Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Melepas Rindu


__ADS_3

Andi dan Aletta hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat Nico yang datang dengan membawa 2 bungkus martabak di tangannya.


"Nih, bawa naik!" ucap Nico sambil memberikan satu bungkus martabak pada Aletta dan menyuruhnya untuk naik ke lantai 2, kamar para perempuan.


"Thanks ya Nico sayang, muuaahh," ucap Aletta sambil menguncupkan tangannya dan menempelkannya di pipi Nico, membuat Nico sedikit tersipu.


Aletta lalu beranjak dari duduknya dan naik ke lantai dua, membagi martabaknya dengan beberapa penghuni kos lainnya di kanan dan kiri kamarnya.


Sedangkan Nico dan Andi masih berada di teras.


"Ngobrol apa aja sama Aletta?" tanya Nico sambil mengunyah martabak yang sudah ia beli.


"Nggak banyak, tapi anaknya seru juga ya, unik," jawab Andi menanggapi.


"Unik gimana maksud lo?"


"Nggak tau, unik aja, beda sama cewek kebanyakan, keliatan apa adanya aja," jawab Andi.


"Dia emang gitu dari dulu, tomboy dan jarang banget keluar sisi feminim nya, dia bahkan nggak pernah pake' rok," jelas Nico.


"Keliatan sih," balas Andi dengan manggut manggut.


Setelah martabak dalam kotak di hadapannya habis, Nico mulai menguap, ia mulai mengantuk.


"Masuk Ndi, ngantuk gue!" ucap Nico sambil membereskan mangkok bekas mie buatan Aletta dan membuang sampah bekas martabaknya.


"Lo duluan aja," balas Andi yang masih fokus membaca buku di hadapannya.


***


Esok paginya, Andi dan Aletta sudah menunggu Nico di kursi teras. 10 menit menunggu tak ada tanda tanda kedatangan Nico.


"Duuhh kemana sih nih anak, mana gue ada kelas pagi lagi!" gerutu Aletta sambil mondar mandir di depan Andi.


"Lo ada kelas jam berapa?"


"Setengah 8," jawab Aletta yang masih saja gelisah menunggu Nico.


"Nic, lo masih lama nggak sih?" tanya Aletta sambil menggedor gedor pintu kamar Nico.


Hening, tak ada jawaban.


"Nic, lo masih tidur apa lagi mandi sih?" tanya Aletta lagi namun masih tak ada jawaban.


"NIICOOO, bangun nggak lo!" teriak Aletta membuat beberapa temannya yang lain menoleh ke arahnya.


"Sorry sorry, emosi," ucap Aletta pada teman temannya yang sedang beraktivitas di luar kamar.


Perlahan pintu kamar Nico sedikit terbuka, Nico mengeluarkan kepalanya dari dalam kamar. Wajahnya masih tampak malas karena ia baru saja bangun karena teriakan Aletta.


"Udah siang ya hehehe...."


"Gue ada kelas pagi Nic, lo baru bangun?"


"Hehehe, iya, lo berangkat sama Andi aja ya, gue masih jam 10 nanti," jawab Nico.


"Loh bukannya kalian sekelas?" tanya Aletta dengan menunjuk Andi dan Nico bergantian.


"Udah sana, gue masih ngantuk, bye!" ucap Nico lalu menutup pintu kamarnya.


"Ayo berangkat," ucap Andi lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kos diikuti Aletta.


"Lo ada kelas jam berapa sih?" tanya Aletta meyakinkan.


"Jam 10, kan Nico udah bilang tadi."


"Terus sekarang lo mau kemana?"


"Ke kampus lah, lo pikir gue mau kemana?"


"Tapi kan......"


"Gue tiap hari ke kampus pagi walaupun nggak ada kelas pagi, gue bisa nunggu waktu sambil baca baca buku di perpustakaan daripada gue cuma bengong di kamar," jelas Andi.


Aletta bertepuk tangan kecil mendengar penjelasan Andi.


