimas tadi kemana sih kok lama banget?" tanya Anita pada Yoga.
"Oh iya, aku belum bilang ya, Dimas sama Dini tadi aku minta ke toko buat beli beberapa keperluan," jawab Yoga berbohong.
"Kok nggak sama Anita aja?" protes Anita.
"Kan kamu lagi sibuk sama daging dan sosisnya, jadi aku minta tolong Dini sama Dimas, lagian alat pemanggangnya kan ada di dapur, bukan di gudang, aku lupa tadi!" jawab Yoga beralasan.
"Tetep aja harusnya kak Yoga minta aku nemenin Dimas, bukan Dini!"
"Kak Anita kenapa gelisah gitu sih? bukannya kak Dimas udah cinta banget ya sama kakak sampe' mau tunangan segala, jadi kenapa harus cemburu gitu, atau jangan jangan kakak takut ya kalau kak Dimas bakalan balik lagi sama kak Dini, iya?" tanya Sintia pada Anita.
"Jaga ucapan kamu ya anak kecil, kamu nggak tau apa apa!" balas Anita kesal.
"Udah udah, jangan ribut, bentar lagi juga mereka dateng!" ucap Yoga menengahi keributan Anita dan Sintia.
"Dasar, nenek lampir!" gerutu Sintia pelan.
"Huuuss, nggak boleh bilang gitu!" ucap Yoga dengan mencubit hidung Sintia.
Mereka pun menikmati pesta barbeque mereka tanpa Dini dan Dimas.
Di gudang,
Dimas dan Dini berusaha mencari cara untuk keluar dari gudang. Namun mereka tak bisa menemukan apapun yang bisa mereka gunakan untuk keluar. Hanya ada 2 jendela kecil yang berada di atas, anak kecilpun tak akan muat untuk melewati jendela itu.
Mereka akhirnya duduk bersandar pada dinding. Menyerah untuk berusaha keluar dan menunggu siapapun yang akan datang menolong mereka.
"Kamu nggak takut gelap kan? saklarnya rusak!"
"Bapak Dimas yang terhormat, saya kan sudah pernah bilang, saya lebih takut hujan daripada gelap!"
"Aku kan cuma mastiin ingatan aku aja, kalau kamu takut aku bisa peluk kamu hehehe," ucap Dimas terkekeh.
"Modus!"
"Kamu nggak bawa HP?"
"Kalau aku bawa udah dari tadi aku hubungin Andi, kamu sendiri kenapa nggak bawa HP?"
"Bawa kok, nih!" jawab Dimas sambil mengambil ponselnya dari saku celana.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, buruan hubungin kak Yoga atau siapa gitu buat ke sini!"
"Kalau aku bisa pasti udah aku hubungin dari tadi lah, ini HP ku mati, lowbatt!"
Dini menepuk jidatnya. Mungkin mereka memang harus menghabiskan malam berdua di gudang yang gelap itu.
"Andini, aku mau nanya!"
"Apa?"
"Di saat kayak gini kenapa orang yang pertama kali kamu cari Andi?"
"Kalau bukan Andi siapa lagi, kamu?"
"Kamu bisa andalin aku, aku bisa......"
"Kamu aja di sini sama aku, gimana sih!"
__ADS_1
"Maksud aku, kalau ada apa apa lagi, kamu bisa minta tolong sama aku!"
"Itu artinya aku cari mati, Anita bisa ngamuk sama aku!"
"Jadi kalau aku nggak sama Anita kamu pasti cari aku?"
"Emang bisa kamu nggak sama Anita?"
"Mmmm, enggak sih, aku nggak bisa ninggalin dia," ucap Dimas pelan penuh penyelasan.
"pertanyaan bodoh Dini, jelas jelas mereka udah tunangan, mana mungkin Dimas ninggalin Anita demi aku, masa lalu yang bahkan dia nggak inget sama sekali, haahhh, pertanyaan bodoh yang menyakiti diri sendiri," batin Dini merutuki dirinya sendiri.
"Andini," panggil Dimas dengan menghadap ke arah Dini.
"Hmmmm," jawab Dini tanpa mengeluarkan kata kata.
"Kamu deket banget sama Andi, hubungan kalian sebenarnya gimana sih?"
"Dia seseorang yang berarti buat aku, dia sahabat terbaik aku, selamanya," jawab Dini dengan senyum tergaris di bibirnya.
"Yakin cuma sahabat?"
"Bukan cuma, dia lebih dari segalanya, lagian ngapain sih nanya nanya, kepo banget deh!"
"kalau aku nggak suka liat kamu sama Andi, apa aku cemburu? kalau aku cemburu, apa itu artinya aku jatuh cinta sama kamu? enggak enggak, nggak mungkin, sadar Dimas, sadar, jangan jadi laki laki brengsek kamu!"
"Kamu tadi kenapa bisa hampir jatuh ke jurang? Anita bilang kamu udah balik ke vila," tanya Dimas.
