Cinta Harta Dan Persahabatan

Cinta Harta Dan Persahabatan
Makan Malam


__ADS_3

Acara makan malam sudah semakin dekat, Dini dan Dimas baru saja berangkat.


"Kamu jail banget sih sama Andi, kalau ada Aletta udah dibalas kamu tadi!" ucap Dini pada Dimas. Ya, ia melihat ketika Dimas memukul dengan pelan luka Andi.


"Aku cuma bercanda sayang, kamu marah?"


"Enggak, aku malah seneng liat kalian berdua deket!"


"Tapi aku cemburu liat kamu deket sama dia," ucap Dimas tanpa menoleh ke arah Dini, ia fokus pada jalan di hadapannya.


"Dimas,"


"Apa aku nggak boleh cemburu?" tanya Dimas.


"Nggak papa, itu artinya kamu sayang sama aku, tapi....."


"Aku tau, aku percaya sama kamu, sama Andi juga, aku percaya sama persahabatan kalian," ucap Dimas dengan tersenyum ke arah Dini.


"Maafin aku," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah pada Dimas karena ia tak bisa menjauhi Andi.


"Nggak ada yang harus dimaafin sayang, nggak ada yang salah sama semua ini," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini dan menciumnya.


Setelah cukup lama berkutat dengan kemacetan, akhirnya Dimas dan Dini sampai di rumah Dimas. Setelah memarkirkan mobilnya, Dimas menggandeng tangan Dini untuk masuk ke dalam rumahnya.


Melihat Dimas yang sudah datang, Sintia segera berlari dan memeluk Dimas dengan erat. Ia sangat merindukan kakak sekaligus laki laki yang pernah sangat ia cintai itu.


"Sintia kangen banget kak," ucap Sintia yang masih dalam pelukan Dimas.


"Kakak juga kangen banget sama kamu," balas Dimas dengan membalas pelukan Sintia dengan erat.


Sedangkan Dini hanya berdiri mematung, memaksa matanya untuk tidak menyaksikan adegan di hadapannya.


"Kakak kenapa nggak pernah pulang sih?" tanya Sintia setelah melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


"Kakak sibuk banget Sin, ntar kalau kamu udah kuliah pasti ngerti," jawab Dimas.


Sesaat, Sintia lupa pada Dini. Ia lalu memeluk Dini yang hanya diam di tempatnya.


"Kak Dini apa kabar?" tanya Sintia.


"Baik, kamu gimana?"


"Baik juga kak, walaupun sedih juga sih!" jawab Sintia.


"Kenapa sedih?" tanya Dini.


Belum sempat Sintia menjawab, mama Dimas datang.


"Ceritanya nanti aja, ayo masuk!" ajak mama Dimas.


Merekapun duduk di mengitari meja makan besar. Papa Dimas duduk di ujung, Sintia duduk di antara Dimas dan Dini, mama Dimas duduk di sebrang Dimas.


"Sin, kamu ke sini!" ucap mama Dimas dengan menunjuk kursi di sebelah mama Dimas.


"Sintia di sini aja tante, Sintia masih kangen sama kak Dimas," tolak Sintia dengan menarik tangan Dimas ke dalam pelukannya.


Dimas hanya tersenyum dan mengacak acak rambut Sintia.


"Kamu ganggu kak Dimas sama kak Dini loh Sin, sini lah!"


"Kak Dini nggak keberatan kan Sintia di sini?" tanya Sintia pada Dini.


Dini hanya menggeleng dengan tersenyum. Ia tidak mungkin berkata jika ia keberatan karena ia tau jika Dimas sudah menganggap Sintia seperti adik kandungnya sendiri. Namun tak dapat dipungkiri jika ia juga ingat bagaimana Sintia sangat terbosesi pada Dimas dulu. Ia tak dapat memungkiri rasa cemburu di hatinya.


"Tuh kan, kak Dini nggak keberatan kok!" ucap Sintia.


"Sintia!" panggil papa Dimas dengan raut wajah yang tampak serius.