"Bener bener manusia kutub langka," ucap Aletta.


"Manusia kutub?"


"Ya, lo manusia kutub," jawab Aletta.


"Gue manusia kutub? kenapa?" tanya Andi tak mengerti.


"Lo dingin, kayak kutub, gue panggil beruang kutub juga nggak pantes, lebih pantes Nico yang gue panggil beruang hahaha....."


Andi hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan Aletta.


Sesampainya di kampus, Aletta segera pergi ke kelasnya. Sedangkan Andi pergi ke perpustakaan.


Belum sampai ia masuk ke perpustakaan, ponselnya bergetar. Ia segera mengambil ponselnya dari saku celana. Ada panggilan dari Dimas.


"Halo, ada apa?"

__ADS_1


"Lo dimana?"


"Mau ke perpustakaan, kenapa?"


"Lo tunggu di luar perpustakaan ya, gue mau ngomong!"


"Oke!"


Andi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana setelah Dimas mematikan panggilannya.


Ia menunggu Dimas di kursi depan perpustakaan. Tak lama kemudian Dimas datang dan duduk di sebelahnya.


"Nico mana?" tanya Dimas.


"Belum berangkat."


"Tumben, lo sendirian?"


"Sama Aletta."


"Oh, temennya yang kemarin itu ya?"


Andi mengangguk.


"Lo ada apa cari gue? kangen?"


"Sejak kapan lo jadi kepedean gini? gue cuma mau minta tolong sama lo."


"Minta tolong apa?"


"Bisa nggak hari ini aja jangan jenguk Andini."


"Kenapa?"


"Gue mau nemenin dia sendiri di sana, hari ini aja, bisa kan?"


Andi diam beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya.


"Oke, cuma hari ini kan?"


"Iya, hari ini aja!"


"Ya udah kalau gitu, gue ntar nggak kesana!"


"Thanks ya Ndi, lo emang yang terbaik," ucap Dimas dengan memukul mukul pundak Andi.


"Udah ah gue mau masuk, mau ngerjain tugas," ucap Andi lalu masuk ke perpustakaan.


Baginya, berpisah dari Dini adalah sebuah kesalahan yang besar, kesedihan yang tak akan ia ulangi lagi. Sekarang, Dini sudah berada di dekatnya dan ia tak akan melewatkan kesempatan itu. Ia akan memberikan segala hal indah pada gadis yang di cintainya itu, menghapus semua luka yang sudah ia torehkan padanya. Memulai kembali cerita lama dengan banyak hal baru yang indah.


Sedangkan Anita, ia tak akan mungkin meninggalkan Anita sendirian. Jika apa yang dikatakan Anita itu benar, bahwa tidak akan ada laki laki yang mau menerima keadaannya, ia akan bertanggung jawab. Ia akan menjadi laki laki yang mau menerima Anita seutuhnya. Meski hatinya masih milik Dini, meski cintanya hanya pada Dini, tapi jika takdir lebih berpihak pada Anita, apa yang bisa ia perbuat selain menerimanya?


Setidaknya, untuk saat ini ia masih bisa mencurahkan semua kasih sayang, perhatian dan cintanya hanya untuk Dini. Ia akan menggengam tangan Dini kuat kuat, memberikannya kebahagiaan yang akan selalu Dini simpan dalam hatinya.


Apakah Dimas egois?


Dimas bahkan tak peduli tentang itu. Yang terpenting baginya adalah mendapatkan apa yang memang seharusnya ia miliki, yaitu Dini. Ia sudah berusaha sangat keras sebelum akhirnya ia bersama Dini ketika SMA, bagaimana ia mendapatkan maaf Dini, bagaimana ia harus berkali kali dihajar oleh Andi dan bagaimana akhirnya ia bisa mencuri hati Dini. Semua itu sudah ia lalui dengan semua usahanya.


Setelah menyelesaikan kegiatan kampusnya, Dimas segera pergi ke rumah sakit. Ia sengaja menonaktifkan ponselnya. Tapi ia sudah menghubungi mamanya terlebih dahulu agar mamanya tidak khawatir seperti beberapa waktu lalu.


