
Andi masih memegang erat tangan Aletta, berusaha menghentikan tangan Aletta yang memukulnya. Ia tidak menyangka jika Aletta akan langsung diam dan tak memberontak. Ia tersenyum tipis lalu melepaskan tangan Aletta dari genggamannya.
Aletta segera sadar dari lamunannya, ia kembali meninju lengan Andi lalu berdiri berniat untuk keluar dari kamar Andi.
"Eh, mau kemana?" tanya Andi dengan menahan tangan Aletta.
Aletta segera menarik tangannya sebelum pikiran nakalnya mulai menghantui.
"Ke kamar, ngantuk," jawab Aletta lalu membuka pintu kamar Andi.
"Bawa mangkoknya sekalian dong!"
"Ogah," balas Aletta lalu benar benar keluar dari kamar Andi dan masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, Aletta masih belum tidur. Ia masih berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak.
"tahan Al, nggak usah baper daripada nanti sakit hati lagi," batin Aletta menasihati dirinya sendiri.
**
Pagi mulai datang, menggeser sinar temaram bulan dengan cahaya mentari yang bersinar terang. Ini adalah hari Minggu. Minggu yang sempurna untuk menghabiskan waktu di luar karena cuaca yang cerah. Andi, Nico dan Aletta pergi ke rumah sakit untuk menemui Dini.
Andi sudah melupakan sakit di hatinya karena kejadian semalam. Hatinya kini sudah kebal dengan semua rasa sakit yang ia rasakan karena cinta dalam diamnya. Ia tak bisa menampik rasa cemburu di hatinya, ia hanya bisa berusaha untuk melupakannya. Cinta di hatinya seperti luka dan obat yang menjadi satu. Jika cinta menyakitinya maka cinta juga yang akan menyembuhkan lukanya.
Sesampainya di rumah sakit, mereka segera masuk ke ruangan Dini.
"Selamat pagi tuan putri Andini, kami para dayang dayangmu sudah siap untuk melaksanakan tugas darimu," ucap Aletta ketika baru saja masuk ke ruangan Dini.
Dini hanya tersenyum menangggapi sapaan Aletta.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Andi dengan mengusap lembut rambut Dini.
Dini menggeleng pelan dengan raut wajah sedih, membuat Andi khawatir.
"Ada apa Din?" tanya Andi.
"Aku bosen di sini, aku pingin pulang," jawab Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Andi yang berdiri di samping ranjangnya.
Andi tersenyum lalu memeluk Dini dan membelai rambutnya.
"Bentar lagi kamu pasti boleh pulang, sabar ya!" ucap Andi lembut.
"Hari ini aku mau kamu di sini aja ya, temenin aku," ucap Dini tanpa melepas pelukan Andi.
Ia merasa sangat merindukan sahabatnya itu.
"Iya, aku temenin kamu di sini sampe' malem," balas Andi dengan melepas pelukannya dari Dini setelah memberikan satu kecupan lembut di keningnya.
Aletta yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum dengan penuh tanda tanya di otaknya.
"sahabat ya? hehe kenapa ada yang sakit di sini," batin Aletta dengan memegang dadanya.
Nico juga menahan senyumnya memperhatikan Dini dan Andi. Pasalnya itu bukan pertama kalinya ia melihat Dini dan Andi yang tampak romantis. Ia tau bagaimana Andi berusaha mati matian menyembunyikan perasaannya pada Dini. Meski Andi masih tak mengakuinya, Nico bisa menyimpulkan semuanya sendiri dan ia yakin jika ia benar.
"Kalian nggak ada acara apa apa hari ini?" tanya Dini pada Nico dan Aletta.
"Enggak, lo mau ngusir kita ya?" balas Nico sekaligus bertanya.
"Enggak, bukan gitu, aku malah seneng kalau kalian di sini," balas Dini cepat, ia takut pertanyaannya menyinggung Nico dan Aletta.
"Tenang aja Din, kita bakalan nemenin lo di sini, lagian manusia manusia jomblo kayak kita mau kemana juga haha....." sahut Aletta.
"Nah, bener tuh!" balas Nico.