Jika sudah begitu, Sintia tak bisa membantah lagi. Dengan langkah yang malas, ia berdiri dari duduknya dan duduk di sebelah mama Dimas.


Merekapun mulai makan malam dengan hening, setelah selesai menghabiskan menu utama baru lah ada percakapan.


"Gimana kuliah kalian Dim, Din?"


"Lancar pa, iya kan sayang?"


Dini hanya mengangguk dengan tersenyum sebagai jawaban.


"Yoga belum pulang pa?" tanya Dimas pada papanya.


"Belum, mungkin seminggu lagi dia baru pulang," jawab papa Dimas.


"Padahal Sintia udah kangen banget sama kak Yoga," sahut Sintia.


"Kasian banget sih yang lagi LDR," balas Dimas.


"Makanya kakak sering sering kesini biar ada yang nemenin Sintia!"

__ADS_1


Untuk beberapa waktu percakapan di dominasi oleh Dimas dan Sintia. Dini yang berada di sebelah Dimas sedikit merasa terabaikan.


Mama Dimas lalu mengambil beberapa lembar brosur dari rak dan memberikannya pada Dimas dan Dini.


"Ini brosur perjalanan honeymoon dari beberapa relasi mama, ada yang ke Jepang, Korea, Paris, Dubai dan lain lain, kalian bisa baca baca dulu," ucap mama Dimas pada Dini dan Dimas.


"Honeymoon?" tanya Dini dengan suara yang sangat pelan, yang hanya di dengar oleh Dimas.


"Ma, kita kan masih kuliah, rencana pertunangannya juga nunggu lulus kuliah, Dimas......"


"Menikah sama kuliah nggak ada hubungannya Dimas, kalau kalian udah ngerasa cocok ya cepet di sahkan aja!" ucap mama Dimas memotong ucapan Dimas.


"Kita masih terlalu muda ma, banyak hal yang mau kita capai juga, kita masih punya mimpi kita masing masing," ucap Dimas mencoba menjelaskan.


"Kamu nggak liat mama sekarang? mama tetep bisa jalanin bisnis mama walaupun udah nikah, mama sama papa bisa raih mimpi kita masing masing setelah menikah bahkan setelah kita punya anak, kita bisa tanpa harus mengurangi waktu kita sama kamu sayang!"


"Bener kata mama kamu Dim, bukan maksud mama sama papa maksa kalian, kita cuma kasih pendapat aja, kalau kalian udah sama sama serius nggak ada salahnya buat lanjutin hubungan kalian ke jenjang pernikahan secepatnya!" sahut papa Dimas.


"Tapi kembali lagi, semua keputusan ada di tangan kalian," lanjut papa Dimas.


"Apa kakak sama kak Dini belum serius?" tanya Sintia tiba tiba, membuat semua mata tertuju pada Sintia.


"Jaga bicara kamu Sin," ucap papa Dimas pada Sintia.


"Maaf om," balas Sintia dengan lanjut menggigit apel di hadapannya.


"Dimas sama Andini serius jalanin hubungan ini, tapi kita belum siap buat ke jenjang yang mama sama papa mau, Dimas minta maaf ma pa, biar Dimas sama Andini sendiri yang nentuin gimana kelanjutan hubungan kita," ucap Dimas mencoba memberi pengertian pada kedua orangtuanya.


Dini hanya diam dengan menundukkan kepalanya. Jika bukan karena dia, Dimas tidak akan berdebat dengan mama dan papanya malam itu. Dia sendiri yang ingin mengulur acara itu. Ia mencintai Dimas dan ia yakin jika Dimas adalah masa depan yang baik untuknya.


Tapi baginya pernikahan tidak hanya sebatas saling mencintai. Banyak hal yang harus diperhatikan. Selain karena impian dan cita citanya yang belum terwujud, masalah Dimas dengan Anita pun belum menemukan titik terang.


Dimas menggenggam tangan Dini di bawah meja. Ia tau Dini sangat tidak nyaman dengan keadaan itu.


"Mama cuma mau yang terbaik buat kalian, mama nggak mau ada orang lain yang ganggu hubungan kalian lagi, maafin mama kalau mama terlalu ikut campur," ucap mama Dimas lalu berdiri dan meninggalkan meja makan.