Sesampainya di rumah sakit, Dimas segera masuk ke ruangan Dini. Para body guard Nico sudah mengenal Dimas dan Nico sudah memberi pesan untuk membiarkan Dimas menemui Dini.


Dengan pelan Dimas membuka pintu ruangan Dini. Ia membawa satu buket bunga untuk Dini. Melihat Dimas datang, senyum manis tergaris di bibir Dini. Ada tetesan rindu yang terobati di hatinya.


Dimas memberikan satu buket bunga tulip merah pada Dini. Ia sengaja memilih bunga tulip merah karena menurut si penjual, bunga itu memiliki arti cinta yang abadi dan tak kenal pamrih. Sama seperti dirinya, cintanya pada Dini akan abadi dalam hatinya dan ia tak mengaharapkan apapun selain kebahagian Dini.


Dini menerima bunga itu dengan senyum tertahan. Ia bahagia, sangat bahagia. Ia sudah lama merindukan laki laki di hadapannya itu. Semua sakit dan kecewa yang ia terima dulu seperti musnah begitu saja.


"Kita keluar ya?" ajak Dimas.


"Keluar? kemana? emang boleh?"


"Boleh, cuma di taman depan aja kok, mau ya?"


"Aku sih mau, tapi......"


"Tunggu bentar," ucap Dimas lalu keluar dari ruangan Dini, tak lama kemudian ia kembali dengan membawa kursi roda.


"Aku udah siapin ini buat kamu, aku juga udah minta izin Dokter kok!"


Dini kembali mengembangkan senyumnya.


Dengan perlahan dan hati hati Dimas memindahkan Dini dari ranjang ke kursi roda, tak lupa ia membawa tiang infus yang tersambung ke tangan Dini.


"Eh, bungaku!" ucap Dini ketika Dimas akan membawanya keluar.


Dimas mengambil satu buket bunga tulip di ranjang Dini dan memberikannya pada Dini. Dini duduk di kursi roda dengan membawa bunga tulip di pangkuannya.


Setelah sampai di taman depan rumah sakit, Dimas meninggalkan Dini di bawah pohon yang rindang untuk menghindari terik matahari.


"Kamu mau kemana?"


"Ke mobil bentar, tunggu ya, jangan kemana kemana!"

__ADS_1


"Jangan lama lama!"


Dimas mengangguk lalu segera pergi ke tempat parkir. Ia kembali dengan membawa banyak barang. Dan menatanya di bawah pohon yang rindang itu.


"Kamu mau ngapain sih?" tanya Dini yang tak mengerti apa yang akan dilakukan Dimas.


"Kita piknik di sini," jawab Dimas dengan menggelar kain pantai yang sengaja ia bawa.


Dimas menaruh beberapa botol minuman coklat dan air putih di sana. Ia juga membawa sandwich dan beberapa makanan ringan. Setelah semuanya siap, Dimas dengan pelan dan hati hati memindahkan Dini dari kursi roda untuk duduk di bawah.


"Kamu suka?" tanya Dimas.


"Suka," jawab Dini dengan mengangguk anggukan kepalanya dan memberikan senyum manisnya.


"Apa masih ada yang sakit di tubuh kamu?"


Dini menggeleng pelan.


"Syukurlah, bentar lagi pasti kamu udah boleh keluar dari rumah sakit," lanjut Dimas.


"Iya, kamu kenapa tiba tiba ajak aku piknik kayak gini?"


"Nggak papa, biar kamu nggak bosen di dalem ruangan itu terus!"


"Oh ya, aku ada sesuatu buat kamu," lanjut Dimas.


"Sesuatu apa?"


"Tutup dulu mata kamu!"


"Nggak mau, kamu mau ngapain?"


"Enggak, aku nggak akan aneh aneh, benaran deh, tutup mata kamu bentar aja!"


"Jangan ditinggal ya?"