Setelah selesai sarapan, Andi membawa Dini untuk berkeliling rumah sakit menggunakan kursi roda. Tentu saja Nico dan Aletta ikut bersama mereka.
Mereka berhenti di taman dekat tempat parkir. Nico dan Aletta duduk di bangku taman, sedangkan Andi berjongkok di depan Dini.
Dini memegang pipi Andi dengan kedua tangannya lalu mengarahkannya ke kanan dan kiri.
"Kamu tambah kurus ya?" tanya Dini.
"Enggak, kamu aja yang tambah gendut," balas Andi.
"Biarin, biar kamu nggak bisa gendong aku lagi!"
"Kata siapa? mau kamu segendut apapun juga aku pasti bisa gendong kamu lah!"
Dini mengernyitkan dahinya.
"Kenapa? ragu? mau bukti?"
Andi segera berdiri dan menggendong Dini sebelum Dini sempat menjawab.
"Andi, turun Ndi!" ucap Dini dengan sedikit meronta.
"Masih ragu sama kekuatan aku?"
"Enggak, iya aku percaya kamu emang kuat," balas Dini dengan mengalungkan tangannya ke leher Andi.
__ADS_1
Andi menatap mata Dini tajam. Ada jutaan rasa yang tersirat dari tatapan mata itu. Ada jutaan rindu yang menggebu, ada jutaan cinta yang menggelora yang terpancar dari tatap mata itu.
Andi mendekatkan wajahnya, hidung mereka saling menempel, mereka menjadi sangat dekat. Mereka lupa akan keberadaan Nico dan Aletta di sana.
"Selalu percaya sama aku ya?"
Dini tersenyum dan mengangguk pelan. Entah kenapa hatinya terasa dingin. Ada sesuatu yang memaksa masuk ke dalam hatinya, sesuatu yang membuatnya nyaman, sesuatu yang membuatnya bahagia.
Andi lalu menurunkan Dini kembali ke kursi rodanya.
"Kita jadi jomblo paling sengsara di sini," bisik Nico pada Aletta.
"Iya hehe," balas Aletta dengan senyum yang dipaksakan.
"Udah ya adegan romantisnya, tolong, gue nggak kuat," ucap Nico dengan melirikkan matanya ke arah Dini dan Andi.
"Hahaha romantis bagian mananya sih!" balas Andi.
"Bagian yang menyakitkan hati para jomblo huhuhu," sahut Aletta dengan mengucek matanya seperti sedang menangis.
"Oh ya Aletta, kamu kuliah di Universitas X juga?" tanya Dini pada Aletta.
"Iya, gue fakultas sastra, lo bisnis ya?"
Dini mengangguk dengan tersenyum.
"Kenapa nggak di Seni juga, sama kayak Andi? gue pikir kalian selalu sama sama!"
"Aku nggak ada bakat Seni, lebih tertarik ke bisnis juga sih dari dulu, kalau kamu kenapa masuk Sastra?"
"Pasti karena suka mengkhayal kan lo, suka bikin cerita cerita khayalan, suka bikin puisi puisi romantis, mengkhayal kalau ada pangeran tampan kaya raya yang akan ngelamar lo, iya kan?" sahut Nico.
"Lo pikir gue kuliah Sastra cuma buat itu? sok tau banget lo!"
"Gue tau semuanya Al, nggak ada yang gue nggak tau dari lo, kecuali satu!"
"Apa?"
"Gue nggak tau lo ini cewek beneran apa bukan hahaha....."
"Dasar mesum!" balas Aletta dengan memukul lengan Nico berkali kali.
Nico hanya mengaduh kesakitan tanpa menghindari pukulan Aletta. Sedangkan Andi dan Dini hanya tertawa melihat Aletta dan Nico.
Biiipp biiipp biiipp
Ponsel Nico berdering, salah satu body guardnya memberi tahunya jika ia harus bertemu dengan Dokter.
"Gue juga mau cari minum dulu ya, kalian nggak papa kan di sini berdua?" tanya Andi pada Dini dan Aletta.
"Tenang aja, Dini aman sama gue," ucap Aletta dengan menepuk nepuk dadanya.