Melihat hal itu, Dimas dan papanya berdiri bersamaan untuk mengejar sang mama.


"Dimas aja pa," ucap Dimas pada papanya.


Pak Tama lalu kembali duduk dan membiarkan Dimas mengejar mamanya.


Dimas memeluk mamanya dari belakang ketika ia melihat sang mama berdiri di tepi jendela kamar.


"Maafin Dimas ma, bukan maksud Dimas buat nolak kebaikan mama, tapi ini udah keputusan Dimas sama Andini dari awal," ucap Dimas pada mamanya.


"Ini keputusan kita ma, Dini dari kecil belajar mati matian biar bisa dapet beasiswa, kerja di perusahaan besar dan sukses buat memperbaiki perekonomian keluarganya, Dimas juga dari kecil belajar bisnis karena Dimas mau punya bisnis sendiri, buka banyak lapangan pekerjaan dan nggak cuma bergantung sama perusahaan mama papa aja, itu mimpi kita ma."


"Maafin mama sayang," ucap mama Dimas. Merekapun saling berpelukan.


"Kita balik lagi ma," ajak Dimas diikuti anggukan kepala mama Dimas.


Merekapun kembali ke meja makan. Mama Dimas, Dini dan Sintia pergi ke gazebo taman, sedangkan Dimas masih berada di meja makan bersama papanya.


"Dim, kamu harus bisa jaga jarak sama Sintia," ucap papa Dimas pada Dimas.


"Jaga jarak? maksud papa?"


"Papa tau kamu udah anggap dia seperti adik kandung kamu sendiri dan papa tau kalau dia pernah menganggap kamu lebih dari itu, papa......"


"Tunggu tunggu, papa tau itu? kalau papa tau kenapa papa biarin Sintia tinggal di sini dulu?"


"Papa nggak punya pilihan Dim, papa tau dia suka sama kamu bukan sebagai kakak, tapi mengingat bagaimana kebaikan orangtuanya dulu, papa nggak bisa nolak permintaan kakeknya buat biarin dia tinggal di sini dan papa yakin kalau kamu bisa selesaiin masalah itu dengan baik," jawab papa Dimas.


"Iya, Dimas bisa selesaiin itu dengan baik, sekarang dia udah anggap Dimas sebagai kakaknya, dia juga udah sama Yoga sekarang, jadi kenapa Dimas harus jaga jarak sama Sintia?"


"Ini yang kamu masih belum paham, jangan melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang Dimas, kamu liat Sintia yang udah nggak ngejar kamu lagi, kamu liat Sintia yang udah sama Yoga, tapi apa kamu liat Dini? apa kamu liat Yoga?"


"Andini sama Yoga? mereka sama sama tau hubungan Dimas sama Sintia gimana pa, mereka tau kalau kita cuma kakak adik, lalu apa masalahnya?"


"Inget Dim, gimanapun juga kalian bukan kakak adik sungguhan dan Dini sama Yoga tau gimana perasaan Sintia sama kamu dulu, walaupun itu masa lalu tapi hati orang bisa berubah kapanpun tanpa ia sadari, buka mata kamu dengan baik Dimas, apa bener Yoga baik baik aja liat kedekatan kalian? apa bener Dini nggak cemburu liat kedekatan kalian?"


Dimas diam beberapa saat. Ia memikirkan kata kata papanya.


"Papa tau hubungan kamu sama Dini nggak mudah, jadi jangan pernah bikin hal kecil jadi masalah besar buat hubungan kalian berdua!"


"Iya pa, Dimas mengerti," balas Dimas.


"Inget Dim, jangan melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang!"


Dimas menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Papa denger kalian mau tinggal satu apartemen ya? udah mulai nakal ya anak papa hahaha..."


"Dimas sama Andini? enggak, siapa yang bilang?"


"Mama kamu yang bilang!"

__ADS_1


"Mama ngarang cerita nih, lagian Andini juga nggak akan mau pa!"


"Kalau Dini mau, kamu mau kan?"