Dini menoleh cepat mendengar pertanyaan Dimas. Ia ragu apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Hatinya bimbang. Ia tidak bisa membayangkan semarah apa Dimas pada Anita jika Dimas tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka sudah bertunangan, itu artinya mereka sudah berkomitmen untuk ke jenjang yang lebih serius. Dini tidak mungkin merusak hubungan mereka. Meski hatinya terasa sakit dengan takdir cintanya, ia tidak akan menghancurkan hubungan Dimas dan Anita.
"Andini, kamu mikirin apa?" tanya Dimas yang melihat Dini melamun.
"Eh, enggak, kamu tadi tanya apa?"
"Kamu kenapa bisa hampir jatuh ke jurang? bukannya kamu udah balik ke vila ya?"
"Oh itu, iya aku udah mau balik ke vila tapi nggak jadi, HP ku ketinggalan, jadi aku balik lagi eh kepleset, gitu!"
"Beneran?"
"Iya, makasih ya udah nolongin aku!"
"Badan kamu dingin banget tadi, wajah kamu pucet banget, aku khawatir banget sama kamu!"
"Apa yang kamu rasain waktu hujan?"
"Sedih, denger hujan aja aku udah sedih, ada sesuatu yang bikin aku sedih tapi aku nggak tau itu apa, hujan selalu bikin aku semakin gelisah dan takut, titik titik hujan bikin aku lemah, ada sesuatu yang menyakitkan di hati aku, sesuatu yang menyesakkan sampai aku pusing dan akhirnya pingsan, aku pingin bisa main hujan, tapi aku nggak bisa, perasaan itu selalu ada tiap tetes tetes itu semakin basahin tubuhku," jelas Dini dengan air mata yang mulai menggenang.
Entah kenapa, membicarakan hujan saja sudah membuatnya seemosional itu.
Dalam remang cahaya, Dimas melihat air mata Dini yang sudah memenuhi kedua sudut matanya. Ia mendekat dan memeluk Dini. Hatinya seperti tersayat mendengar penjelasan Dini. Hati kecilnya tidak menginginkan air mata itu menetes. Ia membenci air mata kesedihan itu.
Dini tenggelam dalam pelukan Dimas. Pelukan yang di rindukannya, pelukan yang menenangkannya. Ia merasa hangat dalam pelukan Dimas, merasa nyaman dan bahagia dalam pelukan Dimas.
"andai aku lebih dulu kenal kamu, mungkin nggak akan seperti ini ceritanya, andai itu kamu, andai itu bukan Anita, aku pasti selalu bahagia, sebahagia saat ini, saat aku bisa memeluk kamu erat dan nggak akan lepasin kamu," ucap Dimas dalam hati.
Dini membiarkan kebahagiaan menyelimuti dirinya malam itu, setidaknya hanya untuk malam itu saja. Ia akan menganggap malam itu adalah mimpi terindah baginya, karena esok ketika ia bangun, ia akan mendapati Dimas yang sudah bersama Anita, Dimas yang sudah menjadi milik perempuan lain, Dimas yang sudah sangat jauh darinya bahkan hanya untuk mengenalnya.
"rasa ini selalu ada Dimas, entah sampai kapan,"
"Andini," panggil Dimas pelan.
"Iya!"
"Kamu percaya takdir?"
"Percaya, semua yang kita lalui ataupun yang belum kita lalui sudah tertulis di sana, sejauh apapun kita pergi, sekeras apapun kita coba melawan, takdir akan menemukan jalannya sendiri," jawab Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Dimas yang masih memeluknya.
"Kenapa takdir tidak sesuai dengan harapan kita Andini, kenapa takdir tidak membawa kebahagiaan?"
"Harapan kamu bukan berarti yang terbaik buat kamu Dimas, Tuhan udah siapin apapun yang terbaik buat kamu, hanya saja terkadang jalan itu tidak akan mudah dan kamu harus bisa melaluinya untuk mencapai kebahagiaan terbaik yang udah Tuhan siapakan buat kamu!"
Dimas tersenyum dan membelai rambut Dini.
"Apa kamu nggak bahagia Dimas?"
"Aku nggak tau, hidup ku nggak pernah lengkap karena aku nggak bisa ingat apapun tentang masa lalu ku!"
"Jangan terbebani sama hal itu Dim, kamu harus fokus sama masa depan kamu, sama apa yang kamu jalani saat ini, oke?"
Dimas mengangguk, ia bahagia saat itu, sangat bahagia. Tapi ia tau apa yang ia rasakan saat itu hanyalah kebahagiaan semu, karena esok ia akan kembali lagi pada Anita, pada perempuan yang membuatnya harus mengesampingkan kebahagiaannya demi tanggung jawabnya atas hal bodoh yang sudah dilakukannya.
"Dimas," panggil Dini pelan.
__ADS_1
"Iya!"
"Kenapa mereka nggak nyari kita ya?"
"Mungkin ini bagian dari takdir," jawab Dimas asal.
"Takdir yang sesuai sama harapan kamu?"
Dimas tak menjawab, hanya mengangguk pelan.
Mereka menyimpan kebahagiaan mereka sendiri. Meski Dimas belum mengingat masa lalunya bersama Dini, hatinya sudah merasakan cinta yang dalam pada Dini.
"Apa kita di sini sampe' pagi?" tanya Dini pada Dimas.
