Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Bercanda


__ADS_3

Dini segera bangun dan berdiri membelakangi Andi. Meski sudah beberapa kali Andi memeluknya, tapi kejadian tadi menyisakan rasa yang susah untuk dijelaskan baginya. Rasa tidak nyaman yang membuatnya merasa canggung.


Andipun berdiri dan memeluk Dini dari belakang, mengalungkan tangannya ke leher Dini.


"Jangan baper ya Din!" ucap Andi setengah berbisik.


Dini segera melepas tangan Andi dan berlari pulang. Sedangkan Andi hanya berdiri mematung melihat Dini yang semakin jauh. Sejujurnya, ia sendiri merasa jantungnya berdetak begitu cepat. Rasa yang ia coba musnahkan seperti tersirami kembali, membuatnya kembali tumbuh dengan sendirinya.


***************************


Di cafe, Dimas dan Sintia masih mengobrol di lantai dua.


"Kamu kok nggak bilang kalau mau kesini?" tanya Dimas.


"Sintia sering kesini kak, tapi nggak pernah ketemu kakak, emang kak Yoga nggak cerita?"


"Cerita kok, semalem kamu kesini kan?"


"Iya, tapi kakak nggak ada," jawab Sintia manyun.


"Yang penting kan sekarang kakak ada disini sama kamu," ucap Dimas sambil mengusap kepala Sintia.


"Sintia kangen banget tau', kakak lama nggak ada kabar," ucap Sintia sambil memeluk Dimas manja.


********************************


Yoga yang baru sampai di cafe segera mencari Dimas, ia tidak tahan untuk tidak menanyakan tentang sikapnya tadi.


"Dimas dimana Ton?" tanya Yoga pada Toni, karyawan cafe itu.


"Diatas bang!"


"Ngapain dia di atas, ada tamu?"


"Kayaknya iya, soalnya tadi abis bang Yoga keluar, dia bawa makanan ke atas," jelas Toni.


"Kamu tau siapa?" tanya Yoga yang semakin penasaran.


Toni menggeleng.


Yoga segera naik ke atas untuk melihat tamu yang dimaksud Toni. Sesampainya disana, ia begitu terkejut melihat Sintia yang sedang memeluk Dimas, seperti cicak yang menempel di dinding, sangat lengket.


Bukan perilaku Sintia yang membuatnya terkejut, melainkan bertemunya Sintia dan Dimas yang membuatnya tercengang, kini ia mengerti kenapa Dimas terlihat marah padanya.


"Sintia!" panggil Yoga sambil meregangkan kedua tangannya, menyambut Sintia agar memeluknya.


"Kak Yogaaa," balas Sintia sambil menghampiri Yoga dan memeluknya erat.


Dimas tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk kabur dari Sintia. Ia pun segera turun dan pergi meninggalkan cafenya.


"Loh, kak Dimas kemana?" tanya Sintia sambil berusaha melepaskan pelukannya dari Yoga, namun Yoga semakin memeluknya erat seperti sengaja menahan Sintia agar tidak mengejar Dimas.


"Udah biarin, nanti juga balik lagi!" ucap Yoga melepaskan pelukan Sintia setelah memastikan Dimas sudah pergi.


Sintia mendengus kesal karena ditinggal begitu saja oleh Dimas.


"Kamu mau pulang apa tetap di sini?" tanya Yoga.


"Aku nunggu kak Dimas disini boleh ya kak?"

__ADS_1


Yoga mengangguk.


"Kakak sibuk?" tanya Sintia pada Yoga.


"Enggak kok, ada Toni dibawah," jawab Yoga.


"Temenin Sintia ya kak!"


"Iya, emang kamu mau sampe' jam berapa di sini?"


"Nggak tau," jawab Sintia dengan menaikkan kedua bahunya.


Biiipp biiippp biiippp


Ponsel Yoga berdering, menandakan ada chat masuk. Iapun segera membukanya.


"Thanks Ga!" -isi chat Dimas-


Yoga tersenyum tipis lalu membalasnya dengan stiker lucu favoritnya.


"Pacar kak?" tanya Sintia tiba-tiba.


"Bukan, kenapa?"


"Kakak senyum-senyum sendiri gitu, pasti chat dari pacar kan?"


"Bukanlah, kakak kan single!"


"Kenapa kakak dari dulu nggak punya pacar sih?" tanya Sintia penasaran.


"Emang ada yang mau sama kakak?"