"Awas aja kalau Dini kenapa napa gue cincang lo ntar!"
"Diiihh, sadis banget!"
"Aku tinggal bentar ya," ucap Andi dengan mengusap rambut Dini lalu pergi.
"Giliran ngomong sama Dini aja lembut banget, dasar manusia kutub," gerutu Aletta ketika Andi dan Nico sudah pergi.
"Manusia kutub?"
"Iya, temen kamu tuh kayak manusia kutub!"
"Andi? kenapa manusia kutub?"
"Dingin, cuek, jutek, apa lagi waktu pertama kali ketemu, super duper nyebelin!"
"Tapi dia sebenernya baik kok, dia juga hangat, dia perhatian, dia......."
Ingatan Dini memutar kembali kebersamaanya bersama Andi. Dari ia kecil, ia selalu bersama Andi, bermain bersama, belajar bersama dan melakukan banyak hal bersama. Ia memulai banyak hal baru bersama Andi. Entah harus berapa banyak lembar buku yang ia butuhkan untuk menulis semua kebersamaanya bersama Andi. Ia sangat menyayangi sahabatnya itu. Andi selalu menemaninya, Andi selalu menjaganya, Andi selalu memberikan perhatian dan kasih sayang padanya. Ia tak pernah merasa sendiri karena ia memiliki Andi. Meski beberapa kali mereka bertengkar dan saling menjauh, Andi tak pernah benar benar meninggalkannya. Serumit apapun masalah mereka, semarah apapun Andi padanya, Andi tak pernah pergi, ia selalu kembali pada Dini.
Senyum manis tergaris di bibir Dini ketika ia mengingat semua hal tentang Andi. Rasanya hanya ada kebahagiaan yang ia rasakan ketika bersama Andi.
Tiba tiba entah dari mana datangnya, seseorang tanpa sengaja menumpahkan minumannya dan mengenai kaki Dini. Dini segera tersadar dari lamunannya tentang Andi.
"Aaaawwwww," pekik Dini karena minuman panas yang tumpah mengenai kakinya.
"Eh, jalan pake mata dong!" teriak Aletta pada seseorang itu.
"Gue nggak sengaja," ucapnya lalu pergi begitu saja.
Aletta segera berjalan cepat ke arah seseorang itu dan melayangkan tinjunya tepat di wajah laki laki itu. Ia tak takut jika lelaki itu akan balik menyerangnya, ia hanya tidak suka pada seseorang yang lari dari tanggung jawabnya seperti itu.
"Lo gila ya!" teriak laki laki itu.
"Iya, gue gila, rasain nih!" balas Aletta dengan menendang tepat mengenai masa depan laki laki itu, membuat laki laki itu meringkuk kesakitan memegangi masa depannya yang terancam suram.
Aletta lalu berbalik dan kembali pada Dini. Ia melepas scraft yang dikenakannya dan membasahinya dengan air mancur lalu mengusapnya ke kaki Dini.
__ADS_1
"Sakit Din?" tanya Aletta dengan mengusap pelan kaki Dini menggunakan scraft nya yang basah.
"Udah Al, nggak papa," jawab Dini dengan menarik tangan Aletta agar berdiri, namun Aletta masih bersikukuh mengusap kaki Dini untuk menghilangkan efek panas akibat dari minuman yang tumpah tadi.
"Sorry ya Din, Andi pasti marah banget sama gue," ucap Aletta yang tampak sedih.
"Enggak Al, Andi nggak akan marah sama kamu, aku nggak papa kok, cuma kaget aja tadi!"
"Itu minuman panas Din, untung kaki kamu nggak melepuh!"
"Nggak terlalu panas kok!"
Tak lama kemudian Andi datang, ia melihat Aletta yang masih mengusap kaki Dini.
"Ada apa? kamu kenapa Din?"
"Nggak papa, cuma ketumpahan air panas dikit," jawab Dini.
Mendengar jawaban Dini, Andi segera menaruh minuman yang dibawanya dan duduk berjongkok menggeser posisi Aletta, membuat Aletta sedikit terjatuh karenanya.
Andi melihat keadaan kaki Dini yang memerah.
