Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Menghindar


__ADS_3

Dimas hanya bisa berharap jika Dini tak melihat kejadian itu. Bagaimanapun juga ia tidak bisa mengabaikan Sintia begitu saja.


"Kamu kok di sini?" tanya Dimas dengan berusaha melepaskan tangan Sintia yang melingkar di pinggangnya.


"Sekolahku lagi study tour ke sini, kakak juga?"


"Iya, ayo ikut kakak!" ajak Dimas sambil menggandeng tangan Sintia menjauhi kerumunan teman-temannya.


"Eh, kemana?"


Dimas tak menjawab, ia berusaha menjauhkan Sintia dari Dini karena ia takut akan menimbulkan kesalahpahaman lagi diantara mereka.


"Kakak kenapa ninggalin Sintia di cafe kemarin?" tanya Sintia setelah Dimas mengajaknya duduk di salah satu warung yang agak jauh dari keramaian.


"Maaf, ada hal penting yang harus kakak selesaiin."


"Hal penting apa?"


"Kamu nggak perlu tau, masih kecil!" jawab Dimas sambil menarik hidung Sintia.


"Aduuuhh, sakit kak!" balas Sintia merengek.


"Hahaha, biar mancung, sana balik sama temen-temen kamu!"


"Nggak mau, Sintia disini aja sama kakak!"


"Kakak nggak enak sama anak-anak yang lain kalau kelamaan di sini "


"Ya udah Sintia ikut kakak aja!"


"JANGAN!" ucap Dimas cepat dengan berteriak.


"Kok kakak bentak Sintia?"


"Enggak, kakak nggak bentak kamu, kakak cuma....."


"Apa kakak udah punya pacar makanya kakak nggak mau dekat sama Sintia, kakak ninggalin Sintia," ucap Sintia dengan mata berkaca kaca.


"Enggak, bukan gitu, maafin kakak ya!" balas Dimas dengan memeluk Sintia.


Dimas merasa keputusannya untuk mengikuti acara ini adalah keputusan yang salah. Sekarang ia harus dihadapkan pada posisi yang sulit.


Dini yang melihat dari jauh hanya bisa berusaha menahan tangisnya.


"kenapa kamu jahat Dimas, aku emang bodoh karena udah percaya sama kamu, aku bodoh!" ucap Dini mengutuk dirinya sendiri dalam hati.


"Kamu kenapa Din?" tanya Andi yang tiba-tiba datang.


"Nggak papa," jawab Dini dengan berjalan menghindari Andi namun Andi segera menahan tangannya.


"Tunggu, kamu nangis?" tanya Andi yang melihat mata Dini sudah berkaca-kaca.


"Enggak, anginnya kenceng banget jadi perih di mata," balas Dini beralasan.


"Ya udah ayo ke sana!"


Andi menggandeng tangan Dini untuk diajak ke tepi pantai. Mereka berlarian dan bermain pasir pantai bersama teman-temannya yang lain.


Dini berusaha untuk tak memikirkan Dimas dan mengabaikannya.

__ADS_1


"Lia, nanti kamu duduk sama Dimas ya, aku sama Andi," ucap Dini pada Lia.


"Seriusan?" tanya Lia dengan mata membelalak tak percaya.


Dini mengangguk dan tersenyum.


"Aasiiiiikkk, akhirnya bisa berduaan sama pangeran," ucap Lia kegirangan.


"Eh, di bus kan nggak cuma ada kamu sama Dimas," ucap teman Lia mematahkan kebahagiaan Lia.


"Yang penting duduk berdua sama pangeran, bilang aja iri!"


"Aku lebih iri kalau kamu sama Andi daripada sama Dimas," balas temannya.


Andi dan Dini hanya saling pandang dan tertawa melihat kedua temannya berdebat tentang Andi dan Dimas.


"aku nggak boleh sedih, ibu udah keluarin banyak uang biar aku ikut acara ini, kamu harus bahagia Dini, kebahagiaan kamu bukan cuma Dimas, ada Andi yang selalu disamping kamu!" ucap Dini dalam hati, berusaha menguatkan dirinya sendiri.


Sunset mulai terlihat membaurkan semburat cahaya yang begitu indah. Andi dan Dini masih duduk berdua di tepi pantai, menikmati kebersamaan yang mulai jarang mereka rasakan.


Tak lama kemudian, Pak Galih meminta semuanya untuk kembali ke bus.


Beberapa menit menunggu, Dimas tak kunjung muncul. Kursinya masing kosong.


"Ada yang tau Dimas dimana?" tanya Pak Galih.