"Ya mau lah pa hehe...."


"Hahaha..... dasar, papa masuk ruang kerja dulu ya!"


"Iya pa!"


**


Di gazebo taman.


"Kamu belum ada rencana honeymoon sayang?" tanya mama Dimas pada Dini.


"Belum ma, tapi mungkin di Indonesia aja nggak papa," jawab Dini.


"Kalau kamu mau di Indonesia aja mama cariin brosur nya nanti, di negara kita memang banyak tempat tempat indah kok!"


"Makasih ma."


"Kalau Sintia mau di Korea tante, biar bisa ketemu oppa Cha Eun Woo, Hwang In Yeop, Song Joong Ki sama Park Seo Joon hehe...." sahut Sintia.


"Kamu fokus sekolah dulu, kuliah yang bener baru nikah!" balas mama Dimas.


"Siap tante, Sintia nggak akan mengecewakan!"


"Mama masuk bentar ya sayang, ambil minum!" ucap mama Dimas pada Dini.


"Dini ambilin ma!"


"Nggak usah, kamu tunggu di sini aja!"


Mama Dimas pun meninggalkan gazebo yang hanya ada Dini dan Sintia saat itu.


"Kak, Sintia mau nanya sesuatu, tapi kakak jangan bilang kak Dimas ya!"


"Tanya apa?"


"Janji dulu jangan cerita kak Dimas kalau Sintia nanyain ini!"


"Iya janji, kamu mau tanya apa?"


"Hubungan kak Dini sama kak Dimas itu gimana sih? kalian beneran mau tunangan?"


"Kenapa kamu tanyain itu?" tanya Dini yang mulai tidak nyaman dengan pertanyaan Sintia.


"Nggak papa, nggak tau kenapa Sintia ngerasa kak Dimas kayak nggak serius gitu, buktinya tadi kak Dimas nolak semua brosur dari tante Angel, padahal tante sama om udah pingin kakak cepet nikah sama kak Dimas, tapi kak Dimas malah nolak!"


"Kamu jangan salah paham Sin, itu emang keputusan kita berdua, kita sama sama mau raih mimpi kita masing masing sebelum kita lanjutin hubungan kita ke jenjang yang lebih serius, lagian menikah itu bukan cuma karena kita ingin, bukan cuma karena kita saling cinta, banyak hal lain yang jadi pertimbangan," jelas Dini.


"Apa sih yang bikin kakak cinta sama kak Dimas? pasti bukan karena derajat sosialnya kan?"


"Bukan," jawab Dimas yang tiba tiba datang menghampiri Dini dan Sintia.


"Kakak, kakak dari kapan di sini?" tanya Sintia yang terkejut melihat kedatangan Dimas.


"Baru aja," jawab Dimas berbohong, ia sudah mendengar semua ucapan Sintia pada Dini sejak mamanya meninggalkan gazebo.


"Ayo balik sayang," ajak Dimas pada Dini sambil mengulurkan tangannya.


Tanpa pikir panjang Dini menerima uluran tangan Dimas dan pergi dari gazebo bersama Dimas.


Setelah berpamitan dengan mama dan papanya, Dimas dan Dini segera meninggalkan rumah.


"Mau langsung pulang?" tanya Dimas pada Dini.


"Iya, aku capek," jawab Dini.


"Maafin mama sama papa ya sayang, mereka kayak gitu karena mereka terlalu antusias sama pernikahan kita," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.


"Iya nggak papa, aku ngerti," balas Dini dengan senyum manisnya.


"Maaf juga kalau sikap Sintia bikin kamu nggak nyaman!"


"Kenapa kamu yang minta maaf?"


"Karena aku tau Sintia nggak mungkin sadar kalau sikapnya salah," jawab Dimas.


"Emang kamu sadar?"


"Iya, maaf karena aku baru sadar, tapi dari dulu sampai kapanpun aku cuma anggap dia adik, nggak lebih dari itu."


"Iya, aku percaya sama kamu!"


"Makasih sayang," ucap Dimas lalu mencium tangan Dini.

__ADS_1


__ADS_2