"Kenapa lo ceroboh banget sih Ta!"
"Gue....."
"Lo bisa cari obat kan daripada diem aja di sini!"
"Oke, gue cari obat dulu," balas Aletta pelan lalu melangkah pergi mencari obat untuk Dini.
"Ndi, ini bukan salah Aletta, dia....."
"Dia emang nggak bisa diem Din, kamu nggak usah belain dia," ucap Andi memotong perkataan Dini.
"Bukan dia yang tumpahin minuman panas itu Ndi!"
Andi menoleh cepat ke arah Dini.
"Ada cowok yang jatuhin minuman itu dan Aletta hajar cowok itu, itu yang kamu pegang scraft punya Aletta, dia basahin scraft nya buat kompres kakiku Ndi, dia yang bantuin aku," jelas Dini.
Andi terduduk lesu. Ia merasa sangat bersalah pada Aletta. Ia sudah memarahinya tanpa alasan. Aletta pasti sangat kesal dan bahkan membencinya saat itu.
"Maaf Din, aku....."
"Kamu minta maaf sama dia, kata kata kamu tadi nyakitin dia," ucap Dini segera.
"Iya, ntar aku ngomong sama dia," balas Andi.
Tak jauh dari tempat Andi dan Dini duduk, seorang perempuan berjalan cepat ke arah Aletta yang sedang berjalan dengan membawa obat di tangannya.
Perempuan itu menarik tangan Aletta dengan kasar dan menamparnya begitu saja.
"Apa apaan ini!"
"Lo cewek barbar yang udah tendang cowok gue kan?"
Aletta melirik ke arah laki laki di samping perempuan yang menamparnya. Ya, itu adalah laki laki yang sudah ia tendang masa depannya dan sepertinya ia mengadu pada pacarnya. Mengadu? ya, sepertinya begitu.
"Dia? dia cowok lo?" tanya Aletta dengan menunjuk laki-laki itu.
"Iya, kenapa? asal lo tau ya lo bisa gue tuntut tau gak!"
"Gue nggak takut, lagian lo mau mau aja sih pacaran sama cowok banci kayak dia!"
"Apa lo bilang?"
"Cuma cowok banci yang berlindung di bawah ketiak ceweknya!"
Perempuan itu melayangkan tangannya siap untuk menampar Aletta namun Aletta berhasil menahannya, namun Aletta lengah perempuan itu mendorong Aletta hingga ia terjatuh dan kepalanya membentur pot bunga besar di sampingnya. Kepalanya sedikit berdenyut, darah menetes dari keningnya.
Beberapa orang yang berada di sana hanya berkerumun untuk melihat perkelahian itu. Nico yang melihat hal itu segera menghampiri Aletta dan membantunya berdiri.
"Lo masih sadar kan Al?" tanya Nico panik.
"Nggak usah lebay deh, gue baik baik aja," jawab Aletta santai.
Ia sedikit terhuyung, beruntung Nico sigap menangkap tubuhnya.
"Kita harus ke rumah sakit Al, gue...."
"Kita lagi di rumah sakit, bego'!" ucap Aletta dengan memukul pelan lengan Nico.
Nico terlalu panik saat itu. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Aletta.
"Gue nggak papa Nic, jangan mandang gue kayak cewek lemah gitu lah, gue nggak suka!" ucap Aletta lalu melangkah pergi ke arah Dini dan Andi.
Nico hanya diam, ia sangat mengenal Aletta. Ia sangat tidak suka jika seseorang memandangnya sebagai perempuan yang lemah. Ia pun mengikuti Aletta untuk menghampiri Andi dan Dini.
Aletta berjalan dengan membawa bermacam macam obat di tangannya. Ia membawa obat merah dan obat yang berbentuk krim untuk luka bakar. Ia juga membawa plester dan kain kasa. Entah yang mana yang akan terpakai, ia tak tau, ia membawa semua itu dengan harapan salah satunya akan bisa mengobati kaki Dini.
__ADS_1
Ia tak mempedulikan darah yang masih mengalir di keningnya. Ia juga tak mempedulikan kepalanya yang terasa sakit.