"Aku mau selamanya di sini," jawab Dimas.
"Kalau gitu kamu aja, aku mau keluar!"
"Kenapa?"
"Aku nggak mau mati muda Dimas, masa depan aku masih panjang, aku nggak mau mati kelaparan di sini, hiii amit amit!"
"Kalau kamu di sini sama Andi, apa kamu juga mau keluar dari sini?"
"Kok tiba tiba bahas Andi sih, absurd banget kamu ini!"
"Kamu deket banget sama dia, kamu....."
"Kamu cemburu?"
"Mmmm, ee... enggak, nggak gitu maksudnya, mmm.... kamu....."
"Aku sama Andi kenal dari kita bayi, mungkin kita udah sahabatan dari kita bayi, jadi kita deket banget dan mungkin juga itu yang bikin beberapa orang salah paham sama hubungan kita," jelas Dini.
"Apa Andi juga nggak salah paham sama hubungan kalian?"
"Enggak lah, kita sama sama sadar kalau kita ini deket sebatas sahabat!"
"Kamu yakin?"
"Yakinlah, aku......"
"Kamu yakin Andi juga gitu?"
"Maksud kamu?"
"Aku liat dari sikap dia ke kamu, cara dia pandang kamu, dia suka sama kamu, apa kamu nggak pernah ngerasain itu?"
"Kamu sok tau deh, aku sayang sama dia dan dia juga sayang sama aku sebatas sahabat, jadi stop mikir yang enggak enggak tentang aku sama Andi!"
"Tapi......"
"Udah Dimas, aku nggak mau denger apa apa lagi!"
"Oke oke!"
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Dini dan Dimas masih berada di dalam gudang yang gelap, hanya ada sedikit cahaya dari lampu di depan gudang yang masuk melalui jendela kecil.
Dini tertidur dengan masih bersandar di bahu Dimas, sedangkan tangan kiri Dimas masih memeluk Dini dan tangan kanannya menggenggam erat tangan Dini. Dimas mencium pelan kening Dini. Ada kebahagiaan yang membuncah di hatinya. Ia tak ingin tertidur, ia tak ingin melewatkan malam yang indah itu begitu saja. Namun rasa bahagia dan kenyamanan yang ia rasakan membuatnya tidak dapat menahan matanya untuk terjaga lebih lama. Ia pun tertidur.
Yoga, Sintia, Andi dan Anita mulai sibuk membereskan pesta barbeque mereka. Yoga menjelaskan jika mungkin Dimas dan Dini pergi ke toko yang jauh dan tersesat. Ponsel Dimas yang tidak bisa dihubungi membuat Anita khawatir. Tapi Yoga berjanji akan mencari Dimas dan Dini jika sampai pagi mereka tidak kembali.
Sedangkan Andi terlihat santai meski ia tidak mengetahui dimana keberadaan Dini. Ia tau, semua ini adalah rencana Yoga dan Sintia untuk mendekatkan Dimas dan Dini.
Mentari menyambut pagi di kota yang dingin itu. Dini dan Dimas masih hanyut dalam kebersamaan mereka.
Yoga bangun terlebih dahulu sebelum yang lain bangun. Pelan pelan, ia membuka pintu gudang dan mendapati Dini dan Dimas yang masih tertidur dengan duduk berpelukan. Yoga lalu meninggalkan mereka dan kembali untuk membereskan barang barangnya.
Tak lama kemudian Dini terbangun, matanya mengerjap, memperhatikan laki laki tampan di hadapannya, cinta pertamanya yang kini sudah menjadi milik orang lain, cinta pertamanya yang bahkan masih memiliki hatinya meski ia sudah pergi jauh.
Dini memegang pipi Dimas, mengusapnya pelan. Ada sesak di hatinya ketika menyadari takdir indahnya hanyalah mimpi. Bunga di hatinya seperti kembali layu karena luka yang kembali terkoyak dengan dalam. Air matanya menggenang, ia selalu saja lemah di depan Dimas.
"andai kamu tau seperti apa sakit yang aku rasain, itu sama sekali nggak sebanding dengan perasaan yang udah kamu ciptain di hati aku, perasaan indah yang berakhir menyakitkan, makasih Dimas, makasih karena udah kasih aku begitu banyak cinta sampai aku nggak akan sanggup buat buka hati aku buat yang lain," ucap Dini dalam hati.
Air matanya telah tumpah, tetesnya membasahi tangan Dimas yang menggengam satu tangannya dengan erat. Dimas terbangun membuat Dini segera menghapus air matanya.
"Kamu kenapa?" tanya Dimas.
"Enggak, aku nggak papa, cuma....."
"Aku benci air mata kamu Andini, aku nggak suka liat kesedihan di wajah kamu, maaf kalau aku pernah nyakitin kamu, tapi tolong jangan menangis," ucap Dimas dengan mengusap air mata Dini lalu memeluknya.
Dini semakin menangis dalam pelukan Dimas. Andai Dimas bukan tunangan Anita, ia pasti sudah memberi tahu semua kebenaran pada Dimas. Andai dan andai, semuanya hanya menjadi andai.
__ADS_1