"Kamu mau jadi pacar kakak?" tanya Yoga membuat Sintia menghentikan ucapannya.


"Kenapa kaget gitu? nggak mau ya? ya siapa juga yang mau sama kakak!" lanjut Yoga.


"Enggak, bukan gitu, Sintia suka sama kakak karena kakak baik sama Sintia, tapi kalau....."


"Hahaha..... kakak bercanda Sin, kamu serius banget jawabnya," ucap Yoga memotong perkataan Sintia membuat Sintia kesal karena dikerjai oleh Yoga.


"Iiiiihhh, kak Yoga nyebelin banget!" ucap Sintia sambil memukul mukul dada Yoga dengan kedua tangannya.


"Hahaha, kamu lucu banget kalau lagi serius," lanjut Yoga yang semakin menggoda Sintia.


"Sintia keeseeellll," teriak Sintia sambil tetap memukul mukul Yoga.


Yogapun memegang kedua tangan Sintia agar berhenti memukulnya. Yoga menatap tajam tepat di mata Sintia membuat Sintia diam seketika. Ia kemudian memeluk Sintia.


"Udah keselnya?" tanya Yoga pelan.


Sintia hanya diam dalam pelukan Yoga. Tatapan Yoga membuatnya seakan terbius, membuatnya kehilangan kata-kata.


Yoga melepaskan pelukannya, karena Sintia hanya diam ia mengira jika Sintia marah padanya.


"Kamu marah sama kakak?" tanya Yoga.


Sintia menggeleng.


"Kakak minta maaf ya!"

__ADS_1


"Sintia nggak marah kok!"


"Kamu diam aja, kakak pikir kamu marah sama kakak."


Sintia kembali diam, membuat Yoga semakin bingung.


"duuhh, kenapa ini anak, apa omongan gue salah ya? apa salah bercanda kayak gitu sama anak 17 tahun?" batin Yoga bertanya-tanya.


******************************


Di sisi lain, Dimas segera menuju ke rumah Andi, ia takut Andi salah paham tentang Sintia.


Berkali-kali Dimas mencoba untuk menghubungi Andi, tapi nihil. Itu semakin membuat Dimas takut atas pikiran-pikiran Andi yang salah.


Ketika sampai di rumah Andi, Dimas segera turun dari mobilnya dan mendapati orangtua Andi yang hendak keluar.


"Andinya ada om, tante?" tanya Dimas pada orangtua Andi.


"Ada, masuk aja!"


"Terimakasih om, tante!"


Beberapa menit Dimas berdiri di depan pintu rumah Andi, Andi tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Berkali-kali ia mengetuk pintunya sampai tangannya lelah, Andi tak juga keluar.


"Ndi, gue tau lo di dalem, gue mau jelasin apa yang lo lihat tadi Ndi, please jangan salah paham!" ucap Dimas yang seperti berbicara pada pintu.


Dimaspun menyerah, ia duduk bersandar di pintu rumah Andi.


Tiba-tiba Andi membuka pintunya membuat Dimas jatuh tepat dibawah Andi.


"Gue tau lo salah, tapi nggak usah nyembah gue kayak ginilah!" ucap Andi tanpa rasa bersalah karena membuat Dimas jatuh di kakinya.


Dimas menarik napas dalam-dalam, membuang emosi yang hampir saja keluar. Ia pun berdiri.


"Gue harus jelasin....."


"Jelasin apa Dim, sikap lo ini kayak seolah-olah kita pacaran terus lo kepergok SELINGKUH di depan gue!" ucap Andi dengan menekankan kata "selingkuh".


"Siapa juga yang mau pacaran sama lo! gue waras Ndi!" balas Dimas yang mulai kesal.


"Terus lo ngapain ke sini?"


"Gini nih cara anak kebanggaan di sekolah menerima tamu, nggak di suruh masuk nggak di......"


Andipun menutup pintunya sebelum Dimas menyelesaikan omelannya.


"Eh, Ndi, sorry gue bercanda, bukain dong!"


Tak ada jawaban.


"Lo bener Ndi, emang kayak gini cara nerima tamu yang bener, lo nggak salah, gue yang salah," lanjut Dimas berusaha agar Andi membukakan pintu untuknya.


Andipun terkekeh mendengar ucapan Dimas. Iapun membuka pintu rumahnya dan menyuruh Dimas masuk.


"Terimakasih Tuan!" ucap Dimas sambil membungkukkan badan.


Andi hanya tersenyum tipis melihat tingkah lelaki yang dicintai sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2