"Enggak Andini, tutup!"


Dini pun menutup matanya.


Dimas mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas ranselnya dan meletakkannya di pangkuan Dini.


"Sekarang kamu buka mata kamu!"


Dini membuka matanya pelan. Sebuah kotak dengan pita merah ada di pangkuannya.


"kotak pita merah? dari semua warna kenapa harus merah? apa kamu udah inget semuanya Dimas? apa kamu....."


"Buka dong, jangan diliatin aja!" ucap Dimas membuyarkan lamunan Dini.


Ingatannya kembali pada kotak dengan pita merah yang ia terima secara misterius ketika SMA, kotak yang tak lain adalah pemberian dari Dimas dengan diam diam. Kotak yang pada akhirnya mempertemukan mereka kembali, menyatukan dua hati menjadi satu cinta yang kini harus dipaksa menjauh oleh keadaan.


Dini melepas pita merah yang mengikat kotak itu lalu. membukanya. Sebuah ponsel terlihat di dalamnya. Dini mengenali ponsel itu.


"Ini punyaku?" tanya Dini.


Dimas mengangguk.


Dini mengambil ponsel itu dari dalam kotak dan mengaktifkannya. Ia ingin segera menghubungi ibunya.


Setelah ponsel aktif, Dini sedikit terkejut melihat perubahan pada ponselnya. Jika biasanya ia selalu membiarkan wallpaper dan lockscreen nya diatur secara default, kali ini ia melihat wajah tampan Dimas menghiasai layar ponselnya.


"Kenapa wajah kamu?" tanya Dini dengan menahan tawanya melihat kenarsisan Dimas.


"Biar kamu selalu inget sama aku," jawab Dimas penuh percaya diri.


"Nggak mau ah, aku balikin ke default aja," balas Dini yang membuat Dimas memanyunkan bibirnya.


"Loh ini nggak ada sim card nya ya?" tanya Dini yang baru menyadari jika tidak tampak tanda sinyal di HP nya.


"Iya, sengaja aku lepas buat sementara, pasti banyak yang nanyain keberadaan kamu nanti, jadi aku lepas aja biar kamu nggak terganggu sama pertanyaan pertanyaan temen kamu nanti," jelas Dimas.


"Iya juga sih, kamu kok bisa bawa HP ku? dari kapan?"


"Dari waktu kamu terkahir ke kafe, HP kamu jatuh tapi kamu nggak tau."


"Oh iya, aku inget, pantesan waktu aku cari nggak ada di tas, aku nggak tau kalau jatuh."


"Iya, kamu buru buru masuk ke mobil Dika soalnya."


"Oh iya, kamu kenapa bisa di sana waktu itu?"


"Aku ikutin kamu waktu kamu pergi sama Dika, waktu kamu jatuhin HP kamu, Andi ngirim pesan ke HP kamu intinya dia ngelarang kamu jalan sama Dika, dia bukan cowok baik baik, dari situ aku langsung ikutin kamu sama Dika, aku sengaja minta Yoga dateng sama polisi takut kalau ada kejadian yang enggak enggak dan ternyata bener, aku bersyukur banget kamu masih bisa bertahan waktu itu," jelas Dimas.


"Makasih ya Dim, aku nggak tau gimana nasib aku kalau nggak ada kamu," ucap Dini dengan menggenggam tangan Dimas.


Dimas membalas genggaman tangan Dini lalu menciumnya.


"Kamu janji ya sama aku, kamu harus jaga diri baik baik, selalu bawa HP kamu dan selalu aktifin GPS di HP kamu, jangan gampang percaya sama orang yang baru kamu kenal, oke?"


Dini mengangguk paham.


Mereka lalu memakan makanan yang sudah Dimas siapkan, sandwich dan beberapa makanan ringan lainnya. Mereka bercerita, bercanda dan tertawa di bawah pohon rindang dengan hembusan angin yang menenangkan. Mereka melepas rindu yang sudah lama tertahan.

__ADS_1


__ADS_2