"Di mana Din? kamu dari tadi kan sama Dimas," tanya Doni.


"Eh, kok aku, aku....."


"Dini dari tadi sama aku kok, sama Lia juga, ya kan?" balas Andi sambil melihat ke arah Lia.


Pak Galihpun mencoba menghubungi Dimas, tapi nomornya tidak aktif.


Tiba-tiba ponsel Andi berdering, ada panggilan dari nomor tak dikenal.


"Halo, siapa?"


"Gue Ndi, lo udah balik?"


"Dimas? lo dimana? buruan ke bus!"


"Sorry Ndi, gue nggak bisa ikut balik, ada keperluan mendadak, sampe'in maaf gue ke Pak Galih juga ya!"


Belum sempat Andi menjawab, Dimas sudah mematikan panggilannya.


Andipun memberitahukan pada Pak Galih apa yang disampaikan Dimas padanya.


Merekapun melanjutkan perjalanan pulang tanpa Dimas. Dini dan Andi hanya terkekeh melihat Lia yang begitu kesal karena bukannya duduk bersama Dimas, ia malah duduk sendiri.


Dini berdiri berniat untuk pindah ke sebelah Lia, namun Andi memegang tangannya, mencegahnya untuk pindah.


"Kamu di sini aja!"


"Tapi...."


"Di sini aja!" ucap Andi mengulangi kata-katanya.


Dinipun menurut dan kembali duduk di sebelah Andi.

__ADS_1


Pikirannya bertanya-tanya tentang Dimas yang tak pulang bersamanya.


"apa karena cewek tadi? siapa dia? kenapa mereka keliatan sangat dekat?" batin Dini bertanya-tanya.


"Kamu baik baik aja Din?" tanya Andi yang melihat wajah murung Dini.


Dini hanya tersenyum lalu memejamkan matanya dan bersandar ke jendela bus. Andipun memindahkan kepala Dini agar bersandar di bahunya.


"Nanti bangunin ya Ndi!"


"Iya, kamu tidur aja dulu," balas Andi dengan menggenggam tangan Dini.


****************************


Di pantai, Dimas masih bersama Sintia.


"Kakak harus balik Sin!"


"Balik sama Sintia aja kak, bentar lagi juga balik, nanti busnya kan lewat cafe kakak."


"Tapi mobil kakak di sekolah!"


"Kan bisa minta tolong kak Yoga ngambil!"


Dimas hanya bisa menarik napas panjang melihat Sintia yang berusaha menahannya.


Mau tidak mau ia sudah menjadi tawanan Sintia saat ini. Ponselnya yang lowbatt membuatnya semakin tak bisa berbuat apapun untuk kabur dari Sintia.


Dengan terpaksa ia harus ikut pulang bersama bus sekolah Sintia dan turun di cafenya.


"Kakak turun dulu ya!" ucap Dimas pada Sintia.


"Sintia ikut kakak!"


"Kamu kan harus pulang Sin!"


"Kakak kan bisa nganterin Sintia pulang, Sintia udah bilang kakek kok!"


Lagi-lagi Dimas hanya bisa menerima semua keputusan Sintia. Ia pun berjalan ke cafe bersama Sintia.


Yoga yang berada di dalam cafe hanya memperhatikan dengan penuh tanda tanya. Ia tahu betul jika Dimas sudah lelah dengan sikap Sintia yang terlalu manja padanya, ia juga tahu jika Dimas selalu ingin berada jauh dari Sintia.


Namun sikap Sintia yang dinilai manja itu justru mampu meluluhkan hati Yoga. Tapi ia cukup sadar jika Sintia memiliki perasaan yang dalam pada Dimas, meski Dimas hanya menganggapnya adik.


"Tumben nih barengan," ucap Yoga sambil menaruh dua gelas minuman di meja depan Dimas dan Sintia.


"Kita abis liburan kak, kak Yoga juga liburan dong, jangan kerja terus!" balas Sintia.


"Liburan berdua? jahat lo Dim, nggak ajak-ajak!"


"Nggak berdua, gue sama temen sekelas, Sintia juga sama temen sekelasnya!" jelas Dimas.


"Kok bisa turun dari bus yang sama, barengan lagi!"


"Jangan banyak tanya, ambil mobil gue di sekolah ya!" balas Dimas sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Yoga.


"Sintia ikut kak!" pinta Sintia pada Yoga.


Dimas dan Yoga saling memandang, Yoga tak berani menjawab apapun karena ia tahu jika Dimas merahasiakan sekolahnya pada Sintia karena takut Sintia akan pindah ke sekolahnya.

__ADS_1


__ADS_2